Vitamins Blog

Selembut Sutra [II] Bagian 5 : Mangsa Terlepas

Bookmark

No account yet? Register

3 votes, average: 1.00 out of 1 (3 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Maafkanlah saya yang mengecewakan kalian dengan tulisan tidak jelas ini.

 

WhatsApp Image 2022-03-24 at 11.43.39

Mereka berencana bubar untuk kembali tapi tiba-tiba ada tembakan yang menggema, hingga tembakan itu tepat mengenai punggung Jhovan mengakibatkan orang itu lumpuh dengan lutut bertumpu tanah, darah segar mengalir deras membasahi bajunya. Semua orang kaget karena hilang waspada, beberapa orang mengejar asal tembakan itu tapi keburu orang itu kabur dengan sangat gesit.

 

“Tuan!!” Adi dengan sigap membantu tuannya agar tidak tersungkur karena keseimbangannya mulai hilang. Terlihat jelas kepanikan di wajah Adi, tapi Jhovan malah menanggapi itu dengan santai tanpa merasa sakit sama sekali.  Adi sangat tau jika luka tembak itu pasti. bersarang pada punggung Jhovan. Tapi lelaki itu bahkan tidak berkomentar apapun.

 

***

Siang itu Ayya bangun dari istirahatnya, tubuhnya masih terasa remuk tapi kali ini jauh lebih baik dari sebelumnya. Dia mendapati dirinya sudah memakai pakaian bersih berwarna biru muda terlihat manis membalut tubuhnya sampai mata kaki. Ayya mencoba duduk untuk menstabilkan tubuhnya yang baru tersadar dari pingsannya. Kepalanya masih berdenyut hanya saja kali ini masih bisa ditahan. Perempuan itu melihat sekeliling ruangan, kamar itu terlihat luas dan sepi. Tumben sekali lelaki itu tidak mengawasinya saat tidur, entah kebiasaan  lama atau memang baru-baru ini saja, jika dia terbangun maka yang pertama dilihatnya adalah wajah lelaki itu. Semua orang mungkin memuji fisiknya yang tanpa cela tapi hal itu tidak berbarengan dengan sikapnya, lelaki itu pemarah, egois dan keras kepala. Keinginannya tidak boleh dibantah.

 

Ayya mengulurkan kakinya hingga menjuntai di ranjang besar, dia menelaah tubuhnya apakah bisa di ajak kerjasama kali ini. Ternyata tubuhnya meski masih terasa ngilu pada bagian-bagian tertentu. Dia menghembuskan nafas berat, cobaan hidupnya terlalu berat. Atau selama ini dia kurang bersyukur dengan apa yang di berikan untuknya. Dia belum terlalu tahu tentang suaminya, apakah dia harus menerima saja atau melawan takdir yang telah di tetapkan. Tak terasa air matanya jatuh membasahi pipi.

Alangkah buruknya nasibnya atau ini bagian dari rencana Tuhan yang tak bisa dia hindari.

Ke tokkan di pintu kamar membuyarkan lamunannya, dia mengangkat kepala menghapus jejak air mata yang tersisa.

 

“Masuk!” perintahnya dengan suara lemah. Seorang perempuan paruh baya berdiri di depannya dia adalah Bu Sara kepala pelayan di rumah ini, terlihat sudah berumur tapi masih cantik. Dia tegas dan juga berwibawa padahal hanya seorang pelayan tapi pelayan yang memiliki pengaruh yang cukup kuat di rumah besar ini.

 

“Saya sudah menyiapkan sarapan untuk anda.” suara lembut perempuan itu menggema merdu.

“Aku ingin mandi dulu.” pinta Ayya, dia merasa tubuhnya sudah sangat gerah dan ingin mandi sekarang juga. Bu sara memandang sejenak, matanya menelusuri seluruh titik wajah dari istri tuannya itu dan kemudian dia mengurai senyum.

 

“Baik, saya akan siapkan air untuk anda mandi.” perempuan paruh baya itu bergerak berjalan menuju ke arah kamar mandi, tapi Ayya keburu mencegahnya. Dia hanya ingin sendiri, mandi sendiri dan melakukan hal apapun sendiri tanpa ada orang lain yang mengganggu, dia terbiasa melakukan apapun sendiri tanpa ada pelayanan yang membuatnya risih.

 

“Tidak perlu, aku bisa sendiri.” Ayya berjalan pelan menuju kamar mandi, Bu Sara setelah mendengar penolakan dari istri sang majikan dia pun tak memaksa dan membiarkan Ayya mandi dan menyiapkan dirinya sendiri.

 

 

“Saya tunggu anda di meja makan, Nyonya” Bu Sara pamit undur diri dan Ayya menutup pintu kamar mandi.

 

Kamar mandi itu terlihat luas, marmer putih menghiasi ruangan itu. Dia ingin mengguyur tubuh dengan air shower agar tubuhnya merasa lebih baik, dia menanggalkan seluruh pakaiannya tanpa ada sisa karena merasa situasinya saat ini aman karena Jhovan tidak ada di rumah.

 

 

***

Jhovan datang melenggang masuk tanpa merasakan sakit di punggungnya akibat luka tembakan yang dia dapatnya. Ady di buat bingung melihat tuannya tidak mau di bantu padahal darah itu merembes melewati celah kain bajunya.

“Tuan, apakah anda baik-baik saja?” Ady bertanya karena sangat khawatir.

“Apakah saya perlu memanggilkan dokter Fitri untuk..” Ady menawarkan untuk memanggil dokter tapi dengan tegas Jhovan mengangkat tangan tanda penolakan.

“Peluru itu tidak mengenai ku, dia hanya meleset lewat punggungku dan aku tidak apa-apa, kalian pergi lah!”

Ady ternganga luar biasa, bagaimana itu tidak apa-apa meskipun peluru itu  meleset hanya menimbulkan goresan yang cukup dalam tapi itu tetaplah sakit. Apa mental tuannya lebih sakit  dari pada luka itu.

 

“Mengapa bengong?” Jhovan bertanya pada Ady, dia melihat tak ada pergerakan untuk pergi. Ady tercengang sedikit seolah kecerdasannya selama ini menjadi tumpul karena terlalu bingung menghadapi sikap tuannya.

“eh.. baiklah” Ady pergi dengan sepenggal tanda tanya di kepala cerdasnya itu.

 

Pelan tapi pasti Jhovan berjalan menuju kamar utama yaitu kamar miliknya dan juga wanitanya. Terakhir saat dia tinggalkan perempuan itu masih tertidur, apa sekarang dia sudah bangun fikirnya lagi. Saat pintu di buka Jhovan mengedarkan pandangan ke segala penjuru tapi dia tidak menemukan wanitanya itu. Fikiran buruk mulai menghantuinya, jangan-jangan istrinya itu kabur lagi. Ada segurat emosi tidak terima jika perempuan itu berusaha kabur lagi. Jhovan berjalan cepat mengikuti instingnya dan ternyata dia mendengar riak-riak air shower berjatuhan ada seseorang yang mandi. Kemudian ada senyum di wajah, ternyata istrinya itu sedang mandi dan saat dia menyentuh gagang pintu serta  membukanya ternyata itu tidak di kunci.

Mendapati pintu kamar mandi itu tidak di kunci Jhovan tersenyum penuh dengan kemenangan, istrinya ini sedang teledor atau ingin menggodanya ikut mandi bersama. Dia melihat istrinya di bawah guyuran air shower, air itu membasahi tubuhnya.  Jhovan melepaskan baju atasnya dan menyampirkan dengan sembarangan.

 

Jhovan melingkarkan tangannya secara tiba pada tubuh perempuan yang sendang mandi. Menelusupkan  kepalanya pada bahu rapuh milik istrinya, ada kekagetan luar biasa dari sang perempuan karena tiba-tiba ada sebuah tangan yang dengan berani memeluknya dari belakang. Secara naluri untuk bertahan Ayya secara tiba-tiba menyikut dengan kuat.  Tapi ada sebuah tangan besar yang mencoba untuk menangkisnya.

 

“aku suamimu..” Ada bisikan lembut di belakang telinganya. Itu suara Jhovan, kapan lelaki itu datang dan memeluknya.

“Lepaskan aku!” Ayya berontak karena situasi sekarang tidak menguntungkan untuknya.

“Tidak” Jhovan menimpali, memang dua manusia ini sama-sama keras kepala. Sang perempuan berusaha untuk selalu menjauh.

 

“Ku bilang lepaskan!!” Akhirnya pelukan itu terlepas dengan sigap Ayya mencari handuknya untuk menutupi tubuhnya. Astaga dia benar-benar malu, kali ini seluruh tubuhnya terlihat tanpa penghalang dan lelaki egois itu tersenyum simpul melihat kebodohannya.

“Untuk apa di tutupi, aku sudah puluhan kali melihatnya.” Seru Jhovan tanpa tahu malu. Air shower itu masih berhembus dengan sangat deras membasahi tubuh lelaki yang mencuri pelukan.

Sementara Ayya setengah mati menahan malu, dia biarkan handuk yang melilit tubuhnya ikut basah.  Tangannya begitu kuat mengikat simpulan handuk itu. Tubuhnya gemetar bercampur malu tak terkira. Otak cerdasnya seakan tumpul jika beradu argument dengan lelaki ini.

 

“Kamu, ka..mu.. bagaimana bisa masuk?” itu pertanyaan bodoh, bukankah tadi dia tidak mengunci pintu itu hingga lelaki itu bisa masuk.

“Aku masuk lewat pintu lah” Jhovan menjawab dengan santainya. ” Kemari! ” Jhovan mengulurkan tangannya meminta agar istrinya itu menyambut tangannya.

Ayya menggeleng tanda dia tidak ingin dekat-dekat dengan lelaki itu. matanya sesekali melirik daun pintu, insting untuk menyelamatkan diri begitu kuat.  Jhovan memang cukup cerdas untuk menilai gelagat istrinya. Mau kabur lagi fikirnya, kapan perempuan ini mau bekerjasama dengannya dan mematuhi keinginannya tanpa ada penolakan yang berujung Jhovan lah sebagai pemenangnya.

“Mau keluar? Jangan mimpi” Jhovan berjalan cepat ingin menarik istrinya itu tapi Ayya kali ini lebih gesit dari biasanya, perempuan itu secepat kilat membuka pintu dan menutupnya kembali. Detag jantungnya masih tidak beraturan, kali ini dia selamat dari lelaki itu.  Ayya buru-buru menuju lemari untuk memakai baju, Karena lemari ini di khususkan untuknya maka semua baju terusan itu terlihat lembut. Entah sejak kapan Jhovan menyiapkan semua itu. Setelah semuanya rapi Ayya menyisir rambutnya yang basah bertepatan dengan itu Jhovan keluar dari kamar mandi.

 

 

 

 

Bersambung

Selembut Sutra Bagian 4 II Terluka

 

KONTEN PREMIUM PSA


 

Semua E-book bisa dibaca OFFLINE via Google Playbook juga memiliki tambahan parts bonus khusus yang tidak diterbitkan di web. Support web dan Authors PSA dengan membeli E-book resmi hanya di Google Play. Silakan tap/klik cover E-book di bawah ini.

Download dan install PSA App terbaru di Google PlayWelcome To PSAFolow instagram PSA di @projectsairaakira

Baca Novel Bagus Gratis Sampai Tamat – Project Sairaakira

6 Komentar

  1. Putik Lestari menulis:

    :berikamiadegankiss! :berikamiadegankiss!

  2. Indah Narty menulis:

    Degdegan

  3. :lovelove lanjooottt kakkk

  4. Lnjut kak terlalu sdikit

  5. Pdahal crita nya seru, tp author post nya kelamaan

  6. D tunggu up nya