Vitamins Blog

SEBENING CINTA – Bab 5

Bookmark

No account yet? Register

sebening cinta

2 votes, average: 1.00 out of 1 (2 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Bab 5

“Bi… sakit, gak kuat. Hiks… sakit banget Bi,” racau Bening. Pagi tadi, Bening hanya ingin mencuci pakaiannya yang kotor. Tapi apa daya selepas itu, perutnya kram hebat. Memang, tadi malam juga kram tapi tak sekram ini. Dan lebih membuat Bening khawatir ia pendarahan. Bayi mungilnya, Bening sangat ketakutan sekarang. Terlebih Guntur sudah tahu keberadaannya membuat Bening tambah panik.

“Iya iya Bibi tahu,” ucap Bi Norma, bibi yang menjaga Bening selama di sini. Bibi yang diutus langsung oleh Monika untuk mengurusi Bening.

Mereka harus segera sampai ke kota Balikpapan. Bening harus ditangani dengan baik. Meskipun menurut firasat Bi Norma, bayi yang ada di dalam kandungan tidak selamat. Bukan menyumpahi, tapi melihat kejadian sekarang. Banyak sekali darah yang keluar.

***

Setelah hampir dua jam mengudara, sekarang Guntur bergegas untuk memasuki mobil. Ia harus segera sampai.

“Kau sudah dapat di mana alamat rumah sakitnya?” Tanya Guntur.

“Sudah, Pak.”

“Cepat!” Guntur sangat khawatir, gugup, takut, dan rindu. Semua bercampur aduk. Dadanya bertalu, anak dan istrinya dalam keadaan tidak baik.

Memikirkan bagaimana pertama kali bertemu dengan Bening. Ah, dia rindu sekali mata polos itu.

***

“Pak, bukan di sana ruangannya.” Ujar pengawal Guntur.

“Di mana? Cepat tunjukkan.” Sesampainya di ruangan Bening, Guntur mengernyitkan dahi. Memindai sekitar, dalam satu ruangan terdapat 3 bangkar yang dipisahkan dengan tirai. Tidak mungkin Bening ditempatkan diruangan ini sama dengan yang lainnya. Guntur tidak akan ikhlas. Bening harus mendapatkan perawatan terbaik termasuk kamar.

“Pindahkan Bening ke ruangan VVIP kalau bisa di rumah sakit ini.” Perintah Guntur.

Guntur mendekat, rintihan Bening semakin terdengar. Ada seorang wanita paruh baya yang menemaninya.

Wanita itu terkejut melihat Guntur dengan rahang mengetat. Menyaksikan Bening yang tengah kesakitan. Seperti tahu diri, Bi Norma mengundurkan diri dari pandangan Guntur. Membuat Bening kebingungan.

“Sayang…” ucap lirih Guntur.

“S-sakit…” wanita itu mengelus perutnya pelan. Diikuti tangan hangat lain yang lebih lebar.

Isak tangis, Guntur dan Bening terdengar. Guntur menyatukan dahinya dengan Bening, mengecup kening itu dengan sayang. Ingin memberitahu Bening, bahwa ia ada. Dia ada di sini untuk menemani Bening.

Guntur terus mengelus perut Bening dengan pelan. Berharap dengan itu, dapat berkurang rasa sakit yang didera istrinya.

“Kenapa Kakak bisa ada di sini?” tanya Bening.

“Demi istriku.” Bening hanya terdiam, menyentuh wajah Guntur. Membelai rahangnya, menyentuh alis tebalnya dan hidung mancungnya. Seperti mengingat kembali, bahwa cintanya ada di sini. Menemaninya.

Sekarang ia dan Guntur berdua adalah dua orangtua yang mengkhawatirkan keselamatan bayi mungil mereka.

“Pak Guntur.” Panggil seorang perawat diikuti pengawalnya dibelakang.

“Iya, saya.”

“Mari, ikut saya sebentar ya Pak. Dan juga, Ibunya akan kami pindahkan ke ruangan yang Bapak pinta ya.” Guntur hanya mengganggukkan kepala tanda setuju.

Guntur berjalan ke ruangan yang sudah ditunjukkan oleh perawat.

“Pak Guntur, silahkan duduk ya.” Guntur pun mengikuti instruksi. Menunggu dokter, mungkin.

“Pak Guntur.” Guntur pun menoleh dan mendapati dokter berjalan ke arahnya.

“Maaf, menunggu. Mari Pak,” lelaki itu mempersilahkan Guntur.

“Saya dokter kandungan di sini, perkenalkan saya Ali.” Guntur pun menyalami lelaki tersebut. Basa-basi.

“Gini, Pak. Setelah saya periksa, maaf saya harus menyampaikan hal ini. Pendarahan yang terjadi di kandungan istri Bapak mengakibatkan keguguran ya Pak. Kami sudah berusaha dengan menyuntikkan obat, tapi tidak ada perubahan berarti. Dan malam ini, istri Bapak harus dikuret. Kami turut berduka cita Pak.” Mendengar hal tersebut seperti menyambar Guntur, bayi mungilnya.

“Lakukan yang terbaik, Dok.” Guntur pun meninggalkan ruangan tersebut, berjalan gontai. Bagaimana ia memberitahukan Bening akan hal ini.

Bening tertidur sesampainya Guntur di ruangannya yang baru. Meski dalam tidur, Guntur yakin. Bening masih merasakan sakit.

Guntur membelai wajah Bening dengan lembut. Menghujani wajah itu dengan ciuman. Menghirup aroma yang ia rindukan.

“Kau akan baik-baik saja.”

***

“Tidak mau, Bi. Aku tidak ingin melakukan itu!” teriak Bening, ia tidak ikhlas bayinya yang ia sayangi harus pergi, tidak. Tidak mungkin!

“Demi keselamatanmu juga Bening.”

“Tidak! Kak Guntur, bayi kita. Bayi kita, baik-baik saja ‘kan?” tanya Bening. Melihat Guntur terdiam, membuat Bening semakin menangis histeris.

Guntur memeluk tubuh rapuh itu, tadi setelah Bening bangun. Tanpa disadari, ia mendengar pembicaraan Guntur dan Bi Norma. Langsung saja, ia menangis histeris tidak ingin bayi yang baru empat bulan ia kandung harus dikuret.

“Bening, bayinya sudah tidak bisa diselamatkan. Aku sudah berupaya tapi tidak bisa, maaf sayang. Ya… meski sulit ikhlaskan ya.”  Bujuk Guntur, yang terdengar hanyalah tangisan pilu Bening.

Guntur memeluk Bening, menyalurkan rasa hangat.

“Kakak juga gak mau ini terjadi. Tapi kita harus ikhlas, pendarahan yang hebat tid-”

“Ini salah aku… salah aku! Aku tidak makan dengan benar, aku tidak bisa berhenti berpikir positif, ini salah aku!”

“Salahkan aku yang tidak bisa jagamu, sayang. Salahkan aku!” Guntur menangkupkan tangannya di wajah Bening, sedangkan Bening yang melihat wajah Guntur hanya bisa menangis. Bukan saatnya lagi saling menyalahkan, bayinya tidak selamat. Bayinya tidak selamat.

Bening terisak, menutup wajahnya, sedangkan Guntur tidak mengizinkan Bening merasa kehilangan sendiri. Ia juga kehilangan, ia juga merasa kehilangan yang sangat.

“Kita hadapi sama-sama, sebagai pembelajaran kelak menjadi orangtua. Kau tidak sendiri, ada aku sekarang, kau bisa bertumpu padaku.” Pelukan Guntur menenangkan Bening, seakan Guntur selalu akan siap menghadang segala kesedihan Bening.

****

Guntur memeluk tubuh ringkih Bening, ah… istrinya semakin kurus saja. Sedangkan Bening hanya terdiam merasakan hangat tubuh Guntur.

“Pulang ke Jakarta sama aku ya?” Bening menggeleng. Tidak, ia tidak akan pulang. Pasti Guntur merasa iba terhadapnya yang sudah kehilangan bayi tercinta.

“Kenapa?” tanya Guntur sembari mengelus rambut panjang Bening.

“Kita suami-istri loh.” Ungkap Guntur.

“P-pisah…” ucap Bening terbata-bata, ia takut mengungkapkan ini. Tapi harus ia ungkapkan.

“Apa?”

“Kita pisah saja ya…, nanti Kak Monika akan kasih suratnya. Bening saja yang menggugat.”

“Habis dibius jadi ngomongnya ngelantur.” Guntur semakin mengeratkan pelukannya.

“Tidak ngelantur, aku sadar kok.”

“Pulang, ketemu sama Tiara. Dia sudah siuman.”

“Hah!?” Bening melonggarkan pelukan Guntur. Dan melihat raut wajah datarnya.

“Ini benar, Tiara sudah sadar. Dan dia terus mencari sahabatnya yang sedang kabur ini.”

“Sudah jangan menjadi canggung, lain kali aku tidak akan memperbolehkanmu untuk pergi lagi.” Guntur menyadari bahwa tubuh Bening berubah menjadi tegang. Mengelus rambutnya turun ke arah leher, Bening yang merasakan nyaman hanya berdiam diri. Tidak menyadari Guntur mendekat ke arahnya. Mengecup pelan ujung bibirnya, membuat Bening tersentak menjauh.

“Menyentuh bagi suami-istri adalah obat Bening, jangan menjauh.” Guntur ingin Bening tidak ketakutan terhadap sentuhannya lagi, dan juga ia sangat merindukan tubuh ini.

Guntur menarik kembali tubuh Bening menciumi pipi lembut Bening, menuju ujung bibir dan berhenti tepat di depan bibir Bening. “Kita masih suami-istri, kau adalah istriku dan aku adalah suamimu.” Layaknya seperti mantera yang membuat Bening terpaku.

Guntur mengecup pelan bibir itu berulang kali sebelum melumatnya, menyampaikan perasaan rindu, cinta, menyesal, sedih semua perasaan yang sulit ia ungkapkan ia sampaikan melalui ciuman manis nan lembut.

Bening yang baru pertama kali merasakan bagaimana ciuman selembut ini hanya bisa terdiam. Ini memang bukan ciuman pertamanya bersama Guntur. Ciuman Guntur saat itu terkesan kasar dan sangat menyakitkan. Lain halnya dengan ciuman Guntur saat ini, sangat lembut dan menghanyutkan Bening untuk merasakannya.

“Istri Kakak sudah pintar dalam hal ciuman,” Guntur melepaskan tautan bibir mereka dan mengusap lembut kening Bening diakhiri kecupan hangat. “Mari kita tidur sekarang, karna besok akan pulang ke rumah.”

****

“Tiara…” Tiara yang sedang berlatih berjalan pun menoleh.

“Bening…”

“Tiara… akhirnya Ya Tuhan, akhirnya kau selamat.”

“Tentu saja aku harus selamat Bening. Lihatlah sekarang, aku sedang latihan berjalan. Sebentar lagi aku akan berlari.”

“Dan mengikuti perlombaan estafet.” Sahut Adit bergurau, Bening dan Tiara menoleh ke arah Adit seakan mengusirnya secara tidak langsung.

“Santai, girls. Aku akan memberikan kalian waktu.” Adit berlalu.

“Akhirnya Kak Adit tersenyum lagi, dia sangat mencintaimu Tiara, jangan sia-siakan lagi.”

“Ekm… bagaimana kita balik pertanyaannya, Kak Guntur mencintaimu Bening, jangan sia-siakan lagi.” Bening meninju pelan lengan Tiara.

“Dia tidak mencintaiku jangan mengada-ngada.”

“Yang benar? Itu yang kau rasakan? Aku kurang yakin.”Bening menuntun Tiara untuk duduk di gazebo menikmati angin yang berhembus.

“Dia kasihan, anak kami tidak bisa diselamatkan. Lagipula mengenai kekasihnya. Ternyata ia salah paham menilaiku selama ini.”

“Kak Guntur itu bodoh, dia terlalu diliputi rasa ego yang tinggi, tidak mau nerima kenyataan padahal dias udah merasakan ada yang lain sama kecelakaan itu. Butuh validasi sama orang lain.”

“Kadang kita memang butuh validasi sih.”

“Kalau butuh validasi, Bening. Aku merasa akhirnya Kak Guntur terbuka sama perasaannya. Yang pada awalnya dia tepis karna,” Tiara berbisik “umurmu yang terlalu jauh dan mengganggapmu sebagai adiknya lain yang lucu.”

“Jangan mengada-ngada. Kau ingin mencuci otakku ya!” Tiara mengangkat bahu saat mendengar kalimat Bening.

“Aku akan menggugat Kak Guntur segera.” Tiara hanya terdiam. Ia tahu betapa cintanya Bening kepada Guntur.

“Kau tahu, Tiara. Kejadian ini, mengingatkan mengenai Adam dan kau adalah salah satu pertimbanganku. Ingat tidak? Dulu kau selalu melakukan apapun yang diperintah Adam, mencintai dengan sepenuh hati. Tapi ternyata Adam menusukmu dari belakang. Padahal ada Adit yang menunggumu.” Bening menatap Tiara menepuk pelan pundak wanita itu.

“Aku tidak mau cinta ini menggerogotiku hingga aku tidak berdaya. Kak Guntur tidak akan membalas cintaku, Tiara. Cukup anakku yang jadi korban.”

“Kak Guntur tidak akan mempermudah semuanya Bening, dia punya kuasa.”

“Aku punya harapan.” Sahut Bening keras kepala.

 

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

3 Komentar

  1. Menuju ending?

  2. dewantilaraswaty menulis:

    :lovelove :lovelove :lovelove :lovelove :lovelove :lovelove

  3. AyukWulandari2 menulis:

    :wowakusedih