Vitamins Blog

Helena – Bab 5. Alasan James

Bookmark

No account yet? Register

328 votes, average: 1,00 out of 1 (328 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author Playlist : Robbie Williams – Better Man

***

Send someone to love me. I need to rest in arms

Keep me safe from harmIn pouring rain

Give me endless summer. Lord I fear the cold

Feel I’m getting old. Before my time

As my soul heals the shame. I will grow through this pain

Lord I’m doin’ all I can. To be a better man  

***

Enjoy!

***

James tersenyum, kedua matanya berkilat penuh kemenangan saat melihat sosok Helena di hadapannya saat ini. “Bukankah ini masih terlalu pagi untuk kunjungan kekeluargaan?” tanyanya dengan nada geli yang nyaris membuat Helena menerjang maju untuk menghajarnya dengan keras. Ah, mungkin hanya dengan cara itu James bisa mendapatkan kembali kewarasannya setelah beberapa waktu ini pria itu bersikap seperti remaja tanggung yang tengah jatuh cinta, pikir Helena marah.

“Kau terlihat mengenaskan.” James kembali berkomentar, menatap penampilan menyedihkan Helena dari ujung rambut hingga ujung kaki. “Apa kau menabrak tornado saat perjalanan ke tempat ini?” tanyanya lagi dengan senyum geli yang semakin menyulut amarah Helena.

“Ah, ini adalah salam manis yang kudapat dari ibuku,” sahut Helena membuat James mengangkat satu alisnya dan tersenyum geli.

Helena mengetatkan rahangnya, giginya gemeretak saat ia menghitung di dalam hati hingga sepuluh untuk menenangkan otot-otot sarafnya yang kini berkedut tak terkendali karena marah. “Sebenarnya apa yang ada dalam otakmu?” tanyanya dengan ekspresi datar, sementara James menatapnya dengan ekspresi serius. “Apa kau sadar apa yang sedang kau lakukan sekarang hanya sebuah ide tolol untuk menyenangkan egomu?”

James tidak menjawab.

“Jika kau berniat menyenangkan egomu kenapa kau tidak langsung membeliku alih-alih menikahiku?” Helena kembali bertanya dengan ketenangan yang sangat menakjubkan bahkan untuk dirinya sendiri.

James bergerak, berdiri dari kursi kerjanya lalu berjalan memutari meja kerjanya dengan sikap seorang pemburu yang siap memburu buruannya. Wajah tanpa ekspresinya menjadi sebuah alarm peringatan untuk Helena, sebuah peringatan jika pria di hadapannya ini sangat berbahaya.

“Jadi kau mau aku menyetubuhimu, membayarmu dan memperlakukanmu layaknya seorang pelacur?” desis James sinis. Pria itu berdiri tepat di hadapan Helena, membuat dada wanita itu naik-turun penuh antisipasi. James memiringkan kepala ke satu sisi. “Jadi itu keinginanmu? Memperlakukanmu sebagai seorang pelacur?”

Hening.

“Jangan coba-coba untuk menamparku, Perempuan!” desis James yang dengan gerakan cepat berhasil mencegah tangan Helena yang melayang cepat ke arah pipinya. “Aku bukan pria sabar,” tambahnya membuat Helena semakin terbakar oleh amarah.

“Dan aku bukan wanita yang bisa kau bayar dan gunakan layaknya seorang pelacur!” balas Helena sengit.

James terkekeh, melepaskan pergelangan tangan Helena dengan kasar lalu berjalan menuju sebuah bar mini yang terletak di sisi kiri ruang kerjanya. “Karenanya aku berbaik hati melamarmu secara resmi pada orangtuamu,” ujarnya ringan seraya menuangkan brendi ke dalam gelas kristal mahalnya. Ia mengangkat gelasnya tinggi sebelum menyesap cairan berwarna keemasan itu tanpa melepaskan pandangannya dari wajah Helena yang memerah marah. Ia mengernyit, “Tapi kau malah memintaku untuk memperlakukanku seperti seorang pelacur?” James terdiam sejenak, menatap Helena dengan pandangan mencemooh, “Dimana harga dirimu?”

“Kau mengambil semua harga diriku saat dengan kurang ajarnya kau muncul di hadapan wanita itu!” Helena setengah menjerit saat mengatakannya, membuat James menatapnya dengan satu alis terangkat. Sekuat tenaga ia mencegah air matanya turun, namun rasa panas di kedua matanya tak bisa ditahannya lebih lama. Helena mengusap cepat lelehan air mata di kedua pipinya. Ia memeluk dirinya sendiri, seolah hal itu bisa memberinya kekuatan dan perlindungan dari James. “Apa kesalahanku padamu?” tanyanya kemudian dengan suara bergetar. “Kenapa kau begitu membenciku?” tanyanya lagi membuat James untuk beberapa saat membeku di tempat, lidahnya mendadak kelu hingga rasanya ia nyaris lupa bagaimana caranya untuk bicara.

James memalingkan muka, terlihat kaget mendapat pertanyaan yang sama sekali tidak diduga akan muncul dari mulut Helena. Pria itu mengumpat kasar, lalu kembali memandang Helena dengan tatapan berbeda, sebuah tatapan penuh rasa sakit yang membuat wanita di hadapannya balas menatapnya tidak mengerti.

Dengan langkah panjang-panjang James kembali mengikis jarak diantara mereka. “Karena penolakanmu mengingatkanku padanya!” desis James seraya menguncang-guncang bahu Helena keras. “Kenapa kau harus menolakku?” tanyanya lagi, menatap jauh ke dalam kedua mata Helena. “Kenapa kau harus menolakku?” James mendesis. Cengkraman tangan pria itu semakin menguat membuat Helena meringis kesakitan karenanya, namun James tidak peduli. “Katakan kenapa kau harus menolakku?”

Hening.

“Kenapa kau tidak seperti wanita lainnya?” tanya James lagi kasar. “Kenapa kau harus berbeda dengan mereka?”

“Aku tidak mengerti kenapa kau harus terganggu karenanya?” teriak Helena histeris. Air matanya kembali turun dengan hebat membuat James melepaskan cengkramannya lalu mengumpat kasar. “Kau bisa mencari wanita lain jika aku menolakmu, kenapa kau harus begitu tersinggung? Apa kau tidak pernah mendapat penolakan sebelumnya hingga penolakanku membuat egomu terluka?”

“Kau wanita kedua yang menolakku. Puas?!” bentak James membuat Helena berjengit. “Aku sudah bersumpah jika aku tidak akan pernah ditolak lagi, Helena—”

“Jadi karena itu kau begitu tololnya melamarku pada wanita itu?” potong Helena cepat.

“Dia ibumu!” ujar James terdengar mengingatkan.

Dan kesedihan pun kembali merayap dengan cepat di dalam hati Helena. Tubuhnya mengigil untuk alasan yang sama sekali tidak diketahuinya. Ada perasaan tidak nyaman saat James mengingatkannya akan hubungannya dengan Rowena, membuat Helena jatuh terduduk dengan ekspresi datar.

Napas Helena yang mulai tidak teratur tidak luput dari pengawasan James yang sangat jeli. Pria itu berjalan maju, lalu mencondongkan tubuhnya, terlihat khawatir saat Helena meremas dadanya dengan erat. “Ada apa? Apa kau sakit?”

Helena menggelengkan kepala dengan lemah. Napasnya putus-putus, dadanya berdebar sangat cepat, kepalanya terasa sangat sakit hingga rasanya ia mau mati dan pandangannya dengan perlahan mulai menggelap. Ia bahkan tidak bisa mendengar dengan baik saat James terus memanggil-manggil namanya dengan panik.

Wanita itu tidak ingat kapan terakhir kali ia seperti ini, karena hal itu sudah berlangsung begitu lama dan berhubungan dengan ibu kandungnya—Rowena.

***

“Ada apa dengannya? Apa penyakitnya serius?” tanya James pada seorang dokter kenalannya. Setengah jam lalu ia begitu panik saat Helena pingsan dan dengan cepat ia segera membawa wanita itu ke sebuah rumah sakit ternama yang terletak tidak jauh dari gedung perkantorannya berada. “Katakan sesuatu Adam, jangan membuatku sangat cemas.”

Adam melirik sekilas ke arah Helena yang masih berbaring tidak sadarkan diri di atas ranjang rumah sakit. Ia lalu menepuk bahu James, menggiring teman SMAnya itu untuk keluar dari ruang unit gawat darurat. “Wanita itu mendapat serangan panik.”

“Namanya Helena!” ujar James.

Adam tersenyum penuh arti saat mendengar nada tidak suka dari suara James. “Ah, jadi namanya Helena?” godanya membuat James mendelik ke arahnya. Adam berdeham pelan, kembali bersikap profesional. “Apa Helena sering mendapat serangan panik seperti ini?”

James mengangkat bahu.

“Aku serius James!”

James menyisir kasar rambut dengan jemarinya. “Aku juga serius,” balasnya serak. Ia mengangkat kedua tangannya ke udara, lalu menopangkan punggungnya pada tembok rumah sakit di belakangnya. “Aku kira dia terkena serangan jantung,” ujarnya dengan kedua mata terpejam. “Aku begitu takut saat melihatnya tidak bergerak,” tambahnya seraya mengusap kasar wajahnya.

“Dia kekasih barumu?” tanya Adam berhati-hati.

“Dia calon istriku,” jawab James membuat mulut Adam terbuka lebar. Ia terkekeh, “Kau terkejut?” tanyanya dengan nada bergurau.

Adam menelan dengan susah payah, “Tentu saja aku terkejut. Dasar brengsek! Akhirnya kau menambatkan hatimu juga,” balasnya sembari memukul pelan bahu James yang terlihat kacau. Adam terdiam sejenak. “Apa kalian bertengkar sebelumnya?”

James terdiam, mendesah keras lalu mengangguk pelan. “Apa itu bisa menjadi alasan dia pingsan?”

Adam mengangguk, “Tingkat kesetresan yang berlebihan bisa memacu serangan panik pada beberapa pasien yang memiliki riwayat serangan sebelumnya,” terangnya. “Kau tidak boleh membuatnya stres, James!”

“Kau salah, Adam. Justru calon istriku yang sering membuatku gelisah dan stres sepanjang hari.” James tertawa pelan, lalu mendesah keras dan kembali menatap Adam dengan ekspresi serius. “Tapi tidak ada yang serius dengan Helena, kan? Dia baik-baik saja, kan?” tanyanya dengan nada cemas yang begitu nyata.

“Serangan panik bisa berbahaya, James.” Adam terdiam sejenak untuk mengambil napas. “Helena tidak boleh terlalu lelah, diet, dan stres.” Ujarnya penuh penekanan pada kata terakhirnya. “Kau harus memastikannya untuk bahagia, tidak sulit bukan?”

James tidak menjawab, tatapannya menerawang jauh.

“Aku akan segera memindahkannya ke ruang VIP,” ujar Adam seraya menepuk bahu James. “Jangan khawatir, dia mungkin hanya terlalu lelah karena persiapan pernikahan kalian, dan stress karena pertengkaran kalian,” tambahnya sebelum kembali masuk ke dalam UGD, meninggalkan James dengan sejuta emosi yang sama sekali tidak bisa dipahaminya.

Sekarang apa yang harus dilakukannya? Bagaimana caranya ia membuat Helena bahagia? Tanyanya di dalam hati.

16 Komentar

  1. :PATAHHATI

  2. Menurut ku alasan james itu ga masuk d akal huh..!! Dasar bos arogan… Bikin gregeeeeeetttt.!!!! Klo ada tu si james nya dimari mau aku gigit2 biar sadar dia wkwkwkwkwk

  3. Kalau james tau apa yg ibu kndung helena dulu lakuin ke helena, gimana yaa reaksinya. Pasti langsung di cut deh itu ibu durhaka :ASAHPISAU2 . helena ampe trauma gitu!

  4. Menurutku sesm belum jujur tuh sama alasannya. :KETAWAJAHADD :LARIDEMIHIDUP

    1. James

  5. Mkanya James jgn2 kasar n buat Helena stress coz Helena masih trauma dengan masa lalumu

  6. Shock bgt pasti helena ketemu laki krn ketidak sengajaan trs tiba” maen ngelamar ajaa ..
    Lanjuuttt kan !!

  7. Perhatian banget sih james… ??

  8. hayolo james galak sih

  9. Ih, apa sih yang Ibunya lakuin sama Helena dulu,,
    kok Helena semenyedihkan itu kali gara-gara Ibunya,

  10. buwat helene bahagia james :imwatchingyoualways

  11. Jgn terlalu menekan Helen james

  12. :PATAHHATI :PATAHHATI

  13. fitriartemisia menulis:

    waduh, helena sampe kena serangan panik hmm

  14. :TERHARUBIRU

  15. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan