Dark Layers of The Night

Dark Layers of The Night: Ep.3 Obsesi Akram & 4 Masuk Perangkap

Bookmark
ClosePlease login

No account yet? Register

projectsairaakira Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

10 votes, average: 1.00 out of 1 (10 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Novel Essence Of The Darkness dapat dibaca gratis sampai tamat hanya di projectsairaakira.com Temukan Novel Romantis Fantasi berkualitas lain hanya di Project Sairaakira

Baca Parts Lainnya Klik Di sini

Episode 3 : Obsesi Akram

“Romantic love is an obsession. It possesses you. You lose your sense of self. You can’t stop thinking about another human being”

Suara dentam musik yang memekakkan telinga itu mereda, seiring dengan pintu kelab yang telah ditutup. Para tamu sudah meninggalkan lokasi, sebagian besar dalam keadaan mabuk, sebagian yang lain tersenyum lebar, meninggalkan beban mereka di belakang punggungnya. Elana yang sedang dalam perjalanan menyeberang untuk kembali menuju toilet perempuan menoleh ke arah area kelab yang sangat luas. Matanya mencari-cari keberadaan Sachi, tetapi tidak menemukannya.

DJ yang memainkan musik nan memekakkan telinga itu sudah meninggalkan posnya, begitupun dengan bartender yang sedari tadi bertugas di belakang bar panjang berwarna hitam gelap di ujung ruangan. Para pelayan yang tampak mendominasi area tempat duduk tamu, sibuk membersihkan berbagai kekacauan yang ditinggalkan di sana. Sampah-sampah sudah dikumpulkan dan seluruh area dibereskan supaya rapih. Nanti ketika jam empat dini hari menjelang, mereka semua akan meninggalkan lokasi dan pulang ke rumah masing-masing, meninggalkan kelab itu sampai nanti dibuka kembali pukul sebelas malam hari.

Setelah insiden berdarah di toilet laki-laki tadi, Elana menjalani pekerjaannya dengan tenang sampai jam kerjanya habis. Dia tak lelah membersihkan apa yang menjadi tugasnya, bergerak bolak-balik dari toilet perempuan ke toilet laki-laki untuk bekerja, mengabaikan gangguan dari para lelaki mabuk yang hanya untuk berjalan saja sudah sempoyongan tak terkendali, dan terus fokus menyelesaikan pekerjaannya dengan baik. Pekerjaan pembersih toilet ini meskipun sepertinya remeh, tapi pada prakteknya cukup berat. Itu semua dikarenakan para tamu yang hilir mudik terus menerus mengotori toilet bahkan di detik pertama setelah Elena membersihkannya.

Ketika akhirnya jam tiga pagi terlewati dan sekarang kelab ini bersiap-siap untuk tutup, Elana bersigap untuk melakukan pembersihan akhir. Kedua toilet yang menjadi tanggung jawabnya akan dibersihkannya sampai berkilau, hingga ketika kelab malam ini dibuka malam hari nanti, keduanya sudah langsung siap untuk digunakan.

Pukul empat dini hari, ketika semua karyawan sudah bersiap pulang, Elana telah menyelesaikan pekerjaannya. Dia segera menuju ke ruang ganti dan loker, mengganti pakaiannya dan menyimpan seragamnya ke dalam tas. Baju seragamnya ini cukup kotor setelah dipakai bekerja, Elana berpikir untuk membawanya pulang dan mencucinya segera setelah sampai di rumah kontrakannya. Jika dicuci sepagi mungkin, maka di malam hari baju kerjanya itu akan kering dan siap dibersihkan.

“Kerja bagus,” Karel, penanggung jawab bagian cleaning service yang bertugas menilai pekerjaannya tiba-tiba muncul menyapa ketika Elana berjalan keluar melewati halaman parkir kelab yang telah tutup.

Elana mendongakkan kepala, dan langsung memasang senyum, menerima pujian itu dengan senang hati. “Terima kasih, Pak,” ujarnya rian. Meskipun usia Karel sepertinya masih muda, mungkin masih dua puluh limaan, Elana sengaja memanggil Karel dengan sebutan ‘pak’ karena lelaki itu adalah atasannya.

Karel tersenyum masam, langkahnya tetap mengiringi di sebelah Elana.

“Tidak usah pakai ‘pak’, panggil nama saja,” ucapnya memberi izin.

“Baik, pak… eh Karel,” Elana menjawab dengan gugup, menundukkan kepala canggung.

Mata Karel lalu mengawasi sosok Elana dan menyadari bahwa kesan pertama memang bisa menipu. Sachi membawa Elana datang kepadanya untuk bekerja sebagai pembersih toilet, Karel langsung merasa skeptis gadis sekurus itu dan terlihat lemah mampu menjalankan pekerjaan yang cukup berat dan menguras fisik sebagai pembersih toilet kelab malam.

Tetapi, baru satu malam menjelang dan Karel harus menjilat ludahnya ketika melihat hasil pekerjaan Elana malam ini. Elana menyelesaikan pekerjaannya dengan baik, dia terus menerus bekerja tanpa lelah, tidak sibuk bermain mata dengan para tamu seperti yang dilakukan pekerjanya yang lain, dan setelah bertahun-tahun bekerja sebagai supervisor yang membawahi para cleaning service di kelab ini, baru kali inilah Karel menemukan pekerja yang benar-benar bersemangat dengan hasil yang memuaskan.

Ini mungkin baru satu malam sehingga terlalu dini bagi Karel untuk mengambil keputusan penilaian atas hasil kerja Elana. Tetapi sekarang dia merasa optimis bahwa Elana akan benar-benar diterima di pekerjaan itu setelah melewati tiga hari tahap training.

Karena Elana diam saja ketika melangkah bersamanya menyeberangi halaman parkir kelab yang sangat luas itu, Karel akhirnya membuka kembali percakapan.

“Kau pulang naik apa?”

Elana mendongakkan kepala lagi, mata besarnya tampak jernih dan kebingungan.

“Saya… saya tadi berangkat kemari bersama Sachi, tapi ketika pulang Sachi sudah tidak ada…mungkin … mungkin saya akan berjalan ke halte dan menunggu angkutan umum pertama yang lewat,” jawabnya jujur.

Karel mengerutkan kening. “Sachi mungkin pulang bersama salah seorang pelanggannya,” Karel berucap dengan nada penuh arti, membuat pipi Elana memerah ketika menyadari maksud Karel. “Ini masih jam empat pagi dan langit masih gelap. Angkutan umum pertama baru akan beroperasi jam lima pagi. Apa kau tidak takut menunggu sendirian di halte yang gelap itu?” sambungnya bertanya.

Halte yang dimaksud oleh Karel adalah halte di pinggir jalan yang terletak tak jauh dari pintu depan kelab. Di siang hari mungkin halte itu cukup ramai dengan hiruk pikuk pejalan kaki serta pedagang kaki lima yang memenuhi trotoar, pun dengan banyaknya mobil yang lalu lalang di jalanan besar yang sangat sibuk ini. Tetapi, pagi ini kondisinya tentu sebaliknya. Suasana sangat sepi, hanya sedikit mobil yang lewat dan kegelapan masih melingkupi suasana.

“Tidak apa-apa, saya tidak takut,” Elana menatap Karel dengan tatapan penuh tekad, yang entah kenapa mengetuk hati Karel dan membuatnya tersenyum.

“Bagaimana kalau kuantar kau pulang?” Karel menunjukkan kunci mobil di tangannya, sementara dagunya menunjuk ke arah depan, “Mobilku ada di depan sana,” sambungnya.

Mata Elana membelalak lebar, sejenak ada ketakutan yang terbersit di sana. Karel sepertinya orang baik dan lelaki itu adalah bosnya, tetapi tetap saja Elana baru mengenalnya beberapa jam. Membiarkan dirinya masuk ke dalam mobil dengan orang asing yang baru dikenalnya, sudah tentu bukan merupakan langkah yang bijaksana. Apalagi dengan mengantarnya, Karel akan mengetahui alamat rumahnya. Yah, meskipun alamat rumahnya tertera lengkap di data karyawan, entah kenapa Elana merasa tidak nyaman membiarkan seorang lelaki yang bukan apa-apanya mengantar dirinya pulang.

Sepertinya merupakan keputusan yang lebih baik jika Elana pulang sendiri dengan menggunakan kendaraan umum, karena itulah dia langsung setengah membungkuk sopan ke arah Karel, menjaga sekuat tenaga agar atasannya itu tidak tersinggung.

“Terima kasih atas tawarannya, tapi saya… saya lebih baik pulang dengan kendaraan umum saja, Anda pasti kelelahan juga dan ingin segera beristirahat, saya tidak ingin Anda harus repot-repot mengantar saya dulu,” setelah berucap terbata dengan postur tubuh membungkuk hormat, Elana cepat-cepat melarikan langkahnya pergi, meninggalkan Karel yang terpana tak sempat memberikan sanggahan.

***

Waktu sudah menunjukkan pukul tujuh pagi ketika Elana sampai di kamar kontrakannya yang reyot. Matahari sudah bersinar begitu terang, memberi bantuan pada kaum manusia yang sibuk beraktivitas menjalani hari yang sibuk.

Elana membanting tubuhnya yang kelelahan ke atas tempat tidur, bahkan terlalu lelah untuk mengganti pakaiannya. Tas yang dibawanya tergeletak begitu saja di lantai, sementara mata Elana terpejam rapat.

Ini adalah pengalaman pertamanya begadang dan tidak tidur semalaman, dan tubuhnya masih beradaptasi dengan keadaan itu. Yang dirasakannya sekarang adalah sakit di sekujur tubuhnya, seolah seluruh syaraf di balik permukaan kulitnya berteriak meminta diistirahatkan.

Elana berusaha menenggelamkan dirinya dengan cepat supaya masuk ke alam mimpi. Waktunya tidur hanya sedikit dan dia harus memanfaatkannya sebaik mungkin. Nanti jam dua belas dia harus bersiap untuk menjalani shift pekerjaan yang satunya sebagai penjaga supermarket.

Elana membuka sebelah matanya, mengintip ke arah tasnya yang tergeletak di lantai dan menghela napas panjang. Baju seragam pembersih toilet itu belum lagi dicucinya. Dia harus mencucinya sepagi mungkin untuk memastikan baju itu kering sebelum dipakai bekerja malam nanti.

Dengan lunglai Elana memaksa dirinya bangun dari tempat tidur. Sekali lagi dia menghela napas ketika menarik baju seragam itu dari tasnya dan melangkah ke kamar mandi. Dia akan mencuci dan menjemur seragam ini sampai bersih, baru kemudian membiarkan tubuhnya beristirahat sampai waktu kerjanya berikutnya.

***

Di sebuah ruang kerja yang mewah, yang terletak di lantai paling atas dari gedung perkantoran megah yang memiliki tinggi hampir tiga ratus meter dengan lima puluh lantai di dalamnya, Akram duduk di kursi besarnya, di belakang meja kerjanya yang besar. Matanya tampak tajam mengawasi Elios yang baru saja datang menemuinya.

“Jadi?” Akram mengangkat sebelah alis, seolah tak sabar.

“Ini data yang berhasil kita dapatkan sampai saat ini, Tuan Akram.” Elios, tangan kanan kepercayaan sekaligus asistennya, menyerahkan berkas-berkas yang cukup tebal ke tangan Akram

Akram menerimanya, lalu membuka berkas-berkas itu dan memindainya dengan tajam, memastikan tidak ada informasi yang terlewat dari matanya.

“Jadi dia baru bekerja hari pertama di tempat itu,” Akram menyimpulkan sambil terus merekam informasi tentang gadis yang ditemuinya kemarin dalam pikirannya. Elana. Elana Maresha yang Akram yakin nama belakangnya tidak merujuk pada nama keluarga melainkan nama pemberian dari pihak panti asuhan. Perempuan itu tinggal di panti asuhan sampai umur tujuh belas tahun. Tidak diketahui asal-usul orang tua kandungnya. Dan saat ini berusia sembilan belas tahun. Sepuluh tahun lebih muda dari dirinya.

Mata Akram menyipit ketika mengamati foto-foto yang didapatkan oleh anak buahnya ketika mengikuti Elana diam-diam sepanjang hari ini. Ada foto Elana baru keluar dari rumah reyot yang diindikasikan sebagai tempat tinggalnya saat ini, ada pula foto Elana yang bertugas menjaga bagian kasir di sebuah supermarket kecil pinggiran kota.

Di satu foto yang menampakkan wajah Elana secara jelas, entah kenapa jantung Akram langsung berdesir. Jemarinya yang panjang mengelus permukaan wajah Elana di atas foto, dan dalam sekejap, dia langsung merasakan gairahnya naik ke permukaan.

Obsesi anehnya yang muncul secara tiba-tiba pada gadis pembersih toilet yang baru ditemuinya itu terasa mengganggu. Apalagi Akram sama sekali tidak tahu apa yang menjadi penyebabnya. Gadis itu jauh berbeda dari seleranya selama ini, wanita-wanita berpengalaman kelas atas yang cantik luar biasa dengan perawatan tubuh kelas satu yang selama ini ditidurinya hanya untuk bersenang-senang.

Akram masih terpaku memandangi wajah polos Elana di dalam foto. Gadis itu bahkan tidak perlu mengaplikasikan make up pada wajahnya, tetapi tampilannya yang segar sudah berhasil membuat Akram terpesona.

Apakah mungkin kepolosan tak ternoda Elana yang menariknya bagaikan bunga segar menarik kumbang yang kelaparan ingin mereguk madu?

Mungkin memang seperti itu. Akram menyeringai. Yang pasti, dia harus segera menyingkirkan obsesi mengganggu ini dengan segera. Seharian ini pikirannya dipenuhi dengan keinginan menyentuh dan melumat Elana dan seluruh imajinasinya itu mulai merusak konsentrasinya. Dia harus segera mendapatkan gadis itu, memuaskan nafsunya lalu meninggalkan gadis miskin itu dengan kompensasi pengganti yang adil sebelum melenggang dengan puas dan tidak terganggu lagi dengan obsesi aneh yang berteriak minta dipuaskan.

Akram meletakkan berkas-berkas itu dan tersenyum tipis pada Elios yang masih menunggu instruksi.

“Malam nanti kita akan berkunjung kembali di kelab itu. Aku akan mengambil gadis itu malam ini.” putusnya dengan nada ancaman yang mengerikan dan membuat bulu kuduk berdiri.

***

“Sepertinya Karel puas dengan pekerjaanmu,” Sachi menghampirinya ketika mereka berganti shift di sore hari, perempuan itu tampak segar seperti habis mandi ketika datang tadi, tetapi make up tebalnya tak mampu menyembunyikan lingkaran hitam di bawah matanya. “Dia menanyakan tentangmu tadi, sepertinya ingin memastikan bahwa kau benar-benar datang malam ini. Aku bilang pada Karel kalau kau pasti akan datang, karena kau adalah pekerja keras,” Sachi berdiri di samping locker Elana, menoleh pada Elana di sebelahnya. “Kau tidak menyerah, bukan?”

Elana yang berdiri di depan lokernya setelah mengganti kemeja basahnya setelah mengepel area supermarket tersenyum lebar.

“Aku pasti akan datang,” tawaran gaji yang menggiurkan adalah dorongan nomor satu bagi Elana, dia tidak akan menyerah semudah itu.

Sachi tertawa. “Aku tahu aku telah menawarkan orang yang tepat ketika membawamu ke pekerjaan itu.” tangan Sachi menepuk pundak Elana, “Malam tadi memang sedikit ramai dan kacau, pengunjung sangat banyak di malam minggu, tapi aku bisa memastikan bahwa malam nanti akan sedikit sepi. Kelab paling lengang di minggu malam, kau bisa sedikit bersantai malam ini,”

“Kau tidak datang bekerja malam ini?” Elana bertanya cepat begitu mendengar perkataan Sachi.

Sachi menggelengkan kepala, menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan tidak ada yang mendengarkan percakapan mereka.

“Tidak. Aku mendapatkan tangkapan ikan besar semalam. Seorang pengusaha kaya yang tidak segan-segan mengobral dompetnya untuk memberikan apapun yang aku inginkan,” Sachi mengedipkan mata. “Dia sudah punya istri, tapi istrinya sibuk menghabiskan waktu untuk berbelanja di luar negeri, jadi sekarang dia mencari kasih sayang dariku,” suara Sachi merendah ketika berbisik lagi, “Dia membookingku kembali malam ini. Siapa tahu karena puas dengan pelayananku, dia akan menjadikanku istri simpanannya, kalau itu terjadi, aku tidak perlu bekerja lagi di tempat ini. Tenang saja Elana, kalau aku sudah sukses nanti, aku tidak akan melupakanmu,” Sachi tersenyum lebar, menepuk-nepuk ringan pundak Elana beberapa kali sebelum kemudian melangkah pergi menuju area depan supermarket untuk menjalankan tugasnya di belakang mesin kasir.

Elana masih tertegun mendengar semua perkataan Sachi tadi. Kepalanya menoleh, menatap ke arah Sachi yang saat ini sedang melayani pelanggan supermarket dengan senyum ramahnya yang khas. Sachi memang sangat cantik, tubuhnya bagus, tinggi dengan pinggul melengkung seperti biola klasik, tetapi Elana masih tidak menyangka bahwa Sachi memanfaatkan tubuhnya dengan cara-cara yang mungkin bertentangan dengan hati nurani Elana.

Seperti itukah kesuksesan menurut pandangan Sachi? Menjadi wanita simpanan pria kaya sehingga bisa hidup bermewah-mewah?

Elana menghela napas panjang, dia tahu bahwa dia tidak berhak menghakimi keputusan orang lain dalam kehidupan mereka.

Siapa yang tahu mereka berbuat itu karena ada alasan yang tidak mereka katakan pada orang lain?

Elana melirik ke arah jam di dinding. Sebentar lagi waktunya pulang. Elana harus pulang dulu untuk berganti seragamnya sebelum berangkat ke kelab malam ini. Dia harus berangkat lebih pagi karena malam ini tidak ada Sachi yang mengantarkannya sehingga dia harus mengandalkan kendaraan umum seperti biasa.

***

Episode 4 : Masuk Perangkap

“We cross infinity with every step. We meet eternity in every second”

Charles, manajer kelab malam mewah yang sangat sukses menjadi tempat tujuan para jet zet dan selebriti untuk bersenang-senang menghabiskan malam itu sedang duduk di belakang meja kerjanya. Dia membaca hasil laporan pihak keamanan tentang insiden semalam.

Sang Mogul, Akram Night yang menakutkan, ternyata memutuskan untuk menghajar pengkhianat yang ditemukannya di tempat ini semalam dengan tangannya sendiri, lalu membiarkan anak buahnya membuang tubuh musuhnya itu entah kemana. Itu bagus, karena tidak ada bukti yang tertinggal di kelab ini, jika tidak, Charles harus kerepotan berurusan dengan polisi perihal kejadian kriminal di kelab ini.

Bagaimanapun juga, anak buah Akram Night sudah sangat profesional dalam menangani kecoa-kecoa pengkhianat yang harus dilenyapkan dengan cepat. Mereka juga sangat ahli membereskan jejak-jejak kekejaman mereka tanpa pernah terlacak. Itu berarti, meskipun Akram Night memutuskan membunuh orang di tempat ini pun, Charles masih bisa lolos dari kecurigaan pihak berwajib.

Charles sudah mempelajari hasil rekaman kamera cctv yang menunjukkan adegan mengerikan ketika Akram menghajar orang malam itu tanpa ampun, membuat darahnya berceceran di lantai dan dinding toilet pria. Dia tak habis pikir betapa bodohnya orang yang berani mengkhianati Akram Night dengan kesadaran penuh. Sungguh, bagi siapapun yang tahu betapa kejamnya Akram Night, lebih baik langsung menghindar dan berharap tidak sampai harus berurusan dengan kemarahan lelaki itu.

Pintu ruangannya tiba-tiba terbuka lebar, membuat Charles mendongakkan kepala dari laporan yang sedang dia pelajari. Dahinya berkerut ketika memandang sekelompok bodyguard yang mengenakan setelan jas hitam rapih berdiri di depan pintu ruangannya.

Kesadaran Charles segera mengetuk otaknya, membuatnya langsung bisa menebak siapa yang datang.

Tergopoh-gopoh, Charles berdiri dari duduk dan siap untuk menyambut. Dan memang benar dugaannya, Akram Night sendirilah yang datang. Begitu melangkahkan kaki ke ruangan Charles, aura Akram Night yang mengerikan langsung mendominasi seluruh ruangan. Tubuhnya tinggi dan kokoh, mengenakan setelan hitam-hitam armani yang dijahit khusus untuknya. Tidak akan ada yang meragukan kharisma dan kekuasaan Akram jika mereka harus berhadapan langsung dengannya. Bahkan hanya dengan tatapan matanya yang tajam saja, Akram bisa membuat hati orang malang yang harus berurusan dengannya menciut tak karuan.

Charles menghentikan langkahnya beberapa langkah dari hadapan Akram, tahu untuk menjaga jarak sedikit lebih jauh dari jangkauan karena dia mendengar bahwa Akram Night tidak suka berdekatan dengan manusia lainnya. Dia masih sayang dengan nyawanya, karena itulah sedapat mungkin dia tidak ingin menyinggung manusia penuh kuasa di depannya ini.

“Apa yang membawa Tuan Akram datang berkunjung ke kantor saya malam ini?” Charles membungkukkan tubuh hormat dengan sikap merendah pada atasannya itu. Ya, dia menyebut Akram sebagai atasannya. Itu semua karena kelab ini adalah salah satu dari ratusan tempat usaha hiburan yang dimiliki oleh Akram Night.

Akram mungkin hanya menganggap kelab malam mewah dengan pendapatan milyaran rupiah setiap bulanan ini sebagai salah satu miliknya yang remeh. Sebab, Akram memiliki ratusan perusahaan yang bergerak di bidang lain selain hiburan, seperti perusahaan keuangan, IT bahkan sampai perusahaan teknologi senjata.

Semua perusahaan itu membanjiri Akram Night dengan profit triliunan rupiah yang jauh lebih menguntungkan dari kelab malam ini, sehingga akan membuat kelab malam ini tampak kecil dan sepele jika dibandingkan. Akram Night hanya pernah berkunjung beberapa kali ke kelab malam ini untuk menghabiskan waktu bersama wanita-wanitanya, tetapi tidak pernah satupun kedatangannya bertujuan membahas urusan pekerjaan. Beliau bahkan tidak pernah mau menyisakan waktu untuk datang langsung di setiap rapat pemegang saham yang menentukan kebijakan strategis perusahaan, hanya mewakilkan semua urusan pada asistennya.

Jadi, urusan segenting apakah yang membawa Akram Night datang ke kantornya malam ini? Charles hanya mampu bertanya-tanya dalam hati, tanpa berani menyuarakannya.

Akram menatap manajer kelab malam itu dengan mata dinginnya yang tajam.

“Tutup kelab ini untuk malam ini,” perintahnya tegas tak terbantahkan.

Charles mengerutkan kening, tetapi tentu saja dia tidak berani membantah apalagi mempertanyakan keputusan Akram Night.

“Siap, Tuan. Saya akan melaksanakan perintah Anda.” jawabnya cepat dengan patuh.

“Beritahukan kepada para seluruh pegawaimu untuk tidak datang malam ini. Kecuali satu orang yang harus kau pastikan datang.” Akram memberi tanda pada Elios, Sang Asisten yang sudah berdiri di belakangnya. Elios langsung melangkah melewati Akram dan menyerahkan selembar berkas pada Charles.

Charles menerimanya dan mengerutkan kening dalam. Di depannya ada biodata karyawan yang dilampirkan foto close up yang tampak polos dan tidak menarik. Seorang remaja perempuan berusia sembilan belas tahun, karyawan baru di tempat ini, baru mulai bekerja semalam….

Seorang pembersih toilet?

Charles mengangkat alis ketika membaca keterangan di depannya, tidak bisa menahan keterkejutannya ketika akhirnya selesai membaca habis seluruh biodata karyawan itu.

Apa urusan Akram Night yang begitu berkuasa dengan seorang pembersih toilet? Apakah Elios tanpa sengaja telah memberinya kertas biodata yang salah?

Merasa tak yakin, Charles mengulang membaca lagi biodata karyawan di tangannya dengan seksama, dan seketika itu, ingatlah dia bahwa gadis pembersih toilet ini adalah sosok yang kemarin muncul di kamera cctv ketika Akram Night tengah menghajar musuhnya di sana. Charles bahkan tidak menyangka bahwa gadis itu masih hidup sampai sekarang, mengingat kehadiran gadis itu semalam jelas-jelas telah menginterupsi kesenangan Akram Night dalam menghukum dan menghajar pengkhianat yang menjadi musuhnya.

Apakah Akram Night baru akan memberikan pelajaran pada gadis penjaga toilet itu malam ini? Tetapi, hanya untuk seorang gadis penjaga toilet, kenapa harus sampai menutup kelab malam mewah mereka dan membuang kesempatan mendapatkan omset ratusan juta dalam semalam?

“Kau harus memastikan hanya gadis itu yang datang malam ini. Dan dia harus datang,” Akram menekankan pada kata ‘harus’ yang bahkan sampai diucapkannya dua kali, menunjukkan secara tersirat pada Charles bahwa dirinya akan menerima hukuman mengerikan dari Akram kalau sampai tidak berhasil melaksanakan perintahnya.

“Baik, Tuan.” Charles menjawab cepat sambil kembali membungkukkan tubuh dengan gugup. Dia harus menghubungi Karel malam ini untuk memastikan kedatangan gadis itu sesuai permintaan Akram Night. Selain menjadi penanggung jawab karyawan di bagian Cleaning Service, Karel juga menjadi penanggung jawab atas seluruh karyawan di kelab ini.

Dan gadis itu dikatakan baru bekerja kemarin? Ini bahaya, gadis itu bukan karyawan tetap dan besar kemungkinan dia tidak kembali bekerja lagi malam ini mengingat insiden semalam cukup mengerikan baginya.

Bagaimana jika gadis itu tidak kembali?

Kalau begitu sama saja Charles tidak berhasil melaksanakan perintah Akram. Itu berarti dia bisa saja kehilangan nyawa. Memikirkan itu semua, membuat wajah Charles memucat hingga dia hampir-hampir tidak mendengar perintah yang diberikan oleh Akram kepadanya.

“Maaf Tuan, bolehkah Anda mengulangi lagi?” Charles bertanya cepat dengan nada takut.

Akram menyipitkan mata, jelas sekali tidak suka karena Charles mengabaikan perintahnya sebelumnya, tetapi kemudian Akram memutuskan tidak memperpanjang masalah karena ada hal lain yang lebih penting.

“Kamar utama di atas. Siapkan kamar utama di atas. Sepertinya aku akan memakainya malam ini.”

Setelah memberi perintah dengan nada dingin, Akram membalikkan tubuh, diikuti oleh Elios pergi bersama para bodyguard berwajah kaku yang mengikuti mereka.

Sementara itu Charles masih terpaku di sana semakin bingung.

Kenapa tuan Akram memintanya menyiapkan kamar utama di bagian paling atas kelab ini?

Kamar itu merupakan kamar mewah kelas VVIP yang dibangun sangat megah dan luas, hampir satu lantai di atas kelab ini. Akram Night pernah membawa beberapa perempuannya tidur di kamar itu guna memuaskan diri, tapi sangat jarang, mungkin hanya sekitar setahun sekali. Selebihnya, kamar itu tidak pernah digunakan dan selalu dikunci, hanya pembersihan dan perawatan berkala yang membuat pintu kamar itu terbuka sebelumnya.

Mungkin tujuan utama Akram Night menutup pintu kelabnya adalah untuk bersenang-senang dengan salah satu perempuannya. Sama sekali tidak ada hubungannya dengan gadis pembersih toilet itu.

Mungkin di saat Akram Night bersenang-senang di lantai atas, anak buahnya akan menangani dan membereskan gadis penjaga toilet itu.

Ya, pasti begitu. Charles hampir saja memukul kepalanya sendiri karena dia telah memberati pikirannya dengan berbagai dugaan kusut yang hampir tak mungkin terjadi.

***

“Apa?” Karel menjawab telepon Charles dengan nada terkejut. Bosnya itu menelepon dengan panik malam ini, tergesa menjelaskan keinginan pemilik kelab mereka yang berkuasa. “Mereka meminta kita menutup kelab dan memastikan hanya Elana yang masuk bekerja?” sambungnya kemudian, bertanya dengan nada tak percaya.

“Kau harus memastikannya, Karel! Kalau tidak aku akan kehilangan nyawaku!” Charles berteriak di ujung telepon, napasnya terengah seolah-olah ketakutan kehilangan harapan hidup. “Dia baru bekerja kemarin, bukan? Kau tahu siapa yang membawanya ke tempat ini?”

“Sachi yang membawanya,” Karel menjawab singkat. “Ada alamat Elana di biodata karyawan, tetapi rumahnya ada di pinggiran kota, dan masuk ke gang kecil. Akan sangat sulit menemukannya. Aku akan menghubungi Sachi untuk menemukan rumah Elana. Kemarin Sachi menjemput Elana untuk datang kemari, jadi aku yakin dia tahu alamat Elana.”

“Bagus. Lakukan segera. Tuan Akram bilang akan datang kemari jam sebelas malam, dan saat itu, kita harus memastikan Elana benar-benar sudah tiba di kelab. Ketika dia tiba di kelab, lakukan semua sesuai rencana,” suara Charles merendah penuh kengerian. “Jangan sampai gagal, Karel. Kau tahu betapa kejamnya Akram Night, kita bertaruh nyawa malam ini kalau sampai gagal,” bisiknya mendesak.

Karel menjawab persetujuan singkat, lalu mengakhiri panggilan telepon. Keningnya berkerut dalam ketika membayangkan kembali perkembangan yang tidak disangka-sangkanya.

Akram Night menginginkan Elana untuk datang ke kelab?

Karel memang mendengar insiden semalam ketika Akram menghajar musuhnya di toilet lelaki, tetapi dia melihat sendiri rekaman cctv bagaimana Elana menangani semuanya dengan baik, tidak panik dan tetap membersihkan toilet sampai benar-benar seluruh jejak darah dan kebrutalan Akram sebelumnya habis tak bersisa.

Kalau begitu apa yang salah dengan Elana? Kenapa Akram masih mengincarnya sampai sekarang?

Karel menggelengkan kepalanya bingung. Dia tidak menemukan jawaban atas pertanyaannya itu. Tetapi, itu bisa dipikirkannya nanti. Sekarang dia harus menjalankan perintah Charles, memastikan bahwa Elana harus benar-benar datang malam nanti.

Nasib Elana mungkin akan berakhir malang karena harus bersinggungan jalan dengan Akram Night, tetapi itu bukan urusannya. Dia harus tahu mana yang harus dicampuri dan mana yan harus diabaikan kalau ingin nyawanya aman.

Dengan cepat, ditekannya panggilan untuk menghubungi Sachi.

***

Elana berhasil berangkat lebih pagi malam ini. Dia memutuskan langsung memakai seragamnya yang sudah kering dan menutupinya dengan jaket longgar warna hitam. Langkahnya ringan, siap bekerja lagi malam ini, dia hanya tinggal menunggu kendaraan umum di halte depan dan berharap waktunya cukup sehingga dia bisa sampai ke tempat kerja tanpa terlambat.

Ketika Elana menapak keluar dari gang yang menghubungkan jalan besar dengan rumahnya, sebuah mobil hitam yang terparkir di ujung gang tiba-tiba membunyikan klaksonnya. Elana mengerutkan kening, menatap mobil hitam yang tampak familiar itu dengan waspada. Langkahnya kaku, sedikit menjauh.

Dia pernah melihat mobil hitam itu, tetapi dimana?

Kaca gelap mobil itu tiba-tiba diturunkan, dan wajah Karel yang dikenalnya langsung tampak di sana, membuat Elana ternganga karena terkejut.

“Hai Elana,” Karel menyapa ramah, senyumnya lebar bersahabat.

“H..hai juga,” Elana menyahut cepat. Tapi tak urung dahinya berkerut dalam. Area rumahnya di pinggiran kota ini cukup jauh dari kelab malam di tengah kota tempatnya bekerja, bukan? Apa yang sedang Karel lakukan di sini?

“Aku tadi ada urusan dengan Sachi di supermarket tempat kalian bekerja,” Karel menunjuk ke arah supermarket yang tak jauh dari lokasi mereka sekarang. “Lalu Sachi bilang kau tak ada yang mengantar, jadi aku memutuskan mampir dan sekalian mengantarmu, karena kita kan satu jalan.” Karel menjulurkan tangan dari balik kemudi dan membukakan pintu penumpang untuk Elana, “Ayo naiklah, kalau tidak cepat kita bisa terlambat.”

Sedetik Elana terpaku, bingung harus berbuat apa. Tetapi, Karel benar-benar tidak berbahaya, bukan? Lelaki ini adalah atasannya, lagipula Karel menjemputnya atas permintaan Sachi.

Sedikit dibebani keraguan, Elana akhirnya melangkah memasuki mobil Karel, menutup pintunya dan menoleh ke arah Karel dengan canggung.

“Te.. terima kasih,” ucap Elana terbata kemudian.

Karel menganggukkan kepala, tersenyum lebar. Entah kenapa lelaki itu terlihat sangat senang ketika Elana naik ke mobilnya.

“Pasang sabuk pengamanmu, aku akan sedikit mengebut malam ini,” ucap Karel riang, lalu mulai menjalankan mobilnya menembus keramaian jalan.

***

Ketika mobil Karel sampai di tempat parkir, Elana menatap bingung ke arah parkiran yang kosong. Hanya ada beberapa mobil berwarna hitam yang terparkir di sana, sungguh berkebalikan dengan semalam dimana parkiran mobil yang luas itu tampak penuh sesak.

“Kita kepagian, karena itu masih sepi. Lagipula, Kelab sepertinya buka terlambat malam ini,” Karel memberikan penjelasan singkat ketika membukakan pintu untuk Elana, lalu menghela langkah Elana supaya mengikutinya menuju ke arah pintu depan kelab.

“Kita… tidak lewat pintu karyawan?” Elana bertanya khawatir ketika Karel melangkah menuju lobby besar dan mewah kelab itu. Berbeda dengan kemarin, Sachi membawanya masuk ke kelab ini lewat pintu karyawan di basement, dia bilang di pintu depan dikhususkan untuk tamu yang membawa kartu pass khusus yang diperiksa oleh para penjaga di depan pintu. Tidak semua orang bisa memasuki kelab mewah ini, mereka harus memiliki kartu keanggotaan eksklusif yang memiliki harga cukup mahal.

“Kelab belum buka, jadi kita bisa masuk lewat sini,” tiba-tiba saja senyum Karel hilang dan ekspresinya berubah gugup ketika membuka pintu. Elana mengerutkan kening ketika mempelajari wajah Karel.

Kenapa Karel berubah seolah ketakutan? Takut pada apa?

Pintu kelab terbuka, dan terbentang di hadapan mereka pemandangan yang gelap gulita dari ruang kelab yang sepi. Elana memandang ke sekeliling dengan bingung. Kenapa tidak ada satu orang pun? Bahkan para karyawan, bartender, pelayan bar yang seharusnya menyiapkan kelab sebelum buka juga tidak ada sama sekali.

Elana menolehkan kepala bingung ke arah Karel, hendak bertanya kepadanya. Tapi, ekspresi Karel yang sedang menatapnya membuatnya terpaku. Mata Karel memandangnya tajam, dari ujung kepala sampai kaki, seolah menilai Elana dengan seksama.

Lalu sebelum Elana bisa membuka suara, Karel mendorong tubuh Elana hingga terjerembab jatuh ke lantai.

“Maafkan aku Elana. Kau sendiri yang memasukkan dirimu dalam masalah,” Karel berucap pelan, lalu tiba-tiba saja lelaki itu membalikkan tubuh meninggalkan Elana, keluar kembali dari pintu depan dan menutup pintunya dari belakang.

Elana menoleh ke arah kepergian Karel dengan bingung, matanya menatap pintu yang kini sudah tertutup rapat, dengan cepat dia berusaha bangkit, mencoba mengejar Karel untuk mencari penjelasan, tetapi suara langkah-langkah kaki yang terdengar di belakangnya membuat Elana menolehkan kepala kembali menuju ke arah sumber suara.

Matanya melebar ketika menemukan sosok yang dikenalnya, berpakaian jas hitam-hitam dengan beberapa anak buahnya yang memakai jas lengkap berwarna gelap yang sama di belakangnya.

Itu adalah penjahat yang menghajar orang kemarin di toilet lelaki…?

Lelaki berpakaian hitam dengan aura mengancam yang kuat itu memberi isyarat jari ke arah anak buahnya, dan tiba-tiba saja, beberapa lelaki berjas hitam tersebut langsung bergerak ke arah Elana.

Elana tertatih berusaha berdiri dengan panik, mencoba melarikan diri. Tetapi percuma, langkah kakinya yang lemah jelas kalah oleh para lelaki kuat yang tiba-tiba sudah mengelilingi dan meringkusnya.

“Tunggu dulu! Ada apa ini? Kenapa kalian melakukan ini?” Elana berteriak, mencoba meronta sekuat tenaga untuk menyelamatkan diri.

“Bawa dia ke kamar atas,” lelaki beraura gelap itu memberi perintah, dan tubuh Elana tanpa daya diseret menaiki tangga menuju lantai atas kelab malam itu.

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

120 Komentar

  1. Siti Munirah menulis:

    dibaca lagi hehe :backstab

  2. Alwa Wulandharie menulis:

    :aw..aw kasihan elena

  3. Hiks Elana…

  4. gitaoktaviani menulis:

    Ini kayak nya bukan cerita fantasi ya? Atau ini cerita fantasi?
    Tapi apapun ituu tetap di baca dongg

  5. Nyonya Akram Night menulis:

    :pedas

  6. Eli Sunarni menulis:

    Baca lg :lovelove

  7. Ttalgicheese menulis:

    :aw..aw

  8. penghuni bumi menulis:

    Hidup elena kerass broo

  9. Baca ulang xixi :berikamiadegankiss!

  10. Sambil tunggu yg lain update.. marathon Akram n Elana lagi…. :berikamiadegankiss!

  11. Kenapa gak nambah2