Bab 11. Bayangan di Taman
Udara malam di taman Pembroke terasa segar, lembap oleh embun, dan beraroma campuran mawar serta tanah basah. Lentera kaca yang digantung di sepanjang jalur batu berkelip lembut, seakan cahaya bintang turun lebih dekat ke bumi. Evelyn melangkah perlahan, dengan Lady Selwyn masih mengaitkan lengannya.
“Lihat,” ujar Lady Selwyn lembut, matanya melirik taman seakan ia memang hanya berniat menemani seorang tamu muda menikmati malam, “tempat ini lebih jujur daripada ruangan penuh sutra dan topeng tadi. Setidaknya, bunga tidak menilai siapa yang kau ajak berdansa.”
Evelyn tersenyum kaku. “Saya rasa, bunga pun tetap dipetik oleh tangan yang berkuasa, My Lady.”
Lady Selwyn menoleh, tatapan matanya menyiratkan sedikit terkejut, lalu ia tersenyum samar. “Pandangan yang tajam untuk seorang yang tampak begitu tenang.”
Evelyn menunduk, tidak membalas.
Langkah mereka berhenti di dekat air mancur bundar yang berkilau diterpa sinar bulan. Lady Selwyn melepaskan kaitan tangannya, memberi Evelyn ruang untuk berdiri sendiri. “Apakah kau menikmati pestanya sejauh ini?”
Pertanyaan itu terdengar biasa, namun Evelyn tahu bahwa hampir semua yang keluar dari mulut seorang wanita bangsawan jarang tanpa maksud. Ia menjawab hati-hati, “Pesta ini… berbeda dari apa pun yang pernah saya hadiri sebelumnya. Saya rasa sulit untuk mengatakan saya menikmatinya, tapi saya tidak menyesal berada di sini.”
Lady Selwyn menatapnya lama, lalu tertawa kecil. “Jawaban yang sangat berhati-hati. Kau benar-benar belajar dengan cepat.”
Evelyn hendak membalas, namun suara langkah berderak di jalur batu memotong percakapan mereka. Lady Selwyn menoleh lebih dulu, senyumnya mengembang seolah sudah menduga siapa yang akan muncul. Evelyn merasakan jantungnya berdegup keras ketika sosok tinggi dalam mantel hitam panjang muncul dari balik bayangan pohon elm.
Duke of Wexford.
Sang Duke berjalan tanpa tergesa, tangan kirinya di belakang punggung, langkahnya mantap dan tenang. Dari jauh pun sorot matanya sudah terfokus pada Evelyn, membuatnya ingin menunduk, namun juga tak mampu berpaling.
“Lady Selwyn,” ucap Nathaniel begitu ia mendekat, suara dalamnya memecah keheningan. Ia sedikit membungkuk sopan. “Nona Whitmore.”
Evelyn buru-buru membalas dengan anggukan kecil, merasa suaranya akan bergetar jika ia mencoba berbicara.
Lady Selwyn menutup kipasnya, lalu menyelipkannya ke dalam lipatan gaun. “Aku rasa udara malam memang menyegarkan bagi siapa pun, bukan begitu, Your Grace?”
Nathaniel melirik Evelyn sekilas, lalu kembali menatap Lady Selwyn. “Tampaknya memang begitu. Walau aku harus mengakui, jarang sekali aku menemukan alasan untuk meninggalkan keramaian di aula… kecuali kali ini.”
Nada suaranya nyaris datar, namun Lady Selwyn menangkap maksudnya dengan cepat. Ia tersenyum kecil, menunduk seolah mengerti, lalu berkata, “Baiklah. Aku akan kembali ke dalam. Tidak sopan jika aku menghilang terlalu lama dari tuan rumah.”
Evelyn menoleh cepat pada Lady Selwyn. “My Lady—”
“Tidak perlu khawatir,” potong Lady Selwyn lembut, “aku tidak meninggalkanmu sendirian. Aku hanya memberimu kesempatan untuk berbicara dengan seseorang yang, kurasa, juga enggan terjebak terlalu lama dalam topeng-topeng itu.” Ia menatap Nathaniel sejenak, lalu kembali ke Evelyn. “Ingatlah, aku masih bertanggung jawab atas keselamatanmu. Jadi jangan pergi jauh.”
Dengan gerakan anggun, Lady Selwyn berjalan kembali ke arah aula, meninggalkan mereka berdua di bawah cahaya bulan.
Hening.
Evelyn memandangi air mancur, berharap Nathaniel tidak menyadari betapa gelisah dirinya. Namun suara berat pria itu segera menyusul, rendah dan dalam, menusuk keheningan.
“Kau tampak ingin sekali melarikan diri, Nona Whitmore.”
Evelyn menelan ludah, lalu berbalik menatapnya dengan mata membesar. “Saya—saya hanya butuh udara segar, Your Grace.”
Nathaniel mencondongkan tubuh sedikit, meski jarak di antara mereka tetap sopan. “Begitukah? Anehnya, kau terlihat seperti seseorang yang dikejar sesuatu, bukan seseorang yang sekadar ingin menikmati udara malam.”
Pipi Evelyn memanas. “Anda terlalu banyak menebak.”
Nathaniel membiarkan satu alisnya terangkat, lalu menatapnya dalam. “Mungkin. Atau mungkin aku hanya membaca sesuatu yang kau sendiri tidak ingin katakan.”
Ia berdiam sejenak, menatap wajah Evelyn seolah berusaha menyingkap lapisan-lapisan rahasia di balik mata gadis itu. Evelyn menggenggam erat jemarinya, berharap tatapan itu tidak membuatnya runtuh.
“Kalau begitu,” lanjut Nathaniel perlahan, “biarkan aku menanyakan hal yang lebih sederhana. Apakah kau benar-benar berniat meninggalkan pesta malam ini?”
Evelyn mengerjap. “Apakah itu… sebuah tuduhan, Your Grace?”
“Tidak.” Sebuah senyum samar muncul di wajahnya, nyaris tidak terlihat jika bukan karena cahaya lentera. “Itu hanyalah sebuah kekhawatiran.”
Kekhawatiran? Kata itu membuat dada Evelyn bergemuruh aneh. Ia menunduk cepat, tidak sanggup menatap mata pria itu lebih lama. “Anda tidak perlu khawatir tentang saya. Saya hanyalah tamu kecil, kehadiran saya bahkan tidak akan diperhatikan.”
Nathaniel menunduk sedikit, berusaha mencari tatapan matanya. “Kau salah.”
Kata-kata itu, sederhana namun berat, membuat Evelyn tak mampu bergerak.
*
Keheningan di antara mereka hanya diisi oleh suara gemericik air mancur yang jatuh berulang ke kolam kecil di bawahnya. Udara malam membawa aroma samar bunga mawar dari taman, bercampur dengan wangi lilin yang masih terbawa dari aula pesta. Evelyn menatap permukaan air yang berkilau, berusaha keras menahan pandangannya agar tidak bertemu dengan mata Nathaniel. Refleksi samar wajahnya sendiri di permukaan air tampak lebih aman daripada menanggung sorot tajam pria itu, yang seakan mampu menembus segala lapisan pertahanan dirinya.
Namun, suara berat Nathaniel akhirnya memecahkan jarak itu, membuat Evelyn tersentak halus.
“Aku…” Suaranya tertahan sejenak. “Di aula tadi—”
Kalimat sederhana, namun bagi Evelyn terasa bagai guncangan. Tubuhnya menegang, jantungnya berdebar lebih cepat, hampir membuat lututnya goyah. “Y-ya?” jawabnya terbata, nyaris seperti bisikan.
Nathaniel mengaitkan kedua tangannya di belakang punggung, posturnya tegak namun sama sekali tidak terlihat kaku. Ada kendali penuh dalam setiap geraknya, sebuah ketenangan yang lahir dari kebiasaan memimpin. Matanya menatap lurus, dalam dan tak tergoyahkan.
“Ketika gaunmu tersangkut… dan kau hampir terjatuh. Aku tahu semua mata tertuju padamu saat itu.”
Kata-kata itu membuat darah naik ke wajah Evelyn. Ia kembali merasakan rasa malu yang menyesakkan, seolah kejadian memalukan itu baru saja terjadi di hadapannya. Ia menggigit bibir bawahnya dengan gelisah, jemarinya meremas bagian rok gaunnya. “Saya—saya mohon, lupakan saja, Your Grace. Itu hanya—”
“Tidak perlu membela diri,” potong Nathaniel dengan nada datar. Namun ada sesuatu di balik suara dingin itu, kelembutan tipis yang tak bisa ia sembunyikan. “Tidak seorang pun berhak menertawakanmu karena hal sepele semacam itu. Jika saja aku lebih dekat saat itu, aku tidak akan membiarkanmu berdiri sendirian menghadapi ejekan mereka.”
Evelyn menunduk, kepalanya semakin merapat. Kata-kata itu menekan dadanya dengan berat yang tak terduga, lebih menyakitkan daripada tawa siapa pun yang sempat ia dengar di aula. Ada iba di dalam ucapan Nathaniel, dan iba itu jauh lebih sulit ditanggung daripada penghinaan. Ia takut jika ia mendongak sedikit saja, matanya akan berkaca-kaca di hadapan pria itu.
Nathaniel mengalihkan pandangannya ke langit malam. Bintang-bintang tampak samar di balik cahaya kota, namun ia menatapnya sejenak, seolah mencari jeda sebelum kembali menurunkan pandangannya pada Evelyn. Tatapannya kini tidak lagi setajam sebelumnya, melainkan lebih dalam, lebih pribadi.
“Ingatlah, Nona Whitmore… bahkan dalam keramaian yang tampak gemerlap, tidak semua orang menertawakanmu. Ada pula yang… sekadar memperhatikan.”
Evelyn terdiam. Kata-kata itu menggema, mengalir masuk ke dalam dirinya, menancap seperti pisau bermata dua: antara penghiburan dan ancaman, antara perhatian dan pengakuan samar. Jantungnya berdegup semakin keras, begitu keras hingga ia takut Nathaniel bisa mendengarnya. Tangannya yang gemetar perlahan meraih sisi air mancur, mencari pegangan.
Ia tidak tahu harus merasa apa. Terharu, takut, atau justru semakin terseret pada sosok yang sudah dua kali sebelumnya muncul dalam hidupnya dengan cara yang mengejutkan. Tapi satu hal jelas: malam itu, di bawah cahaya lilin yang memantul di permukaan air, Nathaniel Kingsley bukan sekadar Duke yang berdiri di hadapannya—ia adalah pria yang… untuk pertama kalinya, benar-benar melihat dirinya.

