Vitamins Blog

MERITOCRACY 12: Sequitur

Bookmark
ClosePlease loginn

No account yet? Register

9 votes, average: 1.00 out of 1 (9 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Hari itu di senja yang sama, Chero melihat satu hal yang berbeda ketika ia sedang melakukan rutinitasnya—menunggu Anna pulang. Oh, Anna masih tetap pulang dalam keadaan berantakan, babak belur nan penuh debu. Rambut sebahunya masih sangat tidak beraturan, panjang pendeknya tidak sama rata. Dan dari tempat ia berdiri, Chero bisa melihat rambut di sisi wajah kiri Anna lebih pendek daripada sebelumnya. Pagi tadi ia masih melihat bagian itu masih sepanjang dagu, kini hanya mencapai tulang pipi. Tetapi kali ini Anna tidak cemberut kesal, Chero bahkan melihat lengkungan di sudut bibir gadis itu.

Anna… tersenyum?

Chero menelengkan kepala melihat ekspresi yang sangat jarang terlihat itu. 

Apakah Chero hanya berhalusinasi?

Karena di detik yang sama Chero melihat senyum itu, Anna kembali menunjukkan raut datarnya pada Chero. Bukan, Anna bukan gadis kecil pemurung, ia dapat menjamin hal itu. Sebab, dalam beberapa kesempatan Chero sering kali mendapati kilat kegembiraan di kedua mata terang tersebut. Tapi, kemungkinan ini adalah senyum pertama Anna setelah sekian lama. Ada perasaan menghimpit di dadanya ketika ia melihat senyum Anna. Ah, betapa sayangnya ia pada adik kecilnya itu.

“Chero, sudah berapa kali kukatakan untuk berhenti menungguku pulang di depan pintu?” Anna menggeram kesal. 

Chero yang tiba-tiba mendapat serangan seperti itu hanya menunjukkan senyum separuh sambil mengedikkan bahu. “Apa yang membuatmu berpikir kalau aku tengah menunggumu kepulanganmu?”

Gadis muda itu hanya memutar kedua bola matanya malas. “Berhentilah melakukan itu, aku sudah cukup umur untuk pulang kapan pun, dan aku juga bisa menjaga diriku sendiri.”

“Oh, benar begitu? Kau masih tiga belas tahun, Anna. Jadi sudah tugasku untuk menjagamu.”

“Lima belas…” Anna mengoreksi. 

“Apa? Sejak kapan kau sudah sebesar itu?” Chero berpura-pura terkejut. 

Chero tertawa melihat respon Anna yang cemberut. “Ada apa dengan wajahmu?”

“Menurutmu apa? Mereka berhasil menjatuhkanku,” Anna membalas tak acuh, kemudian mangalihkan pandangan dari Chero. “Lagi.” Sambungnya.

Melihat sikap Anna yang terkesan malu mengakui hal tersebut, Chero mengusap kepala Anna penuh pengertian. “Hey, tidak apa-apa. Seharusnya mereka yang malu karena terus-menerus menjatuhkan seorang gadis kecil.” 

“Lalu? Apa karena aku seorang perempuan maka dari itu mereka harus mengalah?” Anna membalas balik. “Bagiku bukan begitu caranya mendapatkan rasa hormat dan kepercayaan.” 

Chero meringis mendengar balasan Anna. Sebagai seorang putri jenderal, Anna hanya perlu tersenyum dan bersikap lembut, lalu pergi ke pesta-pesta yang diadakan keluarga bangsawan di Ibukota untuk mendapat rasa hormat dari masyarakat. Tetapi Anna melihat nilai seorang wanita di luar sudut pandang stereotipe masyarakat, dan menurutnya wanita lebih dari sekadar trofi atau perhiasan berjalan. 

Memilih untuk tidak berdebat dengan adiknya, Chero kemudian mengarahkan Anna ke air mancur dekat taman samping kediaman mereka. “Maaf, aku tak bermaksud seperti itu. Mari bersihkan wajahmu terlebih dahulu, Ibu akan mengamuk jika melihatmu begini.” 

Dengan menyiapkan sapu tangan Chero kembali bertanya. “Jadi, ada apa dengan wajahmu?” 

Anna mendelik. “Sudah kukatakan—”

“Senyummu yang kumaksud.” Chero menyela. “Aku menanyakan itu tadi, bukan tentang lebam di wajahmu.” 

Apakah saat ini Chero bermimpi atau ia benar-benar melihat Anna bersemu? Heh, reaksi yang tidak biasa. Ketika Anna berhenti membasuh wajahnya, Chero yakin gadis itu sedang mempertimbangkan ingin memberi tahunya sesuatu atau tidak. 

“Um… Madam Lynn mengatakan sesuatu padaku.” Ujar Anna pelan. 

Sejenak jantung Chero terasa berhenti. Madam Lynn? Apa beliau mengatakan sesuatu yang buruk kepada Anna? Jika benar begitu, percakapan ini sudah pasti akan Chero teruskan pada ayahnya agar ia dapat melakukan sesuatu terhadap Madam Lynn. 

Janetta Lynn adalah seorang guru etik kenamaan di Dienvidos. Beliau sangat pemilih terkait siapa yang ingin ia bimbing. Sejauh yang Chero tau, Madam Lynn merupakan guru etik Putri Zietha saat ini. Terlepas dari reputasinya sebagai guru etik paling diminati di kerajaan, Madam Lynn juga memiliki reputasi buruk yakni sikapnya dalam bersosialiasi. Semua orang akan setuju bahwa Madam Lynn adalah pemilik lidah paling tajam di Dienvidos. Apa yang wanita kejam itu katakan pada adik kesayangannya?

“Madam Lynn? A-apakah ia mengatakan hal buruk—” 

“Apakah beliau benar-benar seburuk itu?” Anna jutstru balik bertanya. 

Chero mengernyit bingung pada respon Anna. Sebelum ia berkata apapun Anna kembali membuka mulutnya. 

“Madam Lynn tidak berkata buruk sedikitpun padaku.” Sahut Anna menenangkan seolah tahu apa yang akan ditanyakan sang kakak. 

“Lalu, bagaimana…?”

Anna mengedikkan bahu. “Kami tak sengaja bertemu. Aku menyapanya karena formalitas, tetapi ia mulai bicara padaku.” 

Kemudian Chero mendengarkan cerita pertemuan Anna dengan Madam Lynn yang tak pernah ia sangka terjadi. Anna berniat pergi setelah menyapa sang guru etik, akan tetapi wanita paruh baya tersebut tiba-tiba bertanya pada Anna. 

“Apa yang ingin kau capai dengan bergabung ke dalam pasukan, Nona Muda?”

Seakan mengetahui jawaban Anna, Chero menjawab di dalam pikirannya, Cuvari, Anna selalu ingin jadi Cuvari. 

“Cuvari? Hm… dan kau akan melakukan apa hingga kau cukup umur untuk berpartisipasi pada uji kelayakan pasukan?” 

“Aku tidak tahu.” 

“Kalau begitu, apa kau berminat untuk menjadi asistenku?” 

Rahang Chero masih tetap terbuka lebar saat Anna menyelesaikan ceritanya. Apa katanya? Madam Lynn menawarkan Anna untuk jadi asistennya? Chero merenung, jika dipikir-pikir Madam Lynn memang selalu memberikan kejutan dengan sikapnya. Dan kali ini Chero tidak bisa berkata-kata. 

“Bagaimana menurutmu?” Suara Anna mengembalikan Chero dari monolognya. 

“Um… apa kau menerima tawaran tersebut?” Chero menyahut dengab tidak yakin. Memang kenapa jika Anna menerima tawaran tersebut? 

Itu tawaran yang bagus. Anna bisa belajar lebih banyak dan mereka bisa berangkat ke akademi bersama-sama. Um.. lebih tepatnya Chero bisa pergi bersama Anna karena Menara Tabib tempatnya menuntut ilmu sangat dekat dengan Akademi Emerld. Selain menjadi guru etik, Madam Lynn juga merupakan salah satu guru besar di akademi. Di Halstead, akademi hanya diperuntukkan bagi para cendekiawan yang nantinya akan menjadi guru untuk keluarga-keluarga bangsawan di seluruh karajaan. Anak-anak bangsawan pun tidak pergi ke akademi untuk mendapat pendidikan yang mereka butuhkan, hal tersebut dilakukan di kediaman masing-masing. Maka dari itu, Anna yang sejatinya bukan calon cendekiawan akan tetapi mendapat keistimewaan yang sama adalah hal luar biasa. Lagi-lagi menjadi pertanyaan mengapa Madam Lynn menawarkan posisi tersebut pada Anna dan bukan pada seseorang yang satu bidang dengannya. 

“Aku tak tahu apakah aku pantas, tetapi aku menerimanya.” Jawab Anna malu. 

Dengan senyum Chero menghela napas. Dirasa Anna telah selesai membersihkan wajahnya, ia mengulurkan sapu tangan pada adiknya. Ia sedikit terpaku kala Anna kembali menatapnya dengan senyum kecil dibibirnya sambil menerima uluran tersebut. “Terima kasih untuk selalu ada di sisiku, Chero.” 

“Aku akan berada di sisimu sampai kapan pun, Nona Muda Reese.”

 

***

“Chero!” 

Chero tersentak ketika menyadari suara yang memanggilnya bukanlah suara Anna. Tanpa ia sadari ternyata ia tidur. Setelah mengumpulkan kembali kesadarannya, ia segera berdiri dari posisinya dan menghadap ke pemilik suara. Ia sedikit terkejut ketika melihat Javias berdiri tak jauh dari dirinya.

“Yang Mulia,” Chero menyapa. 

Javias mengangkat sebelah tangannya, mengisyaratkan Chero untuk meninggalkan keformalan di antara mereka. “Sepertinya kau begitu hanyut dalam mimpi, aku harus memanggilmu berkali-kali. Apa kau memimpikan pujaan hatimu?” Tanyanya. 

Wajahnya sedikit memerah ketika Chero dengan sopan menyangkal pernyataan tersebut. “Tidak… itu hanya—” Chero melirik pada sosok yang tergulai lemah di atas ranjang pasien. “—Anna. Aku bermimpi saat kami masih tinggal di kediaman keluarga.” 

Mungkin akibat dari melihat ekspresi sendu Chero, terdengar helaan napas dari Javias yang bergerak memperpendek jaraknya dengan Anna yang tak sadarkan diri. 

“Bagaimana keadaannya?” 

Perlahan-lahan Chero mulai memeriksa kembali kondisi tubuh Anna. Suhu tubuhnya masih sangat tinggi, Chero bisa melihat kesakitan di wajah adiknya itu. “Ia sangat lemah akhir-akhir ini dan aku belum mengatahui apa penyebabnya, itulah mengapa Anna tidak memiliki kesempatan menang melawan Jenderal. Duel dengan Jenderal membawanya ke titik rendah di mana tubuhnya benar-benar tidak lagi memiliki kekuatan.” 

Dalam hati ia bertanya-tanya, dengan kondisi seperti itu Anna bisa saja tumbang di tengah-tengah duel berlangsung. Tubuhnya tak hanya lebam tetapi juga tersayat-sayat. Anna tak seharusnya bisa bertahan hingga akhir dengan kehilangan darah seperti itu. Chero memejamkan mata frustasi, ia bersyukur setidaknya Anna tidak hampir mati. 

“Anna yang mendorong Jenderal untuk mengambil tindakan seperti itu.” Ujar Javias. 

Chero yang hendak manyalak pada Javias kembali menelan kata-katanya. Jika ia tak kenal sang Putra Mahkota sejak kecil sudah pasti mereka akan saling membentak saat ini, akan tetapi cara bicara Javias memang tidak pernah tidak membuat kesal. Mengingat percakapannya dengan Anna di mimpinya ia tak heran mengapa Madam Lynn sangat menyukai Javias. 

Satu-satunya hal yang bisa membuat ayahnya mengambil tindakan seperti hanya satu, hal terkait utara. Ayah memang sosok yang keras pada anak-anaknya, tetapi Ayah dan Anna hanya akan bertengkar hebat jika hal itu terkait tentang utara. 

“Anna ingin pergi dan Jenderal tidak mengizinkan. Maka dari itu ia mempermalukan Anna sekaligus menjatuhkannya hingga seperti ini.” Ketus Chero dengan kesimpulannya. Ia tak peduli bila sikapnya ini kasar pada calon rajanya, ia bahkan tak peduli sekalipun Javias adalah titisan dewa. “Ia bisa saja mengurung Anna agar Anna tidak pergi, tetapi dia justru mengambil pilihan yang lebih buruk.” 

“Itu untuk kebaikannya sendiri.” Sahut Javias. 

Yah, Chero cukup familiar dengan pernyataan itu. Tak sekali dua kali ia berkata hal yang sama pada Anna. Dan kini ia sadar betapa frustasi ia dibuatnya oleh kata-kata kosong tersebut. 

“Kalian harus percaya pada Anna. Valos percaya padanya.” Chero bersikeras. 

“Keputusan telah dibuat, Chero. Anna tidak akan pergi ke utara. Kita tak bisa mengambil resiko pada operasi yang bertahun-tahun direncanakan hanya untuk rasa balas dendam seorang gadis yang bahkan tidak sadar dengan tanggung jawabnya sendiri.” Javias mejawab tegas. Chero yakin dia bahkan mendengar Javias menggertakkan giginya. 

Tangan Chero mengepal kencang ketika ia membalas tatapan Javias dengan berani. “Jadi kau marah karena Anna memberikanmu kesempatan untuk hidup dengan orang kau cinta? Kau benar-benar cocok dengan Brane. Harusnya kau berterima kasih pada Anna untuk itu.” 

Javias tersentak mendengar kalimat sinis Chero. Tanpa menunggu balasan Javias, Chero berbalik dan mengambil buku catatannya untuk menuliskan perkembangan kondisi Anna. Ia mendengar suara langkah menjauh kemudian pintu yang menutup. Dengan layu ia kembali duduk di sisi ranjang Anna dan mengusap kernyitan di dahi Anna yang masih terasa panas. 

“Maaf, ternyata aku tak selalu ada di sisimu, Nona Muda Reese.” Chero berbisik. “Bangunlah, kurasa ada seseorang yang menunggumu untuk membalas ciumannya.” 

***

Gelap, sangat gelap. Anna sangat familiar dengan kegelapan ini. Sesak, sangat sesak. Ia harus keluar dari sini. Dulu sekali ia bertanya apakah begini rasanya terkubur? Tetapi, kau harus mati terlebih dahulu sebelum dikubur, bukan? Apakah Anna sudah mati? 

Ia merasa seakan-akan ada sesuatu yang menghimpit paru-parunya. Apa Anna benar-benar sekarat? 

“Itu kau, bukan?” Sebuah suara menyambut Anna. 

Anna tidak mampu mengenali dengan jelas suara tersebut. Suaranya terdengar jauh sekaligus dekat. Seperti terhalang. Seperti ada beribu lapisan yang menyelebungi suara tersebut. 

“Kau sekarat, itulah mengapa aku terus merasa sakit.” Ujar suara misterius lagi.

Anna tidak mengerti. Anna ingin bertanya namun tak ada suara yang keluar. Apa orang itu mengenalnya? Ada di mana mereka sekarang? 

“Kau berada di mana?” 

Apa? Bukankah seharusnya Anna yang menanyakan itu? Anna bisa merasakan segalanya. Frustasi, marah, takut, sedih. Anna yakin saat ini ia tengah menjerit penuh dengan air mata, tetapi Anna tidak bisa merasakan tubuhnya sendiri. Anna ingin menyerah, Anna ingin ayahnya. Bisakah Anna pergi? 

Anna tak tahu apa yang terjadi, akan tetapi kegelapan ini seperti memahaminya. Napasnya tak lagi sesak, kini semua tak berasa. Anna sudah bisa pergi? Anna sudah bisa bertemu Ayah? Anna hanya perlu berhenti melawan, bukan? Sudah waktunya—

“Oh, Mentariku. Aku merasakanmu, sadarlah.” Suara misterius itu kembali memanggil Anna. Dadanya kembali terasa sesak mendenger keputus asaan suara tersebut. “Aku merasakan jeritanmu, tangisanmu. Bertahanlah, ini belum waktunya.” Sambung suara misterius masih dengan penuh putus asa. 

Bertahan.

Itu yang dilakukan Anna selama ini. Harus sampai kapan? Tidak ada berubah sekalipun ia bertahan. Dunia ini tidak butuh Anna. Halstead bisa hancur hingga tak bersisa dan Anna tak akan peduli karena tidak akan ada yang berubah. 

“Benar, biarkan Halstead terbakar. Tetapi aku membutuhkanmu.” Sahut suara misterius. “Biarpun kita tak dapat menyelematkan Halstead, aku tetap ingin kau bersamaku. Bersama-sama melihat dunia ini hancur dan melebur bersamanya. Ini bukan waktunya, Mentariku. Masih belum waktunya.” 

Suara itu… sangatlah kuat. Anna seperti mendengar suara itu di dalam kepalanya sendiri. Seperti Anna yang menyuarakan hal-hal tersebut. 

Bukan lagi sesak, Anna kini merasa panas. Kepalanya berdenyut, tubuhnya seperti tak memiliki kekuatan untuk fokus. Anna tidak tahu harus merasa lega atau tidak ketika dirinya serasa ditarik keluar dari kegelapan ini. Setelah beberapa saat, kini Anna tahu satu hal pasti.

“Utara. Pergilah ke utara.” 

Pemilik suara itu adalah seorang laki-laki.

***

Jika Eric boleh berpendapat, kehidupan hutan sama sekali bukan pilihan tepat untuk dijadikan gaya hidup terbaik. Sudah berapa lama ia di sini? Entahlah. Ia sudah tidak menghitungnya lagi. Mungkin sekitar dua minggu. 

Annalise. 

Gadis asing—yang kini tidak begitu terasa asing—telah meninggalkannya berhari-hari. Ia tidak meninggalkan banyak uang, jadi Eric beranggapan bahwa ia harus berusaha untuk mandiri dalam mencari makan. Yah, bukannya Eric ingin mengeluh, ia cukup terbiasa berburu, namun tidak begitu ahli seperti Annalise dan kawannya yang berpenampilan seperti bandit itu.

Sejauh ini Eric berhasil menangkap tupai dan burung, jika sempat ia menangkap ikan di sungai. Ia tahu tidak seharusnya ia terlalu percaya pada orang asing—terlebih lagi yang tinggal di hutan—semacam Annalise. Ia hanya ingin selamat, lalu kembali ke asalnya. Dan ia akan melakukan apapun demi bertahan hidup. Ayahnya membutuhkan Eric, begitu pula dengan adiknya. Dan ia sangat membutuhkan kakaknya. Yah, Eric tidak seharusnya berharap banyak. 

Sembari mencari buruan, di beberapa kali kesempatan Eric mencoba mencari lokasi di mana Annalise menemukannya dalam kondisi mangkhawatirkan—hampir menjadi makanan sekawanan gagak—dan hampir mati. Entah apakah ia harus merasa beruntung karena Annalise tidak menemukan barang yang saat ini ada di genggaman Eric ketika gadis itu menolongnya. Eric tidak akan bisa pulang tanpa benda ini. 

Eric mengamankan benda itu ke dalam pakaiannya. Mungkin ia akan mencari satu tempat di mana ia bisa menyembunyikannya sementara. Kemudian ia membuka lipatan kertas yang ia dapatkan bersamaan dengan benda penting sebelumnya. Kertas yang sudah cukup lusuh sebab hampir tak pernah lepas dari genggaman Eric. Surat balasan terakhir dari kakaknya yang telah pergi bertahun-tahun silam. Ia bahkan tak mengerti tentang sentimennya terhadap surat tersebut. Surat yang bukan berisi tentang kalimat manis menenangkan ataupun kabar yang sangat ingin Eric dengar. Itu hanya kumpulan kata yang bahkan tak mencapai satu paragraf.

Eric, jangan mencariku jika kau masih berada di jalan yang sama. 

Begitu tulisan yang tertera. Apa maksudnya? Jalan apa? Mengapa ia tidak menemui Eric dan menjelaskan langsung apa ia inginkan? 

Dengan perasaan berkecamuk Eric memasukkan kembali surat tersebut ke dalam saku tuniknya. Melihat pakaiannya yang nyaris seperti baru, Eric lagi-lagi berhutang pada Annalise karena gadis itu masih memiliki simpati untuk memperbaikinya. 

Bukan hanya pakaian, namun juga raganya. 

Dan kini Eric takut jika ia akan memberikan hatinya untuk membayar hutang tersebut sekalipun Annalise tidak memintanya.

©️MERITOCRACY, 2022

This is an unedit version—so, I really am sorry for the typos. Thank you so much for reading

 

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

4 Komentar

  1. Indah Narty menulis:

    Ngomongnya ngegas :ohyeaaaaaaaaah!

  2. Akhirny updateeeee :bersinarbuatkamu :bersinarbuatkamu

  3. Waah…. setelah berbulan2 lamanya 😄 terima kasih penulis

  4. Setelah sekian purnama akhirnyaup juga :aw..aw :lovelove :lovelove