Vitamins Blog

SEBENING CINTA – Bab 4

Bookmark
ClosePlease loginn

No account yet? Register

sebening cinta

2 votes, average: 1.00 out of 1 (2 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Bab 4

“Non Bening belum pulang, Tuan.” Ucap Bi Surti,membuat Guntur tertegun. Tidak biasanya Bening tidak pulang hingga larut malam.

“Kemana dia Bi?”

“Bibi juga gak tau, Tuan. Tadi Bibi belanja, terus menemukan ini di dapur.”

Bi, aku pergi dulu ya. Jangan ditungguin, lama banget mungkin untuk pulang.

Ambigu

Tidak mungkin Bening melarikan diri darinya, jika pergi pun seharusnya dari jauh-jauh hari. Ada sesuatu yang ia sembunyikan. Bukan sifat Bening untuk memberontak apalagi berhadapan dengannya.

“Bi, apakah pakaian Bening masih di kamarnya?”

“Masih Tuan.”

“Apakah ada barangku yang hilang?” tanya Guntur.

“Saya tidak berani memeriksa kamar Tuan.” Guntur lalu berjalan menuju kamarnya, melihat adakah barang yang hilang.

Ternyata beberapa kemeja kesayangan dan parfum favoritnya lenyap. Yang sudah pasti, ini pasti perbuatan Bening. Kenapa wanita itu pergi.

Dering ponsel Guntur berbunyi. Adit menelpon, apakah ini berkaitan dengan hilangnya Bening, jika iya Adit tidak akan bisa selamat dari amukan amarah Guntur.

“Ada apa…” Sapa Guntur pelan dan aura kemarahan yang menguar dari dirinya.

“Tiara sadar Guntur, Tiara sudah sadar.” Ucap Adit haru. Wanita yang ia cintai sudah sadar.

Adit tidak tahu dimana keberadaan Bening, asumsi Guntur. Sebelum ke rumah sakit, Guntur menghubungi seseorang.

“Bening Admajaya, temukan wanita ini sampai dapat.” Guntur memperhatikan sekitar dan menemukan cincin pernikahannya tergeletak di meja.

“Mencoba melarikan diri Bening, kita lihat sampai sejauh mana.” Guntur tersenyum pelan, melihat peliharaannya mencoba main-main terhadapnya. “Jika kau sudah ditemukan, jangan harap bisa bebas. Bahkan jika perlu, kau akan kupasung, Bening.”

***

Guntur memasuki ruang perawatan Tiara, semalam ketika Tiara bangun, ia harus mengurusi beberapa hal terkait Bening yang pergi secara mendadak. Mau tidak mau, setelah ia sampai Tiara sudah tidur kembali tapi lain halnya hari ini, Tiara sudah bangun. Seakan menunggu kedatangannya.

Guntur mendekat ke arah Tiara, tidak luput Adit yang duduk di samping ranjang Tiara. Sepertinya habis menyuapi Tiara.

“Adit, tolong tinggalkan kami berdua.” Ucapan Tiara membuat Guntur mengernyit, ada apa gerangan.

“Ada apa?”

“Aku udah tahu semuanya Kak, dan sekarang aku bakal memberitahukan yang sebenarnya terjadi.” Apa maksud dari perkataan Tiara ini, semakin membuat Guntur bingung.

“Bening tidak ada sangkut pautnya dengan meninggalnya kekasih ‘tercintamu’ itu. Renita bersekongkol dengan Adam untuk mengeruk harta kekayaan kita, Kak. Mereka yang bajingan bukan Bening!” jerit Tiara tak tertahankan. Wajah pucat adiknya beruraian air mata.

“Kakak apakan Bening,Kak. Sampai dia pergi, Kakak apakan diaaa…”

“Kakak tahu, alkohol, rokok, bahkan suntikan yang Kakak temukan di tas milik Bening itu punya siapa, punya aku Kak! Dia yang polos, dia yang baik hati, dia tidak pernah jadi wanita binal seperti yang Kakak katakan. Kakak apakan dia, Kak.” Guntur mematung mendengar kebenaran yang Tiara ucapkan. Jadi, Bening tidak ada sangkut pautnya dengan semua ini?

“Bening hanya berada di waktu yang salah. Bodohnya dia bisa mencintaimu, Kak.”

“Kenapa, Tiara. Kenapa kau bisa berbuat sejauh ini dalam pergaulan.”

“Siapa lagi kalau bukan si brengsek Adam.” Ucap Tiara geram.

“Kakak harus minta maaf sama Bening, Kak. Dia-”

“Tanpa disuruh pun aku sudah merasa bersalah!” teriak Guntur dihadapan Tiara.

Tiara yang melihat Kakaknya menangis hanya bisa tercengang.

Guntur juga mencintai Bening.

“Cari, Kak. Cari sampai dapat.”

***

4 bulan kemudian

Monika sedang bekerja, startup miliknya sedang diujung tanduk, Fisher-startup miliknya yang ia bangun bersama rekan-rekannya harus mendapatkan suntikan dana dari investor. Dan masalahnya adalah bagaimana menarik minat para investor untuk berinvestasi kepada Fisher.

Mereka sudah melakukan pitching dengan berbagai investor belum juga membuahkan hasil. Sedangkan Fisher membutuhkan suntikan dana yang tidak sedikit.

Suara pintu menggelegar membuat Monika terperanjat. Mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang membuat onar di ruangannya.

“Guntur!?”

“Iya, ini aku.” Guntur berjalan pelan, mengintimidasi Monika yang ada di depannya.

“Di mana Bening?” tanya Guntur.

“Dan kau harap aku memberitahumu? Mimpilah.” Ucap Monika tak gentar. Apa-apaan maksud lelaki ini, dia membuang Bening pada suatu waktu dan sekarang ingin mencarinya kembali? Jangan harap. Monika tidak akan membiarkannya.

“Fisher, perusahaan startup berbasis teknologi yang katanya membantu nelayan menjual ikannya langsung ke pelanggan tanpa melewati orang ketiga. Sudah ada investor untuk menyuntikkan dana ke perusahaanmu, Monika? Jangan sampai gulung tikar ya, apalagi.” Guntur menyeringai menatap Monika. “Apalagi aku memiliki beberapa kolega yang pas di bidang ini untuk menjadi investor Fisher.”

“Kau mengancamku?” Monika merasa tersudutkan.

“Bukan aku yang memberikan pernyataan itu, kau yang memberikannya.”

Tiba-tiba ponsel Monika berdering. Monika menatap ke arah Guntur, seakan tahu arti tatapan Monika. Guntur berlari mengambil ponsel itu dari genggaman Monika dan mengloudspakerkannya. Ingin mengetahui apa yang akan dikatakan si penelpon.

“Mbak Monika, ini adeknya pendarahan hebat Mbak. Kami sedang berusaha mencari pertolongan. Kemungkinan Non Bening akan dilarikan ke rumah sakit yang ada di kota.” Ucapan itu membuat mereka berdua terdiam, tidak. Tidak mungkin, Beningnya.

“Mbak Monika, ini adeknya ingin berbicara sebentar.” Si penelpon mengangsurkan ponselnya ke arah Bening yang merintih kesakitan.

“K-kak, dengarkan aku. Rasanya, aku tidak m-mampu lagi. Tolong sampaikan… rasa ma..afku ke…pada Kak Guntur. Agh.. aku, minta maaf tidak b-bisa men…jaga bayinya.” Bening mengatakannya dengan lirih sambil menahan rasa sakit. Membuat iba siapapun yang mendengarnya.

Guntur mendekatkan ponsel itu.

“Bening…” suara dari jauh sana terperanjat mendengar suara Guntur yang rendah.

“Dengarkan aku, kau harus selamat!” Belum selesai Guntur berbicara suara lirih Bening terdengar.

“Bayinya…”

“Kau Bening, prioritasnya kau. Kau harus selamat.” Desak Guntur, Monika yang ada di sampingnya mengerutkan dahi. Lelaki gila ini!

Monika merampas ponsel dari Guntur.

“Bi, tolong nanti di infokan lagi ya. Dan Bening, hey jangan takut semua akan baik-baik saja.” Ucap Monika menutup ponsel, “kau gila! Bening sedang pendarahan yang hebat dan kau,” Monika menunjuk wajah Guntur. “Mengancamnya… dia bisa keguguran karna takut akan ancamanmu, bodoh!”

“Tapi Bening harus selamat!” teriak Guntur gelisah, “di mana! Di mana dia sekarang?”

Guntur menggoncang tubuh Monika.

“Kau akan tau apa yang akan kulakukan saat kau tidak memberitahu dimana Bening. Fisher hanya tinggal nama dan,” Guntur merampas ponsel Monika. “Lagipula aku akan melacak lokasi dari nomer ponsel ini. Hanya tinggal wa-”

“Kalimantan Timur, mereka akan bergerak ke Balikpapan.” Guntur segera melesat dan juga menelpon seseorang diujung sana, “siapkan helikopter secepatnya, kita akan ke Balikpapan.” Monika hanya bisa ternganga mendengarnya, dasar orang kaya.

 

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

3 Komentar

  1. Nah akhirnya tau juga

  2. AyukWulandari2 menulis:

    :aw..aw :nangiskeras