Dark Layers of The Night

Dark Layers of The Night: Ep. 5 Ternoda & 6 Rencana Akram untuk Elana (Uncut)

Bookmark
ClosePlease login

No account yet? Register

projectsairaakira Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

10 votes, average: 1.00 out of 1 (10 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Novel Essence Of The Darkness dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com Temukan Novel Romantis Fantasi berkualitas lain hanya di Project Sairaakira

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Episode 5 : Ternoda

“I dont believe in love at the first sight. You fall in lust with what your eyes see, and in love with what your heart sees.”

Para bodyguard bertubuh tegap itu mencengkeram tubuh Elana di kedua sisi, memegangnya dengan begitu erat sehingga Elana sama sekali tidak punya kekuatan untuk melawan. Meskipun begitu, dia tidak menyerah, dia meronta sekuat tenaga, menjerit, berteriak menunjukkan penolakan, meskipun itu semua sia-sia. Mereka tetap berhasil menyeret tubuhnya menaiki tangga melingkar lebar yang terletak di bagian tersembunyi di belakang bar besar kelab malam itu, membawanya masuk melalui sebuah pintu besar menuju ruangan yang sangat luas di baliknya.

Napas Elana terasa begitu sesak, kehabisan tenaga untuk melawan. Tubuhnya masih meronta sebagai perlawanan terakhir ketika para bodyguard itu melemparkan tubuhnya dengan kasar hingga terbanting ke tengah ranjang besar yang mendominasi ruang tidur luas tersebut. Elana langsung melentingkan punggungnya dan mendudukkan dirinya di atas ranjang, berusaha bangkit dari sana bersamaan dengan pintu ruangan yang terbuka kembali.

Kali ini sosok lelaki bertubuh tinggi berpakaian hitam yang dikenal Elana sebagai penjahat yang memukuli orang di kamar mandi itulah yang melangkah memasuki kamar dan membiarkan salah satu bodyguardnya menutup pintu di belakangnya. Dari sikapnya yang arogan dan juga sikap seluruh bodyguard yang langsung memberi jalan sambil membungkuk hormat, Elana langsung tahu bahwa semua penganiayaan mengerikan yang terjadi kepadanya ini dilakukan atas perintah lelaki itu.

Lelaki itu mengawasi Elana dengan tatapan mata tajam seolah mengulitinya hidup-hidup, ekspresinya dingin, tak terbaca.

“Apa… apa yang kau inginkan?” Elena berhasil mengeluarkan suaranya, serak dan ketakutan, didera oleh panik karena saat ini dirinya berada di atas ranjang dengan banyak lelaki asing bertubuh kuat yang mengelilinginya.

Apa salahnya? Kenapa orang-orang asing ini memperlakukannya seperti ini? Apa tujuan mereka? Apa yang akan mereka lakukan kepadanya?

Seluruh tubuh Elana gemetaran ketika membayangkan orang-orang asing ini akan memaksakan kehendak terhadapnya.

Elana tidak sanggup memikirkannya, air matanya meleleh, tubuhnya yang lemah gemetaran, memohonkan belas kasihan dari manusia-manusia tanpa ekspresi yang ada di sekelilingnya.

“Tolong…. tolong…. biarkan aku pulang… tolong…” suaranya beriba-iba, menyayat hati.

Tetapi, sepertinya para penculiknya memiliki jiwa keras dan tak mudah tersentuh, karena tidak tampak belas kasihan sedikit pun di mata mereka ketika mendengar permohonan Elana.

Sosok lelaki yang menjadi pemimpin para penjahat itu bergerak maju mendekati Elana, langkahnya berhenti tepat di samping ranjang, berdiri di sana dan mengawasi Elana seperti predator yang sedang menilai mangsa, membuat Elana mengkerut ketakutan. Diseretnya tubuhnya bergeser sejauh mungkin dari posisi lelaki itu, tetapi gerakannya terbatas karena saat ini punggungnya sudah menempel ke kepala ranjang.

“Namaku Akram Night,” lelaki itu berucap dengan nada mengancam yang membuat bulu kuduk berdiri. “Malam ini kau akan menjadi milikku.” ucapnya tanpa ragu, seolah-olah pernyataannya itu sudah pasti akan terjadi.

Mala Elana melebar, bingung. Kenapa lelaki itu memperkenalkan diri kepadanya? Kalau begitu, bukankah jika nanti masalah ini dibawa ke pihak berwajib, Elana akan bisa langsung menuntut lelaki ini? Biasanya para penjahat atau kriminal menggunakan nama samaran, atau bahkan menutupi wajahnya supaya identitas aslinya tidak diketahui dan tidak ada saksi yang bisa mengkaitkannya dengan kejahatan yang dia lakukan, bukan?

Atau… jangan-jangan lelaki ini tidak berniat untuk membiarkannya hidup sehingga dengan mudahnya bisa menyebutkan namanya kepada Elana?

Memikirkan itu semua kepanikan memenuhi nadi Elana, membuat aliran darahnya naik ke kepala.

“Aku… aku tidak butuh namamu! Dan aku bukan milikmu!” serunya kemudian dengan nada terbata, mulai putus asa mencoba memohonkan pengampunan atas nyawanya. “Tolong… tolong lepaskan aku…aku berjanji tidak akan mengganggu…”

Suara kekehan Akram membuat perkataan Elana terhenti. Lalu, tiba-tiba Akram naik ke atas tempat tidur, lututnya bertumpu di atas ranjang dan lelaki itu mendekati Elana dengan sikap mengancam seolah akan melahapnya.

“Ti… tidak, jangan mendekat! Jangan mendekat!” Elana panik, kedua lengannya diluruskan di depan tubuhnya, dengan telapak tangan terbuka lebar, menjadi satu-satunya pertahanan dirinya yang mulai kehilangan harapan.

“Kau akan butuh mengetahui namaku. Supaya kau bisa menjeritkannya ketika aku memberikanmu kepuasan,” lelaki itu berbisik dengan nada sensual yang gelap, menunjukkan dengan jelas apa maksud sebenarnya dari seluruh hal yang menimpa Elana secara tiba-tiba ini.

Elana beringsut, menempelkan tubuhnya ke kepala ranjang dalam usahanya menjauh. Jantungnya berdebar begitu kencang seolah-olah hendak merobek rongga dadanya dan meloncat keluar dari sana.

Lelaki ini… akan memperkosanya?

Keterkejutan Elana yang membuatnya terpana sejenak dimanfaatkan Akram tanpa ampun. Tubuhnya bergerak cepat menindih Elana, membuat usaha Elana untuk menjauh menjadi sia-sia, tubuhnya kini terperangkap di bawah tubuh Akram, tertahan oleh tubuh keras yang jauh lebih kuat darinya. Tetapi Elana tidak menyerah, kedua tangannya yang masih bebas bergerak mencoba mendorong dada Akram yang sekeras batu. Napasnya terengah, dan ketika frustasi melandanya karena dia tidak mampu membuat tubuh Akram bergerak seinci pun, tangannya bergerak ke atas, mencoba mencakar wajah penjahat yang dia sesali harus bersinggungan nasib dengannya.

Sayangnya, Akram lebih sigap, Sebelah tangan lelaki itu mencengkeram tangan Elana, menekuknya di atas kepala hingga memakunya di atas ranjang. Sementara sebelah tanggannya yang lain mencengkeram jari Elana, membawanya ke bibirnya.

“Tidak sekarang, kucing mungil. Kau boleh mencakarku sepuasnya saat kita bercinta nanti,” Akram berbisik dengan suara parau lalu bibirnya membuka dan menggigit ujung jari Elana, membuat tubuh Elana seakan tersengat listrik.

Lelaki ini benar-benar gila! Di dalam kamar ini masih ada puluhan bodyguardnya yang tetap berdiri mematung tanpa ekspresi melihat bos mereka hendak memperkosa seorang gadis. Dan tidak ada satupun yang tergerak menolong melihat betapa tidak berdayanya Elana di bawah dominasi Akram yang begitu kejam. Tidak ada orang bermoral dan berperikemanusiaan di dalam kamar ini, dan Elena tidak tahu harus meminta tolong pada siapa lagi.

Ketika bibir Akram menggigit dan menyesap ujung jari Elana, mencicipinya dengan gerakan sensual, matanya terpejam. Setelahnya, mata itu membuka, dengan bola mata sewarna hazel bening, langsung menatap ke arah Elana, membuat Elana terkesiap ketika melihat api seakan berkobar dari mata itu, dipenuhi oleh nafsu yang bahkan Elana tidak mampu menerjemahkannya.

Astaga! Apa salahnya? Apa yang dia lakukan hingga penjahat ini bisa bernafsu kepadanya?

Semalam di pertemuan mereka, dia bahkan menggunakan pakaian overall kedodoran khas petugas cleaning service yang sama sekali tidak menampakkan lekuk tubuhnya. Dia juga tidak bersikap menggoda, bahkan berusaha menjaga supaya interaksi mereka seminim mungkin.

Tetapi, kenapa lelaki ini bisa tertarik kepadanya? Apakah Elana diincar karena dia menjadi saksi perbuatan kriminal lelaki ini? Apakah lelaki ini orang gila yang suka memerkosa korbannya sebelum dibunuh?

Elana menggerakkan tangan untuk melepaskan diri dari cengkeraman Akram, tetapi cengkeraman lelaki itu di kedua tangannya sangat kuat, hampir-hampir menyakiti dan sudah pasti akan menimbulkan memar di kulitnya. Dia mencoba menggulingkan tubuh, tetapi tertahan olah tubuh Akram yang sangat kuat di atasnya. Elana lalu menggerakkan kakinya, berniat mendorong Akram menjauh. Sayangnya, gerakannya itu malah membuat pahanya terbuka sehingga Akram bisa leluasa menempatkan dirinya tepat di antara kedua paha Elana, menunjukkan dengan jelas bukti bahwa dia benar-benar bernafsu terhadap Elana saat ini.

“Sepertinya kau sudah tidak sabar,” Akram menundukkan kepala, memberikan hadiah kecupan kecil di sudut bibir Elana, memuat Elana semakin panik menggerakkan kepala untuk menghindari ciuman itu. “Aku juga sama tidak sabarnya denganmu,” ujarnya dengan suara parau penuh janji.

Setelah mengucapkan kalimat itu, Akram memberi isyarat dengan pandangan matanya yang tajam supaya para bodyguardnya menyingkir dari ruangan itu. Perintahnya langsung diikuti dengan patuh. Dalam senyap, seluruh bodyguard itu melangkah keluar dari ruangan, lalu menutup pintu di belakang mereka dengan rapat. Ruangan itu menjadi senyap dalam sekejap, menyisakan dua sosok makhluk yang saling berlawanan. Yang satu ingin menyatu dan yang lain ingin menjauh.

“Jangan… kumohon, jangan…” Elana mulai menangis ketika Akram mengangkat kedua tangannya ke atas kepalanya, menggunakan satu tangannya yang kuat untuk menyatukan kedua pergelangan tangan Elana dalam cengkeraman. Sementara, tangannya yang lain bergerak membuka pakaian Elana dalam gerakan tak sabar tetapi masih terkendali.

“Kau tidak punya pilihan lain, Elana,” Akram berucap dengan nada dingin dan terus memaksakan kehendaknya

Seluruh usaha perempuan itu untuk memberontak, mencakar, memukul dan menolak dirinya malahan membuat Akram semakin bernafsu untuk memiliki.

Dan malam ini, Akram tidak akan menahan-nahan lagi, tidak dipedulikannya tangisan memohon dari Elana yang menjadi satu-satunya usaha untuk mempertahankan kehormatannya. Akram meraih tubuh Elana, lalu memaksakan kehendaknya pada perempuan itu tanpa peringatan, membuat jeritan pedih bercampur sakit terlontar dari bibir Elana, memenuhi seluruh penjuru kamar.

***

Akram mengerang setelah mencapai puncak kenikmatannya entah yang keberapa kalinya sepanjang malam ini. Tubuh Elana tergolek di bawahnya, tak memiliki kemampuan lagi untuk melawan. Mata perempuan itu terpejam, dengan aliran air mata basah yang tak henti-hentinya mengalir di sudut matanya, napasnya terengah, beriringan dengan napas Akram yang sama terengahnya.

Perlahan Akram melepaskan diri dari perempuan itu, dan seketika itu juga, tubuh Elana langsung beringsut menjauh dengan sisa-sisa tenaganya, meringkuk seperti kucing kecil yang ditinggalkan terlantar di tengah hujan, berusaha berada posisi sejauh mungkin dari Akram.

Senyum masam muncul di bibir Akram karenanya. Belum pernah sekalipun wanitanya yang telah bercinta dengannya, menjauh dari pelukanya seketika setelah mereka selesai bercinta, yang ada, mereka semua malahan semakin menggelayut manja hingga Akram harus bersikap kasar untuk menyingkirkannya.

Tetapi, Elana memang tak bisa dibandingkan dengan wanita-wanitanya yang lain. Elana istimewa. Kenyataan bahwa Elana benar-benar masih perawan benar-benar membuatnya senang. Elana adalah perawan pertamanya, dan pengetahuan itu membuat rasa posesif memenuhi dirinya. Dia adalah lelaki pertama Elana, dan sepanjang dia masih menginginkan Elana, dia ingin kedudukan ekslusif untuk menikmati tubuh Elana, hanya dipegang oleh dirinya.

Senyum Akram terulas di bibirnya. Kepuasan yang memenuhi seluruh nadinya membuatnya merasa rileks luar biasa, sesuatu yang sudah lama sekali tidak dirasakannya ketika bercinta dengan perempuan-perempuannya yang lain.

Setelah beberapa lama, diangkatnya kepala dan ditatapnya Elena yang tidak bersuara sejak tadi. Mata perempuan itu terpejam, tetapi Akram tahu pasti bahwa dia tidak sedang tidur. Perempuan itu tampaknya sedang berusaha menghindari interaksi dengan Akram dan sikapnya itu membuat Akram menahan senyum.

Kenapa kucing mungilnya ini masih keras kepala?

Kenyataan bahwa Akram mau menidurinya, seorang perempuan jelata dari kelas rendah sepertinya, bukankah itu adalah anugerah yang seharusnya disyukuri perempuan itu? Banyak perempuan kelas atas yang antri untuk melayani nafsunya, dan ketika Akram memilih Elana, perempuan miskin ini malah bersikap tak tahu diuntung.

Tetapi, Akram tidak marah. Dia bahkan tidak merasakan setitik pun emosi negatif di dalam jiwanya. Kenyataan bahwa tubuhnya telah terpuaskan pada satu tingkat yang luar biasa dan tidak pernah dia rasakan sebelumnya membuatnya senang, hingga dia tidak keberatan memaafkan sikap kurang ajar Elana saat ini.

Matanya mengawasi dada Elana yang masih naik turun, berusaha menetralkan napasnya yang terengah. Perempuan itu berjuang sekuat tenaga untuk melawan Akram, dan akhirnya harus berakhir kalah kehabisan tenaga.

Akram yakin bahwa dia akan berhasil menaklukkan perempuan polos yang kini menjadi miliknya itu. Ya, mungkin sekarang perempuan itu bersikap seperti kucing liar yang masih mencakar, tetapi Akram yakin, dengan kemampuannya memberikan kepuasan seksual kepada perempuan itu, ditambah nanti hadiah-hadiah berlimpah dan mewah yang akan diberikannya kepada perempuan itu, dia akan meluluhkan hati Elana sepenuhnya.

Perempuan mana yang tidak menyukai lelaki kuat yang mampu memberikan kenikmatan di atas ranjang sekaligus bisa memberikannya uang, perhiasan, pakaian dan segala sesuatu yang mewah di dunia ini dengan melimpah? Para perempuan sudah pasti memohon untuk mendapatkan semua itu dari Akram, dan Akram yakin, wanita di bawahnya ini cepat atau lambat akan mengakui bahwa dirinya telah takluk pada Akram.

“Aku akan mengambilkanmu minum,” bisiknya dengan nada menggoda, menyeringai ketika Elana tetap memejamkan matanya tanpa reaksi untuk menanggapinya.

Akram lalu melangkah turun dari ranjang, mengambil celana panjangnya yang terlempar di lantai dan memakainya, lalu melangkah menyeberangi ruangan menuju ke lemari pendingin besar yang ada di sana. Diambilnya minum dari botol dan ditenggaknya langsung. Akram benar-benar haus, tidak disangkanya kalau dia benar-benar menghabiskan banyak energinya. Setelahnya, Akram menuang air ke dalam gelas kaca bening dan membawanya kembali ke arah ranjang.

“Minumlah,” Akram berdiri di tepi ranjang, menawarkan gelas itu pada Elana yang kini telah berbaring miring meringkuk memunggunginya. Perempuan itu telah menarik selimut di kaki tempat tidur untuk menutupi tubuh telanjangnya, pundaknya yang penuh dengan jejak dan bekas ciuman Akram tampak bergetar, menahan isak tangis.

Elana mengabaikannya, memilih menangis dalam diam dan memunggunginya. Dan Akram memutuskan memberinya sedikit waktu untuk menangis.

Bagaimanapun juga, Elana adalah seorang remaja tanpa pengalaman. Apa yang dilakukan Akram padanya mungkin membuatnya ketakutan setengah mati. Tetapi, Akram tidak menyesal telah memaksakan dirinya terhadap Elana. Karena dia menginginkan Elana, dan cepat atau lambat, entah itu dengan pendekatan halus yang lama atau pemaksaan kasar yang cepat, perempuan itu tetap saja akan berakhir di atas ranjangnya. Nanti, setelah Elana bisa menguasai dirinya dan berpikir jernih, Akram akan menyadarkan Elana betapa beruntungnya dia karena Akram memutuskan untuk memilih Elana untuk melayaninya.

Akram lalu meletakkan gelas berisi air yang ditolak Elana itu di meja kecil yang terletak di samping ranjang. Dia kemudian melangkah ke kamar mandi, hendak menyegarkan diri sebelum kemudian ingin menghabiskan dini hari ini untuk memuaskan dirinya bersama Elana lagi.

Langkah kaki Akram ringan ketika dia melangkah memasuki kamar mandi, menyalakan keran shower air hangat yang langsung menciptakan uap yang memburamkan dinding kaca kamar mandinya. Akram hendak melepas celana panjangnya ketika tiba-tiba suara sesuatu yang pecah terdengar menembus indra pendengarannya.

Mata Akram melebar, sementara pikiran waspadanya yang tertuju pada Elana membuatnya langsung bergerak cepat, membuka pintu kaca geser kamar mandi yang berkabut itu dan meloncat keluar dari kamar mandi.

Sejenak langkah Akram tertegun ketika menatap pemandangan di depannya yang sama sekali tidak dia sangka-sangka.

Pecahan gelas yang tadi ditawarkannya pada Elana kini tampak berkeping-keping di lantai. Dan perempuan itu sudah tidak ada di atas tempat tidur lagi. Tubuhnya yang masih terbalut selimut tampak lunglai, duduk sambil bersandar di kaki tempat tidur. Sementara di satu sisi tangannya tampak menggenggam pecahan kaca tajam yang tampak penuh dengan warna merah yang masih basah, dan di tangannya yang lain… tampak sayatan lebar di nadi pergelangannya yang mengalirkan darah segar, mengucur membasahi lantai.

Jantung Akram seolah dilepas paksa dari rongga dadanya, benaknya dipenuhi oleh emosi bergolak yang tidak dia kenal sebelumnya. Bergegas Akram menghampiri Elana dan memeluk perempuan itu. Tangannya mengambil pecahan kaca penuh darah yang masih tergenggam di jari Elana dan membuangnya jauh-jauh. Elana benar-benar pucat pasi dan tubuhnya terasa dingin. Tetapi perempuan itu masih bernafas meskipun semakin lama semakin terasa lemah.

“Elios! Elios!” Akram berteriak keras dengan panik, memanggil asistennya yang dia tahu selalu berjaga tak jauh dari dirinya.

Hanya beberapa detik sampai pintu kamar itu terbuka dan Elios muncul di balik pintu kamar yang dibukanya dengan keras hingga tersentak. Nada panggilan Akram sudah jelas menunjukkan sesuatu yang darurat, membuat Elios tak segan merangsek masuk ke dalam kamar pribadi tuannya itu.

Tetapi apa yang terpampang di depan matanya sama sekali tidak disangkanya. Tuannya, Akram, tampak berlutut di lantai, memeluk perempuan itu yang saat ini begitu pucat dengan darah mengalir dari nadinya yang terkoyak.

“Kenapa kau diam? Cepat siapkan mobil! Cepat!” Akram berseru keras dengan nada tak sabar, membangunkan Elios dari keterpanaannya. Akram lalu bangkit dan membawa Elana yang sudah lunglai, ke dalam gendongannya, melangkah cepat keluar dari ruangan menuju area parkiran mobil, tidak memedulikan tubuhnya yang telanjang dada dan hanya memakai celana panjang.

Dan pada detik itu, Elios menyadari bahwa sejak sepuluh tahun lebih dia mengabdi pada tuannya ini, baru kali inilah Akram Night yang dikenal sangat dingin, kejam dan tak punya hati terhadap manusia lain, menunjukkan emosi kuat yang Elios pikir tidak pernah ada dalam jiwa Akram sebelumnya.

***

Episode 6 : Rencana Akram untuk Elana

“You have bewitched me, body and soul. You’re mine and i never wish to be parted from you from this day on”

Mobil hitam itu melaju cepat menembus jalanan di dini hari yang sepi. Elios duduk di sebelah supir yang mengendarai mobil dengan kencang. Sepanjang perjalanan yang mencekam tersebut, asisten Akram itu sibuk menelepon pihak rumah sakit, meminta jalur emergency private yang khusus disediakan untuk petinggi dan pemilik rumah sakit segera disiapkan. Elios juga terdengar meminta kehadiran dokter terbaik rumah sakit untuk bersiaga di sana sebelum mereka datang.

Akram sendiri hanya berdiam diri sambil memangku tubuh Elana yang makin lama semakin dingin di tangannya. Darah Elana tampak mengucur deras dari luka sayatan di pergelangan tangannya, membuat kulit perempuan itu berubah pucat seperti mayat.

Akram menunduk dan menatap wajah Elana, keningnya berkerut dalam ketika aroma anyir darah segar memenuhi indra penciumannya. Dadanya yang telanjang dan bagian lain di dalam mobil mewah ini telah penuh dengan darah yang seolah-olah begitu keras kepala dan tidak mau berhenti mengucur dari luka sayat di pergelangan tangan Elana itu. Sepertinya, bebatan kain yang dibuat oleh Akram di pergelangan tangan perempuan itu tidak berarti banyak untuk mencegah pendarahannya.

Mereka sampai di rumah sakit hanya dalam waktu beberapa menit. Dini hari membuat jalanan sepi, sehingga mereka bisa menempuh perjalanan dalam waktu lebih singkat. Rumah sakit megah ini terletak di dalam komplek perumahan mewah di bagian pusat kota, area paling elit dari seluruh daerah yang tak jauh dari kelab malam. Akram memiliki beberapa rumah yang tidak ditinggalinya di komplek perumahan mewah itu, dan kebetulan juga, Rumah sakit itu juga telah diakuisisi oleh perusahaan miliknya sebagai perwujudan ekpansi dan diversifikasi di bidang kesehatan beberapa tahun lalu.

Ketika mereka memasuki gerbang rumah sakit mewah itu, petugas keamanan yang telah mendapatkan konfirmasi sudah berdiri menunggu di area depan, mobil mereka diarahkan ke area basement tertutup yang terletak di bagian samping rumah sakit, langsung mengarah kepada lift besar khusus pasien yang telah dibuka lebar berserta beberapa perawat emergency yang telah menanti.

Begitu pintu mobil dibuka, petugas rumah sakit yang sigap langsung mengambil tubuh Elana dengan hati-hati, sesuai prosedur pemindahan tubuh yang digunakan untuk memindahkan korban luka pendarahan luar. Elana ditidurkan di atas ranjang dorong rumah sakit yang sudah disiapkan. Petugas rumah sakit langsung berkeliling di sekitar pasien, kemudian melakukan apa yang harus mereka lakukan sambil mendorong tubuh Elana memasuki lift dan membawanya naik ke area tempat emergency VIP berada. Salah seorang dokter berucap kepada Elios yang mengikuti mereka untuk segera menyusul ke atas guna mendata informasi pasien sebelum penanganan lebih lanjut.

Akram melangkah keluar dari mobil. Matanya mengarah ke angka lift yang menyala di bagian atas pintunya, menunjukkan bahwa lift itu sudah bergerak naik ke atas. Perhatiannya teralihkan oleh gerakan Elios di dekatnya. Asistennya itu mengulurkan sapu tangan warna putih dengan sopan kepadanya.

“Tuan Akram, saya sudah mengatur untuk disediakan baju ganti bagi Anda,” Elios jelas-jelas merujuk pada penampilan Akram yang telanjang dada dan penuh darah. “Pihak rumah sakit telah menyediakan paviliun khusus di lantai paling atas rumah sakit ini. Anda bisa membersihkan diri dan berganti pakaian di sana terlebih dahulu. Mengenai perempuan itu….” Elios tampak ragu sebelum melanjutkan. Pendarahan perempuan itu tampaknya begitu parah, Elios tidak tahu apakah perempuan itu akan selamat atau tidak, dan dia bahkan tidak mampu membayangkan bagaimana reaksi Akram jika perempuan itu tidak selamat. Tetapi, di tengah keraguan itu, tak urung Elios melanjutkan perkataannya juga. “Mengenai perempuan itu, biarkan saya mengurusnya,”

Akram menganggukkan kepala, menerima uluran sapu tangan dari Elios dan menggunakannya untuk mengapus noda darah di pipinya.

“Tunjukkan jalan. Aku akan membersihkan diri dulu. Setelah itu aku akan menyusulmu ke tempat penanganan perempuan itu.” ujarnya dengan dingin tanpa nada.

Elios mengangguk sopan, lalu memimpin jalan, mengarahkan atasannya itu memasuki lift yang telah tiba dan tersedia untuk mereka, lalu mengantarkan Akram menuju lantai paling atas lift, ke sebuah kamar president suite yang terletak di bagian paling atas rumah sakit.

Rumah sakit mewah ini memang menyediakan kamar-kamar mewah yang disewakan serupa dengan tarif hotel bintang lima. Kamar-kamar ini disediakan untuk keluarga penunggu pasien yang tidak ingin menghabiskan malam mereka bersama pasien di kamar rumah sakit, atau juga keluarga pasien di ruangan iccu yang tidak mengizinkan penunggu pasien menginap di area ruangan iccu.

Kamar yang disediakan untuk Akram ini adalah kamar terbaik, dan belum pernah dibuka sebelumnya untuk umum. Ini merupakan satu-satunya kamar di lantai tertinggi rumah sakit, terletak terpisah jauh dari kamar umum lain yang disewakan untuk keluarga pasien rumah sakit ini.

Elios menekan kartu di pemindai pintu dan membukakan pintu kamar untuk atasannya. Lalu mempersilahkan Akram memasuki ruangan.

“Tuan, saya akan turun untuk mengurus segala sesuatu yang berhubungan dengan perempuan itu. Saya akan menanganinya dengan baik. Tuan Akram silahkan beristirahat di sini untuk malam ini,” Elios menekankan kata menangani dengan sengaja. Maksudnya, jika sampai perempuan ini mati malam ini, maka Elios akan menggunakan pengaruh nama besar Akram Night untuk melepaskan segala hubungan dengan mayat perempuan itu. Nama Akram Night akan selalu bersih, dan mayat itu mungkin akan berakhir dengan cerita mayat perempuan malang yang bunuh diri karena patah hati, serta tidak akan ada sesuatu pun yang menghubungkan kematiannya dengan Akram Night.

“Aku akan menyusul ke tempat penanganan perempuan itu. Di mana tempatnya?” tanpa diduga, Akram malah mengucapkan kalimat itu, membuat Elios ternganga karena terkejut.

“Di mana tempatnya?” Akram mengulang lagi pertanyaannya. Nada suaranya mengancam dan kerutan di antara kedua alisnya membuat Elios menyadari bahwa dia harus menjawab dengan cepat.

“Pusat penanganan emergency pasien VIP khusus ada dua lantai di bawah. Anda tinggal turun dua lantai dengan menggunakan lift dan akan langsung mengarah kesana.”

Akram menganggukkan kepala. “Bagus. Kau boleh pergi,” perintahnya, kembali memasang wajah dingin tanpa ekspresi.

Elios setengah membungkukkan tubuh, lalu mengucapkan permohonon izin meninggalkan ruangan. Dia sudah setengah jalan kembali ke arah lift ketika Akram kembali memanggilnya.

“Elios,” panggilan Akram itu membuat langkah kaki Elios terhenti. Sang Asisten menolehkan kepala dan langsung menanggapi.

“Ada lagi yang bisa saya bantu, tuan?” tanyanya sopan.

Sejenak, dalam detik yang penuh kemustahilan, Akram tampak ragu. Bibir lelaki itu menipis sementara wajahnya berubah serius dan gelap.

“Perempuan itu. Katakan pada dokter untuk menggunakan segala cara. Dia tidak boleh mati,” Akram menekankan kalimat terakhirnya seperti titah seorang tirani yang tak boleh dibantah, membuat Elios tidak bisa melakukan apapun selain mengiyakan.

Pintu ruangan Akram tertutup rapat kemudian, sementara Elios kembali membalikkan badan menuju lift. Keningnya berkerut ketika pertanyaan demi pertanyaan susul menyusul di benaknya.

Akram Night tidak pernah bersikap seperti ini sebelumnya. Dulu jika perempuan-perempuan pemujanya yang telah selesai melayaninya di tempat tidur terluka, Akram tidak akan menoleh dua kali dan tidak akan ragu sama sekali untuk meninggalkan perempuan itu. Tidak ada belas kasihan di dalam jiwa Akram, bahkan untuk kekasih-kekasihnya di masa lalu.

Tetapi, kenapa sekarang berbeda? Apa yang istimewa dari Elana sehingga seolah-olah nyawa seorang perempuan jelata yang yatim piatu dan tak berharga, bisa menjadi begitu penting bagi Akram Night yang memiliki segalanya di dunia ini dalam genggaman tangannya?

***

Akram segera melepas celananya yang lengket oleh darah segar yang membasahi. Tubuh telanjangnya yang tegap langsung melangkah masuk ke kamar mandi, menyalakan pancuran air hangat dan langsung mengguyur tubuhnya dari kepala sampai kaki. Darah yang membasahi tubuhnya langsung mengucur turun, bercampur dengan air dan mengalir ke lantai, menciut dan masuk ke dalam saluran air sebelum kemudian menghilang.

Akram membersihkan diri dengan cepat, lalu mengeringkan rambut dan tubuhnya sebelum mengenakan pakaian yang telah disediakan oleh Elios baginya.

Perasaannya dipenuhi oleh berbagai emosi asing yang tak pernah dirasakannya sebelumnya. Begitu menyesakkan dada sehingga Akram tidak bisa menahan diri untuk menuju area bar dan menuangkan segelas brendi untuk meredakan gejolak emosinya.

Perempuan itu memilih bunuh diri, memilih menyayat nadinya sendiri dan meregang nyawa dalam kematian yang sakit, daripada menjalani kehidupan luar biasa mewah dengan menjadi kekasih Akram.

Akram tidak pernah mendapatkan penolakan yang begitu fatal sebelumnya, dan itu memukul jiwanya sampai terkapar di dasar. Dia telah terbiasa dengan penerimaan, terbiasa dengan pemujaan dari semua orang yang ingin mendapatkan perhatiannya. Bahkan, begitu banyak perempuan yang memohon untuk bisa menemaninya semalam saja, juga memohon untuk mendapatkan sentuhannya meskipun hanya sambil lalu.

Akram tidak pernah kekurangan perempuan sebelumnya pun dia hanya menganggap para perempuan itu hanyalah sebagai hiburan untuk memuaskan kebutuhan jasmaninya sebagai seorang lelaki dewasa yang normal. Mereka hanyalah selingan yang lewat sambil lalu, tidak pantas untuk mendapatkan perhatian lebih darinya.

Tetapi perempuan yang satu itu, yang paling diinginkan oleh Akram, yang paling bisa memberikan kenikmatan jasmani luar biasa setelah mereka bercinta, berani-beraninya menolak perhatiannya? Berani-beraninya Elana menolak perhatian darinya yang diinginkan oleh begitu banyak wanita lainnya di luar sana?

Sebegitu tidak inginnyakah Elana menjadi miliknya, sehingga perempuan itu lebih memilih untuk mati?

Penolakan dari seorang perempuan yang menjadi pengalaman pertama Akram membuat lelaki itu marah luar biasa. Dibantingnya gelas brendi yang telah kosong itu ke meja marmer bar yang berwarna gelap. Ekspresinya mengeras sementara gerahamnya mengepal, dikuasai oleh kemurkaan yang selama ini menjadi bagian utama dari jiwa seorang Akram Night.

Apa yang ada di dalam otak perempuan sialan itu sehingga berani-beraninya dia mencoba mencabut nyawanya sendiri yang telah menjadi milik Akram? Akram tidak akan pernah lengah lagi dan memberi kesempatan bagi perempuan itu untuk melawannya.

Elana adalah miliknya. Jiwa dan raga. Dan Akram akan menggunakan Elana sesukanya sampai dia bosan dan memutuskan untuk membuang perempuan itu.

Hanya Akram yang berhak menentukan kapan Elana boleh mati.

***

Ketika Akram sampai di ruangan emergency untuk pasien VIP khusus, seluruh proses penanganan gawat darurat yang dilakukan terhadap Elana telah selesai dilakukan. Perempuan itu sekarang terbaring tenang di atas ranjang putih, berselimut warna yang sama dengan wajah pucat pasi yang hampir serupa dengan ranjang dan selimutnya. Selang infus terpasang di punggung tangannya, dan sepertinya masih membutuhkan beberapa waktu sebelum Elana sadarkan diri.

Elios tampak sedang berbicara dengan dokter dan langsung memberi hormat ketika melihat Akram mendekat. Dokter terbaik rumah sakit ini yang ditugaskan untuk menangani Elana juga melakukan hal yang sama, setengah membungkuk hormat ke arah Akram.

“Bagaimana kondisinya?” Akram mengabaikan penghormatan dari dua orang di depannya, matanya masih tertuju pada Elana yang masih tak sadarkan diri.

Mendengar pertanyaan dari orang paling penting di rumah sakit ini, dokter itu tergesa menjawab.

“Masa kritis pasien sudah terlewati dan saat ini kondisinya telah stabil. Beruntung pasien cepat dibawa kemari. Pendarahan yang terjadi adalah pendarahan arteri, sehingga menyebabkan darah yang terpompa keluar dari luka sayatannya melebihi kecepatan rata-rata, dan pasien kehilangan banyak darah. Beruntung yang terpotong bukanlah arteri utama sehingga ketika pasien tiba di rumah sakit ini, kami masih bisa mencegah syok akibat pendarahan dan melakukan penyelamatan dengan transfusi darah,”

Dokter itu memberikan penjelasan teknis dengan suara tenang. Meskipun begitu, kepalanya menunduk, tidak berani menatap ke arah Akram Night yang berdiri tegap di depannya. Akram tidak bersuara tetapi menguarkan aura mengintimidasi gelap yang menyesakkan dada.

Pasien yang ditangani dokter itu jelas-jelas telah melakukan usaha bunuh diri yang gagal. Meskipun begitu, tidak akan ada satu manusia pun yang berani bertanya kenapa Akram Night muncul di rumah sakit ini pada dini hari sambil membawa perempuan yang terluka itu. Tidak ada pula yang berani memunculkan pertanyaan mengenai siapa perempuan itu dan apa yang menyebabkannya bunuh diri dan kenapa perempuan yang tampak biasa-biasa saja itu bisa terlibat dengan seorang taipan kaya beraura gelap seperti Akram Night. Mereka semua tahu bahwa menghadapi seorang Akram Night, diam dan tetap merendah adalah jalan terbaik untuk menyelamatkan nyawa.

“Berapa lama sampai dia sadar, pulih dan diizinkan meninggalkan rumah sakit ini?” Akram akhirnya bertanya memecah keheningan, sementara matanya masih menatap ke arah tempat tidur Elana dibaringkan.

“Kami menyuntikkan ke infus pasien obat penenang dan penghilang sakit yang memberikan efek mengantuk, pasien akan tertidur nyenyak sampai beberapa jam ke depan sebelum kemudian sadarkan diri. Sedangkan mengenai waktu pulihnya pasien, belum bisa kami pastikan. Tetapi, kami masih akan memantau kondisi pasien sampai dia benar-benar stabil. Mungkin membutuhkan waktu dua minggu minimal sampai pasien bisa meninggalkan rumah sakit. Tetapi, meskipun pasien dinyatakan bisa meninggalkan rumah sakit, tetap ada perawatan lanjutan yang harus dilakukan.”

Akram mengangguk pertanda mengerti. Tangannya bergerak memberi isyarat bahwa dokter itu sudah tidak dibutuhkan dan Akram ingin dokter itu meninggalkan tempat ini. Isyarat itu langsung dimengerti dengan baik oleh dokter malang itu, yang langsung terbirit-birit pergi meninggalkan lokasi setelah mengucapkan permohonan pamit dengan sopan.

Ditinggalkan sendirian dengan Elios, Akram mengalihkan perhatiannya ke wajah Asistennya yang berdiri diam menunggu perintah. Elios sudah menjadi asisen dan tangan kanan Akram sejak sepuluh tahun yang lalu. Lelaki itu efisien, cepat, efektif dan hampir tidak pernah gagal dalam menjalankan tugas yang diberikan kepadanya. Elios telah membantu Akram melakukan pekerjaan, baik yang bersih maupun yang gelap, dengan noda melumuri tangan mereka. Dan satu yang paling penting, Elios adalah anak buah yang sangat loyal kepadanya. Akram tahu bahwa Elios bersedia berkorban nyawa untuknya.

“Berikan penanganan yang terbaik untuk perempuan itu. Dokter terbaik, obat-obatan terbaik dan fasilitas terbaik,” Akram memasukkan kedua tangannya ke saku celana. “Perempuan itu harus sembuh dengan cepat,”

Elios melirik dengan hati-hati Elana yang masih tak sadarkan diri, lalu memberanikan diri untuk menyuarakan pertanyaan dalam otaknya.

“Apa yang akan rencana Anda pada perempuan itu jika dia sembuh nanti?” tanya Elios dengan nada suara tak kalah hati-hati.

Perempuan-perempuan Akram biasanya diminta pergi menjauh ketika Akram sudah bosan, tetapi mereka sudah tentu tidak pergi dengan tangan kosong. Akram membuang mereka dengan memberikan ganti yang sepadan, kadang mobil mewah, rumah mewah atau perhiasan yang membuat mata perempuan-perempuan itu berbinar ketika melihatnya.

Tetapi, dengan Elana mungkin akan berbeda. Elios tidak tahu apa yang terjadi di dalam ruangan tuannya sebelumnya, hingga Elana berakhir dengan percobaan bunuh diri. Tetapi Elios tahu bahwa apa yang tuannya rencanakan sebelumnya terhadap, Elana tidak berjalan dengan baik malam itu.

Sebenarnya akan lebih baik jika Elana mati, jadi mulutnya akan tertutup rapat selamanya. Tetapi, Akram ternyata bersikeras supaya perempuan itu hidup dan selamat.

Kalau begitu, apa yang harus Elios lakukan untuk mengunci mulut perempuan itu supaya tidak memeras Akram? Apakah harta yang banyak bisa memuaskan perempuan itu? Karena bahkan dengan memiliki perhatian seorang Akram Night di atas ranjang saja, perempuan itu bukannya mensyukuri malahan memberikan penolakan dengan mencoba membunuh dirinya sendiri.

Akram tidak segera menjawab pertanyaan itu, tampak berpikir sejenak sementara matanya masih mengawasi Elana dengan cermat.

“Villa milikku di Pulau Hijau, perintahkan para pegawai dan pelayan untuk menyiapkan supaya bisa ditinggali dalam dua minggu ke depan,” perintah Akram kemudian.

Elios menatap Akram dengan penuh pertanyaan. Dia sama sekali tidak bisa menebak apa yang ada di pikiran Akram sebenarnya.

“Anda berencana tinggal di villa Pulau Hijau?” tanyanya mencoba meyakinkan pendengarannya.

Villa di Pulau Hijau adalah salah satu villa dengan fasilitas mewah milik Akram. Yang membuat villa itu istimewa adalah karena villa itu terletak di sebuah pulau mungil yang juga menjadi milik akram. Privasi villa itu sangat terjaga karena untuk mencapai lokasi, harus menggunakan helikopter yang membutuhkan izin khusus untuk mendarat. Pun dengan sekeliling villa yang dikelilingi hutan dan lokasi Pulau Hijau yang berada di tengah lautan, dikelilingi tembok tinggi dan penjagaan ketat bersenjata di sana. Pulau Hijau yang tak berpenghuni memang terletak tak jauh dari daratan dan kepulauan lain yang dihuni oleh masyarakat pada umumnya, tetapi area pulau hijau sangat terlarang, kondisinya yang terisolasi dan tidak bisa sembarang orang bisa menembus perimeter keamanan di sekelilingnya.

Akram biasanya menggunakan villa di pulau itu jika ingin menyendiri dan beristirahat dari hiruk pikuk kota. Lokasi yang terisolasi susah dijangkau, pengamanan ketat dan privasi yang terjaga bahkan membuat pulau itu seperti sebuah penjara yang sangat mewah.

Elios melebarkan mata ketika sebuah kesadaran menembus pikirannya. Ditatapnya Akram setengah menebak.

Jangan-jangan, tuannya itu ingin membawa Elana ke sana?

“Ya. Aku akan membawa Elana ke sana.” Akram menjawab pertanyaan tanpa suara yang diajukan oleh Elios. “Lakukan pekerjaan dengan bersih, Elios. Datanglah ke tempat tinggal Elana, ambil semua barang-barangnya dan segala sesuatu yang berhubungan dengannya, bereskan urusan dengan tempat tinggal Elana. Juga uruslah tempat kerja Elana dan selesaikan semua urusan perempuan itu dengan semua orang yang mengenalnya, baik orang-orang di tempat kerjanya, orang-orang di kelab yang berinteraksi dengannya, juga panti asuhan tempat Elana berasal. Bunuh yang harus dibunuh, singkirkan semua saksi. Bereskan semua itu hingga jejak perempuan itu hilang tak bersisa.”

Elios melebarkan mata. “Anda ingin membawa Elana ke villa di pulau hijau dan memutuskan seluruh hubungannya dengan dunia serta masa lalunya?” simpulnya tak percaya.

Akram menyeringai. “Perempuan itu telah berani melawanku dan menolakku yang tak pernah ditolak sebelumnya. Aku akan membuatnya kehilangan segalanya hingga dia tidak memiliki apapun di dunia ini selain diriku. Dan ketika dia menyadari itu semua, menyadari betapa rendah posisinya… aku yakin perempuan itu akan merayap di bawah kakiku untuk memohon belas kasihan dan perhatianku.”

***

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

174 Komentar

  1. Eheeemm

  2. Kasihan elanaaaaa :aw..aw :aw..aw :aw..aw

  3. Traumatis buat elana

  4. Nyonya Akram Night menulis:

    :pedas

  5. Re read :ohyeaaaaaaaaah! :lovelove :lovelove :pedas

  6. penghuni bumi menulis:

    Kampret lu akram :v

  7. Udah berkali kali baca, part ini memang bikin kesel ya..

  8. Pujipriyantiningsih menulis:

    :pedas