Vitamins Blog

SHE

Bookmark

No account yet? Register

37 votes, average: 1,00 out of 1 (37 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

 

AN : Ini cerita emang absurd banget. Dan ini cerita pertama gue yang udah kelar, yang lainnya gue gantungin karena gue nya gak tahu harus ngelanjutin kek gimana. Gue seneng banget sih bisa berbagi cerita ini ke kalian, ehe. Semoga suka

Warning : Typo(s) everywhere.

P.S : Kalo suka kasih love. Minta komen buat reviewnya juga ehe. Dan kalau ada typo tolong diberitahu ehehe.

 


 

19 Juli 2013, Jakarta

Kemacetan kota Jakarta memang tidak bisa dihindari oleh masyarakat, misalnya aku salah satu korbannya. Aku masih terduduk di bangku kemudi sejak satu jam yang lalu mulai merasa jengah dan lelah. Kulirik handphone-ku yang berlogo apel digigit untuk melihat waktu. Sudah Isya.

Menyerah dengan kejamnya kemacetan Ibukota pada hari Jumat, aku pun memutuskan untuk singgah sebentar di salah satu kedai yang berjarak beberapa meter dari tempatku berada. Billboard berukuran sedang yang bertuliskan nama kedai tersebut terpasang di depan kedai itu yang menarikku untuk singgah sebentar di tempat itu. Butuh waktu 10 menit untuk mencapai kedai ini.

Setelah memarkirkan mobilku di lahan parkiran yang tersedia di depan kedai tersebut, aku pun masuk ke dalam kedai itu. Berjalan cepat menuju counter pemesanan agar tidak mengantri lama. Dari sini sudah terlihat antrian yang tidak begitu panjang yang berisikan orang-orang yang baru saja pulang selepas kerja sedari pagi ataupun muda-mudi yang ingin menongkrong di kedai ini.

Sembari mengantri, aku menengok kanan-kiri untuk melihat tempat duduk yang kosong. Ini hari jumat dan seperti biasanya, hari jumat selalu menjadi hari yang begitu melelahkan ditambah dengan kemacetan kota Jakarta yang masih belum dibenahi membuat banyak orang memilih singgah terlebih dahulu untuk melepas lelah. Dan sepertinya kedai ini salah satu tempat yang banyak diminati oleh banyak orang karena dari sini aku hanya bisa menemukan dua hingga empat meja dengan masing-masing sepasang kursi untuk tiap meja yang belum ditempati.

Sembari mengantri, aku menengok kanan-kiri untuk melihat tempat duduk yang kosong. Ini hari jumat dan seperti biasanya, hari jumat selalu menjadi hari yang begitu melelahkan apalagi ditambah dengan kemacetan kota jakarta yang masih belum dibenahi membuat banyak orang memilih untuk singgah terlebih dahulu untuk beristirahat sejenak. Dan sepertinya kedai ini salah satu tempat yang banyak diminati oleh banyak orang karena dari sini aku hanya bisa menemukan dua hingga empat meja dengan masing-masing sepasang kursi untuk tiap meja.

Selesai mengantri dan memesan salah satu minuman yang ada, aku pun berjalan menuju satu-satunya meja yang masih tersisa satu kursi kosong. Aku mengerutkan dahi ketika mengetahui ada laptop yang terbuka dan tentunya nyala juga kacamata yang tergeletak di atas meja tersebut. Sudah pasti meja ini sudah ditempati dan aku memutuskan untuk menunggu orang yang menempati meja tersebut.

Tidak sampai hitungan lima detik, orang yang menempati meja ini datang dan langsung duduk di kursi tanpa melihat ataupun menyadari keberadaanku. Ia seorang pria yang kutaksir umurnya kira-kira 27 tahunan. Aku pun memberanikan diri untuk menyapanya, “Om.”

Dan pria itu menengok dengan kening yang berkerut. Uhm, sepertinya ia tidak suka dengan panggilanku atau ia merasa terganggu. Tapi aku abaikan itu karena aku sedang membutuhkan tempat untuk beristirahat sejenak.

“Ya? Ada apa, ya?” jawabnya datar, tidak tertarik dengan keberadaanku. Ah, ya sudahlah aku memang seperti butiran debu yang tidak menarik perhatian orang.

“Begini, Om. Saya boleh tidak untuk duduk di sini karena meja lain sudah penuh,” jelasku kepada pria di depanku. Aku pun tidak lupa untuk menyertakan puppy eyes andalanku dan itu berhasil. Ia memperhatikanku sebentar dan langsung menengok kanan-kiri melihat keadaan sekitar. Kemudian ia pun menganggukkan kepalanya tanda setuju.

“Makasih, Om.”

Setelah mengatakan kata-kata itu aku pun beranjak dari tempatku berdiri dan duduk di kursi yang berada di seberang pria tersebut, pegal juga berdiri lama dari tadi. Aku melepaskan tali ransel kecil yang sedari tadi kubawa kemana-mana di lantai dekat kursi yang aku duduki dan menaruh secangkir coklat panas yang tadi ku pesan di atas meja.

Terjadi keheningan yang cukup panjang setelah aku duduk. Sepertinya salah satu di antara kami tidak ada yang mau bersosialisasi sehingga memilih untuk diam. Aku pun merasa bosan dengan suasana ini sehingga melipat kedua tanganku diatas meja dan merebahkan kepalaku di atas lipatan tanganku.

Mungkin ia juga merasa bosan sehingga ia mulai membuka mulutnya dan melontarkan kata-kata tersebut, “Kamu, namamu siapa anak kecil?”

Aku pun langsung duduk tegak mendengar kata-kata tersebut. Itu benar-benar menyakiti hatiku. Aku bukan anak perempuan yang masih berumur 12 tahun tapi aku adalah wanita dewasa berumur 20 tahun yang baru saja menyelesaikan kuliah teknik penerbangan Juni kemarin. Kurang ajar. Memang wajah aku baby face tapi enggak sampai manggil aku anak kecil juga. Sedih.

“Maaf ya, Om, umur saya ini 20 tahun. Jadi disini tidak ada anak kecil,” ucapku sinis dan juga menyipitkan mataku agar kesan sinisnya ia dapatkan. Ia meresponnya dengan lirikkan sinis.

“Kalau begitu, tidak seharusnya kamu memanggil saya om karena saya bukan om-nya kamu. Dan lagi, saya masih berumur 27 tahun,” ujarnya membalas perkataanku tak kalah sinis. Ih, aku juga bisa lebih sinis dari pada kamu lho Om.

Tidak mau kalah dengan pria di depanku ini, aku pun membalas perkataannya lebih sinis dari sebelumnya, “Maaf ya, om. 7 tahun itu perbedaannya jauh jadi terima aja kalau dipanggil om-om.”

“Terserah kamu,” ucapnya mengakhiri percakapan.

Setelah itu terjadi keheningan panjang, lagi. Aku memutuskan untuk menyesap minumanku yang untungnya masih hangat, karena kalau sudah dingin rasa minumannya akan terasa aneh. Sesekali aku melirik pria yang berada di depanku ini. Kalau bisa dikatakan, pria yang ada didepanku ini tampan. Tidak tidak, ia sangat tampan hingga orang akan meliriknya tidak hanya sekali. Tapi tetap saja aku tidak tertarik dengan pria-pria yang seperti pria di depanku ini, bukan seleraku sama sekali. Lagipula aku masih belum bisa move on dari laki-laki yang wajah dan suaranya terus memenuhi pikiranku, meski sekarang sedikit tergeser karena pria di depanku ini sih.

“Hei!” panggil pria itu.

“Kenapa?” balasku agak telat karena sedari tadi bengong memikirkan hal-hal yang berputar-putar di pikiranku.

“Namamu siapa?” pria itu membalas pertanyaanku dengan pertanyaan. Tidak sopan sekali.

“Zoe,” ucapku cepat, ingin mengakhiri percakapan tidak nyaman ini.

“Dean,” balas laki-laki itu yang tidak bisa ku mengerti. Dan sepertinya ia menyadari ketidak mengertianku sehingga ia melanjutkan perkataannya.

“Nama saya Dean. Fadean Keananta,” terangnya yang sekarang bisa ku mengerti. Ia sepertinya suka sekali membuat orang bingung, sepertinya.

“Oh. Salam kenal Om Dean,” sapaku, datar. Dan bisa kulihat dahinya yang mengernyit karena panggilanku.

“Kamu bisa panggil saya tanpa ‘Om’ di depan nama saya,” ucap pria itu menjelaskan ketidaksukaannya terhadap panggilanku untuknya.

“Oke tanpa om di depan nama saya,” ucapku dengan nada mengejek dengan niat bercanda dan memberi seringai kecil untuk memperjelas kejahilanku. Dan sekarang wajahnya menjadi masam karena candaanku. Aku pun tertawa melihat tampangnya.

“Tidak lucu, Zoe.”

Aku tertegun mendengar namaku disebut. Rasanya seperti ada sesuatu yang menggelitik perutku. Namaku terdengar indah ketika ia yang mengucapkannya dengan suara bass-nya. Aneh, ini bener-bener aneh. Baru kali ini aku merasakan hal ini. Serius deh, ini aneh sekali.

“Hey,” panggil Dean. Dan aku pun tersadar atas pikiranku yang ngaco ini. Sungguh aku mikir apa sebenarnya tadi? Hah, seharusnya aku rajin-rajin bertobat sehingga tidak kerasukan setan terus. Mungkin besok aku akan bersemdi ke gunung untuk mengusir setan yang menempel di tubuhku. Yeah, itu ide yang bagus.

“Ya, Dean?” responku yang sangat telat karena tadi aku masih memikirkan hal-hal ngaco. Ya ampun otak-ku harus dicuci dulu sepertinya.

Nah, sekarang malah dia yang terbengong. Atau karena suaraku yang aneh kali ya sehingga dia kaget bisa denger suara kuntilanak dari seorang cewek cantik ini. Ampun deh.

“Hah, ya?” responnya. Tuh kan sekarang dia yang aneh. Duh, sepertinya setan yang tadi merasuki ku sekarang berpindah ke dia kali ya? Ah tahu deh, capek mikirnya.

“Tadi kenapa kamu memanggil saya?” tanyaku.

“Oh, tidak ada apa-apa,” balasnya dengan sedikit gugup? Mungkin. Aku pun mengangkat bahu-ku tanda aku tak peduli. Dan lagi-lagi terjadi keheningan yang panjang.

Tetapi keheningan itu terpecah karena adanya alunan lagu ciptaan Martin Garrix. Aku pun tersadar bahwa alunan lagu itu berasal dari hp-ku. Buru-buru aku mengambil hp-ku di tas biru kecil ku dan mengangkat panggilan. Tapi sebelum itu aku sempat melirik ke arah Dean yang ternyata sedang menatapku terang-terangan dengan pandangan yang tidak dapat ku mengerti.

“Asssalamualaikum, ini siapa ya?” ucapku membuka percakapan.

“Wa’alikumsalam, Zoe.” jawab seseorang diseberang sana. Sepertinya aku mengenal suara ini. Aku pun melihat layar hp-ku dan tertera nama dia di layar tersebut. Aku meringis kecil melihatnya. Aku ceroboh sekali sih tidak melihat dulu siapa yang menelpon. Padahal aku sudah bertekad untuk tidak berhubungan lagi dengan-nya.

“Muzza,” ucapku lirih karena tiba-tiba saja kejadian di hari itu terputar kembali di otak ku, membuat mataku kembali berembun. Padahal saat bertemu pria di depanku ini aku bisa melupakan kejadian itu sejenak tetapi dengan mendengar suaranya saja pertahananku tidak kuat. Aku memang payah sekali.

“Zoe, maafin aku ya? Aku tahu aku enggak seharusnya ngelakuin itu ke kamu tapi-,” dan panggilan telepon terputus karena aku mematikannya. Sungguh, aku bisa rasakan air yang mengalir di pipiku. Aku menangis dan lebih parahnya aku menangis di depan pria yang sudah mapan. Buru-buru aku menutup wajahku dengan kedua telapak tanganku. Malu.

Tanpa membuang waktu aku langsung menyambar tas biru ku kemudian pergi dari sini. Aku malu untuk melihat apalagi berbicara kepada pria itu lagi. Aku sungguh-sungguh memalukan sekali. Semoga tuhan tidak mempertumakanku kembali dengannya.

Semoga.

 

*********

 

 

9 September 2013, Würzburg-Jerman

Berjalan-jalan keliling Taman Klein Nizza yang terletak di jalan Friedrich Ebert Ring memang pilihan bagus. Disini udara terasa sejuk dan menenangkan, ditambah daun-daun pohon yang bewarna kuning membuat taman ini menjadi terlihat indah. Meski suhu disini hampir mencapai 10˚C, itu sama sekali tidak menghalangi keindahan taman ini.

Lama aku mengelilingi taman luas ini, aku pun memilih untuk duduk disalah satu bangku taman yang disediakan. Aku tidak sendirian di bangku tersebut karena ada seorang pria yang cukup tampan menduduki bangku tersebut. Dari wajahnya, aku bisa tahu kalau ia turis. Dan aku merasa familier dengan wajah pria tersebut.

Aku merapatkan mantel merahku, berusaha menghangatkan tubuhku dengan mantelku karena suhu semakin rendah. Tak lama aku pun menyapa pria disebelahku yang sedang sibuk dengan smartphone-nya yang berlogo apel digigit itu, “Hallo! Ein schöner Tag, ist es nicht (Halo! Hari yang indah, bukan)?” Aku tak lupa untuk memasang senyum manis di wajahku. Pria itu pun menoleh ke arahku dan sedikit tertegun melihatku. Ia terdiam sebentar tetapi beberapa detik kemudian tersenyum dan membalas sapaanku,“Ja, Sie haben Recht (Ya, Anda benar).”

Senyuman pria itu sungguh menawan. Dengan rambut spike-nya dan mata hitam pekatnya, ia terlihat lebih tampan berkali-kali lipat. Eh tunggu, sepertinya aku pernah melihat mata hitam pekat itu. Dan suara bass-nya seperti pernah kudengar. Kucoba ingat-ingat siapa pria ini, mungkin saja aku pernah bertemu dengannya. Dan sekelebat bayangan bersama seorang pria di sebuah kafe terlintas di pikiranku. Pria waktu di kafe itu sama dengan pria yang berada di hadapanku sekarang. Pria itu bukankah, “Dean?”

Dan senyuman pria itu semakin melebar ketika dahiku mengerut tanda berpikir. Sepertinya tebakanku benar, ia pria yang sama dengan pria yang kutemui di kafe waktu itu. “Hai, Zoe! Ternyata itu benar kamu. Saya kira, saya salah orang. Sungguh sebuah kebetulan, bukan?” sapanya dengan riang dan tidak kusangka ia masih mengingat namaku. Kukira ia bakal melupakanku karena kejadian memalukan waktu itu. Ditambah namaku suka dikira orang dengan kebun binatang.

“Yeah, sebuah kebetulan berturut-turut.” Ucapku membenarkan kata-katanya. Aku sebenarnya juga tak menyangka kami akan bertemu kembali. Kukira pertemuan waktu itu hanya pertemuan singkat. Kejutan Tuhan memang tidak bisa diprediksi.

“Apa yang kau lakukan disini, Zoe?” tanyanya. Kurasakan lagi perasaan yang menggelitiki perutku ketika ia menyebutkan namaku. Sungguh, aku agak risih dengan perasaan ini sekaligus nyaman. Aneh, tapi aku mengabaikannya.

“Sedikit refreshing. Bagaimana denganmu?” aku pun membalikkan pertanyaan kepadanya. Ia terlihat berpikir sejenak.

“Hanya mengikuti kata hati saya untuk kemari,”ucapnya yang membuatku mengernyit heran. Bagaimana bisa dia dengan gampangnya bilang mengikuti hati-nya untuk kemari. Butuh banyak uang untuk pergi kesini, apalagi untuk urusan visa-nya. Aku saja pusing dengan hal itu. Apa dia orang kaya? Sepertinya, iya. Kelihatan sekali dari pakaian yang dikenakannya, sungguh bisa ditebak itu merek-merek terkenal semua. Ya mungkin bagi dia berpergian dengan mengikuti kata hati itu hal yang wajar.

“Uhm, Tadinya saya sedang mencari orang yang sangat ingin saya temui. Tapi pencarian itu saya hentikan karena saya putus asa tidak bisa menemukannya di manapun sehingga saya perlu tempat untuk melarikan diri dari kesedihan tersebut dan hati saya memilih tempat ini,” jelasnya dengan panjang kali lebar kali tinggi sama dengan volume yang membuatku sama sekali tidak mengerti. Dan sepertinya ia mengerti arti raut wajahku karena kemudian ia mengucapkan penjelasan yang lebih singkat.

“Sama sepertimu, refreshing.”

Aku pun ber-oh ria dan ia pun mengulum senyum melihat tingkahku. Aku meringis kecil menyadari tingkahku yang menyusahkannya sekaligus memalukan.

“Uhm Dean, waktu itu-,” ucapanku terpotong oleh kata-kata Dean.

“Tidak apa-apa. Saya mengerti bahwa kamu perlu privasi,” ucapnya dengan lembut ditambah senyuman yang tulus terlukis diwajahnya.

“Oh iya, waktu itu kamu hanya memberitahu nama panggilanmu saja. Boleh saya tahu nama lengkapmu?” tanyanya. Aku pun teringat bahwa saat itu aku hanya memberitahunya nama panggilanku saja. Ya ampun, kebiasaanku kepada orang asing masih tidak bisa dihilangkan. Bodohnya kamu, Zoe.

“Yeah. Nama lengkapku Zoenna Blue,” ia tersenyum mendengar jawabanku. Bahkan senyumnya terpancar dari matanya. Bukan maksudnya muncul sinar dari matanya, tetapi senyumnya terrefleksikan di matanya. Lagipula ada apa dengan namaku? Aku tahu nama belakangku sangatlah aneh tapi respon pria itu sungguh tidak bisa dijelaskan dengan kata-kata.

“Namaku aneh, ya?” tanyaku sembari melengkungkan bibirku kebawah karena tidak ada jawaban dari pria itu. Tapi ia tetap tersenyum dan menggeleng sebagai jawaban dari pertanyaanku.

“Ti-tidak tidak! Namamu indah. Indah sekali bagi saya,” Akhirnya ia menjawab setelah daritadi ia diam saja meskipun dengan gugup. Aku pun menaikan alisku karena ucapannya. Benar-benar respon yang aneh.

Dan kemudian hening menerpa kami berdua. Mataku menerawang jauh kedepan dimana bisa kulihat Residenz Würzburg, sebuah kastil kerajaan yang berdiri megah. Sedangkan pria itu menatapku lekat-lekat yang kuketahui saat aku meliriknya dengan ekor mataku. Tubuhku jadi gugup begini dilihatnya lekat-lekat.

Aku memutuskan untuk segera pergi dari sini karena jantungku mulai berdetak cepat. Tapi sebelum itu aku berpamitan terlebih dahulu kepada pria itu. “Hey, Dean. Aku pergi dulu ya,” pamitku tanpa menoleh kepadanya dan buru-buru pergi dari bangku taman itu menuju pinggir jalan Friedrich Ebert Ring, berbaur dengan pejalan kaki yang juga melintasi trotoar jalan Friedrich Ebert Ring.

Membiarkannya sendirian dibangku taman Klein Nizza ditemani daun-daun pohon berwarna kuning yang berguguran.

 

*********

 

19 April 2014, Jakarta

Ramai. Hanya satu kata itu yang bisa kuberikan untuk suasana Acara Reuni Akbar SMA Vertagon. Semua alumni SMA Vertagon angkatan 2003 hingga 2009 berbaur di salah satu hotel di Jakarta. Banyak yang saling berpelukan, menanyakan kabar ataupun sebagainya yang bisa dilampiaskan untuk rasa kangen karena lama tak berjumpa. Sama sepertiku, aku sedang mengobrol dengan teman-teman cowok ataupun cewek yang membentuk lingkarang kecil dekat tempat hidangan untuk para tamu disajikan. Kata mereka-mereka agar gampang untuk mengambil makanan. Dasar.

“Weyy, Neng Zoe makin cantik aja!”

“Eh, iya ya! Bener lu, Ka!”

“Eeeaaa yang puberty-nya parah banget.”

“Zoe cantik, jadi pacar gue dong!”

“Udah enggak pake behel lagi, Zoe?”

Dan pertanyaan ataupun pernyataan lainnya kubalas dengan memutar kedua bola mataku. Sampai-sampai bola mataku pegal karena memutarnya berkali-kali. Aku memang berubah, sangat. Perubahanku malah begitu mencolok. Dulu bisa dibilang aku jelek, sangat jelek malah. Karena dulu aku memakai behel dan wajahku berjerawat meski tidak banyak, biasalah remaja. Tapi sekarang aku sudah rajin merawat wajahku dan aku sudah lepas behelku dari 4 setengah tahun yang lalu.

Beberapa teman SMA-ku sih sudah ada yang tahu aku sudah lepas behel tapi ada juga yang enggak tahu. Dan memang perubahanku yang kentara ini membuat beberapa temanku berdecak kagum. Banyak yang mengira aku operasi plastik. Ada-ada aja.

“Zoe, gue seriusan. Lo oplas?” tanya Azka, salah satu teman SMA-ku yang sekelas denganku waktu kelas tiga. Aku hanya menggeleng pelan dan tertawa kecil.

“Enggak kok. Gue cuman rajin ngerawat muka gue aja. Memangnya kenapa, Ka?” jawabku. Yang tadi bertanya hanya terdiam sembari meneleti wajahku dengan tatapan matanya. Aku yang risih dengan tatapannya pun akhirnya membuang wajahku dan berakhir dengan melihat dia. Manik mata hitam sehitam Black hole menatapku dengan tajam. Manik mata yang sama ketika aku melihatnya di Dreamers Cafe maupun di Würzburg, Jerman. Mataku terus terpaku kepada manik hitam tersebut sampai jawaban itu terdengar.

“Enggak kenapa-napa. Cuman, lo beda banget. Makin cantik,” ujar Azka yang membuatku menatapnya kembali. Terpasang senyum manis di wajah Azka membuat lesung pipinya terlihat. Sungguh cowok yang imut, banget. Aku tersenyum mendengar pernyataan sekaligus pujian dari Azka tanpa berniat membalas. Kemudian aku izin pamit kepadanya untuk mengambil minum dan ia menawarkan agar dirinya saja yang mengambil yang kutolak dengan halus.

Aku berjalan menuju tempat dimana berbagai minuman disajikan tapi sebelum aku meraih satu gelas minuman ada tangan seseorang yang menyodorkan segelas minuman berwarna biru muda kepadaku. Aku pun meraihnya kemudian melihat wajah orang yang telah berbaik hati memberiku minuman ini.

Dia. Iya, ternyata orang itu adalah dia. Dia ada disini. Dihadapanku dengan pakaian formal dan tentu dengan gaya rambutnya yang spike yang sudah disisir rapih dan jangan lupakan manik mata hitamnya yang menatapku tajam dan dalam.

Dean. Dia Dean. Dia disini entah bagaimana caranya. Eh tunggu! Bagaimana bisa dia ada disini?

“Kamu?”

“Hai!” sapanya kepadaku.

“Bagaimana bisa?” tanyaku dengan dahiku yang mengkerut karena benar-benar bingung dengan keadaan ini.Bisa-bisa aku cepat keriput kalau suka bingung seperti ini. Lagipula, saat aku mengobrol dengan Azka, aku mengira manik mata hitam itu hanya halusinasiku saja. Tapi dia benar-benar ada disini. Ini benar-benar, “Enggak terduga ya, kita bisa ketemu lagi.”

Yeah, tidak terduga. Kejutan yang benar-benar tidak terduga. Tiga kali kami bertemu secara kebetulan dan itu sungguh, keren. Kapanlagi bisa ketemu orang yang sama selama tiga kali berturut-turut?

“Yeah, tiga kali aku ketemu sama kamu secara kebetulan. Sungguh ini keren dan diluar ekspetasi aku. Kukira kita tidak akan bertemu lagi sejak pertemuan terakhir kita di Würzburg tapi sepertinya Tuhan berkata lain,” ucapku jujur. Memang diluar ekspetasiku. Bagaimana bisa Tuhan mempertemukan kembali dengannya disaat pertemuan kami di Würzburg – yang juga secara kebetulan – berakhir dengan kecanggungan.

“Mungkin, Tuhan telah menjodohkan kita. Mungkin,” ucapnya dengan santai sambil tersenyum dan mengangkat kedua alisnya. Kedua tangannya ia masukkan kedalam kantung celananya. Sedangkan aku sudah benar-benar kaget mendengarnya. Berjodoh dengan om-om di depanku ini?

“Hahaha, jangan bercanda deh,” tawaku secara terpaksa karena masih terpikir kata-katanya. Memang mungkin saja sih. Kalau berjodoh juga tidap apa-apa juga sih, kan om-nya tampan, eh.

“Saya serius. Tidak ada yang namanya kebetulan tiga kali, yang ada hanyalah takdir. Mungkin takdir kita adalah bahwa kita berjodoh?” ucapnya serius. Manik mata sehitam black hole itu menatapku dalam yang mebuat tawaku berhenti dan aku terdiam dengan tatapan mata tertuju ke manik mata tersebut. Aku terperangkap dalam manik mata itu dan tidak sadar bahwa ia telah mendekat ke arahku secara perlahan. Wajahnya telah berada beberapa senti di depan wajahku. Ia memiringkan kepalanya dan kemudian semua yang berada dipikiranku rasanya kabur entah kemana. Setelah itu aku tersadar saat ia sudah menjauh lagi. Tadi itu, kenapa ya?

“Apa?” tanyaku. Yang ia jawab dengan senyuman. Senyum misterius yang membuatku bertanya-tanya. Ia tertawa kecil melihatku kebingungan saat ini. Suara tawanya itu, merdu sekali membuat pipiku memerah.

“Aku kesini karena aku juga seorang Alumni SMA Vertagon. Kamu juga, bukan?” jawabnya yang sungguh tidak nyambung dengan pertanyaanku tadi. Aku masih bingung tapi aku mengabaikannya. Aku hanya ber-oh ria dan mengangguk pelan.

Ia tertawa kecil lagi kemudian meraih tanganku yang bebas dan menautkan jari-jari tangannya dengan jari-jari tanganku. Setelah itu ia menarikku pelan sembari berkata, “Ayo, aku akan mengenalkan kamu kepada teman-temanku.”

 

*********

 

14 Juni 2014, Bandung

Hari ini hari sabtu. Aku mengisi weekend-ku dengan berjalan-jalan di sekitar Bandung sembari menyalurkan hobiku, fotografi. Semua objek yang menarik perhatianku akan ku bidik kemudian memotretnya meskipun itu dua orang yang sedang berpacaran.

Kembali kucari objek yang menarik perhatianku dan aku mendapatkannya tidak lama. Seorang perempuan memakai beanie hitam yang sedang memakan gulali menjadi targetku yang ketiga puluh tujuh. Perempuan dibidikan-ku itu seperti perempuan-perempuan yang di tumblr saja. Pasti banyak laki-laki yang tertarik sama dia. Kalau aku jadi laki-laki, aku bakal suka sama dia.

Omong-omong soal laki-laki, aku teringat pertemuan terakhirku dengannya. Saat itu ia mengajakku berkenalan dengan teman-temannya dan mengenalkanku sebagai wanita-nya. Aku pura-pura terlihat santai dan tersenyum kepada teman-temannya meski jantungku berdetak lebih cepat dari biasanya. 

Setelah itu ia mengantarku pulang ke rumah dengan selamat. Tapi sebelumnya ia menanyakan nomor teleponku yang tentu saja kuberikan kepadanya karena telah berbaik hati mengantarkanku pulang. Beberapa hari kemudian ia menelponku dan menanyakan kabarku yang kujawab dengan senang hati entah kenapa. Sejak saat itu kami saling berhubungan meski tidak saling bertemu. Aneh ya?

Huh, targetku jadi bergerak karena aku terlalu lama bengong. Aku pun membidik perempuan itu lagi meski aku harus bergerak sesuai gerakannya. Susah memang tapi bagaimana pun aku harus professional.

Tunggu tunggu! Tadi aku melihat dia di dekat pohon dimana tidak jauh dari perempuan gulali itu berdiri. Aku mencoba mengarahkan lagi bidikkanku ke arah pohon itu dan melihat dia sedang memegang sebuah karton putih. Aku memperbesar bidikkan ku dan benar dugaanku, itu dia, Dean. Sambil memegang karton putih dengan sebuah tulisan, ia tersenyum lebar ke arahku. Senyuman yang membuatku ikut tersenyum.

Aku membaca tulisan itu dan tercengang melihat tulisannya. Apalagi dengan teriakkan yang sudah pasti tertuju ke arahku.

“ZOENNA BLUE, WILL YOU MARRY ME?” yang sudah pasti aku jawab dengan, “OF COURSE, YES!”

Bukankan itu sebuah takdir bahwa kita berjodoh? Bahwa pertemuan pertama kami di kedai yang mengawali jalan cerita tentang kisah kami berdua. Bagaimana denganmu?

 

THE END

18 Komentar

  1. Hai hai
    Sblm baca mau komen ini dlu,lope lope ny ga bsa ke klik ka

    1. Sekarang udah bisa loh palah

  2. Oalahhh bisa ternyata, td ngapa kagak bsa yak haha
    Cuzz baca dlu ya

  3. Aduhhhh manis bngt sih ceritany
    Jdi melting ting ting hihi
    Ini end gtu ka, atau nnt ada lanjutanny hihi
    Ditunggu kelanjutanny /karya2ny yg lain
    Semangat trs yak

    1. Thx ya udah baca! Padahal ini ceritanya absurd bgt ><
      Ini baru point of viewnya si cewek, yang cerita ku selanjutnya pov dr si cowok.

    2. Ok Siapp
      Ditunggu ya ka
      Iy bnr manis bngt ini hihi

  4. wow romantis…

    1. Thx ya udh baca!

  5. Maaaaniiiiis bgt 🙂 ditunggu pov nya dean yaaa

  6. bikin aku jadi baper,,, tapi syang ke pendekan… coba di bikin bbrpa chap :PATAHHATI

  7. Dalpahandayani menulis:

    Bagus bnget emang kalau pertemuan ketiga tanpa sengaja mungkin Takdir
    Singkat tapi sweet dan romantisnya dapat bnget

  8. Terus berkarya, ya !

  9. aduh sweet banget,,
    kebetulannya gak disengaja kan ya??
    hehehe

  10. Waaahhh romantis bangettt

  11. fitriartemisia menulis:

    sweet :inlovebabe

  12. Kasih vote dulu ya

  13. Wah udh end aja, one shot dong ya

  14. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan