1000520240 9
Vitamins Blog

Unspoken Vows – Bab 10

0
Views:0
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Bab 10. Sorotan yang Tak Diinginkan

Evelyn Whitmore tak pernah merasa kakinya begitu berat seperti malam itu. Ia berdiri di tepian ruangan, di balik deretan pilar marmer yang seakan menjadi satu-satunya pelindung dari kerumunan para bangsawan. Namun nasib—atau mungkin sekadar kesialan—berpihak lain. Saat pelayan yang sedang bergegas tersandung, nampan perak di tangannya miring, dan Evelyn, yang mencoba menolong secara refleks, justru terseret ke lingkaran dansa di tengah aula.

Gemerisik gaun sutra, denting tawa, dan musik waltz yang megah seketika menjadi latar dramatis kejatuhannya. Mata-mata penuh hiasan berlian dan bulu burung merpati menoleh serempak. Evelyn ingin berdoa agar lantai marmer membuka celah dan menelannya bulat-bulat. Ia akhirnya hanya tersenyum kikuk, wajahnya memanas, sementara tangannya gemetar saat mencoba merapikan rok sederhana yang ia kenakan. Ia tidak mengenakan sutra berlapis renda seperti para wanita lain—hanya gaun pinjaman dari Lady Selwyn. Itu pun sudah dianggap terlalu indah untuk seorang gadis desa.

Dan di sanalah ia melihatnya.

Nathaniel Kingsley—sang Duke of Wexford—atau Ashford, begitu ia mengenalnya di toko buku atau di kedai teh. Ia berdiri tak jauh dari lingkaran dansa, masih bersama Duchess Seraphina Hawthorne. Wajahnya tetap datar, nyaris dingin, namun matanya… Evelyn yakin ia tak berkhayal saat melihat sinar pengenalan singkat di sana.

Seraphina menyadari arah tatapan Nathaniel, lalu mengikuti pandangannya. Ia melihat Evelyn, meneliti dari kepala hingga kaki dengan senyum tipis yang sulit ditafsirkan. Senyum yang tak bermusuhan, tapi juga jauh dari ramah.

Evelyn menelan ludah, ingin segera mundur, namun langkahnya justru tersandung ujung gaunnya sendiri. Ia hampir jatuh jika seorang pria gemuk tak cepat menahan lengannya.

“Oh, hati-hati, Nona!” seru pria itu dengan nada riang yang dibuat-buat. Evelyn mengangguk kaku, buru-buru menarik tangannya, dan berbalik hendak melarikan diri ke arah pintu samping.

Namun belum sempat ia lolos, suara Henry Collingwood yang tak pernah tahu kapan harus diam menggema, “Astaga, aku tak percaya! Kau ternyata benar-benar perempuan di kedai teh itu!”

Suasana seakan membeku sejenak. Beberapa orang menoleh, penasaran. Evelyn ingin menutup wajah dengan kipas yang dipinjamkan oleh Lady Selwyn. Namun, sayangnya entah kemana kipasnya terjatuh.

Nathaniel, masih menjaga wibawanya, berjalan mendekat dengan langkah mantap. Wajahnya tak menunjukkan kejutan besar, hanya tatapan yang sulit dibaca—seakan menimbang sesuatu.

“Collingwood,” suaranya datar, “kau berisik.”

“Tapi—” Henry menunjuk Evelyn dengan ekspresi terkejut bercampur geli. “Itu benar-benar dia! Nona yang dikerubuti pemabuk di kedai teh! Aku lihat sendiri, dan aku bahkan sempat—”

“Henry.” Nathaniel menekankan namanya seperti cambuk.

Henry terbatuk-batuk, mencoba menahan tawanya. “Baik, baik. Aku diam. Tapi sungguh, ini menarik sekali.”

Evelyn merasakan pipinya memanas semakin hebat. Ia yakin orang-orang di sekitarnya mulai berbisik. Nama baik, reputasi, harga diri—semua terasa rapuh seperti benang tipis.

Seraphina maju selangkah, gaunnya berdesir anggun, matanya meneliti Evelyn dengan lebih cermat. “Nona ini…?” tanyanya lembut, namun nada suaranya menyimpan rasa ingin tahu yang menusuk.

Evelyn buru-buru menunduk. “Saya… hanya tersesat, Your Grace,” suaranya lirih, hampir tak terdengar.

Nathaniel menatap Evelyn sejenak, lalu kembali menoleh pada Seraphina. “Kecelakaan kecil. Tidak perlu diperbesar.”

Namun kata-kata sederhana itu justru membuat Evelyn semakin gugup. Apakah Nathaniel berusaha melindunginya? Atau sekadar menutupi rasa terganggunya?

Henry, yang tak pernah tahu waktu, menyeringai. “Kau tahu, Wexford, biasanya kau tak peduli pada orang asing. Tapi kali ini…” ia menggoyang alisnya dengan penuh arti.

“Diam.” Nada dingin Nathaniel berhasil membuat beberapa bangsawan lain menahan tawa. Evelyn menggunakan momen itu untuk mundur perlahan, berharap bisa menghilang di kerumunan. Namun musik berhenti tiba-tiba. Suara pelayan di dekat pintu menggema, mengumumkan dengan lantang:

“Her Grace, the Duchess of Hawthorne, Lady Seraphina… diminta bersiap untuk tarian kedua bersama His Grace, the Duke of Wexford.”

Seisi ruangan bertepuk tangan sopan. Semua mata kini kembali pada Nathaniel dan Seraphina. Evelyn nyaris bisa meloloskan diri untuk keluar dari ruangan—tapi langkahnya kembali tertahan. Lady Selwyn, yang berdiri tak jauh, menoleh padanya dengan senyum penuh arti.

“Oh, Evelyn. Kau di sini rupanya,” ucap Lady Selwyn dengan suara yang cukup keras untuk menarik perhatian beberapa orang sekitar. “Kau harus tetap tinggal. Malam ini akan sangat… menarik.”

Evelyn ingin protes, namun bibirnya kelu. Seakan jaring tak terlihat sudah menjebaknya di tengah arena yang bukan miliknya.

Ia ingin kabur. Ia benar-benar ingin kabur. Tapi langkahnya justru terasa terkunci, sementara pandangan Nathaniel kembali tertuju padanya.

Untuk sesaat—hanya sesaat—Evelyn merasa tak ada musik, tak ada bangsawan, tak ada pesta. Hanya tatapan itu.

*

Musik kembali mengalun, waltz yang kedua dimulai dengan lebih megah. Nathaniel menggenggam tangan Seraphina, dan mereka berdua melangkah ke tengah lingkaran. Semua mata kembali tertuju pada pasangan itu—ia, sang Duke yang selalu dingin dan tak tersentuh, dan Seraphina, sang Duchess yang memesona.

Gerak mereka sempurna, serasi, nyaris mustahil dicela. Orang-orang di sekeliling berbisik, sebagian dengan kagum, sebagian lagi dengan iri. Evelyn, yang masih berdiri di pinggir ruangan, merasa dadanya semakin sesak. Mereka tampak seperti sosok-sosok dari dunia lain, dunia yang mustahil ia masuki.

Ketika musik mencapai klimaksnya, Nathaniel memutar Seraphina dengan anggun. Gaun berwarna pucat sang Duchess berputar seperti gelombang laut, membuat semua orang terpaku. Lalu, dengan penuh wibawa, Nathaniel menutup tarian itu dengan membungkuk hormat. Tepuk tangan pun menggema, meriah, memuji keindahan yang mereka tampilkan.

Bagi Evelyn, momen itu bagaikan gong terakhir—sinyal untuk meloloskan diri. Tanpa berpikir panjang, ia menyelinap di antara kerumunan, mencari celah di antara gaun besar dan mantel sutra. Untunglah semua orang sibuk memuji pasangan yang baru selesai menari, sehingga kepergiannya luput dari perhatian.

Udara malam menyambutnya begitu ia menapaki teras dan menuruni tangga menuju taman. Aroma mawar yang lembut dan dingin embun membuatnya bisa bernapas lega untuk pertama kalinya sejak ia masuk ke aula megah itu.

Namun langkah Evelyn kembali terhenti saat mendengar suara seorang wanita lembut di belakangnya.

“Tidak bijak pergi terlalu jauh sendirian, Evelyn.”

Evelyn menoleh cepat. Lady Selwyn berdiri di ambang pintu, kipas di tangannya terlipat, matanya menatap dengan campuran iba dan ketegasan.

Evelyn mengerjap, gugup. “Saya hanya… butuh udara segar, My Lady.”

Lady Selwyn menuruni tangga, gaunnya berdesir lembut. Ia berhenti di samping Evelyn, lalu menatap taman yang remang diterangi lentera gantung. “Aku mengerti. Namun, mengingat posisimu malam ini, aku tidak bisa membiarkanmu berkeliaran jauh. Bagaimanapun, keselamatanmu ada dalam tanggung jawabku dan aku tidak siap diceramahi oleh pamanmu itu.”

Evelyn terdiam, tak tahu harus membalas apa. Separuh dari dirinya ingin terus berlari dan tak kembali, namun separuh lainnya menyadari ada sesuatu yang jauh lebih berbahaya menantinya di luar tembok istana dibanding sorot mata para bangsawan.

Lady Selwyn tersenyum tipis, lalu mengaitkan lengannya ringan di lengan Evelyn. “Mari. Jika kau ingin udara segar, taman ini cukup luas. Tapi jangan pernah berpikir meninggalkan pesta seorang diri. Itu akan menimbulkan lebih banyak omongan daripada yang sudah ada.”

Evelyn mengangguk perlahan. Malam itu, di bawah sinar bulan pucat, ia merasa ibarat seekor burung kecil yang baru saja keluar dari sangkar emas—hanya untuk mendapati ada jaring lain menantinya di luar sana.