Daftar Postingan
Unspoken Vows – Bab 3
PublishBab 3. Evelyn Whitmore Evelyn Whitmore tidak pernah menyangka dirinya akan menjejakkan kaki di kota London. Hidupnya selama dua puluh tahun lebih banyak dihabiskan di desa kecil dekat Wiltshire, tempat rerumputan membentang luas dan suara lonceng gereja menjadi penanda waktu. Kehidupan di sana sederhana, nyaris monoton, tapi aman. Ia terbiasa…
Unspoken Vows – Bab 2
PublishBab 2. Kabut di Kota London Kabut tipis menggantung di atas Sungai Thames, seperti tirai kelabu yang menutupi denyut kota. Jembatan-jembatan besar dipadati lalu lintas: kereta kuda berderit, para kusir berteriak-teriak mengatur jalan, sementara derap sepatu para pejalan kaki menyatu dengan bunyi peluit polisi kota yang sibuk menjaga ketertiban. Pasar…
Prolog London, 1856. Asap dari cerobong pabrik bergulung di udara, menutup langit sore yang seharusnya berwarna keemasan. Jalan-jalan utama dipadati kereta kuda, sementara kaum bangsawan berjalan anggun dengan gaun sutra berlapis renda dan topi besar yang tampak lebih berat daripada isi kepala mereka. Kota itu, meski penuh keagungan, juga berisik…
Dear diary
PublishAda tokoh utama yang kutulis dalam diary-ku. Mereka ku namai Elang, Rajawali, dan Gagak. Aku mengagumi mereka! Tiga lelaki terbaik yang hadir dalam hidupku. Aku banyak belajar dari karakter mereka. Dialah, Elang : Pewarna dunia-ku, Rajawali : Perisai hati-ku, serta, Gagak : Penyelaras ego-ku, Diam-diam ku titipkan do'a untuk mereka…
Kau Tangguh!
PublishEntah kenapa di sudut temaram, di bilik reyot itu ku dapati sosok bayangannya. Menatap nanar padaku dengan wajah memucat dan tersenyum getir. Sesaat, sosoknya mendekat, wajahnya kian terlihat samar. Dia berbisik pelan, "Kau tangguh!" Seketika, wujudnya lenyap bak asap lilin mengudara. Membiarkanku terpaku sendirian dalam samar-samar suara yang nyata atau…
“Apa kau tahu bahwa pemilik perusahaan akan kemari hari ini?” Terresa berujar antusias membuat Vanessa mengernyitkan dahinya bingung pasalnya dia tidak memberitahu siapapun perihal kedatangan pemilik perusahaan. Sejenak, matanya berkeliling dan menatap para wanita yang sedikit aneh dengan penampilan mereka. Tidak seperti biasanya. Ada yang sedang memakai bedak, lip,…
Vince memasuki sebuah ruangan dimana seseorang terbaring tak berdaya selama dua tahun. Bunyi monitor vital sign menandakan bahwa pria yang terbaring itu masih hidup walau dalam keadaan koma. “Tuan, anda datang?” Sapa seorang pria paruh baya bernama Benedict yang baru saja keluar dari ruang kerjanya yang…
Buy me a cup of cold chocolate and we can sit anywhere quiet, to talk about life. If you're a good listener, I'll tell you my deepest secret, my fav part of a book, my sorrow. Or the way around. We don't have to talk about meaningless shit. We…
Vanessa merasakan tempat tidurnya bergerak. Ia membuka mata perlahan dan mendapati Willson dengan pipi tembem yang merah merona kini sedang menatapnya dengan mata hijaunya yang indah. “Onti bangun..” Ujarnya dengan nada yang merengek karena Vanessa masih setia menatapnya lalu berkedip beberapa kali kemudian tersenyum. “Ada apa, Sayang?” Suara…
“Vanessa Caulfield!!!” Teriak seorang wanita yang seumuran dengannya dengan nada jengkel. Vanessa menoleh dan tersenyum simpul menanggapi sang teman yang kini sedang menunjukkan kejengkelannya. “Kenapa kau terlihat berantakan begini, dear. Itu tidak cocok denganmu.” Vanessa berujar tenang sementara sang sahabat sudah mengepalkan tangannya erat. “Kau membuatku malu, Vane!…
