Project Sairaakira-
Vitamins Blog

Bertemu Sosok Misterius part: 2 Bagaimana Rasanya Dibawa Terbang Bersama?

9
Views:1,781
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Sang wanita duduk di sofa dengan menyilangkan kakinya, Kacamata bertengger di pangkal hidungnya, layar gadget tergenggam dipangkuan dan secangkir kopi tersaji di depannya, di atas meja kaca dengan piring mungil yang menjadi alasnya.

Jendela tirainya dibuka setengahnya, menampakkan kaca berembun karna hujan sedang bahagia menjatuhkan dengan semangat membasahi bumi.

Sang wanita tenggelam dengan apa yang dibacanya, seolah kehilangan ruang dan waktu. Hingga kopi panas yang tersaji, terabaikan menyedihkan.

Sang wanita mengerjapkan mata, menarik nafas dalam sambil melepaskan kacamatanya, lalu meletakan di kotak kacamatanya yang berwarna hijau. Dia kemudian memijat pangkal hidungnya. Cerita yang mengerikan. Aku tak sanggup melanjutkan. Ini terlalu mengerikan untuk dibaca. Ungkapnyadalam hati, memberi Komentarnya.

Ya, bagaimana Sang wanita tidak shock dibuatnya Jika cerita itu berkisah memori kelam dari remaja polos berusia lima belas tahun yang sudah mengalami manipulasi emosi?

Sepanjang membaca, kepala Sang Wanita mendadak pening, perutnya mual dan keningnya berkerut dalam saat matanya dipaksa untuk terus membaca adegan demi adegan yang sangat menyakitkan bagi kaum perempuan.

Dimanipulasi, diperas, dimanfaatkan, pemerkosaan dan penganiayaan. Seolah itu belum cukup memuaskan Si iblis,  Sang gadis tetap mendapatkan perlakuan yang sangat tidak manusiawi! Dimana wajah itu dilud__

Ah, cukup! Itu benar-benar memualkan!
Sang wanita melempar gadget-nya. Lalu mengusap wajahnya. Gila! Benar benar gila!

Sang wanita mencondongkan tubuhnya, lalu menyambar cangkir yang ada di depannya. Keningnya berkerut kemudian. Kopinyadingin? Dia melirikan matanya kearah gadget yang terbengkalai di sampingnya. Seberkas senyum kecut muncul di bibirnya.

Fenomena fomo ini sungguh menyedihkan. Sudah tahu phobia kekerasan, kenapa kekeh membacanya? Kau lihat? Gara-gara aku terlalu penasaran, aku mendapat motivasi ‘larangan adalah perintah’. Dan imbasnya… kepalaku pusing, kopiku dingin.

Sang wanita menyandarkan punggungnya di sofa, niat untuk melanjutkan kisah yang baru dibaca setengah itu, meyublin musnah entah kemana. Cukup. Dia, lalu memejamkan mata menenangkan jantung yang berdegup kencang.

Mata itu terbuka, tanpa sengaja tatapan matanya menjatuhkan pada buku novel yang tergeletak tak jauh dari gadget yang terbengkalai itu. Seberkas senyuman muncul di bibirnya yang seksi. Dengan malas namun pasti, dia mengulurkan tangannya lalu mengambil buku tersebut.

Novel dengan sampul warna hitam kombinasi hijau bergambar rumah tua reyot, berpagar tinggi di tengah hutan pinus lebat. Jika dilihat sekilas pandang, memang terlihat seperti novel horor, seakan dalam rumah itu terdapat nenek sihir tengah meracik ramuan hijau beracun untuk membunuh Sang Cinderella.

Membaca cerita ini sepertinya lebih baik.
Sang wanita membelai buku tersebut, lalu membuka sampulnya kemudian mencari bookmark yang sebelumnya dia simpan ditengah halaman. Ah, ketemu. Ini dia. Kemudian tanpa menunggu lama, Sang wanita kembali fokus, tenggelam dalam imajinasi yang dibacanya.

Siapa sangka baru lima belas menit berlalu, Sang Wanita sudah menguap sembari menutup bukunya.  Ngantuk sekali. Dia kemudian bangkit dari duduknya dengan membawa buku, gadget dan kacamata di tangan kirinya, dan tangan kanannya membawa secangkir kopi dingin sembari meminumnya sambil berjalan menuju kamarnya. Rasanya masih enak. Tidak masalah kopi ini dingin. Ucapnya sambil lalu sambil mengangkat kedua bahunya.

Sesampainya di kamar, Sang wanita meletakkan buku yang barusan dibacanya itu, lalu meletakan dibarisan koleksi novel favoritnya di rak buku mungil yang ada disudut kamarnya. Kemudian Sang wanita menaruh cangkir yang kini berisi ampas kopi itu di nakas samping ranjangnya. Setelahnya dia menggeliat merentangkan kedua tangannya ke udara, melemaskan ototnya setelah hampir dua jam duduk marathon. Lelah sekali.

****

Malam itu indah, langit malam terlihat cerah berbintang, bulan purnama bersinar terang memancarkan cahaya keperakan yang mampu menembus awan malam menghampar di sekelilingnya.

Sang bulan terlihat bak raja yang menguasai langit. Bulat sempurna di singgasana, dikelilingi oleh awan dan bintang yang setia melindunginya seperti segerombolan prajurit yang loyal pada tuannya.

Sang wanita berdiri di atas batu besar lonjong yang ada puncak bukit hutan pinus tanpa alasan kaki. Dia memandang takjub penuh keterpesonaan akan pemandangan yang menghampar di atasnya.

Angin malam yang bertiup kencang mengakibatkan gaun tipis warna hitam yang dikenakannya tampak berkibar sempurna. Menampakkan garis lekuk tubuh dan kakinya yang jenjang. Pun, rambut panjangnya tampak berkibar indah laksana riakan ombak di lautan.

Sang wanita tidak menyadari ada pemandangan horor di bawahnya yang sangat kontras dengan suasana di atas. Jika di atas beratmosfer hangat penuh kehidupan, di bawahnya justru sebaliknya, menakutkan dan mencekam. Dua kata yang mewakili suasana di bawah sana.

Sebuah jurang yang dalam, kelabu, hening dan mencekam terpampang di bawahnya. Jurang itu lerengnya penuhi pohon pinus. Sangking heningnya, angin pun sepertinya tidak mempunyai kekuatan untuk menerobos barisan pohon pinus yang tertutup rapat itu.

Di dasar jurang, batu batu besar menghampar berserakan, membuktikan akan menjadi alas paling menyakitkan jika ada manusia gila ingin terjun bebas dari ketinggian. Kabut tebal menjadi selimut, seolah menjadikan pelindung dari Iblis yang bersembunyi di bawahnya, menjadi pemisah antara dunia bawah dan dunia atas.

Sang wanita masih menatap penuh  takjub pada langit yang menghampar di atasnya. Lalu kupu-kupu hitam menghampirinya dan mendaratkan di pundaknya yang terbuka.

Sang wanita menoleh kearah sentuhan yang ringan tapi menggelitik itu. Senyuman muncul. Ide untuk menangkap kupu-kupu tumbuh subur dari hatinya.

Dengan pelan penuh tekat, Sang wanita memutar tubuhnya, jari jari tangan kanannya siap menjepit Sang kupu-kupu yang bertengger dipundak kirinya. Namun, apa yang terjadi? Saat jari sang wanita dan kupu-kupu hampir bersentuhan, kaki Sang wanita tergelincir.

Ah! Tidakkk! Tolong!
Tubuh Sang wanita oleng kedepan, terjun bebas kearah jurang. Sedetik Sang wanita tertarik gravitasi, sebuah tangan besar dan kokoh mencengkram kuat pergelangan tangannya.

Sang wanita panik. Seketika mengibaskan rambutnya dan mendongak ke atas hanya untuk melihat sosok yang tidak dikenalinya tengah memandang dalam ekspresi dingin.  “To… tolong, jangan… jangan lepasan aku. Kumohon.” ucapnya dengan nada gemetaran.

Tidak ada tanggapan, hanya tatapan dingin yang menusuk dari  sosok Sang pencengkram.

Sang wanita histeris dilanda kepanikan, kakinya yang tergantung diketinggian dia gerak-gerakan dengan kasar. Seolah dengan gerakan itu bisa mencapai daratan.

Sosok itu tetap menatapnya dalam balutan wajah dingin, tak ada emosi yang tercipta, saat wanita di bawahnya itu mulai frustasi.

Sang wanita kini beralih menatap kebawah, hanya untuk melihat pemandangan mengerikan! Matanya melebar penuh teror. Jurang! 

Dengan wajah panik, Sang wanita kembali mendongak menatap sosok yang masih mencengkram pergelangan tangannya itu. Dengan wajah ketakutan dan mata basah, Sang wanita berucap memohon. “Tolong aku, tolong selamatkan aku.”

Lagi-lagi sosok itu tidak menanggapinya.

Batin Sang wanita putus asa, dia memejamkan mata melepaskan pertautan tangannya dan pasrah saat tubuhnya tertarik gravitasi bumi yang begitu dahsyat menariknya kebawah.

Anehnya saat tubuh Sang Wanita akan terjun bebas mencapai kedalaman jurang, tubuhnya mendadak melayang. Sungguh, fenomena yang sangat berlawanan dengan hukum gravitasi! Ilmu fisika, terpatahkan sepenuhnya.

Gerakan itu terlihat begitu lambat, seolah ada seseorang yang mengaktifkan mode slowmotion. Sehingga fenomena terjun dari jurang memakan waktu yang cukup lama.

Sampai akhirnya saat tubuh Sang wanita hampir menyentuh dasar jurang,  tubuhnya seketika diraup oleh sosok bertudung  yang mempunyai kemampuan terbang secepat kilat.

Tubuh Sang wanita lunglai di pelukannya, matanya terpejam, rambut panjangnya berantakan ke segala arah karna hempasan angin yang luar biasa kuat saat tubuhnya dibawa terbang melesat naik dengan kekuatan petir.

Kini, sosok itu berhasil mencapai puncak bukit dengan membopong mahluk yang lunglai di dadanya. Sosok misterius itu lalu berjalan ke tempat di mana Sang wanita berdiri sebelumnya. Kemudian  direbahkan tubuh Sang wanita di atas batu lonjong dengan hati-hati.

Hening

Tidak terjadi apapun. Hanya pemandangan saling menatap tanpa balasan. Sang wanita terpejam pasrah tanpa pertahanan. Sedangkan sosok bertudung, menunduk dengan pandangan intens memantau.

Sosok bertudung tiba-tiba mengulurkan tangan, jemarinya yang kokoh merapikan rambut Sang wanita yang berantakan di sisi kanan wajahnya. Seberkas senyum tipis muncul diwajahnya yang kaku.

“Kita bertemu lagi. Aku tidak menyukai pertemuan kali ini. Dalam keadaan seperti ini kau tidak bisa menatapku dengan ekspresi takutmu itu.”

Sosok bertudung lalu mengalihkan pandangannya, dari wajah Sang wanita  ke jurang yang menganga di depannya. “Ini terlalu mengerikan untukmu. Aku akan mengantarkan kau pulang. Tempat ini terlalu bahaya. Aku berharap kita bisa bertemu lagi di suasana yang lebih indah.”

Setelahnya, dia kembali menatap kearah Sang wanita yang masih terkulai tak berdaya. sosok itu berdiri, lalu membungkuk kemudian meraup tubuh Sang wanita dan membawanya terbang.

Dengan kekuatan supranatural yang dimilikinya, sosok itu kini sudah melesat terbang ke langit, menerobos kumpulan awan. Menuju sang bulan yang masih bersinar angkuh di atas sana.

Mereka terbang secepat kilat, hingga menampakkan pemandangan garis debu berpendar di belakangnya. Pemandangan itu begitu indah bagaikan ekor komet yang menyala terang saat hendak mendekati Sang surya di tengah malam.

2 Komentar

  1. Bacaan baruu :lovelove

    1. SeraFinaMoonlightmenulis:

      ahaha iyess, selagi ada inspirasi,
      auto ide untuk menulis mengalir begitu deras😁