adelaide-4
Vitamins Blog

DWINA part 26

Bookmark

No account yet? Register

28 votes, average: 1,00 out of 1 (28 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

26. Spesial

Gerombolan awan putih menutupi celah langit biru. Disenderkanlah kepalanya ke kaca jendela mobil yang kini sedang melaju kecepatan sedang. Suara penyiar radio mengisi keheningan selama perjalanan.

Senang saja menikmati setiap momen sederhana. Yang, begitu menenangkan dan mengisi kenangan. Sayup-sayup mata Dwina mulai terpejam terserang rasa kantuk karena lelah sekaligus senang akhirnya ujian tengah semesternya telah selesai. Berhubung jadwal ujian berakhir pada hari Jum’at dan Sabtunya tidak ada kelas, sekalian saja Arya mengajaknya liburan ke Bandung hingga hari Minggu.

Sebuah tangan senang mengerjai Dwina dengan menarik perlahan tangkai permen lolipop dari mulutnya. Apakah Dwina akan terbangun? kebiasaan perempuan itu tidak pernah berubah. Makan permen dan tidur di mobil merubakan satu paket jalan-jalan. Baru saja mobil melesat memasuki tol, Dwina sudah tak kuasa menahan kantuk.

Mata Dwina membuka kebingungan permennya telah diambil. Kekehan Arya terdengar renyah mendapati tingkah aneh Dwina, lalu Arya mengembalikan permen itu ke mulut Dwina.

“Iseng…” dumal Dwina. Semenjak mereka menikah, Arya selalu saja gregetan ingin mengganggunya. Sampai Dwina pusing menghadapi Arya. Lagi fokus ngerjain laporan praktikum tiba-tiba saja tanganya menangkup pipinya lalu menciumi seluruh wajahnya gemas. Lagi anteng nonton drama korea yang sedang disiarkan ulang untuk ke empat kalinya di tv, Arya dengan sengaja mengganti chanelnya ke siaran olah raga. Awalnya Dwina pikir Arya memang sedang ingin menonton, tapi dia malah ikut beranjak ketika Dwina ingin pergi ke dapur untuk mengambil es krim di kulkas.

Yang parahnya lagi, Dwina harus ekstra sabar karena setiap malam dirinya harus di dekap erat sampai kesulitan bernapas. Nggak sadar apa suaminya itu bertubuh tiga kali lipat darinya. Sudah manjanya setengah mati. Apa-apa Dwina nggak boleh berada jauh dari Arya. Kalau lagi sedang ada acara dan Dwina lagi sedang ingin merapihkan penampilannya, Arya akan mengantarnya hingga depat toilet. Padahal banyak sekali orang yang mengantri ingin mengobrol dengan dia.

Kini salah satu tangan Arya mengelus rambut Dwina untuk menenangkan perempuan tersebut yang sedang ngambek atas sikap jailnya. Dwina itu terlalu tenang dan datar, jadi Arya penasaran saja ingin membuat Dwina lebih berekpresi. Sedang kesal saja, Dwina masih statis walaupun ucapannya tersimpan nada jengkel.

“Jangan tidur, temenin aku ngobrol” seru Arya melas.

Dwina bergumam sebentar berfikir obrolan apa yang bagus untuk mereka bahas. Ada masalah yang sudah dari kemarin-kemarin Dwina ingin sekali membahas ini pada Arya, tapi mereka berdua sedang sibuk dengan urusan masing-masing. Sudahlah, mungkin ini waktu yang tepat.

“Jadi…” Dwina men-slow motion ucapannya.

“Iya…” Arya tersenyum mengikuti nada bicara Dwina.

“Jangan sela cerita aku sampai aku selesai ngomong”

“Oke, aku nggak akan nyela cerita kamu”

Dwina menarik napas begitu dalam lalu menatap Arya serius yang diliputi secercah kesedihan. Tiba-tiba saja air matanya bergulir tanpa peringatan. Sebelah tangan Arya yang sedang menangkup wajahnya di balas erat oleh tangan Dwina. Tenggorokan Dwina terasa tercekat hebat membuat dia kesulitan mengeluarkan suara.

Sesuai janjinya Arya tidak akan menyela ucapa Dwin, nyatanya dia sudah sangat penasaran dengan perubahan ekspesi Dwina saat ini. Akhirnya Arya memutuskan menghentikan mobilnya di tepi jalan. Supaya mereka lebih enak untuk membahas masalah yang sedang di hadapi oleh Dwina.

“Hampir dua minggu yang lalu waktu awal ujian, aku kena vertigo berat sampai aku nggak sanggup jalan. Jadi, Tari nganterin aku ke rumah sakit. Eh waktu di periksa katanya aku hamil. Tapi… kamu jangan nyela aku dulu” Dwina mempercepat ucapan terakhirnya karena Arya seperti sudah tidak tahan ingin angkat bicara.

Siapa yang tidak terkejut kalau Dwina sedang hamil dan dengan bodohnya Arya mengajak perempuannya melewati perjalanan jauh ke Bandung. Sekuat tenaga, Arya kembali menarik niat bicaranya dengan kasar. Sebagai pelampiasan dia menggenggam erat kedua tangan Dwina. Mereka berdua sama-sama berkeringat dingin.

“Golongan darah Rhesus aku negatif nggak cocok sama janinnya yang positif. Karena perbedaan Rhesus tubuh aku akan bikin antirhesus untuk perlindungan, tapi berbahaya untuk janinnya. Bahkan bisa berulang kali terjadi keguguran atau anaknya terlahir cacat dan sekarang kamu udah boleh ngomong”

Arya meremas rambutnya frustasi mendapati berita baik sekaligus berita buruk. Dia tidak mengerti apa itu Rhesus, tapi intinya dia paham kalau kandung Dwina cukup berbahaya. Dirinya terasa berada di roller coaster, menit sebelumnya dia dilanda bahagia kemudian di menit selanjutnya dirinya seolah terlempar dari ketinggian.

“Kenapa kamu nggak bilang dari kemarin? kalau begini kita nggak usah ke Bandung” ujar Arya nyaris membentak keras.

“Tapi aku lagi mau jalan-jalan ke Bandung” melas Dwina memutuskan kontak mata dengan Arya. Waktu tau Arya ingin mengajaknya jalan ke Bandung, rasanya seneng luar biasa. Mungkin bawaan sedang hamil. Dan mereka belum ada waktu untuk berbulan madu.

Keduanya terdiam lumayan lama bergulat pada masing-masing gejolak batin. Yang satu masih marah karena istrinya menyembunyikan berita sebesar ini selama dua minggu darinya, Arya berdecak mengahadapi kebiasaan Dwina yang dari dulu sering memendamkan masalahnya sendirian. Padahal Arya sudah sepeka mungkin memahami setiap gerak-gerak Dwina. Kalau posisinya sedang berbicara dengan seorang perempuan asing dan Dwina tiba-tiba mengatakan ingin pergi ke toilet, berarti dia sedang cemburu. Pasti nanti malemnya dia nggak bakalan ngomel jika di peluk erat olehnya.

Kalau Dwina bertingkah aneh dengan menjawab omelannya mengoreksi sesuatu yang salah atas tindakan perempuan itu, pasti dia lagi capek banget. Sedangkan biasanya dia sangat penurut.

“Ya udah kita lanjutin jalannya. Tapi, mulai sekarang jangan pernah nyembunyiin hal penting begini dari aku. Kamu tau sendiri, kamu itu tanggung jawab aku” seru Arya memperingati istri tersayangnya.

Air mata Dwina bergulir makin banyak. Senggukan keluar tak tertahankan “Maafin aku.” Balas Dwina penuh penyesalan. Sungguh dirinya takut menghadapi laki-laki sedang marah. Mesti setelah ini Arya akan men-cuekinya. Nggak ada Arya yang akan bermanja padanya.

Mobil melaju kembali, barangkali tatapan Arya saat ini bisa menenggelamkan seseorang. Rasa frustasinya di bawa hingga sampai ke diaman orang tuanya. Dan semua orang dengan senang hati tidak akan mau mengganggu harimau yang ingin mengamuk.

Sedikitpun Dwina tidak diizinkan oleh Arya untuk membantu hal apapun. Entah itu membawa tas ransel milik Dwina sendiri atau sekedar membantu menyiapkan piring untuk makan malam bersama.

Memang yang sedih dengan berita ini Arya saja. Dwina juga mengalami syok berat tentang kenyataan itu. Bahkan dia kurang maksimal mengerjakan soal selama ujian tengah semester berlansung takut dirinya akan stress terlalu memaksakan belajar.

Saat orang-orang mau menjelang tidur, Bu Ati menegur anak laki-laki terakhirnya itu untuk berhenti bersikap protektif berlebihan. Karena Dwina pasti mengerti setiap batasan yang boleh di lewatinya. Bu Ati yang mau ikut senang akhirnya mendapatkan cucu baru, jadi merasa ikutan kesal sekaligus prihatin dengan masalah keluarga anaknya.

“Sekarang mendingan samperin istri kamu, nggak baik berantem lama-lama” Bu Ati melangkah menuju kamarnya meninggalkan Arya sendirian di ruang tv.

Arya menghela napas kasar, dadanya kini terasa sesak dipenuhi oleh beban berat. Sayangnya beban itu semakin berat saat mendapati Dwina sesenggukan menangis meringkuk dibalik selimut tebal sambil berkata maaf kepada dirinya.

Alam bawah sadar Arya mencelus. Mana tega dia membiarkan perempuan yang disayanginya dalam keadaan menyedihkan seperti ini. Arya menaiki kasur dani ikut masuk ke dalam selimut tebal yang yakin akan membuat dirinya kegerahan. Direngkuh tubuh Dwina ke pelukannya sambil mengelus pelan punggung gemetar istrinya.

“Udah aku maafin. Sekarang lupain sama kejadian tadi”

“Emang gampang lupain kamu yang ngomelin aku terus padahal aku nggak salah apa-apa”

Ya seperti itulah yang dirasakan Arya saat Dwina dengan mudahnya mengatakan untuk melupakan masalah alergi dingin dan tentang kancing baju yang tak sengaja terbuka, ketika pertama kalinya Dwina di ajak ke kediaman orang tuanya di Bandung.

“Kalau nggak bisa, pura-pura aja lupa”

Dwina berdecak sebal, melepaskan pelukan Arya kemudian memunggunginya. Sengaja sekali Arya membalas dendam dan memutar balikan ucapannya yang dulu. Tangisannya sekarang makin parah dengan cepat Dwina bersembunyi kembali kebalik selimut untuk meredam suaranya.

“Nangisnya udahan dong, nanti kamu bisa sakit” Arya memeluk Dwina dari belakang, mengusap lembut perut rata perempuan itu. Ada bayi mereka di dalam sana.

Malam makin gelap. Mereka berdua terlelap tanpa berpindah posisi. Sampai subuh tiba, seperti biasa Dwina akan terbangun lebih dulu. Mengingat Bandung tetap terasa amat dingin di pagi hari. Dwina langsung berjingkat kembali ke dalam selimut untuk melawan dingin selepas berwudhu.

Arya merasakan gerakan kasur yang kasar jadi ikut terbangun, matanya menatap Dwina sedang kedinginan. Saat mau menyentuhnya Dwina langsung berkata “jangan sentuh aku.”

Hantaman terlalu besar di pagi buta, membuat Arya mengernyit dalam. Masih semarah itukah Dwina padanya sampai tidak boleh menyentuhnya bahkan dia merebah diri jauh dari sisinya

“Aku udah wudhu nanti batal, aku nggak mau wudhu lagi. Dingin” Arya seketika mengehela napas berat. Dikira Dwina balas dendam tentang semalam.

Well, Dwina meyakini kalau bersentuhan dengan suami dapat membatalkan wudhunya, tapi dia akan menghargai pendapat orang lain. Karena yang dinilai adalah ketulusan seseorang menaati ibadah.

Gigi Dwina bergemelutuk cukup kencang. Ingin sekali Arya menarik perempuan itu sekarang juga ke dalam dekapannya agar hangat, tapi dia lebih tidak ingin membuat Dwina dua kali menyentuh air dingin.

Mestinya dia memasang water heater seperti di kamar mandi milik orang tuanya. Semasa sebelum menikah air dingin memang sangat di perlukan untuknya agar melunturkan libidonya yang sering tak terkendali. Namun, sekarangkan dia bisa melampiaskan dengan yang halal.

Perlahan tanpa menyentuh Dwina. Arya menumpukkan semua selimut untuk menutupi tububh Dwina supaya lebih hangat.

“Aku ambil wudhu dulu. Nanti kita sholat jamaah”

Sebelum Dwina memakai mukena dia melapisi tubuhnya terlebih dahulu dengan jaket tebal miliknya. Arya kembali dengan tampil segar dengan bekas-bekas air wudhu yang masih tersisa.

Terpanah sama suami sendiri nggak masalah kan? di pandangin sepuas hati juga nggak dosa. Apalagi mau diapa-apain juga nggak ada yang ngelarang malah dibolehin banget.

“Nanti ya.. kita sholat dulu. Jangan coba mancing aku” seru Arya memperingati Dwina yang sudah minta ingin diterkam.

Dwina tertawa pelan melihat tampang Arya berusaha mengeluarkan pengendalian diri level atas.

Mereka menunaikan sholat dengan hikmat. Semenjak bertekat melamar Dwina, sedikit demi sedikit Arya menempuh jalan yang benar. Memperbaiki bacaan sholatnya walaupun masih sering menggunakan surat pendek. Dan Dwina menghargai setiap usahanya untuk membimbing perempuan itu menempuh rumah tangga yang sakinah.

Setiap sholat diakhiri dengan dzikir dan doa. Dwina mencium punggung tangan suaminya segai tanda menghormati dan baktinya.

Perlahan Arya membuka mukena Dwina, wajahnya menangkup wajah istrinya yang kini sudah merah padam hingga ke telinga. “Cantik..”

Dwina seketika memejamkan matanya untuk memutuskan kontak mata diantara mereka. Siapa yang tidak senang di puji dan di manja setiap hari dan semakin hari dirinya dianggap wanita paling spesial.

“Kamu ingat nggak? puisi yang dulu pernah aku bacain di depan keluarga kamu gara-gara Kak Bayu mendesak aku”

“Iya”

“Sebenarnya itu buat kamu”

Hah?

Alam bawa sadar Arya terkejut. Kurang meyangka saja Dwina memberikan sebuah puisi khusus untuknya.

“Aku merasa ber-energi menulis puisi waktu denger kisah keteguhan kamu mempertahankan Putri”

Dwina bedehem pelan sambil tersenyum untuk membacakan puisi itu lagi. Mungkin saat pertama kali Arya mendengar puisi itu, dia tidak paham maknanya.

   

“Bilamana, menatap sepasangan manik mata yang rupawan

Tak kusangka benar indah kata orang

Kutepis magnet hati yang liar

Bilamana takdirmu datang padaku 

Sayangnya kau acuhkan aku, menjadi pecundang di kawanan orang banyak

Bilamana suara hati terdengar oleh semua orang

Ketulusan hati akan menjadi pemenang

Tak ada yang berani mengelak

Sayangnya, itu hanya impian

Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan 

Bukan apa yang kita inginkan

Lagi pula jodoh akan datang saat kita membutuhkan bantuan

Toh Takdir Milik Tuhan

Bilamana hanyalah sebuah andaian kata

Tenang pemilik hati 

RENCANA TUHAN ITU LUAR BIASA”

Arya menatap sendu ke arah Dwina. Diam-diam ada orang asing yang selama ini menghargai perasaannya.

“Memang rencana Tuhan itu luar biasa” seru Arya sambil menarik Dwina keatas pangkuannya lalu mencium kening perempuan itu begitu menghayati. Allah menakdirkan untuk berpisah dari Putri karena ada seseorang yang lebih pantas untuk mendampingi hidupnya.

“Makin cinta aku sama kamu” dengan gemasnya Arya menciumi seluruh wajah Dwina sampai perempuan gelagalapan ingin lepas dari serbuan darinya.

‘Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan 

Bukan apa yang kita inginkan’ 

Sekarang mereka saling membagi kehangatan satu sama lain dan tanpa malu lagi menahan setiap hasrat. Mereka semakin larut dalam setiap momen kebersamaan. Benar bukan? Apa yang kita inginkan belum tentu kita butuhkan.

Yang di butuhkan oleh Arya adalah Dwina disisinya.

6 Komentar

  1. KhairaAlfia menulis:

    Sweet banget,,
    OMG!! Dwina hamil???
    aduh jangan sampai kenapa-napalah Dwina sama calon dedek bayinya,,

  2. Kasiaan dwina kehamilan pertamanya uda ada masalah rhesus :PATAHHATI , mudah2an dwina dan baby kedepannya ga papa
    Seberat apapun masalah klo dihadapin bersama akan terasa ringan

  3. Waduhhh resus, bahaya itu, terutama buat bayi nya

  4. fitriartemisia menulis:

    tetep kuat yaaaa Arya dan Dwina :KISSYOU

  5. Nyes nyeeeesss???

  6. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan