1000520240 5
Vitamins Blog

Unspoken Vows – Bab 6

0
Views:3
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Bab 6. The Invitation

London selalu memiliki dua topeng sesuai dengan waktunya. Saat siang tiba, ia adalah pusat perdagangan yang sibuk, sebuah jantung besar yang memompa kehidupan ke seluruh negeri. Jalan-jalan dipenuhi derap langkah pedagang yang bergegas, seruan keras para penjual di pasar, serta deru roda kereta kuda yang membawa barang dari pelabuhan ke gudang-gudang besar. Bangunan kantor menjulang dengan kaca yang berkilauan, menampilkan wajah modern dan ambisius, seakan setiap batu bata di kota ini menjual mimpi tentang masa depan yang lebih gemilang. London di siang hari adalah kota kerja—penuh kesibukan, penuh kesepakatan, dan penuh harapan akan keuntungan.

Namun, begitu matahari terbenam dan langit kelabu London diselimuti cahaya lampu minyak serta lilin yang menyala di setiap jendela rumah besar, wajah kota ini berubah sepenuhnya. London di malam hari adalah dunia lain—gemerlap cahaya lilin yang menari di permukaan gelas kristal, tawa tinggi para bangsawan yang memenuhi aula megah, dan musik dansa yang mengalun dari orkestra tersembunyi di sudut ruangan. Di balik tirai berat dari beludru merah dan emas, tersimpan urusan-urusan kelam yang tak pernah dibicarakan dengan lantang. Malam memberikan kebebasan: kebebasan untuk berbohong, untuk bersandiwara, bahkan untuk menusuk dari belakang—selama semua itu dilakukan dengan senyum manis di wajah.

Musim pesta dansa pun tiba, dan dengan itu datanglah hiruk pikuk yang tak terhindarkan. Bagi kaum bangsawan, tidak ada waktu yang lebih sibuk daripada musim ini. Setiap pekan, pintu-pintu istana pribadi, rumah bangsawan, dan aula keluarga terhormat dibuka lebar untuk kalangan yang dianggap cukup layak menerima undangan. Selembar kartu tebal bersegel lilin emas bukan hanya sekadar kertas, ia adalah tiket menuju dunia yang hanya bisa dimasuki oleh mereka yang beruntung—atau cukup berkuasa. Di sinilah aturan sosial berlaku, lebih rumit daripada hukum negara, dan di sinilah permainan halus antar keluarga berlangsung dengan tarian, anggukan kepala, dan kata-kata yang dikatakan setengah serius.

Pesta-pesta semacam itu bukanlah hiburan semata. Bagi sebagian orang, pesta adalah panggung politik, tempat keputusan penting diambil di antara dua tarian waltz. Bagi sebagian lainnya, ia adalah arena negosiasi bisnis, di mana satu gelas anggur bisa berarti kontrak dagang bernilai ribuan pound. Dan tentu saja, bagi para wanita dan keluarga mereka, pesta adalah kesempatan emas untuk mencari pasangan—bukan sekadar karena cinta, melainkan karena perhitungan, kedudukan, serta keuntungan masa depan. Di balik senyum anggun para wanita berkalung mutiara, di balik kipas renda yang berayun perlahan, ada bisikan-bisikan yang mampu mengangkat nama sebuah keluarga setinggi langit atau menjatuhkannya ke lumpur kehinaan.

Kali ini, undangan datang dari Earl of Pembroke—seorang bangsawan yang namanya dikenal hampir di seluruh kalangan atas. Earl itu bukan hanya terkenal karena kekayaannya, melainkan juga karena sifat angkuhnya dan kepandaiannya memamerkan kedekatannya dengan pihak istana. Ia tahu bagaimana cara membuat dirinya tampak penting, bagaimana menciptakan kesan bahwa satu senyum darinya bisa membuka jalan menuju kekuasaan. Alasan resmi yang tercantum dalam undangan itu sederhana: pesta musim semi, sebuah perayaan tahunan yang konon diselenggarakan demi menyambut hangatnya musim baru. Namun bagi banyak orang, undangan itu lebih dari sekadar kesempatan menari. Ia adalah undangan untuk masuk ke lingkaran dalam permainan Earl of Pembroke—dan menolak berarti menempatkan diri di luar arus besar yang mengalir di balik dunia sosial London.

Bagi Nathaniel Kingsley, undangan itu terasa seperti jebakan kecil yang dibungkus dengan keanggunan. Ia menatap surat undangan di atas mejanya, kertas tebal yang dilipat rapi dengan segel lilin emas yang mencolok. Jemarinya yang panjang mengetuk perlahan permukaan meja kayu mahoni, sementara bibirnya mengerucut dalam ekspresi jenuh.

“Pesta,” gumamnya pelan, hampir seperti keluhan. Suaranya terdengar rendah dan penuh ketidakpedulian. “Seakan dunia tidak punya hiburan lain selain mengulang tarian, basa-basi, dan segala kepura-puraan yang sama.”

Nathaniel bukan pria yang mudah terkesan. Di mata orang lain, pesta adalah kesempatan emas: untuk memamerkan status, meneguk anggur terbaik yang hanya bisa didapatkan dari perkebunan jauh di Perancis, atau untuk menggandeng wanita cantik dengan gaun sutra yang gemerlap di bawah cahaya lilin. Namun, bagi Nathaniel, semua itu hanyalah topeng yang membosankan. Ia sudah terlalu sering melihat senyum yang dibuat-buat, mendengar tawa yang dipaksakan, dan merasakan bagaimana setiap orang di sekelilingnya menakar setiap gerak-geriknya. Bagi sebagian besar bangsawan, satu tarian bisa berarti satu keuntungan besar; bagi Nathaniel, itu hanyalah permainan kecil yang tak menarik.

Tetapi ada satu hal yang membuat nama Pembroke tidak bisa begitu saja ia abaikan. Henry—sahabat lamanya, sekaligus sumber segala macam keributan dalam hidup Nathaniel—baru saja mengeluh panjang lebar tentang Pembroke beberapa hari yang lalu. Cerita itu, meski disampaikan dengan nada setengah bercanda, cukup untuk menyalakan rasa ingin tahu Nathaniel. Dan bila Henry sampai repot-repot mengomel, berarti ada sesuatu yang lebih besar di balik pesta musim semi ini.

Akhirnya, meski tanpa semangat sedikit pun, Nathaniel mengambil keputusan. Ia akan hadir.

Sebuah malam penuh kepura-puraan menantinya—dan entah mengapa, kali ini ia merasa bahwa pesta itu akan menyimpan lebih banyak dari sekadar tarian dan basa-basi.

*

Di sisi lain kota, jauh dari hiruk pikuk jalan-jalan besar yang dipenuhi kereta mewah dan para pria berjas elegan, Evelyn Whitmore menerima kabar yang sama sekali tak pernah terlintas dalam benaknya. Hidupnya di London selama beberapa minggu terakhir berjalan sederhana—membantu di toko buku milik pamannya, menyusuri lorong-lorong penuh aroma kertas dan tinta, dan sesekali duduk membaca di pojok jendela yang menghadap jalan. Dunia Evelyn hanyalah buku-buku, pelanggan tetap yang ramah, dan percakapan singkat dengan pamannya yang selalu menekankan pentingnya kerja keras.

Karena itu, undangan tak langsung yang tiba dari Lady Selwyn datang seperti kejutan yang mengguncang kesehariannya. Lady Selwyn adalah seorang janda bangsawan yang sudah cukup berumur, namun selalu tampil anggun dengan mantel beludru dan suara lembut penuh wibawa. Ia kerap berkunjung ke toko buku Mr. Alcott, berbincang sejenak tentang puisi atau filsafat, lalu membeli satu-dua jilid klasik sebelum pergi. Evelyn, dengan caranya yang polos, tak pernah membayangkan akan lebih dari sekadar menyapa wanita itu di balik meja kasir.

Namun hari itu berbeda. Lady Selwyn, dengan senyum yang nyaris seperti rahasia kecil, menatap Evelyn dan menyampaikan sesuatu yang membuat jantung gadis itu seakan berhenti berdenyut.

“Seorang gadis muda akan lebih pantas menjadi pendampingku daripada pelayan tua yang selalu menguap di sudut aula,” ujar Lady Selwyn dengan nada tenang, seolah-olah ajakan itu bukanlah hal besar. “Kau memiliki sikap sopan, Evelyn, dan mata yang cerdas. Itu cukup untuk membuatmu tak tenggelam di antara para bangsawan.”

Evelyn terperanjat. Kata-kata itu begitu tiba-tiba, begitu asing, hingga ia hampir kehilangan jawabannya. Ia? Evelyn Whitmore? Seorang gadis desa yang hanya beberapa minggu lalu datang ke London dengan koper lusuh dan hati penuh ketidakpastian? Bagaimana mungkin ia berdiri di aula megah, di tengah para bangsawan yang sejak kecil telah terbiasa dengan tata krama, tarian, dan percakapan berlapis makna?

Ia membuka mulut, hendak menolak secara halus, tapi ragu menahan kata-katanya. Lady Selwyn menatapnya dengan kelembutan penuh keyakinan, dan justru itulah yang membuat Evelyn makin gelisah.

Pamannya, Mr. Alcott, yang sejak tadi memperhatikan dari balik meja penuh buku, akhirnya angkat bicara. Suaranya tenang, namun tegas, seperti selalu.

“Ambil kesempatan ini,” katanya sambil menepuk bahu keponakannya dengan penuh dorongan. “Bukan untuk mencari kedudukan, Evelyn, melainkan untuk melihat sendiri wajah lain dari kota ini. Kau akan belajar banyak, lebih dari yang bisa kau temukan hanya di antara rak-rak buku.”

Kata-kata pamannya membekas. Evelyn tahu Mr. Alcott jarang memaksakan pendapat. Jika ia berkata demikian, berarti ada nilai yang sungguh ia lihat dalam undangan itu.

Maka malam itu, dengan hati berdebar dan langkah yang ragu, Evelyn akhirnya melangkah ke dalam Pembroke House. Tangannya sedikit gemetar saat ia merapikan gaunnya—gaun pinjaman dari Lady Selwyn. Bukan gaun terbaru dari butik terkenal, melainkan gaun sederhana berwarna pucat dengan potongan klasik yang masih indah meski jelas bukan karya terbaru mode London. Namun justru kesederhanaan itu yang membuat Evelyn tidak tampak berlebihan.

Rambut cokelat gelapnya ditata seadanya, hanya diikat dan dipelintir rapi tanpa ornamen berkilauan. Namun ada sesuatu yang alami dari kesederhanaan itu, sesuatu yang membuat Evelyn berbeda dari para nyonya yang rambutnya dipenuhi permata dan bulu-bulu mahal. Ia tampak seperti dirinya sendiri—gugup, polos, namun memancarkan ketulusan yang jarang terlihat di kerumunan penuh ambisi.

Ketika pintu besar Pembroke House terbuka dan cahaya lilin berkilau menyambutnya, Evelyn merasa seolah ia sedang menapaki dunia lain. Dunia yang selama ini hanya ia dengar lewat cerita dalam buku atau bisikan pelanggan toko—dan kini, ia harus menghadapinya dengan senyum berusaha tenang di bibirnya.

*

Di pintu aula besar kediaman Earl of Pembroke, suara lantang para pelayan menggema, memantul di dinding marmer dan langit-langit tinggi berhias lukisan dewa-dewa klasik. Setiap kali seorang bangsawan tiba, namanya diumumkan dengan penuh wibawa, seolah setiap tamu adalah tokoh penting dalam sebuah drama besar.

“Lord and Lady Carmichael!”

“The Viscount of Harrow!”

“His Grace… The Duke of Wexford!”

Begitu nama Nathaniel disebut, ruangan sontak terhenti dalam sekejap perhatian. Semua kepala menoleh, seolah satu nama itu lebih berat daripada lima nama lainnya digabungkan. Sang Duke melangkah masuk dengan wajah dingin, langkah mantap, dan aura yang nyaris membuat udara bergetar. Para wanita muda serentak menegakkan bahu, pipi mereka bersemu, kipas-kipas renda bergetar di tangan seakan mencoba menutupi kegugupan. Para ibu berbisik penuh antisipasi, menimbang kemungkinan yang hanya berani mereka ucapkan dalam lirih.

Nathaniel, sebagaimana biasanya, tidak memberikan satu pun celah. Tatapannya datar, dingin nyaris membeku, menolak untuk membalas senyum ataupun lirikan yang diarahkan padanya. Seakan pesta itu hanya sebuah ruangan lain yang harus ia lalui tanpa benar-benar memedulikannya.

Lalu tibalah giliran Lady Selwyn. Sang pelayan menundukkan kepala hormat, kemudian mengumumkan dengan nada terhormat,

“Lady Selwyn… accompanied by a young lady.”

Hanya itu. Nama Evelyn tidak disebutkan. Ia hanyalah bayangan di sisi Lady Selwyn, sekadar sosok muda yang mengikuti langkah janda bangsawan itu. Tidak ada sorakan, tidak ada kepala yang menoleh untuknya. Perbedaan itu terasa mencolok, bagai garis pemisah antara dunia para bangsawan dengan mereka yang tidak termasuk di dalamnya.

Namun justru itulah yang Evelyn syukuri. Ia bisa melangkah masuk tanpa menjadi pusat perhatian, tanpa harus menanggung tatapan meneliti atau senyum basa-basi. Sebuah keuntungan, pikirnya, meski ada sedikit perih yang tak terhindarkan di hatinya.

Sayangnya, Evelyn salah besar.

Sebab di tengah keramaian aula yang berkilau diterangi lampu kristal, di antara wangi mawar dan musik gesek yang merdu, ada sepasang mata kelam yang tak bisa ia abaikan. Mata milik Nathaniel Kingsley, pria yang sebelumnya ia temui dalam tiga kesempatan yang sama sekali tak terduga.

Dan kali ini, tatapan itu tidak tertuju pada Lady Selwyn yang penuh wibawa. Melainkan langsung, tanpa ragu, tepat pada dirinya.

Dalam sekejap, Evelyn merasa seolah namanya diteriakkan lantang ke seluruh aula—“Miss Whitmore!”—meski kenyataannya, tidak pernah ada suara yang mengumumkan.

 

2 Komentar

  1. 👍👍👍👍👍👍👍

  2. 👍👍👍👍 semangat