1000520240 7
Vitamins Blog

Unspoken Vows – Bab 8

1
Views:1
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Bab 8. Senyuman Palsu

Cahaya ribuan lilin yang tergantung di lampu gantung kristal berkilau di atas kepala, memantulkan bayangan emas pada marmer putih yang licin. Balai dansa itu bagai samudra berkilau—gaun-gaun sutra menjuntai, kipas-kipas renda berayun, dan permata di leher para wanita memantulkan cahaya seperti bintang kecil. Musik gesekan biola mengalun, berpadu dengan bunyi ketukan cello yang dalam, menutup sebagian besar percakapan sopan, candaan, serta tawa ringan yang terdengar seperti riak air di tengah pesta.

Di tepi ruangan, Nathaniel berdiri tegap dengan ketenangan khasnya. Sosoknya yang menjulang dengan mantel hitam sempurna, wajah tegasnya yang dingin, dan segelas anggur merah di tangannya menjadikannya seperti pilar yang tak tergoyahkan. Ia tak terburu-buru berbicara atau bergerak, ia hanya mengamati, seakan dunia pesta hanyalah sebuah panggung yang dipenuhi aktor dengan naskah yang terlalu mudah ditebak.

Henry, yang berdiri di sampingnya, tampak jauh berbeda. Wajahnya terus bergerak mengikuti arah matanya yang tak bisa diam, seolah ia adalah seekor kelinci yang dipaksa berdiri di tengah kandang penuh rubah. Tangannya menggenggam gelas sampanye, tapi setiap kali ia hendak meneguk, gelas itu berhenti separuh jalan karena matanya menangkap sesuatu yang membuatnya ingin mengomel.

“Pesta ini,” desis Henry dengan nada putus asa, “lebih melelahkan daripada pertempuran dengan hutang. Setidaknya hutang hanya menatapku dengan angka-angka, bukan dengan wajah orang-orang yang mencoba membunuhku dengan basa-basi.”

Nathaniel hanya meliriknya singkat tanpa komentar, kembali menyesap anggurnya dengan santai.

Namun, ketenangan itu tidak bertahan lama. Dari kerumunan tamu yang tertawa dan berdansa, muncul sosok yang membuat Henry hampir menjatuhkan gelas dari tangannya.

Seorang pria tua berperut buncit, wajahnya kemerahan karena jelas terlalu banyak meneguk anggur, melangkah mendekat dengan percaya diri. Mantel hitamnya tampak cukup layak, tapi rompi hijau zaitun yang ia kenakan… terlalu ketat, seakan kain itu menjerit minta ampun.

“Your Grace! Lord Collingwood!” serunya dengan suara berat yang terdengar lebih keras daripada musik biola, seolah ia sengaja ingin seluruh aula tahu. Senyum lebarnya menyingkap deretan gigi kekuningan yang membuat Henry hampir muntah di tempat. “Betapa menyenangkan bertemu kalian di sini!”

Henry sontak menegang, bahunya naik seperti kucing yang baru saja disiram air dingin. Ia hampir menyemburkan minumannya ke lantai.

“Astaga…” gumamnya lirih, nyaris seperti doa kematian. Ia menoleh cepat pada Nathaniel, matanya melebar seperti baru saja melihat hantu. “Dia. Si tua itu. Dengan rompi yang seharusnya dikubur bersama sejarah, bukan dipamerkan di depan umum. Aku butuh doa atau racun.”

Nathaniel, seolah tidak mendengar apa pun, meneguk anggurnya dengan tenang. “Tenanglah.”

“Tenang?” Henry nyaris melompat. Suaranya teredam karena ia buru-buru menutup mulut dengan kipas kecil—sebuah kartu undangan lipat yang ia temukan di sakunya. “Kau lupa? Baru beberapa hari lalu, dia bilang aku seharusnya dibuang ke koloni, bersama tahanan dan pencuri kentang! Dan sekarang—lihatlah—senyum itu! Senyum manis seperti kakek peri yang menawarkan permen beracun. Aku mual. Sungguh mual.”

Nathaniel hanya mengangkat alis, ekspresinya tetap tak berubah.

Lord Pembroke—karena memang dialah pria tua itu—merentangkan kedua tangan seakan menyambut dua sahabat lama. Suara tawanya menggelegar, mengatasi gesekan biola. “Ah, pesta ini rasanya kurang lengkap tanpa kehadiran Your Grace! Dan tentu saja, Lord Collingwood yang selalu penuh semangat. Bagaimana kabar kalian, hm?”

Henry mendengus keras, wajahnya memerah seperti tomat matang. Ia menoleh pada Nathaniel dengan tatapan horor campur jijik. “Oh, kabar kami sangat baik, sungguh. Luar biasa malah. Tidak sebaik kabar rompi Anda, tentu—yang tampaknya sedang berteriak minta tolong karena hampir mati lemas.”

Nathaniel buru-buru menahan batuknya agar tidak tertawa. Ia mengangkat gelas ke bibir, berpura-pura menyesap anggur, padahal ia sedang berusaha menutupi senyum yang nyaris pecah.

Pembroke terdiam sepersekian detik, lalu tertawa besar, menepuk bahu Nathaniel dengan akrab seakan tak mendengar sindiran Henry sama sekali. “Ah, Lord Collingwood, humor Anda memang segar seperti udara pagi! Saya selalu menyukai orang yang berani berkata apa adanya.”

Henry melongo. Ia berkedip sekali, dua kali, lalu menoleh pada Nathaniel dengan ekspresi hancur. “Dia bahkan… memuji? Apa yang salah dengan dunia ini? Apakah aku sudah mati dan sekarang terjebak di dunia paralel di mana Pembroke menjadi malaikat penuh cinta?”

Nathaniel tetap setenang air kolam. “Kau yang ingin datang ke pesta ini, meski mengaku membencinya.”

Henry mendengus, suaranya meninggi. “Itu karena aku ingin membuktikan bahwa aku bisa menghadapi Pembroke tanpa kehilangan akal! Tapi ternyata yang kuhadapi bukan musuh, melainkan badut tua yang tersenyum manis setelah menampar hatiku kemarin. Apa aku satu-satunya yang melihat ironi menjijikkan ini?”

Nathaniel menyesap anggurnya lagi, kali ini dengan senyum samar yang lebih jelas terlihat. “Bukan. Tapi aku satu-satunya yang memilih tidak bereaksi.”

Sementara itu, Pembroke masih berdiri di depan mereka, terus berceloteh panjang lebar tentang betapa meriahnya pesta malam itu, tentang para tamu yang hadir, bahkan tentang cuaca musim semi yang katanya ‘paling sempurna dalam dua puluh tahun terakhir’. Kata-katanya mengalir deras, namun di balik mata tuanya yang kecil, Nathaniel bisa melihat sesuatu yang lain: kilatan perhitungan dingin, kepandaian seorang pemain lama di dunia politik bangsawan.

Bagi Nathaniel, sikap manis Pembroke hanyalah topeng yang dikenakan dengan lihai.

Bagi Henry, itu seperti luka yang diolesi garam.

Henry akhirnya meneguk sampanye dengan kasar, hingga hampir setengah gelas habis sekali teguk. “Aku bersumpah, Kingsley,” bisiknya dengan nada getir, “jika aku harus mendengarkan pria tua ini sepuluh menit lagi, aku akan masuk biara. Biara yang paling jauh. Biara di puncak gunung, kalau perlu.”

Nathaniel menoleh singkat, suaranya tetap tenang. “Tidak ada biara yang mau menampungmu.”

Henry terdiam. Ia memandangi sahabatnya lama-lama, lalu mendecak kesal. “Kau benar. Bahkan Tuhan pun pasti menolakku.”

*

Lord Pembroke, dengan gaya yang lebih cocok untuk pedagang kain daripada seorang bangsawan tua, meneguk anggur dari gelas kristal dan menepuk bahu Nathaniel seakan mereka sahabat lama.

“Ah, Your Grace,” suaranya mendayu, padahal beberapa hari lalu ia melempar hinaan pada Henry. “London ini akan lebih cerah andai lebih banyak bangsawan muda sepertimu. Namun…” Ia menyipitkan mata, bibirnya melengkung seperti rubah yang siap mencuri ayam. “Ada satu hal yang masih menjadi perbincangan hangat di meja makan para lord—mengapa seorang pewaris Wexford masih… belum menikah?”

Ucapan itu menggantung di udara seperti bau rokok murahan di ruang dansa. Beberapa bangsawan di sekitar mereka menoleh, pura-pura tak peduli namun telinganya berdiri tegak.

Nathaniel, dengan wajah setenang patung marmer, hanya menjawab datar, “Mungkin karena aku belum menemukan alasan yang cukup.”

Pembroke tertawa, suara tawanya seperti pintu tua yang berderit. “Oh, alasan! Para wanita muda akan menangis mendengarnya. Padahal mereka sudah berbaris panjang menunggu kesempatan.”

Henry, yang sedari tadi menahan diri, akhirnya tak kuat. Ia menegakkan tubuh dan menepuk dadanya dramatis.

“Lord Pembroke, kurasa kau keliru,” katanya, dengan senyum nyaris suci. “Duke kita ini terlalu sibuk mengurus London, sehingga tak sempat memilih bunga mawar. Lagi pula, jika seorang pria hendak menikah hanya karena ‘para wanita sudah berbaris panjang’, maka aku seharusnya sudah memiliki tiga istri, dua tunangan, dan setengah lusin gundik yang mana semua hasil barisan panjang para penagih hutangku di depan rumah.”

Beberapa bangsawan muda tak kuasa menahan tawa kecil. Lord Pembroke menegang, wajahnya merah padam seperti tomat yang direbus, sementara Henry meneguk anggur dengan tenang seolah baru saja mengucapkan kebenaran paling agung di dunia.

Nathaniel, meski tak tertawa, sudut bibirnya terangkat samar—tanda kecil bahwa komentar Henry setidaknya berhasil menyingkirkan sedikit kebekuan di udara. Namun sebelum Pembroke sempat membalas, suara dentingan sendok pada gelas terdengar. Seorang pelayan berdiri tegak di dekat pintu aula besar, suaranya lantang dan jelas,

“Her Grace, Duchess of Hawthorne!”

Sekejap, riuh rendah percakapan mereda. Para tamu berpaling ke arah pintu yang megah, menunggu sosok wanita yang namanya sudah lama digosipkan—seorang Duchess muda, cantik, dan kaya, yang entah bagaimana selalu dijodohkan oleh kaum bangsawan dengan… Duke of Wexford.

Henry menoleh cepat pada Nathaniel, matanya berbinar jahil. “Oh, ini dia, Kingsley. Malammu yang membosankan akhirnya menemukan bahan hiburan. Aku harap kau sudah menyiapkan wajah penuh cinta, atau setidaknya wajah yang tidak ingin lari ke luar jendela.”

Nathaniel tidak menjawab. Matanya terarah ke pintu, dingin namun penuh perhitungan.