Bab 7. Kecanggungan yang Terasa
Aula besar kediaman Earl of Pembroke berkilau oleh cahaya ribuan lilin yang dipantulkan kristal gantung. Musik waltz mengalun, langkah-langkah elegan berputar di lantai dansa, sementara bisikan-bisikan lembut terdengar di antara kipas sutra dan gelas kristal.
Evelyn Whitmore berdiri di sisi Lady Selwyn, berusaha menyembunyikan rasa kikuknya. Ia menatap sekeliling, matanya menyapu gaun-gaun mewah, perhiasan berkilauan, dan topeng senyum yang tampak dipasang di wajah para bangsawan. Semakin lama ia berada di ruangan itu, semakin ia merasa seperti seekor burung pipit yang tanpa sengaja tersesat di antara burung merak.
Dan di tengah hiruk-pikuk pesta, ia kembali merasakan tatapan itu.
Nathaniel Kingsley, Duke of Wexford.
Berdiri tegap di dekat pilar, sosoknya menonjol bahkan tanpa berusaha. Setelan jas hitamnya sederhana dibandingkan dengan beberapa bangsawan yang berlebihan dalam memilih warna dan aksesori, namun justru kesederhanaannya yang membuatnya mencolok. Evelyn menelan ludah, dadanya terasa sesak. Ia tahu firasatnya benar sejak pertemuan pertama di kedai teh, lalu di toko pamannya. Pria itu bukan orang biasa.
Dan kini, melihat namanya diumumkan lantang di pintu masuk, keraguannya benar-benar sirna.
Nathaniel tidak menunggu lama. Dengan langkah mantap, ia mendekati Lady Selwyn dan menundukkan kepala dengan sopan.
“Lady Selwyn,” ucapnya dalam nada yang dalam dan tegas.
Lady Selwyn menyambutnya dengan senyum lebar. “Ah, Your grace!” Ia merendahkan sedikit badannya yang diikuti oleh Evelyn. “Malam ini akhirnya aku melihatmu hadir juga. Pesta akan terasa kurang lengkap tanpa hadirmu.”
Nathaniel hanya menanggapi dengan senyum tipis, lalu matanya beralih—tepat ke Evelyn.
Evelyn merasa tubuhnya membeku. Ia merunduk sedikit, berharap gaun biru pucat pinjaman itu bisa membuatnya tak kasat mata. Namun tentu saja, itu tidak berhasil.
“Dan ini…?” tanya Nathaniel lembut, seolah-olah ia tidak mengenalinya.
“Oh, pendampingku malam ini,” jawab Lady Selwyn riang. “Miss Evelyn Whitmore. Gadis yang pintar, sopan, dan jauh lebih menyenangkan daripada para gadis muda yang selalu sibuk memamerkan silsilah keluarga mereka.”
Evelyn buru-buru melakukan curtsy. “Your Grace…” suaranya nyaris tercekat.
Untuk sesaat, Nathaniel hanya menatapnya, seolah menimbang sesuatu. Senyumnya samar, nyaris tak terlihat, namun cukup untuk membuat Evelyn merasa seluruh aula berputar lebih cepat.
“Senang bertemu dengan Anda, Miss Whitmore,” katanya akhirnya.
Evelyn mengangguk cepat, lalu menunduk dalam. Rasa malu bercampur takut membuat pipinya memanas. Ia tidak tahu harus berkata apa. Bagaimana mungkin ia harus bersikap biasa, sedangkan orang yang berdiri di depannya adalah bangsawan yang sama sekali tak terjangkau bagi dunia kecilnya?
*
Seketika terdengar suara riuh di pintu utama. Seorang pria dengan rambut pirang acak-acakan masuk sambil menepuk-nepuk mantel seolah habis dikejar badai.
“Henry Collingwood, Earl of Essex” seru pelayan lantang.
Henry melangkah masuk dengan gaya seenaknya, senyum lebarnya seolah pesta itu digelar demi dirinya seorang. Beberapa wanita muda menutup mulut, menahan tawa, sementara para bangsawan senior hanya menggeleng, jelas sudah terbiasa.
Ia segera mencari sosok Nathaniel dan, setelah menemukannya, langsung menghampiri tanpa ragu.
“Kingsley!—oh, maaf, Your Grace.” Henry meralat sapaan dengan batuk kecil, walau wajahnya tak menampakkan rasa bersalah sedikit pun.
Nathaniel menatapnya datar. “Collingwood. Aku kira kau bersumpah tak akan pernah menginjakkan kaki di rumah Pembroke lagi.”
Henry menjatuhkan diri ke kursi berlapis kulit di seberang meja kecil. “Dan membiarkan si tua menyebalkan itu berpesta tanpa aku? Tidak mungkin.” Ia mengangkat alis dramatis. “Kau ingat yang kuceritakan beberapa hari lalu?”
Nathaniel tak bergeming. “Ya. Tentang kau ingin dibuang ke koloni bukan?”
Henry meneguk sampanye sambil cemberut, lalu menambahkan dengan nada penuh drama. “Bisa kau bayangkan? Aku, dibuang ke koloni! Padahal aku bahkan tidak tahan digigit nyamuk, apalagi berurusan dengan para serdadu Inggris di India atau kapal ke Australia.”
Nathaniel hanya menghela napas, setengah muak, setengah terhibur. Namun kebenarannya adalah, ocehan Henry itulah yang membuatnya akhirnya memutuskan hadir malam ini. Ia ingin melihat langsung apa rencana Pembroke, pria tua yang terlalu sering menaruh hidungnya di urusan orang lain.
Sementara itu, Evelyn—yang berdiri tak jauh dari mereka—merasa kepalanya berputar. Jadi, benar firasatnya: pria yang ia temui di toko buku adalah Duke of Wexford. Dan sekarang, di antara bisik-bisik bangsawan, ia harus berpura-pura tenang meski jantungnya berdegup tak terkendali.
*
Henry tengah sibuk menuang sampanye ketika matanya tanpa sengaja menangkap sosok gadis muda di seberang ruangan. Ia membeku sepersekian detik, lalu membelalak.
“Demi segala kutukan cerutu Pembroke!” serunya pelan, hampir tersedak.
“Apa lagi sekarang?” Nathaniel bertanya dingin dan malas.
“Itu… itu gadis dari kedai teh!”
Nathaniel hanya mengangkat alis sekilas. “Begitu?” tanyanya datar, seakan Henry baru saja menyebutkan cuaca sore ini.
“Jangan ‘begitu’ padaku, Wexford.” Henry menunjuk samar ke arah Evelyn. “Aku tahu aku tidak salah lihat. Dia gadis yang waktu itu dihampiri pemabuk bau gin! Aku bahkan sempat berpikir dia tak akan selamat kalau bukan karena kita. Dan sekarang—sekarang dia berdiri manis di pesta Pembroke? Bagaimana bisa?”
Nathaniel meneguk sedikit anggurnya, matanya beralih singkat ke Evelyn yang tengah berbicara kikuk dengan Lady Selwyn. “Kebetulan dunia ini memang kecil, Essex. Lady Selwyn baru saja memperkenalkannya kepadaku.”
Henry ternganga. “Kau sudah… diperkenalkan? Oh, jadi aku yang ketinggalan!” Ia mendengus, lalu bersandar dramatis ke kursi. “Tentu saja. Kau selalu mendahuluiku dalam hal-hal yang paling menarik.”
Nathaniel menoleh, kali ini menatap Henry dengan sorot jemu. “Jangan mulai.”
Namun Henry malah semakin menyeringai. “Aku hanya penasaran, seorang gadis desa bisa muncul di lingkaran pesta bangsawan, dan entah bagaimana, kau sudah dikenalkan lebih dulu meski sudah mengenalnya dalam beberapa pertemuan. Bukankah itu terlalu… kebetulan?”
Nathaniel tidak merespons. Ia hanya menegakkan punggung, pandangan tetap tenang. Diamnya justru membuat Henry semakin yakin bahwa ada sesuatu yang tidak dikatakan sahabatnya itu.
“Baiklah, aku tidak akan mengorek. Untuk saat ini,” ucap Henry sambil meneguk sampanye lagi. Tapi tatapannya tetap mengikuti Evelyn, jelas masih penuh rasa ingin tahu.
Sementara Evelyn, yang tanpa sadar merasa sorotan mata Henry terlalu sering mengarah padanya, semakin gugup. Ia menggenggam erat kipas kecil di tangannya, firasatnya makin kuat bahwa pesta ini menyimpan hal-hal yang tidak ia pahami sepenuhnya.

