1000520240 2
Vitamins Blog

Unspoken Vows – Bab 3

1
Views:3
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Bab 3. Evelyn Whitmore

Evelyn Whitmore tidak pernah menyangka dirinya akan menjejakkan kaki di kota London. Hidupnya selama dua puluh tahun lebih banyak dihabiskan di desa kecil dekat Wiltshire, tempat rerumputan membentang luas dan suara lonceng gereja menjadi penanda waktu. Kehidupan di sana sederhana, nyaris monoton, tapi aman. Ia terbiasa membantu ibunya merapikan rumah, membaca buku-buku lusuh peninggalan kakeknya, dan berjalan sendirian di tepi ladang saat matahari tenggelam.

Evelyn tidak pernah menjadi gadis yang ramai atau suka diperhatikan. Sejak kecil, ia lebih nyaman berada di sudut ruangan dengan buku di pangkuannya. Kata orang desa, ia “terlalu pendiam”, tapi bagi Evelyn, diam adalah cara terbaik untuk memahami dunia.

Namun ketika pamannya yang tinggal di London mengirim kabar bahwa ia membutuhkan bantuan untuk menjaga toko kecilnya di Covent Garden—sebuah toko alat tulis dan buku—Evelyn tidak bisa menolak. Ibunya berkata, kesempatan itu akan membuka jalan baru untuk masa depannya. Dan meski hatinya ragu, Evelyn mengangguk.

Begitulah ia tiba di London: dengan satu koper sederhana, beberapa buku kesayangan, dan hati yang berdebar menghadapi kota yang selama ini hanya ia dengar dari cerita.

London, ternyata, jauh berbeda dari bayangannya.

Megah, ya. Menakjubkan, tentu. Tapi juga bising, padat, dan penuh asap. Jalanan besar dipenuhi kereta kuda, sementara lorong-lorong sempit dipadati anak-anak lusuh yang berteriak menjual koran. Bangunan menjulang tinggi, orang-orang berpakaian anggun berlalu-lalang, dan perbedaan antara mereka yang kaya dan miskin begitu jelas seperti garis tegas di langit.

Evelyn sering merasa seperti butiran debu di tengah badai besar.

Hari itu, sebelum menuju toko pamannya, ia mampir ke sebuah kedai teh kecil. Hujan turun tanpa henti, dan ia butuh tempat untuk menghangatkan diri. Duduk di pojok dekat jendela, ia membuka buku yang selalu menemaninya: kumpulan puisi Wordsworth. Membaca selalu menjadi cara Evelyn untuk melupakan sekitarnya, bahkan jika hanya sejenak.

Namun, entah mengapa, keberadaannya malah menarik perhatian orang yang salah.

Seorang pria mabuk menerobos masuk, berteriak memanggilnya dengan nama yang bahkan bukan miliknya. Evelyn kaget, mencoba menjelaskan, tapi suaranya terlalu lemah. Ia tidak terbiasa menghadapi orang asing, apalagi yang agresif. Seluruh tubuhnya gemetar, tangannya hampir menjatuhkan cangkir teh.

Semua orang di kedai menatap, dan bagi Evelyn, itu adalah rasa malu yang tak tertanggungkan.

Lalu… pria itu datang.

Pria asing dengan sorot mata dingin, mengenakan mantel hitam dan topi sederhana. Ia berdiri di hadapannya tanpa banyak kata, hanya sebuah tatapan tajam yang entah bagaimana cukup untuk membuat si mabuk goyah. Evelyn tak mendengar semua percakapan mereka, karena jantungnya berdetak terlalu cepat.

Ia hanya ingat bagaimana pria itu berdiri tegak, seolah-olah dunia tidak bisa mengusiknya. Dan juga—bagaimana sahabat pria itu, dengan gaya konyol yang berlebihan, menumpahkan teh panas hingga membuat keributan itu berakhir.

Evelyn tetap duduk di kursinya, wajahnya memanas oleh rasa malu. Ia ingin berterima kasih, tapi lidahnya kelu. Ia tidak terbiasa berbicara dengan orang asing, apalagi pria yang menatap dengan sorot sedingin itu.

Akhirnya, ia hanya bisa mengumpulkan bukunya, mengenakan mantel tipis, dan pergi tanpa menoleh. Lonceng pintu berdenting, dan langkahnya terburu-buru menyusuri hujan.

Namun sepanjang jalan, ia tidak bisa berhenti memikirkan tatapan itu.

Pria asing yang bahkan tidak menyebutkan namanya.

Mengapa ia merasa… tatapan itu tidak asing sama sekali?

*

Evelyn tiba di rumah pamannya menjelang sore, setelah kejadian memalukan di kedai teh yang masih membuat pipinya panas saat mengingatnya.

Pamannya, Mr. Alcott, adalah pria paruh baya dengan rambut yang mulai memutih di pelipis. Ia hidup sendirian setelah istrinya wafat beberapa tahun lalu. Toko alat tulis dan buku yang dimilikinya di Covent Garden menjadi seluruh dunianya, dan kini ia menyambut keponakan yang datang dari desa dengan senyum hangat bercampur lelah.

“Evelyn, akhirnya kau sampai juga. London bisa kejam bagi orang yang baru pertama kali menjejakkan kaki, tapi jangan khawatir, kau akan terbiasa.” Suaranya serak, tapi penuh kasih sayang.

Rumahnya kecil namun rapi. Di lantai bawah, deretan rak kayu penuh dengan buku, kertas, pena bulu, dan tinta botol. Bau khas kertas tua dan kayu memenuhi udara—bau yang bagi Evelyn terasa menenangkan.

“Kau akan membantuku di toko. Tak banyak, hanya merapikan rak, mencatat pesanan, dan melayani pelanggan sederhana. Para pelanggan bangsawan jarang ke sini, tapi siapa tahu suatu hari kita mendapat kejutan,” kata pamannya sambil terkekeh.

Evelyn mengangguk. Ia bersyukur pekerjaannya tidak menuntut banyak bicara. Sifatnya yang introvert membuatnya canggung berlama-lama berbincang dengan orang asing, tetapi merapikan buku dan menata alat tulis adalah pekerjaan yang bisa ia lakukan dengan hati ringan.

Hari-hari pertama berjalan dengan lambat. Setiap pagi, Evelyn membantu membuka toko, menyapu lantai kayu yang mulai usang, lalu menata pena dan kertas di etalase. Sesekali pelanggan datang: seorang guru sekolah yang mencari buku aritmetika, seorang ibu muda yang ingin membeli kertas surat dengan tepian emas, atau sepasang anak kecil yang mengintip rak buku cerita bergambar.

Evelyn mengamati semua itu dengan rasa kagum. London memang berisik dan terkadang kejam, tapi toko pamannya menjadi oasis kecil yang menenangkan. Di antara rak-rak itu, ia merasa lebih aman.

Meski begitu, malam-malam di London berbeda dari desa. Saat tirai jendela ditutup, suara kereta kuda, tawa keras para pemabuk, dan teriakan penjual jalanan masih terdengar dari luar. Evelyn sering meringkuk di kamarnya sambil membaca buku, mencoba menenangkan diri dengan puisi atau kisah klasik yang ia bawa dari rumah.

Pamannya kadang menggodanya.

“Evelyn, jika kau terus bersembunyi di balik buku, bagaimana kau akan menemukan teman? Atau mungkin… seorang pria yang akan menggenggam tanganmu?”

Pipi Evelyn memerah mendengar kata-kata itu, dan ia hanya menjawab dengan senyum tipis. Ia tahu pamannya bercanda, tetapi hatinya seolah teringat kembali pada tatapan asing di kedai teh—tatapan dingin yang tanpa sengaja membuatnya merasa… terlihat.

Ia menggeleng cepat, menutup buku di pangkuannya.

“Tidak, Paman. Aku baik-baik saja hanya dengan buku.”

Namun jauh di dalam dirinya, Evelyn tahu bahwa kehadirannya di London mungkin akan membawa kisah yang tak pernah ia bayangkan.

Di luar, lonceng gereja berdentang, menandai pergantian jam. London berdenyut dengan rahasia dan kemungkinan, Evelyn—meski tak menyadarinya—sudah berada di jalur takdir yang akan menyeretnya ke dalamnya.

*

Hari-hari Evelyn di Covent Garden mulai menemukan ritmenya. Ia bangun lebih awal, membantu pamannya membuka toko, lalu menyapa pelanggan dengan suara pelan tapi sopan. Meski masih kikuk, ada sisi anggun dalam setiap gerakannya yang membuat orang betah berlama-lama di toko kecil itu.

Namun, perlahan, London mulai mengenalnya.

Bukan karena ia ingin dikenal, melainkan karena mulut orang-orang yang tak pernah lelah mencari bahan pembicaraan. Seorang pelanggan—istri seorang pengacara kaya—berbisik pada temannya saat membeli tinta: “Kau tahu gadis yang membantu di toko buku kecil itu? Katanya ia kerabat dari keluarga bangsawan lama… Whitmore dari Wiltshire.”

Kabar itu menyebar pelan tapi pasti. Nama Whitmore yang dulu hanya terdengar samar dalam buku-buku sejarah politik kini kembali bergaung di antara lingkaran kecil bangsawan. Sebagian menatapnya dengan rasa ingin tahu, sebagian lagi dengan sinis, seakan menunggu kesalahannya untuk dijadikan bahan gosip.

Evelyn, tentu saja, tidak tahu seberapa jauh bisikan itu menyebar. Ia hanya merasa belakangan ini beberapa pelanggan memperhatikannya lebih lama dari biasanya. Ada tatapan meneliti, seolah mereka ingin memastikan apakah benar gadis sederhana itu berasal dari darah bangsawan.

Suatu sore, hujan kembali mengguyur London. Evelyn sedang merapikan rak buku ketika pintu toko berdering, dan seorang pria masuk dengan langkah tenang. Mantelnya gelap, bahunya lebar, dan tatapannya langsung membuat Evelyn tercekat.

Ia mengenalnya.

Pria asing dari kedai teh.

Untuk sesaat, Evelyn hanya berdiri membeku, sapu di tangannya berhenti di udara. Pria itu— meski Evelyn belum tahu namanya—menyapu pandangan ke seluruh ruangan dengan ekspresi yang sukar dibaca. Ia tampak seperti seseorang yang terbiasa mengendalikan keadaan tanpa harus berbicara banyak.

“Selamat sore,” ucap Evelyn akhirnya, suaranya pelan namun sopan. “Apakah Anda mencari sesuatu, Tuan?”

Nathaniel menoleh, dan mata mereka bertemu. Ada sesuatu yang bergetar di dada Evelyn, rasa asing yang tak bisa ia beri nama.

“Buku,” jawabnya singkat, suaranya dalam. “Sastra klasik, jika ada.”

Evelyn mengangguk cepat, berusaha menyembunyikan gugupnya. Ia berjalan ke rak bagian dalam, tangannya bergerak mengambil sebuah buku yang ia tahu sering dicari: Hamlet karya Shakespeare, edisi kulit usang namun terjaga. Ia kembali dan menyerahkannya.

Nathaniel menerima buku itu, tetapi tidak segera membukanya. Ia justru menatap Evelyn, cukup lama hingga gadis itu merasakan pipinya merona.

“Terima kasih,” katanya akhirnya.

Hanya itu, namun ada sesuatu dalam nada suaranya—seakan-akan kata sederhana itu membawa lebih banyak arti.

Sebelum Evelyn bisa membalas, pintu toko kembali berdering. Sosok lain masuk, dengan langkah lebih ringan namun penuh percaya diri. Henry Collingwood. Dengan senyum lebarnya, ia langsung menyapa, “Ah! Jadi benar kataku, Ashford. Kau akhirnya muncul juga di toko kecil ini!”

Evelyn terperangah. Jadi… pria asing itu bernama Ashford. Dan jelas, ia bukan pria sembarangan, jika dilihat dari cara Henry memperlakukannya dengan campuran hormat dan akrab.

Henry mendekat, lalu menundukkan kepala sedikit pada Evelyn. “Miss Whitmore, bukan? Aku mendengar banyak tentangmu. Sepertinya London sedang sibuk membicarakan namamu.”

Evelyn membeku. Bibirnya berusaha membentuk senyum, tetapi jantungnya berdetak terlalu keras. Ia tahu kata-kata Henry mungkin dimaksudkan sebagai basa-basi, namun baginya, itu seperti tamparan: tanda bahwa gosip benar-benar sudah keluar dari kendali.

Nathaniel menoleh tajam ke arah Henry, seakan memperingatkan sahabatnya untuk tidak melanjutkan. Tapi Henry hanya mengangkat bahu, pura-pura tidak peduli.

Dalam keheningan yang canggung itu, Evelyn mengumpulkan keberaniannya. Ia menatap keduanya bergantian, lalu berkata pelan namun jelas, “London boleh berbicara apa pun. Tapi saya hanyalah seorang gadis yang membantu pamannya di toko buku ini. Tidak lebih.”

Nathaniel menatapnya lama, dan untuk pertama kali, ada kilatan sesuatu yang lebih hangat dalam matanya. Henry pun terdiam, wajahnya berubah sedikit serius.

Dan di toko kecil itu, di tengah hujan London yang mengetuk kaca jendela, Evelyn Whitmore berdiri—gadis desa dengan nama bangsawan yang terlarang—di hadapan dua pria yang tanpa ia sadari akan menjadi bagian dari takdirnya.