Bab 5. House of Wexford
Kediaman Duke of Wexford ialah sebuah rumah besar berlapis batu kapur pucat dengan jendela-jendela tinggi berbingkai besi, berdiri anggun di salah satu distrik paling bergengsi di London. Dari luar, bangunan itu tampak dingin, kaku, dan terlalu sempurna untuk dilihat rakyat biasa. Namun di dalamnya, lorong-lorong panjang berlapis karpet Persia, cermin berbingkai emas, dan deretan lukisan leluhur Kingsley seakan mengawasi setiap langkah penghuninya.
Nathaniel baru saja kembali dari pertemuan pribadi dengan sekretaris kerajaan. Mantelnya sudah dilepas, sarung tangan disimpan, dan ia duduk di kursi besar dekat jendela, membaca laporan yang disusun untuknya. Dalam kesunyian itu, suara ketukan keras tiba-tiba mengganggu.
Tanpa menunggu dipersilakan, pintu besar ruang kerjanya terbuka.
“Duke!” suara nyaring penuh energi itu menggelegar.
Nathaniel mengangkat kepala, dan wajahnya langsung mengeras. “Hanya ada dua jenis manusia yang berani menerobos ruang kerjaku tanpa izin, Collingwood. Orang tolol, atau kau.”
“Syukurlah aku termasuk golongan kedua,” jawab Henry dengan santai, melangkah masuk tanpa rasa bersalah sedikit pun.
Ia mengenakan jas biru tua yang entah bagaimana sudah penuh lipatan, dasinya melorot, dan sepatunya tampak terkena lumpur. Bahkan rambut pirangnya yang biasanya rapi kini agak berantakan, seolah baru saja bertarung dengan angin di sepanjang jalan Pall Mall.
Nathaniel mendesah panjang. “Aku punya pekerjaan. Jika kau datang hanya untuk mengoceh, pintu ada di sana.”
“Tentu saja aku datang bukan sekadar untuk mengoceh,” kata Henry, lalu berhenti sejenak, menambahkan dengan wajah penuh kepuasan: “Aku datang untuk mengoceh dengan isi yang jauh lebih penting.”
Nathaniel menutup berkas di tangannya. Ia tahu, tidak ada cara mengusir Henry sebelum lelaki itu selesai dengan urusannya.
“Baiklah,” katanya dingin. “Keluarkan keluhanmu sebelum aku menyesal pernah menoleransi keberadaanmu.”
Henry menjatuhkan diri ke kursi berlapis kulit di seberang meja. “Kau tahu Earl of Pembroke? Si tua berperut buncit yang selalu berbicara seperti sedang membaca naskah drama murahan?”
Nathaniel menatapnya tanpa berkedip. “Sayangnya, aku tahu.”
“Dia menyebalkan!” Henry mendengus sambil mengangkat tangan seakan dunia harus mendengar penderitaannya. “Baru saja tadi pagi aku bertemu dengannya di klub. Aku hanya menyapa dengan ramah, ‘Selamat pagi, Lord Pembroke, udara cerah hari ini.’ Dan kau tahu apa jawabannya? Dia menatapku dari atas ke bawah, lalu berkata: ‘Oh, ternyata kau masih berkeliaran di sini. Kukira kau sudah jatuh bangkrut atau dibuang ke koloni.’”
Nathaniel hampir tersenyum, tapi ia menahannya. “Mungkin dia tidak sepenuhnya salah.”
“Duke!” Henry menuding dengan ekspresi tersinggung. “Jangan ikut-ikutan. Aku sahabatmu. Sahabat! Kau seharusnya membelaku, bukan menambahkan garam ke lukaku.”
“Aku hanya menyampaikan kenyataan.”
Henry menggeleng dramatis. “Astaga, dunia ini memang kejam. Para bangsawan sombong yang menganggap diri mereka dewa kecil, sementara aku—aku!—hanya ingin hidup tenang, minum anggur murah, dan bercengkerama dengan wanita cantik yang tidak tahu siapa diriku.”
Nathaniel menatapnya dengan dingin. “Wanita cantik yang tidak tahu siapa dirimu? Itu berarti tidak ada.”
Henry membeku sejenak, lalu tertawa keras. “Aku benci saat kau berkata benar dengan wajah sedatar itu.”
Nathaniel berdiri, berjalan menuju rak buku tinggi. Suaranya tenang, tapi sarat makna. “Kau tahu apa masalahmu, Essex? Kau terlalu suka berbicara. Jika kau mengurangi ocehan setengahnya, mungkin para bangsawan tidak akan menganggapmu bahan tertawaan.”
Henry menyilangkan tangan di dada. “Dan jika kau berbicara sedikit lebih banyak, Duke, mungkin orang-orang tidak akan menganggapmu patung marmer berjalan.”
Keheningan turun sesaat. Hanya suara jam antik berdetak dengan ritme yang teratur.
Akhirnya Henry mendesah panjang. “Baiklah, cukup mengeluh soal Earl sombong itu. Aku hanya butuh tempat aman untuk menyingkir dari tatapan nyinyirnya. Dan kau, sahabatku yang dingin, adalah pilihan paling masuk akal. Tentu saja kau tidak bisa menolakku.”
Nathaniel menatapnya dengan tatapan menusuk, tapi tidak berkata apa-apa.
Henry tersenyum lebar. “Ah, aku tahu itu! Diam berarti menerima. Terima kasih, Kingsley. Hari ini aku akan mengacaukan rumah besarmu dengan segala tingkahku, jadi bersiaplah.”
Nathaniel kembali duduk, membuka berkas lain, berusaha mengabaikan Henry. Tapi dalam hatinya ia tahu, kedatangan lelaki itu, meski mengganggu, adalah satu-satunya hiburan yang ia miliki di tengah dunia bangsawan yang penuh intrik.
*
Henry sudah setengah berbaring di kursi seolah itu ranjang pribadinya, sementara Nathaniel tetap tegak di balik meja kerjanya. Ketika pelayan masuk membawa nampan teh dan beberapa lembar koran, Henry dengan cekatan meraih satu eksemplar.
“Ah, inilah yang kubutuhkan. Sedikit hiburan murah.” Ia membuka lembaran besar The Times dengan gaya dramatis. “Mari kita lihat… oh, tentu saja, berita tentang perdagangan gula dari Karibia, sangat membosankan. Oh! Dan ini—skandal terbaru Lady Wycliffe yang kabarnya kabur dengan pelukis muda. Sang suami katanya pingsan tiga kali di klub.”
Nathaniel mengangkat alis tipis. “Jika semua bangsawan menjatuhkan diri hanya karena istrinya kabur, klub itu akan penuh dengan orang pingsan.”
Henry tergelak, lalu melanjutkan bacaan. “Hm, nah ini dia. Bagian yang lebih menarik. Laporan tentang perampokan di jalan Fleet. Sekelompok pencuri topeng kabarnya berani menghadang kereta salah satu anggota dewan kota. Korban selamat, tapi kehormatannya? Tidak.” Ia menepuk kertas dengan puas. “Beginilah London. Dari pesta dansa ke jalan berlumpur, semua sama-sama bisa membuat orang kehilangan muka.”
Nathaniel menyilangkan jemari. Ia tampak tidak sepenuhnya asing dengan topik itu. “Perampokan di Fleet bukan hal baru. Yang membuat berita adalah siapa korbannya.”
Henry mencondongkan tubuh, matanya menyipit penuh rasa ingin tahu. “Kau tahu lebih dari yang tertulis, bukan? Jangan pura-pura polos, Duke. Kau selalu tahu sedikit lebih banyak daripada orang lain.”
Nathaniel tidak menanggapi segera. Ia meneguk teh sebelum menjawab pelan. “Anggota dewan itu punya hutang dengan lebih banyak orang daripada yang ia bisa bayar. Jika kafilahnya diserang, bisa jadi itu bukan sekadar pencurian. Bisa jadi pesan.”
Henry terdiam sesaat, lalu mengangkat alisnya tinggi-tinggi. “Ah, nada suaramu itu. Aku mengenalnya. Nada seorang pria yang menyimpan rahasia besar tapi pura-pura tak peduli. Kau pasti terlibat.”
“Tidak.” Nathaniel mengoreksi dingin. “Aku hanya memperhatikan. Itu dua hal yang berbeda.”
“Tapi orang-orang di luar sana,” Henry melambaikan koran, “akan dengan mudah menghubungkan garis-garis samar itu. Mereka suka menebak-nebak. Dan tahukah kau siapa nama yang paling sering muncul di antara gosip London ketika bicara soal rahasia? Nathaniel Kingsley, Duke of Wexford.”
Nathaniel menatapnya datar, tapi ada kilatan tipis di matanya. “Gosip tidak pernah membahayakan mereka yang cukup cerdas untuk tidak terjerat olehnya.”
Henry terkekeh. “Kau benar-benar sombong. Tapi justru itu yang kusuka darimu. Kau terlihat seperti marmer, tapi aku tahu di baliknya ada bara.” Ia kembali melipat koran, menyandarkan diri. “Lagi pula, akui saja, berita-berita seperti ini memberi kita hiburan. Tanpa sedikit kekacauan, kota ini akan terlalu membosankan.”
Nathaniel menutup berkas-berkasnya dengan tenang. “Kekacauan adalah makanan sehari-hari London, Essex. Perbedaannya hanya, sebagian orang menelannya mentah-mentah, sebagian lagi menatanya jadi senjata.”
Henry terdiam sejenak, lalu tersenyum nakal. “Dan kau, sahabatku, jelas bukan tipe yang sekadar menelan mentah-mentah.”
Keheningan menyusul, tapi kali ini bukan keheningan kaku. Keduanya larut dalam pikiran masing-masing—Henry dengan rasa ingin tahunya yang tak pernah padam, dan Nathaniel dengan rahasia-rahasia yang hanya ia simpan untuk dirinya sendiri.

