1000520240 8
Vitamins Blog

Unspoken Vows – Bab 9

1
Views:2
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Bab 9. Kehadiran sang Duchess

Dentum sepatu kuda di luar masih samar terdengar ketika pintu aula besar terbuka dengan perlahan. Semua kepala menoleh serempak, seolah sebuah panggung baru saja dibuka tirainya.

Di ambang pintu berdirilah seorang wanita muda dengan aura yang sulit diabaikan. Her Grace, Duchess of Hawthorne.

Gaunnya terbuat dari satin biru gelap yang memantulkan cahaya lilin, dihiasi sulaman perak yang membuat setiap langkahnya tampak seperti aliran air di bawah bulan. Rambutnya disanggul rapi, dihiasi mutiara kecil, dan lehernya jenjang dibalut kalung safir—sederhana namun mematikan dalam keanggunannya. Senyumnya tipis, bukan senyum lemah lembut seorang gadis pemalu, melainkan senyum yang menandakan ia tahu setiap tatapan di ruangan itu adalah miliknya.

Gosip sudah lama menyebutkan bahwa sang Duchess muda adalah salah satu wanita paling berkuasa di lingkar bangsawan. Kaya karena warisan, cerdas karena pendidikan, dan cantik karena Tuhan memang berbaik hati kepadanya. Namun yang lebih sering dibicarakan bukanlah harta ataupun kecantikannya, melainkan fakta bahwa setiap pesta, setiap acara resmi, selalu saja ada yang berusaha menjodohkannya dengan… Duke of Wexford.

Evelyn, yang berdiri tak jauh dari meja minuman, merasakan jantungnya berdegup sedikit lebih cepat. Ia menyadari betul—firasatnya benar. Pria yang ditemuinya di toko buku bukan pria biasa, dan kini, di pesta yang berkilauan ini, ia menyaksikan dunia yang benar-benar berbeda dari dirinya.

Henry, tentu saja, bereaksi dengan cara paling khas. Ia mendesah panjang, lalu berbisik cukup keras untuk membuat beberapa tamu di dekatnya menahan tawa. “Your grace, lihatlah. Ia masuk seperti dewi yang baru turun dari langit. Kalau aku berdiri di sebelahnya, aku pasti terlihat seperti petugas kandang kuda.”

Nathaniel meliriknya sekilas, datar. “Itu karena memang begitu adanya, Collingwood.”

Henry mendengus, pura-pura tersinggung. “Kau melukai perasaanku. Aku akan menulis surat panjang ke koran besok.”

Sementara itu, Duchess Hawthorne mulai bergerak memasuki ruangan. Para bangsawan memberi jalan dengan anggukan sopan, beberapa pria muda bahkan terlihat menegakkan tubuh mereka lebih tinggi, berharap mendapat lirikan darinya. Ia berjalan dengan langkah ringan, namun setiap gerakannya penuh perhitungan, seolah ia tengah menilai siapa yang pantas menjadi sekutunya, dan siapa yang hanya figuran dalam panggungnya.

Akhirnya, ia tiba tepat di hadapan Nathaniel dan Henry.

“Your Grace,” katanya sambil menundukkan kepala sedikit pada Nathaniel. Suaranya merdu, namun mengandung ketegasan seorang wanita yang tahu betul posisinya. “London tidak akan pernah berhenti membicarakanmu. Sungguh menyenangkan akhirnya bertemu lagi setelah sekian lama.”

Henry menutup mulut dengan punggung tangannya, menoleh pada Nathaniel dengan mata membesar, ia berbisik pelan. “Oh, ‘akhirnya bertemu lagi’? Kingsley, kau menyembunyikan sejarah dariku. Ini pengkhianatan sahabat.”

Nathaniel menanggapi seolah Henry hanyalah dengung lebah yang lewat. Ia membalas dengan anggukan sopan. “Duchess Hawthorne. Kehadiran Anda selalu menjadi… pusat perhatian.”

Duchess tersenyum, kali ini lebih hangat, meski matanya meneliti wajah Nathaniel seperti ingin membaca pikiran yang ia sembunyikan. “Orang mengatakan hal yang sama tentang Anda. Tetapi saya khawatir, ketidakberadaan Anda di pesta-pesta akhir-akhir ini justru membuat semua orang semakin penasaran. Seorang Duke muda yang menghilang begitu lama tentu melahirkan banyak spekulasi.”

Henry tidak dapat menahan dirinya. Ia mencondongkan tubuh, suaranya cukup keras untuk didengar seisi lingkaran tamu di sekitar mereka.

“Salah satu spekulasi itu adalah: ia diam-diam menikah dengan seorang wanita misterius dan menyembunyikannya di rumah pedesaan. Sayangnya, aku sudah mengecek setiap rumah pedesaan miliknya. Tak ada seorang pun kecuali tikus-tikus yang sangat kesepian.”

Gelak tawa kecil pecah di antara para tamu. Duchess menoleh ke arah Henry, menatapnya sejenak sebelum tersenyum tipis. “Lord Collingwood, selalu penuh warna. Kehadiran Anda membuat percakapan apa pun menjadi… tak terlupakan.”

“Ah, itu bakat alami,” jawab Henry santai. “Aku bisa merusak suasana pesta hanya dengan secangkir teh yang basi.”

Nathaniel meneguk anggurnya, pura-pura tidak mendengar. Namun Evelyn, dari sudut ruangan, memperhatikan dengan seksama. Baginya, yang berasal dari luar lingkar bangsawan, semua ini terasa seperti drama besar yang dimainkan oleh aktor-aktor berpengalaman—dan entah bagaimana, ia kini ikut terseret ke dalamnya.

Duchess Hawthorne kemudian menoleh kembali pada Nathaniel. “Apakah aku akan beruntung malam ini, Your Grace? Mungkin mendapat kehormatan berdansa denganmu? Atau kau akan tetap bersembunyi di balik meja minumanmu, seperti biasanya?”

Ucapan itu menimbulkan desahan kecil dari para tamu. Semua tahu, Duchess jarang sekali meminta berdansa pada seorang pria, karena biasanya, pria-lah yang memohon.

Henry menoleh cepat pada Nathaniel, matanya bersinar nakal. “Oh, ini menarik. Kau akan menolak, Nate? Jika kau menolak, aku bersedia mengorbankan diri. Tentu saja, itu akan membuatku jadi bahan gosip se-London, tapi demi seni, aku siap.”

Nathaniel tidak menanggapi ejekan Henry. Ia memandang Duchess dalam-dalam, kemudian menjawab dengan nada tenang, “Kehormatan itu milik Anda, Duchess.”

Senyum tipis Duchess semakin melebar. Ia mengulurkan tangannya, dan Nathaniel, tanpa tergesa, meletakkan tangannya di sana.

Evelyn menggenggam erat gelasnya. Ia tidak tahu mengapa, tapi ada rasa yang bergejolak di dadanya, sebuah perasaan asing yang tak bisa ia beri nama.

Sementara itu, Henry bersandar pada kursi terdekat, mendesah dramatis. “Sungguh malam yang indah. Sang Duke akhirnya menari. Aku harus segera menulis surat pada koran besok pagi: Keajaiban Terjadi di London!”

*

Dentuman lembut musik waltz mengalun, memenuhi aula luas yang diterangi ratusan lilin kristal. Lantainya berkilau, memantulkan bayangan gaun sutra dan sepatu berkilap. Sejenak, London yang berisik seakan teredam di balik dinding-dinding megah rumah Pembroke itu.

Ketika nama Duchess of Hawthorne, Lady Seraphina Stavely, diumumkan, seisi ruangan serempak berbalik. Gaun biru safirnya berkilau diterpa cahaya, sulaman perak di sepanjang lengan tampak seperti air yang bergerak. Tiara mungil bertatahkan safir bertengger anggun di rambut hitamnya yang disanggul sempurna. Semua wanita yang tadinya merasa paling memesona, mendadak kehilangan keyakinan.

Nathaniel, meski enggan, tak bisa mengelak ketika Seraphina mendekat dengan senyum terukur. Ia menunduk, menyentuh ujung tangannya, dan pelayan musik segera mengganti tempo menjadi lebih anggun.

“Your Grace,” suara Seraphina lembut, tapi terdengar jelas hingga beberapa tamu terdekat. “Akan sangat tak sopan bila aku tidak mengambil kesempatan berdansa dengan Duke of Wexford di hadapan sekian banyak mata.”

Nathaniel tidak menyukai sorotan, tetapi menolak berarti menciptakan rumor yang lebih merepotkan. Maka ia mengulurkan tangan, menariknya ke tengah lantai dansa.

Sekejap, aula senyap.

Dua sosok itu—Duke of Wexford yang terkenal dingin dan Duchess of Hawthorne yang memesona—bergerak serasi. Langkah mereka seirama, seolah sudah terlatih berulang kali, meski kenyataannya Nathaniel jarang sekali menghadiri pesta. Tatapan kagum, bisikan lirih, bahkan desahan iri mengalun di udara.

Di sudut aula, Evelyn menegakkan punggungnya dengan kikuk. Ia merasa dirinya terlalu polos dengan gaun pinjaman, apalagi ketika dibandingkan dengan pancaran cahaya seorang Duchess. Lady Selwyn, yang berdiri di sampingnya, mendesah sambil mengibas kipas gadingnya.

“Ah, kau lihat, Evelyn?” suara Lady Selwyn penuh semangat, namun tetap menjaga sopan santun. “Begitulah, Duke of Wexford dan Duchess of Hawthorne. Sudah lama masyarakat menganggap keduanya adalah pasangan yang ditakdirkan. Sejak mereka sama-sama hadir dalam perjamuan kenegaraan beberapa tahun lalu, nama mereka tak pernah lepas dari gosip kolom sosial.”

Evelyn menoleh, menelan ludah. “Mereka… dijodohkan, Lady Selwyn?”

Lady Selwyn tersenyum penuh arti. “Tidak secara resmi, tentu saja. Namun, para bangsawan tua gemar menyulam kabar—dan para ibu berharap. Kecantikan Lady Seraphina dan ketenangan sang Duke adalah alasan yang cukup bagi khalayak untuk menganggap mereka serasi. Bahkan, tak sedikit yang menantikan pengumuman pernikahan mereka. Oh, kau tahu, ketika keduanya berdiri bersama, hampir mustahil menolak bayangan masa depan itu.”

Kata-kata itu menancap di benak Evelyn. Pandangannya terarah pada pasangan yang sedang berputar di tengah ruangan. Gerakan mereka begitu elegan, seakan dunia benar-benar hanya ada untuk mereka berdua. Evelyn menggenggam ujung sarung tangannya erat-erat, mencoba menghapus rasa asing yang menyusup ke dadanya.

“Lihat, bahkan Lord Pembroke tampak tersenyum lebar malam ini,” lanjut Lady Selwyn sambil berbisik, meski senyumnya mengandung nada geli. “Jika saja ia tidak terlalu suka ikut campur urusan orang lain, mungkin aku bisa ikut percaya bahwa mereka berdua memang ditakdirkan.”

Evelyn hanya mengangguk, matanya tak bisa lepas dari sosok pria dingin itu. Nathaniel—atau Ashford sebagaimana ia pernah mengenalnya secara singkat—jelas bukan pria biasa. Kini, bukti itu menari di hadapannya.

Namun, takdir punya caranya sendiri mempermainkan keadaan.

Ketika musik mencapai klimaks dan Nathaniel melepaskan tangan Seraphina dengan sopan, arus tamu yang berdesakan di aula mendorong beberapa orang ke arah lantai dansa. Evelyn, yang berdiri sedikit terlalu dekat dengan kerumunan, tiba-tiba terseret langkah-langkah tergesa.

“Ah—!” ia terperanjat, mencoba menghindar, tapi terlambat.

Dalam sekejap, ia terhempas masuk ke lingkaran yang baru saja ditinggalkan pasangan paling diperhatikan malam itu. Semua kepala menoleh, seakan menunggu babak berikutnya.

Dan Nathaniel, berdiri hanya beberapa langkah darinya, menatap tepat ke arah Evelyn.