Perampas Waktu

Perampas Waktu #1 Kau dan Hujan

Bookmark

No account yet? Register

21 votes, average: 1.00 out of 1 (21 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Setiap hujan turun, ada gemericik nyanyian bulir airnya menyenandungkan nada tentangmu. Begitu akrabnya kau berteman dengan para peri hujan, yang alunan tariannya seolah diciptakan untuk membasuh pedihmu.

Terkadang kau berdiam di bawah tetesannya, jemari lentikmu menengadah untuk menyambut lompatan-lompatan kecilnya. Lalu kau terkekeh sendirian, basah sepenuhnya. Seolah-olah kau dan hujan adalah sabat karib yang lama tak bersua, tenggelam bercengkerama dengan sudut bumi ini sebagai randezvous-nya.

Kau pecinta hujan. Aku pun begitu.

Kau musafir penyediri. Akupun begitu

Di suatu waktu aku pernah merasa bahwa kau bisa menjadi aku, begitu pun sebaliknya. Aku yang paling mengenalimu, aku yang paling mengertimu, aku yang mampu memahami emosimu, aku bahkan sangat ahli membaca bahasa isyaratmu. Mataku mampu memindai sekedip saja dalam detik yang berbeda, sekejap saja dalam kerjapan yang tak sama, dan sekedutan saja dari lengkung bibirmu yang tak sengaja kau paksakan. Akulah yang paling mampu menyelami kedalaman hatimu, hingga jadi yang pertama tahu ketika kau sedang tak baik-baik saja.

Sayangku, akulah yang paling tahu….

Waktu tenggelam ditelan jaman dan aku tetap saja tak mampu beralih hati. Ingatkah kau ketika kita membuat janji setia yang tersegelkan air hujan sebagai pengesahnya? Sebuah janji untuk terus bergandengan tangan sampai detik terakhir kita tak mampu lagi.

Setelahnya, kita berjuang keras untuk membuktikan janji itu. Berbagai persimpangan, kelokan dan jembatan telah kita lalui sambil memegang teguh rantai atas nama hati yang melingkari. Kupikir rangkaian jemariku dan jemarimu akan tetap terjalin selamanya. Ternyata tidak begitu. Manusia hanya membuat janji, Tuhan jugalah yang berhak merestui

Hari itu hujan dan sebuah pertengkaran kecil memimpin jemari kita untuk saling melepas tautan. Tak lagi kita mempedulikan riak hujan yang memelas memohon keleluasaan hati. Bahkan gemericik yang menampar wajahku pun, seolah tak punya kuasa untuk melembutkan hatiku yang bebal dan tak mampu beranjak dewasa.

Perpisahan singkat di tengah hujan menggulirkan perpisahan panjang yang ternyata selamanya.

Mereka bilang kau melepas nyawa sambil tersenyum manis. Tubuhmu lunglai, layaknya bidadari tidur merebahi kelamnya aspal, sementara jiwamu terlepas dalam semangat yang merajalela. Aku bisa membayangkan bagaimana hujan mengurai rambutmu dan membasahinya dengan alunan sendu orkestra perpisahan. Bulir airnya memelukmu dan melarutkan sakitmu, memudarkan warna merah darahmu yang seolah tak terbendung lagi. Gemericiknya menggelitik permukaan kulitmu seolah ingin menciptakan butir mutiara berkilau cahaya, menanggung hasrat untuk menyelubungi tubuh yang terkasih.

Setiap mengingat hujan, aku selalu mengingat kau. Sang pecinta hujan yang menutup mata dalam pelukan kekasih sejatinya. Berdekapan saling mendampingi hingga detik napas terakhir terhela lalu terhenti.

Ternyata, kekasih yang memegang teguh janji untuk menggandeng tanganmu sampai mati, bukanlah aku.

Bertahun-tahun lamanya, aku tak pernah berubah. masih setia mengunggah kenanganmu sambil berdiri diam di tengah hujan.

Dulu kau selalu tahu dimana bisa menemukanku. Tapi sekarang, bahkan hujan sederas apapun tak akan bisa mempertemukan kita kembali.

Kau mungkin tak pernah tahu betapa panjang rasa syukurku karena pernah bermandikan hujan bersamamu. Relung batinku memang lusuh dan berdebu, tapi akan selalu ada tempat untuk mengenangmu, juga mengenang hujan yang selalu memelukmu.

Tahukah kau, bahwa hujan sesungguhnya selalu memainkan musik rahasia yang hanya bisa didengar oleh para penanggung rindu?

Sayang, aku tidak akan pernah beranjak dari sini. Dari tempat awal dimana kau menengadahkan kepala malu-malu pada perjumpaan pertama kita, sampai satu saat nanti ketika aku menyusul mati. Akan kupanjatkan doa untukmu selalu, tenanglah di sana, tak usah pikirkan aku lagi, segila apapun aku memikirkanmu.

Biarkan kuberdansa sendirian sambil memeluk hujan. Serpihanmu kuyakin masih ada di sana, bersama buliran air yang terjun bebas dan jatuh dalam dekapan, bersama kecupan dingin dari basahnya air menyentuh kulit, yang kuyakin memiliki sepercik memori tentang bibirmu.

Aku akan selalu datang, sayang. Ke tempat kita pernah berdansa di bawah hujan, langkahmu dan langkahku berkecipak tak mau berhenti, menari-nari di bawah percik musik gemericik. Seperti biasa, membebaskan diri dari segala macam pedih.

9 Komentar

  1. Paling suka sama prosa yang ini.. uhuk ehem
    :mimisankarnamu

  2. Woyyy ini love nya mana woyyy.. Mau nge rating, tp ga ada, yasudah ku rating didalam hati sajaaah kalau begituh

  3. Kenapa jd ikut sakit membayangkan org yg kita kasihi pergi disaat sedang berselisih kecil :lovely :lovely

  4. Kirain si Mimin cuma ahli merangkai cerita, ternyata juga ahli banget buat bikin pembacanya hanyut dalam untaian prosa ini :lovely

  5. Setiap hujan hati ini terasa damai

  6. Indah

  7. dewantilaraswaty menulis:

    :aw..aw :aw..aw :aw..aw :aw..aw :aw..aw :aw..aw