Bab 2. Kabut di Kota London
Kabut tipis menggantung di atas Sungai Thames, seperti tirai kelabu yang menutupi denyut kota. Jembatan-jembatan besar dipadati lalu lintas: kereta kuda berderit, para kusir berteriak-teriak mengatur jalan, sementara derap sepatu para pejalan kaki menyatu dengan bunyi peluit polisi kota yang sibuk menjaga ketertiban.
Pasar di Covent Garden ramai seperti biasa. Aroma bunga segar bercampur dengan wangi ikan asin dan suara tawar-menawar yang tiada henti. Di sisi lain kota, jalan-jalan yang lebih megah dipenuhi toko-toko mode, klub eksklusif pria, dan rumah-rumah bangsawan yang berdiri tegak dengan arsitektur kokoh khas Victoria.
Kontras itu adalah wajah London: mewah sekaligus kumuh, modern sekaligus penuh luka.
Di antara semua itu, berdiri rumah besar keluarga Kingsley di kawasan Mayfair—kediaman resmi seorang Duke yang namanya sering disebut di lingkaran kerajaan.
Nathaniel Kingsley.
Bagi masyarakat, ia adalah satu-satunya pewaris sah keluarga Kingsley, keluarga yang dikenal loyal pada Ratu Victoria sejak generasi sebelumnya. Gelarnya, His Grace, the Duke of Wexford, adalah jaminan bahwa ucapannya punya bobot, baik di parlemen maupun di ruang dansa.
Namun, bagi beberapa orang yang sangat dekat dengannya—tepatnya hanya satu orang—ia juga adalah Mr. Ashford, pria biasa yang diam-diam berjalan di jalanan kota, duduk di kedai teh murahan, dan menatap seorang gadis desa tanpa ada yang tahu.
Hari itu, Nathaniel berdiri di ruang besar milik House of Lords, tempat para bangsawan berkumpul. Dindingnya dihiasi panel kayu ek berukir, lampu kristal menggantung tinggi, dan deretan kursi empuk merah darah berjajar rapi.
Henry masuk beberapa langkah di belakangnya, wajahnya lebih serius dari biasanya. Ia menundukkan kepala sedikit, lalu berbisik, “Baiklah, Nathaniel—maaf, Your Grace—hari ini kau harus bersabar. Mereka akan membicarakan soal perdagangan kapas dari India, dan aku tahu kau lebih suka menatap catatan keuangan daripada wajah Lord Fitzroy yang sombong itu.”
Nathaniel menahan senyum tipis. “Aku akan mengingatkannya bahwa rumah Kingsley tidak pernah tidur ketika rakyat membutuhkan.”
Henry menatapnya penuh hormat. Inilah sisi sahabatnya yang berbeda: di luar, ia bisa jadi Mr. Ashford yang pendiam dan dingin. Tapi di ruangan resmi seperti ini, Nathaniel Kingsley adalah seorang Duke sejati—tegas, tak tergoyahkan, dan setiap kata-katanya mampu membuat lawan bicara terdiam.
Saat nama Nathaniel dipanggil, seluruh ruangan berdiri memberi penghormatan. Suaranya tenang ketika ia menyampaikan pendapat, membahas kesejahteraan pekerja pabrik, memperingatkan bahaya monopoli dagang, dan menegaskan dukungan penuh kepada Ratu.
Henry, yang duduk di kursi belakang, berusaha keras menahan kantuk. Ia hanya sesekali berkomentar kecil pada Lord di sampingnya, yang tentu saja menatapnya seperti menatap pengganggu.
Sejam kemudian, sidang usai.
“Luar biasa, Nathaniel,” ujar Henry saat mereka berjalan keluar. Kali ini ia tidak menahan diri untuk kembali pada nada usilnya. “Kau berbicara seperti orator ulung. Hampir saja aku percaya kau benar-benar menikmatinya.”
Nathaniel menarik sarung tangannya. “Tugas, Henry. Aku tidak punya pilihan.”
“Dan bagaimana dengan pilihan hatimu?” Henry melirik, matanya menyala penuh godaan. “Jangan katakan kau masih memikirkan gadis dari kedai teh itu.”
Nathaniel menoleh cepat, namun tak ada yang bisa disembunyikan dari Henry.
Diamnya sudah cukup menjawab.
Henry tertawa pelan. “Sungguh menarik. Sang Duke yang ditakuti di ruang sidang, ternyata bisa terguncang hanya oleh seorang gadis yang bahkan tidak tahu siapa kau sebenarnya.” Ia menepuk bahu Nathaniel. “Kau harus berhati-hati, sahabatku. Perasaan itu—jika dibiarkan tumbuh—bisa jadi lebih berbahaya daripada politik di antara para bangsawan.”
Nathaniel tidak menanggapi, tapi pandangannya kosong menembus kerumunan London yang kembali diliputi kabut sore.
Di jalanan, kereta kuda berlalu, anak-anak kecil berlarian di tepi jalan sambil membawa roti, dan para wanita dengan gaun sederhana menutup kepala mereka dari gerimis tipis.
Dan entah mengapa, di antara kerumunan itu, Nathaniel membayangkan wajah gadis desa bergaun biru pudar yang duduk di pojok kedai teh tempo hari.
Sebuah bayangan sederhana yang entah bagaimana berhasil menyusup ke dalam dunia rumit seorang Duke.
*
London adalah kota dengan dua wajah.
Di satu sisi, ia tampak berkilau dengan pesta dansa, lampu kristal, dan gaun sutra para wanita bangsawan yang disetrika sempurna. Jalan-jalan utama di Mayfair dan Westminster dipenuhi toko perhiasan, butik busana terbaru dari Paris, serta klub-klub pria eksklusif yang pintunya hanya terbuka untuk kalangan tertentu.
Wanita-wanita bangsawan berjalan dengan gaun panjang berlapis renda, pinggang mereka terikat ketat oleh korset hingga nyaris tak bisa bernapas. Topi lebar dengan bulu burung eksotis menjadi mahkota yang lebih penting daripada kenyamanan. Satu senyum manis, satu anggukan sopan, bisa menentukan reputasi mereka di lingkaran sosial.
Namun, aturan tidak tertulis juga berlaku: seorang wanita tak boleh berbicara terlalu keras, tak boleh menatap pria terlalu lama, dan tak boleh menunjukkan kecerdasan lebih dari yang dianggap pantas. Dunia sosial London menuntut mereka untuk menjadi anggun, patuh, dan terkadang… pura-pura bodoh.
Di sisi lain, hanya beberapa jalan dari gedung-gedung megah itu, kehidupan sama sekali berbeda.
Lorong-lorong sempit di East End dipenuhi anak-anak berpakaian compang-camping, dengan kaki telanjang di atas jalan berlumpur. Bau arang, bir murah, dan peluh bercampur menjadi udara yang pekat. Pekerja pabrik berbondong-bondong pulang dengan wajah hitam legam karena debu, tubuh mereka ringkih akibat jam kerja panjang.
Dan saat malam turun, London menunjukkan wajah paling kelamnya.
Di balik kabut, ada dunia bayangan: sindikat pencopet yang menguasai pasar, rumah judi ilegal yang tersembunyi di bawah gudang tua, dan gang-gang gelap tempat para wanita menjual diri demi sesuap roti. Polisi kota, meski berpatroli dengan lampu gas di tangan, tak mampu menyingkirkan seluruh bayangan itu.
Nathaniel tahu semua ini. Sebagai Duke, ia kerap mendengar laporan tentang kondisi rakyat. Namun sebagai Ashford, ia pernah melihatnya sendiri. Pernah suatu malam, ia berjalan melewati Whitechapel dengan hanya mantel tipis, menyaksikan anak kecil tertidur di atas karung goni. Saat itu, ia sadar: kemewahan istana hanyalah sisi kecil dari kota yang jauh lebih besar dan rumit.
Henry pernah berkata dengan nada setengah bercanda, “London adalah ibu kota dunia, Nate. Tapi juga ibu kota segala dosa.”
Dan memang begitulah adanya.
Nathaniel menatap keluar dari kereta kuda yang membawa mereka pulang setelah sidang. Kota itu berdenyut seperti makhluk hidup—indah, kejam, memesona, sekaligus menakutkan.
Di kejauhan, seorang wanita bangsawan melintas dengan gaun berkilau, ditemani dua pelayan. Tak jauh dari sana, seorang bocah lelaki kotor berusaha menjual koran lusuh, diteriaki agar menyingkir. Dua dunia itu hanya terpisah beberapa langkah, tapi nyaris tak pernah bersinggungan.
“Menarik, bukan?” Henry yang duduk di seberang mencondongkan tubuhnya. “Para wanita bangsawan itu bisa jatuh pingsan hanya karena korset mereka terlalu ketat, sementara di sisi lain kota, wanita desa bisa mengangkat karung tepung seberat tubuhnya sendiri.” Ia terkekeh. “Kadang aku berpikir, kita semua ini hidup di atas panggung sandiwara besar.”
Nathaniel tidak menjawab, tapi kata-kata Henry terngiang lama. London memang panggung—penuh aturan, penuh kepura-puraan, penuh wajah ganda.
Dan di tengah panggung itu, ia sendiri kini memegang dua peran: Duke of Wexford yang dihormati, dan Mr. Ashford yang diam-diam mencari kebebasan.
Namun, sejak pertemuan singkat di kedai teh tempo hari, perannya yang kedua mulai terasa… jauh lebih berbahaya.

