Di beranda ini aku menunggu, menatap langit yang lupa caranya mendung.
Kemarau terlalu lama tinggal, tanah retak menahan rindu.
Aku rindu aroma tanah basah.
Aku rindu gemuruh petir.
Aku rindu langit kelabu.
Aku rindu jendela rumahku berembun, yang jika disentuh akan terasa kesejukan yang menenangkan.
Hujan, dimanakah kau sekarang, di minggu terakhir di bulan September ini, tanda-tanda kehadiranmu masih terasa begitu jauh, tidakkah kau merindukan bumi?
Tidakah kau tau? Langit sekarang terasa begitu panas, polusi udara semakin kotor, angin berhembus kering yang membuat kulit manusia menjadi kusam.
Ranting pohon nampak kurus nan kering, dedaunan yang melingkupi kini jatuh berguguran terhempas angin, terjatuh dengan menyedihkan tergolek di tanah tanpa daya di atas tanah yang kering kerontang.
Pulanglah hujan.
Hujan, semoga di minggu terakhir di bulan September ini, kau kembali melaksanakan kewajibanmu, menjatuhkan rintiknya membasahi kami semua.
22 ~September ~2026
Ditulis saat cuacanya lagi panas-panasnya dengan suhu mencapai 36°C.

