Udara malam itu terlalu pekat, seolah-olah kabut yang meluap dari dasar rawa sengaja merayap naik untuk menyembunyikan sesuatu. Di bawah naungan pepohonan oak tua yang jangkung, kegelapan terasa mutlak. Hanya ada suara jangkrik yang bersahut-sahut, diselingi derit halus ranting kering yang patah akibat langkah kaki yang terburu-buru.
Napasnya memburu, pendek-pendek dan terasa panas di tenggorokan.
Gadis berusia lima belas tahun itu terus berlari tanpa berani menoleh ke belakang. Gaun putihnya yang sederhana sudah koyak di bagian keliman, berlumur lumpur hitam yang lengket dan berbau anyir. Jantungnya berdentum begitu keras di dalam rongga dada, menciptakan rasa sakit yang menusuk hingga ke hulu hati. Dia ketakutan. Seluruh indranya lumpuh oleh kengerian yang baru saja dia saksikan di bawah remang cahaya bulan yang pucat.
Langkah kakinya mendadak terkunci.
Beberapa meter di hadapannya, di antara jalinan akar pohon yang menyerupai jemari monster, sesosok tubuh tergeletak diam. Cahaya malam yang minim memantulkan visual yang mengerikan: cairan kental yang gelap perlahan merembes, menodai permukaan tanah, meluas dengan cepat membelah kesunyian rawa.
Seseorang telah mati di sana.
Logikanya menjerit agar dia segera berbalik dan menyelamatkan diri, namun tubuhnya terasa membeku, terpaku oleh syok yang masif. Di dalam kepalanya yang pening, sepotong demi sepotong visual malam itu mendadak mengabur, berputar cepat seperti pusaran air, menyisakan kekosongan yang menyakitkan.
Tepat pada detik itu, sebuah bayangan tinggi melangkah keluar dari kegelapan kabut, mendekati tempat kejadian dengan senyap. Suara langkahnya begitu berat di atas tanah yang basah. Bayangan itu berlutut di samping tubuh yang terbujur kaku, lalu sebuah bisikan parau yang sarat akan keputusasaan terdengar memecah keheningan malam.
“Maafkan aku… maafkan aku…”
Suara itu bergetar, begitu lirih namun bergema tajam di dalam ingatan si gadis. Dia ingin berteriak, namun suaranya tercekat di kerongkongan.
Sebelum matanya mampu merekam dengan jelas siapa pemilik suara itu atau wajah sosok yang berdiri di atas genangan darah tersebut, kesadarannya runtuh sepenuhnya. Dunianya menjadi gelap gulita, menyegel mati seluruh ingatan, alasan, dan kebenaran tentang siapa yang malam itu bertindak sebagai pemburu, dan siapa yang berakhir menjadi mangsa di tengah keheningan rawa Blackwood.

