1000520240
Vitamins Blog

Unspoken Vows

1
Views:3
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Prolog

London, tahun 1856.

Asap dari cerobong pabrik bergulung di udara, menutup langit sore yang seharusnya berwarna keemasan. Jalan-jalan utama dipadati kereta kuda, sementara kaum bangsawan berjalan anggun dengan gaun sutra berlapis renda dan topi besar yang tampak lebih berat daripada isi kepala mereka. Kota itu, meski penuh keagungan, juga berisik dan berbau arang.

Di sebuah jalan yang agak tersembunyi di ujung Covent Garden, berdirilah sebuah kedai teh kecil. Tidak ada yang istimewa dari luarannya—kayu tua yang mulai kusam, kaca jendela sedikit berembun. Namun, justru di situlah, seorang pria yang seharusnya duduk di ruang dansa istana malah memilih bersembunyi.

Ia mengenakan mantel hitam sederhana, topi bundar tanpa hiasan, dan sarung tangan kulit yang jelas-jelas terlalu halus untuk ukuran pria kelas pekerja. Rahangnya tegas, sorot matanya menusuk, dan sikapnya… yah, cukup untuk membuat siapapun berpikir dua kali sebelum mengajaknya berbicara.

Namanya—setidaknya nama yang ia gunakan hari itu—Mr. Ashford. Padahal, sebagian besar negeri mengenalnya dengan gelar yang jauh lebih mulia: His Grace, the Duke of Wexford.

“Cobalah setidaknya tersenyum, Ashford. Kau tampak seperti batu nisan yang dipindahkan ke kedai teh,” suara riang seorang pria di seberangnya memecah suasana.

Pria itu adalah sahabatnya, Sir Henry Collingwood, bangsawan tingkat menengah yang terkenal di lingkaran sosial London karena dua hal, tawa kerasnya, dan keahliannya membuat onar dalam pesta dansa. Dengan jas abu-abu cerah dan dasi kupu-kupu yang sedikit miring, Henry tampak seperti badut yang terselundup ke ruang bangsawan.

Sang Duke hanya mengangkat alis. “Aku tidak datang ke sini untuk menghiburmu, Henry. Kau bilang tempat ini sepi, aman, dan tidak ada orang yang mengenal kita.”

“Memang benar! Lihatlah sekeliling—” Henry melambaikan tangan ke arah pengunjung kedai: seorang ibu tua yang sibuk mengipas dirinya dengan koran, dua pekerja pabrik dengan wajah penuh arang, dan seorang gadis desa dengan gaun polos warna biru pudar, yang duduk sendirian di pojok dekat jendela. “—tidak ada yang peduli pada kita. Kau aman. Bahkan, aku yakin ibu tua itu lebih tertarik pada kue jahe daripada pada identitas rahasiamu.”

Sang Duke tidak menanggapi. Matanya justru berhenti pada gadis desa itu. Ia tampak berbeda: duduk dengan punggung sedikit menunduk, wajahnya tersembunyi di balik buku lusuh. Jemarinya menyentuh cangkir teh dengan hati-hati, seolah takut menumpahkannya. Ada kesunyian pada dirinya yang membuatnya tidak larut dalam kebisingan kedai.

Henry menyadari pandangan sahabatnya. “Oh, tidak. Jangan katakan kau akhirnya jatuh cinta pada pandangan pertama. Kau? Sang Duke berhati es?” Ia menahan tawa, meski cukup keras untuk membuat ibu tua di meja sebelah melirik.

Tatapan menusuk langsung melayang dari Ashford. “Diam, Henry.”

Tentu saja Henry tidak diam. Ia malah beringsut mendekat, berbisik, “Kau harus berterima kasih padaku nanti. Aku yakin takdir baru saja menyapamu lewat gadis itu.”

Sang Duke, meski wajahnya sama sekali tak berubah, tidak bisa menepis rasa ingin tahunya. Ada sesuatu dari gadis itu—bukan kecantikan mencolok, bukan pula sikap genit seperti wanita-wanita bangsawan yang biasa menempel padanya—melainkan… ketenangan.

Dan di tengah hiruk-pikuk dunia bangsawan yang penuh intrik, mungkin justru ketenanganlah yang paling berbahaya.

 

Bab 1. Kedai Teh di Covent Garden

Hujan baru saja reda di London, meninggalkan jalanan basah yang berkilau di bawah cahaya lampu gas. Aroma batu basah bercampur dengan arang dan sedikit wangi roti yang dipanggang dari toko-toko kecil di sepanjang jalan. Kereta kuda bergemuruh, roda-rodanya meninggalkan cipratan lumpur yang tak jarang mengenai sepatu pejalan kaki yang kurang beruntung.

Di tengah hiruk-pikuk kota besar itu, tersembunyi sebuah kedai teh sederhana yang seolah-olah lupa berkembang mengikuti mode. Cat kayunya mulai terkelupas, papan namanya miring, dan bunyi lonceng pintu di atas kepala terdengar parau tiap kali pengunjung masuk.

Bagi kebanyakan orang bangsawan, tempat itu tidak pantas dikunjungi. Tapi bagi seorang pria yang sedang berusaha melupakan siapa dirinya, kedai itu adalah pelindung.

Pria itu—dengan nama samaran Mr. Ashford—menarik kursinya sedikit agar tidak terlalu dekat dengan cahaya lampu gantung. Ia tidak pernah suka jadi pusat perhatian, bahkan saat ia berada di pesta dansa megah yang menuntutnya. Mantel hitamnya basah di bagian bawah, topinya ia letakkan di meja, dan sarung tangan kulitnya tetap terpakai, meski Henry—sahabatnya—sudah memprotes berulang kali.

“Untuk Tuhan yang Maha Pemurah, Ashford, lepaskan sarung tanganmu. Kau sedang minum teh, bukan bersalaman dengan Ratu Victoria,” keluh Henry dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa kepala menoleh.

Tatapan dingin segera mendarat padanya. “Aku tidak mengerti kenapa aku membiarkanmu ikut ke sini.”

Henry menyeringai, tidak gentar sama sekali. “Karena tanpa aku, kau akan duduk di sini seperti patung marmer yang menakut-nakuti para pelayan. Setidaknya, dengan aku, tempat ini terasa… lebih hidup.” Ia meneguk tehnya dalam sekali seruput—dan mendesis keras karena terlalu panas. “Ah! Lidahku terbakar.”

Sang Duke menutup matanya sejenak, nyaris putus asa menghadapi sahabatnya itu.

“Sir?” suara lembut seorang pelayan perempuan muda memotong interaksi mereka. “Apakah Anda menginginkan tambahan gula untuk teh Anda?”

Henry sudah bersiap menjawab dengan rayuan konyol, tapi Ashford mendahului.

“Tidak perlu,” jawabnya singkat.

Pelayan itu terdiam, lalu buru-buru menunduk dan pergi. Henry mendesah panjang. “Kau tahu, dengan sikap seperti itu, jangan heran bila suatu hari nanti ada gadis yang benar-benar berani melemparkan poci teh ke kepalamu.”

Ashford tidak menjawab. Pandangannya, seperti sejak tadi, tertuju pada sudut ruangan.

Gadis itu masih ada di sana. Gaun birunya sederhana, sedikit lusuh di tepi, menandakan bukan barang baru. Rambut cokelatnya dikepang sederhana, tanpa hiasan pita ataupun bunga. Ia duduk sendirian, menyembunyikan diri di balik buku lusuh yang tampak terlalu tebal untuk ukuran bacaan santai. Sesekali, ia mengangkat cangkir teh, tapi gerakannya ragu-ragu, seolah takut membuat suara berlebihan.

Ada sesuatu pada dirinya yang membuat Ashford tidak bisa berpaling.

Henry, tentu saja, menyadarinya. “Oh, tidak. Pandangan itu lagi. Pandangan ‘aku menemukan sesuatu yang menarik meski aku tidak akan pernah mengakuinya’.” Ia mencondongkan tubuh. “Kau bahkan tidak tahu siapa dia, Ashford. Bisa saja dia istri tukang sapu, atau lebih buruk, saudara sepupu yang hilang dari keluarga besar—kau tahu betapa ruwetnya pohon keluarga bangsawan.”

Ashford mengabaikannya. Ia hanya memperhatikan cara gadis itu sesekali menuliskan sesuatu di margin bukunya. Seorang pembaca serius, mungkin juga seorang pemikir. Tidak biasa bagi gadis desa untuk menulis catatan sambil membaca.

Tiba-tiba, pintu kedai berdering keras. Seorang pria bertubuh besar masuk dengan langkah kasar, mantel tebalnya masih meneteskan air hujan. Ia langsung menuju meja gadis itu, wajahnya merah karena minuman keras.

“Aha! Akhirnya kutemukan kau, Mary!” teriaknya, suaranya serak.

Seluruh ruangan terdiam. Gadis itu mengangkat kepalanya, jelas terkejut. “Tuan, Anda salah orang. Nama saya bukan—”

“Jangan bohong padaku!” Pria itu menepuk meja keras hingga cangkir teh berguncang. “Kau pikir bisa bersembunyi dariku?”

Henry menelan ludah. “Oh, ini akan jadi menarik.”

Ashford berdiri sebelum sempat berpikir. Langkahnya tenang, tapi sorot matanya cukup membuat pria itu menoleh. “Kurasa Anda mengganggu seorang pengunjung yang ingin tenang.”

Pria mabuk itu mendengus. “Dan siapa kau, hah? Polisi? Atau pahlawan murahan?”

Ashford tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya menatap—tatapan yang sama dinginnya seperti baja yang ditempa di tungku. Sesaat, bahkan pria mabuk itu tampak ragu. Tapi mabuk membuatnya berani. Ia meraih kerah Ashford.

Sebelum sempat terjadi lebih jauh, Henry beraksi. Dengan gaya dramatis, ia tersandung kursinya sendiri—dan entah bagaimana berhasil menumpahkan teko teh panas ke sepatu pria mabuk itu.

“Ya Tuhan!” serunya dengan suara keras. “Betapa cerobohnya aku!”

Pria itu berteriak, melepaskan kerah Ashford dan melompat-lompat kesakitan. Pelayan bergegas datang, dan beberapa pengunjung ikut membantu mengusirnya keluar.

Suasana kedai kembali ribut, kali ini dengan bisik-bisik dan tawa kecil.

Ashford berdiri tegak, menepuk mantelnya seolah tidak terjadi apa-apa. Henry, sementara itu, sibuk meniup-niup tangannya karena terkena cipratan teh.

“Lihat? Aku menyelamatkanmu,” katanya sambil meringis. “Meski sekarang aku yakin kakiku akan melepuh.”

Ashford hanya mendengus. Tapi sebelum kembali ke meja, ia sempat menoleh pada gadis itu. Ia masih duduk, memegang bukunya erat-erat, wajahnya sedikit pucat.

Mereka saling bertatapan sejenak.

Dan dalam keheningan itu, Ashford sadar: hidupnya yang selama ini teratur, penuh aturan, dan dingin, baru saja retak sedikit.

*

Ashford kembali ke mejanya, menarik kursi dengan tenang seolah peristiwa barusan tidak lebih dari gangguan kecil pada rutinitas sore. Henry, sementara itu, masih sibuk mengibas-ngibaskan celana yang basah oleh teh.

“Luar biasa,” gumamnya, antara bangga dan kesal. “Aku baru saja mengorbankan kedua kakiku demi menyelamatkan reputasimu yang sedang menyamar, dan satu-satunya balasan darimu hanyalah… diam.”

Ashford mengangkat alis. “Kau ingin aku memberimu medali?”

“Sedikit ucapan terima kasih pun cukup,” protes Henry sambil menyandarkan punggungnya. “Tapi ya Tuhan, tatapanmu barusan… aku hampir merasa kasihan pada pria mabuk itu. Hampir.”

Ashford tidak menanggapi. Pandangannya kembali ke sudut ruangan, ke arah gadis yang kini menunduk lebih dalam di balik bukunya. Sesekali ia menggeser cangkirnya, seakan ingin menyibukkan diri agar tak terlihat mencolok.

Ada sesuatu yang aneh. Gadis itu tampak tidak nyaman, namun bukan semata-mata karena insiden barusan. Lebih seperti… ia memang terbiasa menghindar dari perhatian.

Henry, yang mengikuti arah pandangan sahabatnya, menyikut lengan Ashford. “Jangan katakan kau sedang memikirkan gadis itu.”

Ashford mengerutkan kening tipis. “Kau terlalu banyak bicara.”

“Benar, tapi aku selalu tepat sasaran.” Henry menyeringai. “Kau tahu, biasanya tatapanmu hanya terbagi dua: tatapan ingin menyingkirkan seseorang dari bumi, dan tatapan bosan setengah mati. Ini pertama kalinya aku melihat tatapan ketiga—tatapan penasaran.”

Ashford meneguk tehnya pelan, tidak mengonfirmasi apa pun. Namun tatapan matanya, yang sesekali melirik ke sudut ruangan, sudah cukup menjawab bagi Henry.

Pelayan kembali datang membawa sepiring kue jahe. “Pesanan Anda, Sir.”

Henry langsung menyambar sepotong. “Ah, akhirnya! Kau tahu, Ashford, aku yakin semua tragedi dunia bisa dilupakan jika kita punya cukup kue jahe.”

Ashford hanya memandang sahabatnya sejenak sebelum menoleh kembali ke arah jendela. Hujan tipis kembali turun, menimbulkan bunyi ketukan lembut di kaca. Gadis itu menutup bukunya perlahan, seakan hendak pergi.

Hatinya—yang selama ini selalu dingin, terikat aturan, dan jarang terguncang—bergetar samar. Entah mengapa, ia tidak ingin gadis itu bangkit dari kursinya.

“Dia akan pergi,” ujar Henry dengan nada menggoda, mulutnya penuh kue. “Apakah kau ingin aku memanggilnya untukmu? Aku bisa sangat persuasif, kau tahu. Aku bahkan bisa pura-pura tersedak agar dia datang menolongku.”

Tatapan tajam Ashford segera terlempar padanya. “Jangan.”

Henry terkekeh. “Sungguh, aku tak pernah melihatmu seserius ini. Menarik sekali.”

Gadis itu berdiri. Ia meraih mantel tipisnya yang digantung di kursi, lalu menutup bukunya dengan hati-hati, seakan benda itu harta paling berharga. Langkahnya ringan, tapi tergesa, menuju pintu kedai.

Ashford menegakkan tubuh, nyaris berdiri. Namun ia menahan dirinya, jari-jarinya hanya mengepal di atas meja.

Lonceng pintu berdenting sekali. Gadis itu menghilang di balik tirai hujan, meninggalkan aroma samar teh dan halaman kertas tua.

Henry melipat tangannya di dada, menatap sahabatnya dengan penuh kepuasan. “Kau baru saja melewatkan kesempatan emas, Ashford. Tapi tenang saja… aku punya firasat, gadis itu belum selesai denganmu.”

Ashford tetap diam, tapi matanya menatap lama ke arah pintu yang kini tertutup kembali.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasakan sesuatu yang asing: sebuah dorongan untuk mengejar sesuatu—atau seseorang—yang bahkan belum ia kenal.

Namun sebagai seorang Duke yang terbiasa mengendalikan segalanya, ia tahu satu hal: dorongan itu bisa menjadi awal dari kekacauan.

Dan entah mengapa, kekacauan itu terasa… tak terhindarkan.