tmp-cam-884567514
Vitamins Blog

Lenting Sedaya Part 2 : Nama yang Mengusik

Bookmark

No account yet? Register

336 votes, average: 1,00 out of 1 (336 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

***

“Kamu jangan nakal. Ayah akan tetap mengawasi kamu walaupun ayah tidak sedang dirumah.”

Witri, mbok Nah, dan pak Minu mengantar ayah Witri ke depan rumah untuk berangkat ke Bandung pagi ini.

“Ayah cepatlah pulang. Jangan terlalu lama di Bandung.” Witri memandang lembut ayahnya.

Lengan ayah Witri membawa Witri ke dalam pelukannya. Mengusap lembut rambut Witri. Baginya Witri adalah segalanya, pusat perhatiannya, akan selalu berat meninggalkan Witri barang sebentar. Witri Delista Dirga, putri semata wayangnya ini tetap akan menjadi putri kecil cantiknya yang selalu ingin Ia timang.

“Ayah hanya 3 hari di Bandung. Tidak telalu lama kan?” Ayah Witri menjentik ujung hidung Witri.

Padahal kalau bisa Witri meminta ayahnya untuk kembali sore atau malam nanti. Mengingat jarak Jakarta-Bandung yang tidak terlalu jauh. Tapi Ia tidak boleh egois. Witri juga tidak ingin ayahnya berusaha selalu ada disisinya. Ia sudah dewasa dan bisa menjaga dirinya sendiri.

“Ah ya, mbok Nah. Tolong pastikan Witri tidak telat makan. Dan saya membolehkan mbok menjewernya kalau sampai Ia malas bangun.”

Perkataan ayah Witri sukses membuat tertawa mbok Nah dan yang lain.

“Ayah..kenapa berpesan seperti itu..” Kontan saja Witri merungut.

Ayah Witri menyipitkan mata, terlihat seperti akan marah. Witri buru-buru tersadar akan rungutannya tadi, sikap yang kurang ayah Witri sukai darinya.

“Emm..maaf yah.” Kepala Witri menunduk.

Tapi kemudian Witri mendengar ayahnya tertawa kecil. Dan Ia tau ayahnya memaklumi sikapnya barusan, membuat Witri tersenyum memandang ayahnya.

“Dan pak Min, laporkan semua kegiatan Witri selain di kampusnya.”

“Baik tuan.” Ucap Pak min sedikit membungkuk saat menjawab ayah Witri.

Pak Minu merupakan supir yang bertugas mengantar kemanapun Witri pergi melakukan kegiatannya. Biasanya pak Min akan diminta ayah Witri untuk melaporkan, jika Ia mengantar Witri selain ke kampusnya.

“Baiklah, ayah akan berangkat sekarang.” Ayah Witri memeluk Witri kembali dan memberi ciuman singkat dikening anaknya.

“Ya ayah. Ayah hati-hatilah.” Ucap Witri disertai senyum cantiknya.

Witri melambaikan tangannya ketika mobil ayahnya yang disupiri mang Diman, yang merupakan supir pribadi ayah witri, keluar melewati pagar rumahnya.

“Hati-hati ayah.” Ucap Witri lagi.

“Non, hari ini non bawa bekal ke kampus? Mbok siapkan ya.” Suara mbok Nah mengalihkan pandangan Witri setelah beberapa saat memandangi mobil yang membawa ayahnya, sampai benar-benar tak terlihat.

“Ah ya, mbok. Hari ini mbok tidak usah membuat bekal untuk Witri. Witri sudah janji pada teman-teman akan makan siang bersama nanti.” Witri menjawab ucapan mbok nah dengan cepat, sebelum mbok Nah berbalik hendak masuk ke dalam rumah.

Ya. Ditingkat pendidikannya yang sudah mencapai bangku perkuliahan, Witri memang masih dibiasakan membawa bekal dari rumah.

“Aa sudah kalau begitu. Tapi mbok pesan non jangan makan sembarangan ya.” Ucap mbok Nah lagi.

Hmm. Witri sudah sangat terbiasa dengan sikap seperti ini dari semua orang-orang yang memang dekat dengannya. Tapi Witri selalu berfikir positif bahwa sikap ayah, mbok Nah, pak Min, dan mang Diman selama ini adalah karena mereka menyayangi serta menjaga Witri.

“Oh iya pak Min. Witri akan ke kampus jam 10 nanti. Sekarang Witri akan bersiap dulu.”

“Baik non. Bapak akan siapkan mobilnya.”

Lelaki berberawakan kecil itu membungkuk, dan segera beranjak melakukan tugasnya menyiapkan mobil untuk mengantar witri ke kampusnya. Di usianya yang sudah memasuki setengah abad, pak Min masih sangat sehat dan cekatan dalam melakukan tugas-tugasnya.

Selesai Witri memberikan intruksi pada mbok Nah dan pak Min tadi, Witri juga beranjak ke dalam ruamh untuk bersiap.

Ketika langkahnya akan memasuki ruang depan, Witri menoleh pada kolam ikan. Kali ini Ia teringat kata-kata mbok Nah kemarin, ikan yang terluka itu sudah tidak ada. Mang Diman membawanya ke penakaran ikan hias agar ikan itu dapat dirawat. Dari mang Diman juga, mbok Nah tau bahwa ayah Witri lah yang memberikan perintah itu.

Jadi..sebenarnya ayah tau soal ikan itu? Dan ayah sama sekali tak membahasnya? Ah, mungkin ayah punya suatu alasan untuk tidak membahasnya. Mungkin ayah tidak ingin menggoreskan rasa sesak setiap kali Witri menghadapi pembahasan seperti itu. Mungkin juga karena kali ini hanya seekor ikan? Pikiran-pikiran itulah yang kemarin berkecamuk di benak Witri ketika mendengar apa yang mbok Nah sampaikan padanya.

***

Inilah tempat Witri mengenyam pendidikannya sekarang, tempat dimana Ia memperdalam tentang ilmu seni lukis. Bagi Witri, melukis adalah media untuk mencurahkan segala bentuk emosi dari hatinya, menorehkan bentuk emosi menjadi sebuah terjemahan karya lukis yang terlihat bernyawa.

“Witri!”

Sebuah suara dari kejauhan menyambut Witri, yang baru saja turun dari mobilnya yang dihentikan pak Min didepan kampus.

Sudah pasti itu Genta, sahabat Witri sejak tahun pertama kuliahnya. Jangan berpikir Genta adalah seorang pria bertubuh kekar dengan suara berat khas pria macho. Genta yang ini adalah seorang wanita bertubuh mungil, dengan suara yang benar-benar melengking.

“Hai Genta.” Sapa Witri ketika Ia sampai di teras gedung tempat Genta tadi memanggilnya.

“Bagaimana akhir pekanmu? Apa sang pangeran tampan sudah datang melamar?” sapa Genta sambil mengerling jahil.

Witri hanya bisa geleng-geleng kepala jika sahabatnya itu sudah mengeluarkan candaannya yang sangat super seperti tadi. Entah kenapa Genta selalu memaparkan bahwa Witri akan menemukan seorang pangeran, yang akan mencintainya dengan sepenuh hati. Seperti Genta seorang peramal saja. Memang, wajah Witri yang cantik dengan mata lembutnya yang dalam, bulu mata lentik, hidung mancung, bibir mungil, kulit putih, tubuh semampai, serta dibalut dengan sifatnya yang lembut dan anggun, membuat Genta menyebut Witri bagaikan seorang Putri. Dan seorang putri harus berpasangan dengan sang pangeran, bukan?

Mereka terus berjalan ke kelas. Pagi ini adalah kelas teori mereka.

“Bunda Rena mana nih kok belum muncul juga. Dicekik bu Arzeti baru tau rasa tuh anak kalau sampai telat.” Suara Genta lebih seperti celotehan ibu-ibu di arisan.

Bunda adalah julukan Genta untuk Rena sahabat mereka. Rena memang dikenal memiliki sifat yang bijak dan pembawaan tenang. Berbeda dengan Genta yang sangat hiperaktif.

“Genta..pelankan suara kamu..Kita berada di kelas.” Witri setengah berbisik.

Genta hanya mengangkat bahu.

Beberapa saat kemudian Rena masuk kelas dengan terburu-buru.

“Halo Witri, Genta.” Sapa Rena sambil tersenyum.

“Halo Rena.” Witri membalas senyum Rena yang mengambil duduk di sebelahnya.

“Hei bun..” Genta pura-pura memasang suara dan wajah malas.

“Wit, kenapa tuh baby Genta. Kok gak semangat gitu.” Wajah Rena berubah menjadi serius.

Witri hanya tersenyum dan mengangkat bahu. Tau kalau Genta hanya berpura-pura.

Rena sendiri memanggil Genta dengan sebutan baby Genta. Bukan agar serasi dengan panggilan bunda yang diberikan Genta padanya, tapi lebih karena wajah imut dan tubuh mungil plus sifat Genta yang manja.

“Pagi.” Suara bu Arzeti seketika membuat kelas menjadi tenang.

Bu Arzeti memasuki kelas. Dosen cantik berusia 30 tahunan yang terkenal tegas, dan cenderung kejam pada mahasiswa yang tidak taat peraturan. Terlebih peraturan independen yang dibuatnya.

Tapi bagi Witri, Rena, dan Genta, bu Arzeti adalah dosen paforit mereka, dosen yang terbilang muda, tapi sangat berkompeten pada bidang ilmunya.

***

Kelas teori selesai setelah hampir 2 jam kebersamaan mereka dengan bu Arzeti.

Witri, Rena, dan Genta berjalan ke depan gedung.

“Eh jadi kan, kita makan ditempat biasa?” Genta bergerak-gerak semangat.

“Iya iya baby..kita akan makan disana.” Jawab Rena sabar.

“Yess..” Genta bertepuk tangan riang.

Witri tersenyum melihat tingkah kedua sahabatnya.

“Oke kalau begitu aku ambil mobil di parkiran dulu ya.” Rena hendak berbalik ke arah parkiran.

“Ah. Bisakah kita diantar pak Min saja?” Witri cepat-cepat menahan lengan Rena.

Rena dan Genta menoleh ke arah Witri, melihat Witri yang memasang wajah berharap, barulah mereka teringat.

Siapapun selain pak Min harus memiliki SIM W (Surat Ijin Membawa Witri) dari ayahnya, jika ingin mengajak Witri.

“Hmm..baiklah..” jawab Rena dan Genta serentak, seperti anggota paduan suara.

Kali ini Witri tertawa melihat kedua sahabatnya itu.

“Kalau begitu Kita tunggu pak Min sebentar ya.” Witri menghubungi pak Min yang masih di parkiran.

Mereka buru-buru masuk ke mobil, saat pak Min sudah tiba di depan gedung kampus.

“Duh jakarta panas banget sih hari ini.” Keluh Genta dengan suara lengking ditambah manyunan bibirnya.

“Benar. Dan akan bertambah panas jika kamu terus mengomel. Nih..panas kuping maksudnya.” Rena menunjuk telinganya.

Rena dan Witri tertawa. Pak Min juga terlihat tertawa. Pak Min sudah sangat mengenal sahabat-sahabat Witri itu. begitu juga sebaliknya.

“Ya ya ya, teruslah tertawa. Asal kalian senang.” Genta masihmemanyunkan bibirnya.

“Unyu unyu unyu..baby kita merajuk..” Rena mencubit gemas kedua pipi Genta.

“Bunda! Sakit tau!” Genta mencoba melepaskan tangan Rena dari pipinya.

“Sudah sudah..kalian ini.” Witri menengahi tapi juga tertawa.

Kedua sahabatnya ini selalu bisa membuat Witri tertawa, dan Rena yang pada dasarnya memiliki sifat santai dan tidak banyak bicarapun, akan melupakan semua itu jika sudah berhubungan dengan Genta.

***

Dan di sinilah, di kafe kesukaan mereka, atau lebih tepatnya kafe kesukaan Genta. Sebuah kafe yang menyajikan menu serba cokelat, dengan interior kafe yang sangat nyaman pula, bahkan sebagian besar pajangan perabotnya terlihat benar-benar seperti terbuat dari cokelat.

“Hmm..gak sabar nih pengen nyantap hidangan cokelat kesukaan aku.” Genta membuat suara kecapan-kecapan lidah.

“Yee dasar penggemar cokelat tingkat kronis. Awas aja tuh kotak tisu kamu santap juga.” Rena mengedikkan dagunya menunjuk kotak tisu di atas meja, yang sangat mirip batangan cokelat.

Genta mengangkat kotak tisu itu dan membuka mulut, seolah akan menggigitnya.

“Genta..” Witri langsung menahan tangan genta.

“Biarin aja wit. Biar dia keselek tuh kotak tisu sekalian!” Rena memasang wajah serius, tapi juga terlihat menahan senyum.

“Ren..” Witri menggelengkan kepala menginterupsi kata-kata rena.

“Tau ni si bunda, doain banget temennya keselek. Asal tau aja ya, makan cokelat tuh bisa buat hati kita selalu senang, riang, bahagia, dan yang paling penting, membuat wajah terlihat cerah sumringah tau..! seperti ini.” Genta menjelaskan panjang lebar, lalu memegang kedua pipinya sambil membuat senyum sesumringah mungkin.

Witri dan rena tertawa melihat aksi Genta itu.

“Uda uda. Lebih baik sekarang kita pesan makanannya. Laper ni.” Witri menimpali sebelum perdebatan kedua temannya berlanjut.

Genta membuka kembali percakapan, setelah pelayan membawa catatan pesanan mereka.

“Eh, kalian pada tau gak, gosip tentang si ratu kampus.”

“Maksud kamu angel? Ada apa lagi dengan anak itu?” sedikit keingintahuan, terlihat di wajah Rena.

Untuk witri sendiri, sosok yang disebut genta tadi itu, merupakan orang yang sangat ia kenal. Sepupu jauhnya yang selalu memandang Witri dengan tatapan kebencian dan merendahkan. Batin Witri sedikit tergelitik saat mendengar Genta menyebut nama itu barusan, yang Ia yakin memang Angel sepupunya itu yang Genta maksud tadi. Sepupunya yang sangat terkenal seantero kampus, sehingga banyak yang menjulukinya ‘si ratu kampus’.

“Kabar yang beredar nih ya, si ratu kampus yang sok cantik itu, gembar-gembor kalau cowoknya yang super ganteng bakal balik dari Australi.”

“Loh, bukannya..Angel masih pacaran sama Ardi?” Witri terheran mendengar informasi dari Genta.

Sepupunya itu memang terkenal suka gonta-ganti pacar.

“Mereka baru aja putus Wit..seminggu yang lalu.” Rena berucap dengan malas. Membahas apapun tentang Angel memang kurang menarik minatnya.

“Iya, dan gak mungkin banget kan, baru sebentar dia putus trus sekarang ngaku-ngaku punya pacar super ganteng yang tinggal di Australi pula. Yakin deh itu Cuma akal-akalannya aja nyebar berita heboh yang boong banget. Biar naikin pamornya yang sok terkenal itu.”

“Sabar baby, sabar..” rena menepuk nepuk punggung genta.

“Memangnya siapa sih cowok itu.” Rena sedikit penasaran dengan sosok pria yang kali ini dikleim Angel sebagai pacar super gantengnya.

“Yang aku denger sih namanya,,,ro..ro..Giaro..” Genta terbata mengingat nama pria itu.

“Gi..a..ro..” Witri mengeja nama itu dengan sura yang sama sekali tak terdengar.

Ada sesuatu yang bergerak di benaknya ketika nama itu disebut. Tapi apa?

Terdengar hp witri berbunyi saat Ia masih berusaha mencoba megingat-ngingat tentang nama yang membuat benaknya menggeliat itu.

“Ya ayah.” Segera witri menjawab setelah ia mengangkat teleponnya.

Mendengar jawaban Witri barusan, membuat Rena dan Genta tau bahwa ayah Witri lah yang meneleponnya, dan mereka sepertinya tau pasti apa yang akan ayah Witri katakan.

Rena dan genta masih membicarakan Angel, ketika Witri terdengar masih menjawab ayahnya di seberang sana.

“Iya yah.”

“….”

“Tidak.”

“….”

“Tidak ayah..”

“….”

“Ya ayah, ayah hati-hati dan cepatlah pulang.” Senyum Witri mengembang, membayangkan ayah yang sangat dikasihinya ini.

Pandangan Witri beralih pada kedua sahabatnya yang mengamatinya setelah ia selesai menelepon.

“Apakah ayahmu barusan bilang kalau kami tidak boleh menculikmu?” tanya Rena yang dijawab senyuman oleh Witri, yang berarti membenarkan pertanyaannya.

Pak min pasti sudah melapor pada ayah Witri, kalau mereka mengajak witri keluar dari kampus.

Rena dan Genta sudah hafal, kalau ayah Witri adalah seorang ayah yang tegas, sekaligus sangat menyayangi putri semata wayangnya ini. Walaupun mereka juga sering menyebut ayah Witri sebagai om gagah dan ganteng, dikarenakan postur tubuh ayah Witri yang tinggi, tegap, ditambah wajahnya yang tampan, yang sama sekali tidak terlihat seperti pria yang sudah berusia kepala empat.

“Wah, pesanan kita datang!” Genta membenahi duduknya yang tadi bersandar, kini menjadi tegak bersemangat.

Karena mereka bertiga sudah sama-sama lapar, hidangan yang disiapkan di meja mereka oleh pelayan, langsung saja mereka santap. Mengenyahkan pembicaraan tentang Angel, dan melupakan sejenak sebuah nama yang tadi sempat mengusik benak Witri.

***

9 Komentar

  1. Mungkin kah giaro itu teman masa kecil nya witri ??? Hmm penasaran

    1. hmm. bs jd bs jd..
      🙂

  2. :NGEBETT :inlovebabe

  3. Sempet mikir klo genta itu cowo eh ternyata cewe…. itu bokapnya witri tipe hot Daddy gitu ya…Hahaaaa

  4. KhairaAlfia menulis:

    Ayahnya Witri overprotektif ya,,

  5. Kirain genta itu cowok, wkwkwk

  6. fitriartemisia menulis:

    genta itu cewek ya hahhaha

  7. Wahhhh

  8. Ditunggu kelanjutannya

Tinggalkan Balasan