Bab 4. Pertemuan Ketiga
Hari itu, London dibalut kabut tipis yang menyusup hingga ke setiap lorong sempit. Evelyn baru saja menyelesaikan tugas pagi di toko pamannya. Rak-rak sudah ditata, pena bulu berjejer rapi, dan lembaran kertas dipoles agar tampak bersih di balik kaca etalase. Mr. Alcott memutuskan untuk pergi sebentar mengurus persediaan tinta ke rumah pemasok di Bloomsbury, meninggalkan Evelyn sendirian menjaga toko.
Ia tidak keberatan. Justru dalam kesunyian toko, ia merasa lebih leluasa mengatur napas. Sesekali ia membuka buku catatan, mencoret harga barang, atau sekadar menulis puisi kecil untuk dirinya sendiri. Sesuatu yang tak mungkin ia lakukan di desa dulu, karena pekerjaan rumah tangga selalu menuntut waktunya.
Lonceng kecil di atas pintu berdering lembut, menandakan ada pelanggan masuk. Evelyn mengangkat kepala dengan sedikit gugup. Pintu kayu terbuka, dan sosok pria masuk dengan langkah mantap namun tidak terburu-buru.
Ia mengenakan mantel panjang berwarna gelap, lehernya dililit syal sederhana. Topi hitamnya dilepas begitu masuk, memperlihatkan rambut coklat gelap yang disisir rapi. Matanya tajam, dingin, seolah sedang menimbang ruangan itu dalam sekali pandang.
Evelyn menelan ludah. Ada sesuatu yang mengingatkannya pada tatapan itu. Pertemuan ketiga, dan jantungnya berdegup lebih cepat. Pria itu…
Pria itu berjalan mendekat ke rak buku bagian depan. Jemarinya menyusuri punggung buku dengan gerakan penuh perhitungan, seolah ia tahu apa yang dicari, tetapi enggan menanyakannya.
Evelyn berdiri kaku di balik meja kayu. Ia tahu seharusnya ia menawarkan bantuan. Itu tugasnya. Tapi lidahnya kelu. Introvert dalam dirinya berteriak ingin tetap diam, sementara naluri pekerjaannya memaksa untuk bersuara.
Akhirnya, dengan suara nyaris lebih lembut dari bisikan, ia berkata, “A… ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Nathaniel menoleh perlahan. Tatapan kelam itu langsung mengurung Evelyn, membuatnya ingin mundur satu langkah. Namun pria itu hanya mengangguk singkat, suaranya berat dan tanpa basa-basi.
“Buku sejarah. Era Tudor.”
Evelyn menelan gugup, lalu segera melangkah ke rak sisi kiri. Ia tahu pamannya menyimpan koleksi buku sejarah di sana, meski jumlahnya terbatas. Tangannya mencari dengan hati-hati, lalu ia menarik sebuah buku berjudul ‘Chronicles of the Tudor Court’. Ia berbalik dan menyodorkannya.
Nathaniel menerima buku itu, jemarinya bersentuhan sekejap dengan ujung jari Evelyn. Singkat sekali, namun cukup untuk membuat Evelyn menarik tangannya cepat-cepat dan menunduk, pipinya memanas.
“Bagus.” Hanya satu kata, namun mantap, seolah ia memang tidak terbiasa menambahkan kata-kata sia-sia.
Evelyn mengangguk, mencoba menyembunyikan kegugupannya dengan pura-pura sibuk mengatur catatan penjualan. Namun diam-diam matanya mencuri pandang. Ia memperhatikan bagaimana pria itu membuka halaman demi halaman, seakan bukan hanya membaca tetapi menguji isi buku itu.
Tidak ada keangkuhan seperti para bangsawan yang kadang datang membeli kertas surat mahal. Justru ada sesuatu yang sederhana dari penampilannya, meski sorot matanya tidak bisa menipu: ia bukan orang sembarangan.
Keheningan di antara mereka hanya dipecahkan oleh suara kertas yang dibalik. Evelyn menimbang, apakah sebaiknya ia menawarkan teh kepada pelanggan ini, sebagaimana kadang pamannya lakukan untuk pelanggan yang betah berlama-lama? Namun keberaniannya lagi-lagi terhenti di tenggorokan.
Sampai akhirnya Nathaniel menutup buku itu. Ia melangkah ke meja kayu dan meletakkannya di sana.
“Berapa harganya?” tanyanya singkat.
Evelyn cepat-cepat membuka catatan harga. Suaranya masih ragu, tapi lebih jelas daripada tadi. “Empat shilling, Tuan.”
Nathaniel mengeluarkan koin tanpa menawar, meletakkannya di meja dengan rapi. Ia menatap Evelyn sejenak, lalu berkata, “Terima kasih.”
Hanya itu, sebelum ia menyelipkan buku ke dalam mantel dan berbalik menuju pintu. Lonceng kecil kembali berdenting saat ia keluar.
Evelyn berdiri di balik meja, jantungnya masih berdebar. Ia menatap pintu yang baru saja tertutup, dan untuk alasan yang tak bisa ia jelaskan, ia merasa ada sesuatu yang belum selesai. Seolah pertemuan singkat itu hanyalah permulaan dari sesuatu yang jauh lebih besar.
Di luar, kabut London semakin tebal. Jalan-jalan berisik dengan pedagang dan kereta kuda, tapi di hati Evelyn, hanya ada gema langkah pria asing itu.
Ia berbisik pelan, hampir seperti kepada dirinya sendiri,
“Siapa sebenarnya dia?”
*
Nathaniel Kingsley—atau Ashford, sebagaimana nama yang kini ia gunakan di jalanan—berjalan perlahan menembus kabut London. Dari luar, ia tampak seperti pria biasa, mantel gelap sederhana, topi bundar, dan sikap kaku yang tidak menonjol. Namun di balik penyamaran itu, pikirannya berputar cepat.
Ia jarang menyusuri bagian kota ini seorang diri. Biasanya Henry, dengan mulut cerewetnya, selalu ada di samping, mengalihkan perhatian siapa saja dengan guyonan konyol. Tapi kali ini, ia ingin sendiri. Ada sesuatu yang membuatnya memilih jalan lebih sempit, melintasi deretan toko-toko kecil yang jarang ia masuki.
Sampai matanya menangkap papan kayu kusam bertuliskan “Whitmore’s Stationery & Bookseller.” Ia berhenti sejenak. Tempat sederhana. Tidak mencolok. Nyaris tidak layak bagi seorang Duke. Namun justru itu menarik. Tanpa berpikir panjang, ia mendorong pintu kayu yang sedikit berdecit.
Suara lonceng kecil menyambut kedatangannya.
Nathaniel segera merasakan aroma khas: campuran kertas tua, tinta, dan kayu yang lembap. Tidak seperti perpustakaan megah di rumahnya, toko ini sempit, dengan rak-rak yang tampak penuh sesak. Tapi ada kehangatan sederhana di dalamnya, sesuatu yang jarang ia rasakan di lingkaran aristokrasi yang dingin dan penuh basa-basi. Lalu matanya jatuh pada sosok di balik meja.
Seorang gadis. Sekilas matanya lebar bahkan hanya sekedar mata agar tidak dilihat siapa pun.
Ia tidak menduga akan menemukan perempuan itu di sini. Rambut cokelat tua Evelyn digelung sederhana, wajahnya pucat bersih tanpa riasan, dan tatapannya… tatapan yang semula gugup, lalu berani menatapnya sekejap, sebelum buru-buru menunduk. Bukan karena kesopanan semata, Nathaniel yakin itu. Ada ketulusan polos di sana, sesuatu yang jarang ia lihat dari para wanita bangsawan yang biasanya tersenyum penuh perhitungan.
Suara lembut gadis itu memecah keheningan. “A… ada yang bisa saya bantu, Tuan?”
Nathaniel menoleh. Ia hampir tersenyum tipis—hampir. Suaranya tetap berat, dingin. “Buku sejarah. Era Tudor.”
Ia sengaja menyebutkannya singkat. Bukan karena malas bicara, tapi karena ingin melihat bagaimana gadis itu bereaksi. Di dunia kaum bangsawan, kata-kata panjang penuh basa-basi sering menutupi maksud sebenarnya. Tapi di dunia nyata? Seseorang yang tulus akan menjawab langsung, tanpa berpikir rumit.
Dan benar saja, gadis itu sigap. Ia menuntun langkah kecilnya ke rak, mencari dengan serius, seolah permintaan sederhana darinya adalah hal yang sangat penting. Ada ketelitian di sana. Ada kerendahan hati.
Ketika gadis itu menyerahkan buku kepadanya, jari mereka bersentuhan. Sekilas saja. Namun cukup bagi Nathaniel untuk merasakan sesuatu yang asing. Gadis itu langsung menarik tangannya, wajahnya memerah.
Nathaniel menahan diri agar tidak memperlihatkan reaksi. Di dalam dirinya, ada getaran kecil yang tak bisa ia namai. Ia terbiasa dengan tatapan wanita bangsawan yang penuh kalkulasi, senyuman yang dipoles untuk tujuan pernikahan atau politik. Tapi gadis ini? Ia tampak… nyata. Terlalu nyata.
Nathaniel membuka halaman buku, membacanya sekilas. Ia memang menggemari sejarah, tetapi saat itu pikirannya tidak sepenuhnya pada teks. Ia lebih sibuk mendengar keheningan antara dirinya dan gadis itu. Senyap, tapi tidak hampa.
Akhirnya, ia menutup buku. “Berapa harganya?” tanyanya, datar.
Gadis itu menyebut angka dengan suara kecil namun jelas. Tidak menawar, tidak menawarkan hal lain. Hanya apa yang diminta.
Ia mengeluarkan koin, meletakkannya di meja. “Terima kasih,” ujarnya, lalu berbalik pergi.
Di luar, kabut semakin pekat. Nathaniel berjalan menjauh dari toko, tapi langkahnya sedikit melambat. Ia menoleh sekali, memastikan gadis itu tidak mengikutinya.
Tidak, tentu saja tidak. Namun di dalam dirinya, ada sesuatu yang tidak ia duga, keinginan untuk kembali.
Ia tidak tahu siapa gadis itu. Ia bahkan belum tahu namanya. Tapi wajahnya, caranya menunduk, dan suaranya yang rapuh namun tulus—semua itu tertanam di ingatan Nathaniel, lebih kuat daripada yang ia inginkan.
Nathaniel Kingsley, Duke of Wexford, pria yang tak pernah membiarkan hatinya dikuasai siapa pun, kini diam-diam mengakui satu hal sederhana.
Ia ingin melihat gadis itu lagi.

