Vitamins Blog

Merry Ran

Bookmark

No account yet? Register

21 votes, average: 1,00 out of 1 (21 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Ini oneshot tentang Shinichi dan Ran (Detective Conan) buatanku. Dan ini postingan pertamaku di sini. Yang suka Shinichi Kudo, bisa dibaca 😀

***

Aku membuka pintu ruang perpustakaannya, ruang di mana aku sering menghabiskan waktuku dengannya dulu, dengan Shinichi. Aku tersenyum meengingat-ingat hal itu.

Sudah sepuluh tahun lamanya sejak terakhir kali kami menghabiskan waktu di tempat ini sepanjang hari. Tidak terasa waktu cepat berlalu.

Dan sekarang… Aku merindukannya.

Aku berhenti di tengah-tengah ruangan. Mataku menjelajah ke semua sudut perpustakaan milik Shinichi ini. Semua barang masih ada di tempatnya semula, tidak ada yang berubah sejak seminggu yang lalu aku datang ke tempat ini. Tapi, barang-barang di atas meja besar itu menarik perhatianku. Aku pun mendekat ke arah meja untuk melihatnya.

Aku mengerutkan kening. Sebuah kertas, lilin, dan pemantik api? Seingatku minggu lalu tidak ada benda-benda itu di meja. Lalu, siapa yang meletakkannya di sini?

Aku mengambil kertas tersebut dan membolak-baliknya. Tidak ada tulisan apapun di sana.

Apa Profesor Agasa yang iseng meletakkannya di sini? Atau… Shinichi?

Shinichi… Apa dia sudah kembali?

Lalu, apa maksud dari semua ini?

Aku memperhatikan lagi ketiga benda itu, mencoba mengingat-ingat apa yang biasanya aku lakukan dengan benda-benda ini.

Kertas, lilin, dan pemantik.

Dan ingatanku pun langsung melayang ke 15 tahun yang lalu, saat Shinichi mengajariku cara menulis pesan tersembunyi dan bagaimana cara membacanya. Seingatku dia menggunakan nyala api untuk memunculkan pesan pada kertas yang terlihat kosong (namun sebenarnya berisikan pesan) itu. Apa dia yang meletakkan benda-benda ini dan menginginkan seseorang yang menemukannya membaca pesan di kertas ini?

Buru-buru kunyalakan lilinnya menggunakan pemantik api yang ada. Lalu kuposisikan kertas kosong tadi di atasnya, memberi jarak agar kertas itu tidak berakhir dengan terbakar, dan perlahan-lahan muncullah sederet tulisan pada kertas yang semula kosong itu.

 

‘Marry me, Ran?’

‘Shinichi’

 

Aku terhenyak membaca sederet kalimat di sana. D-dia… Melamarku?

“Kau sedang apa, heh?” tanya sebuah suara di belakangku. Aku tersenyum. Suara itu…

Aku hendak membalikkan badan, namun gerakanku terhenti karena tangannya memeluk pinggangku posesif dari belakang secara tiba-tiba. Dia menyandarkan kepalanya di bahuku.

“Diam-diam membaca pesanku, hm?” bisiknya di telingaku dengan suara beratnya. Aku tertawa kecil.

“Aku hanya penasaran apa isi pesannya.” Aku menyentuh tangannya yang melingkari pinggangku.

“Jadi, bagaimana?” tanyanya, semakin mengeratkan pelukannya.

“Apanya?” tanyaku pura-pura tidak mengerti maksud pertanyaannya. Kedengar ia mendengus dari bahuku.

“Kau sudah membaca pesanku. Jadi apa jawabanmu?” tuntutnya tidak sabar. Kini ganti aku yang mendengus.

“Bodoh! Bagaimana kalau yang membaca pesan ini bukan aku, hah? Bagaimana kalau Profesor Agasa yang membacanya?” tanyaku, dan dia hanya terkekeh pelan.

“Aku tahu kau pasti akan datang ke sini, Ran,” ucapnya lirih. “Dan kalau Profesor Agasa yang menemukan pesanku dan membacanya lebih dulu, dia pasti akan menggantinya dengan yang sama persis seperti yang aku buat.” Dia melepaskan pelukannya dan membalikkan badanku hingga menghadapnya.

“Jadi… apa jawabanmu, Ran?” Dia menatap ke dalam mataku, menunggu jawaban dariku dengan tangannya menggenggam tanganku. Dan ini, sungguh membuatku gugup setengah mati. Ah, bagaimana ini?

Aku mendengus lagi untuk menyamarkan kegugupanku, dan mencoba berbicara senormal mungkin.

“A-apa kau tidak ada inisiatif untuk bertanya langsung kepadaku, eh? Kenapa malah lewat kertas? Tidak romantis sekali!” Eh? Apa yang kukatakan barusan? Kenapa aku malah berbicara seperti itu? Harusnya kan aku langsung menjawabnya saja. Tidak romantis, kataku? Ini bahkan hal teromantis yang pernah dilakukannya. Dan aku sudah segugup ini. Bagaimana kalau dia berlaku lebih romantis lagi? Aku bisa pingsan!

“Kalau seperti ini? Apakah sudah romantis?” Dia berlutut, dengan tangan yang tetap menggenggam tanganku erat. Lalu kulihat dia merogoh saku celananya dan mengeluarkan sebuah kotak beludru kecil berwarna biru safir. Ia membuka kotak itu dan menghadapkannya padaku.

“Marry me, Ran?”

14 Komentar

  1. :TERHARUBIRU :TERHARUBIRU :TERHARUBIRU
    joblowan jomblowati pasti nyesek niih

    1. Yang bikin juga jomblo :TERHARUBIRU

  2. Singkat tapi manis banget.. Hehe

  3. fitrialmasyita menulis:

    huaaaaa,,,,, unyu” banget sinichi kudo :inlovebabe :YUHUIII :MELOROT

  4. Manisnya,,,

  5. Ahhhhhh mauuuu kyk ran ehhh hihi
    Bgs ini, simpel bngt oneshotny tp pas kena di hati Eaaaa
    Ditunggu karya2 lainnya
    Semangat trs ya

  6. Oia, bsa diedit sedikit tulisan ny, dibagian atas tulisan dikau ditambahin kata [ratings] spy nnt muncul lope lope bwt kita2 klik untuk mengapresiasi karya ny dikau
    -Pake kurung [ ] tanpa spasi
    -Pake huruf r
    -Pake huruf s dibelakangny
    Yuks dicba
    Semoga berhasil
    Semangat trs yak

    1. Oke, aku coba ya 😀

  7. Cerinya sweeeettt…

  8. :AKUGAKTERIMA

  9. Sweet,,,

  10. Eaaaa, so sweet yakk

  11. fitriartemisia menulis:

    Shinichiiii, marry me marry me please wkwkwk :LARIDEMIHIDUP

  12. Sweet gimana gitu yaa???

Tinggalkan Balasan