Gelap, semuanya gelap, aku di mana?
Wanita bertubuh tinggi semampai dengan rambut panjang tergerai, memakai pakaian tidur warna lilac berbahan lembut yang terlihat pas dilekukan tubuhnya yang berisi itu, menatap bingung pada kegelapan yang mengelilinginya.
Dalam kebingungan akan suasana asing yang melingkupinya, angin kencang tiba-tiba menerpa tubuhnya membuat tubuh Sang wanita itu jatuh di rerumputan basah.
Ah!
Sang Wanita jatuh terjerembab. Pakaian tidur yang dikenakan basah dibagian depannya, pun tangannya kotor karna menyentuh lumpur. Rumput ini basah, tapi Kenapa baju dan tanganku, kering? Sang wanita tertegun dengan keanehan yang dialaminya tanpa menyadari ada fenomena horor di dekatnya.
Dalam kegelapan pekat tak jauh dari tempat dia terjatuh, muncul sulur cahaya terang benderang mirip seperti matahari terbit. Wanita itu seketika menengok kearah sumber cahaya. Matanya melebar, tak lama kemudian dia merasa ada sengatan nyeri di matanya, dengan cepat sang wanita menutupi wajahnya dengan kedua tangannya. Cahaya apa itu, terang sekali.
Cahaya itu makin bersinar dan bersinar sampai di titik, dimana ada manusia berwujud siluet yang muncul di tengah cahaya. Sosok siluet itu bertubuh tinggi mengintimidasi dengan jubah bertudung, di mana bagian belakang jubahnya tampak berkibar-kibar akibat hempasan angin yang kuat. Penampilan itu tentunya membuat atmosfer kemisteriusan bertambah pekat. Sosok tersebut berjalan mendekat kearah Sang wanita, hingga cahaya yang jadi latar belakangnya sedikit demi sedikit mulai meredup.
Saat mengamati penampakan yang terpampang di depannya dibalik jari jemarinya. Sang wanita melebarkan mata, tubuhnya gemetaran, telapak tangan yang semula menutupi matanya kini beralih menutup mulutnya sangking shock-nya. Mahluk apa itu, apakah ini mimpi?
Kini, saat sosok itu sudah berdiri menjulang tepat di depan sang wanita yang terjatuh, cahaya terang yang semula ada kini lenyap entah kemana. Sekarang suasana gelap kembali memeluknya dan mendominasinya. Semakin sosok bertudung itu menatap lekat dalam kebisuannya, deru angin semakin kencang dan mengobrak-abrik rambut panjang sang wanita, seakan-akan tatapan mata tajam itu dan angin berkolaborasi untuk membuat mahluk di bawahnya ketakutan setengah mati.
Sang wanita mendongak takut-takut menatap sosok bertudung di kegelapan yang menunduk kearahnya dalam diam. Anehnya, saat Sang wanita tengah fokus mengamatinya, muncul sinar redup melingkupi di wajahnya itu.
Lelaki? Siapa dia? Kenapa wajahnya buram? Warna mata itu, seperti….
Senyuman tiba-tiba muncul di bibir sosok bertudung. Sang wanita mengerutkan kening. Dia tersenyum? Dia, tersenyum padaku?
“Siapa namamu, kenapa kau ada di sini?” sosok bertudung tiba-tiba bertanya dengan suara pelan penuh misteri.
Sang wanita tidak menjawab, wajahnya masih mendongak kearahnya dengan tatapan ngeri. Dia bertanya namaku, untuk apa? Akupun tak tahu kenapa bisa terdampar di tempat asing ini.
Sosok bertudung tiba-tiba berjongkok di depan sang wanita yang masih dalam posisi jatuh tengkurap. Sosok itu menggunakan satu lututnya untuk menampung tubuhnya. Lalu satu tangannya meraih dagu Sang wanita dan mencengkeramnya lembut.
Lorong cahaya putih terang tiba-tiba muncul dari langit lalu melingkupinya, fokus menyinari mereka berdua. Fenomena yang sangat kontras dengan kegelapan yang ada disekelilingnya.
Dalam balutan cahaya terang seperti sekarang, tampak jelas terlihat mata Sang wanita melebar ketakutan dan tubuh yang gemetaran. Sosok bertudung, tiba-tiba tersenyum manis. “Aku tak memaksamu. Jadi, jangan takut.” sambil berucap, sosok bertudung itu bangkit dengan memegang kedua bahu Sang wanita agar berdiri bersamanya.
Kini saat keduanya sudah berdiri saling berhadapan, tinggi badan yang jauh berbeda jelas sangat terlihat. Sosok bertudung menunduk, menatap dalam, sambil memegang kedua bahu Sang wanita. Di sisi lain, Sang wanita mendongak dengan ekspresi takut bercampur ngeri saat mata itu masih kekeuh menatapnya.
Di bawah sinar terang yang melingkupinya, Sang wanita bisa melihat jelas rupa yang ada di hadapannya. Sosok itu terlihat mengintimidasi bercampur aura misterius. Dengan struktur wajah dingin. Tatapan mata setajam batu karang, berahang tegas, hidung mancung, bibir tipis, alis tebal. Perpaduan dalam satu bingkai wajah yang seperti itu tentunya menghasilan aura mengintimidasi yang pekat.
Sang wanita tidak munafik untuk tidak mengakuinya. Dalam ketakutan yang masih menerornya, batinnya berteriak mengungkapkan kebenaran. Dia terlihat tampan
Di sisi lain, sosok bertudung itu pun melakukan hal yang sama mengamatinya dengan saksama dalam balutan senyuman misterius. Lalu matanya yang tajam beralih menatap fokus di bibirnya yang menggoda. Seberkas senyum muncul di sana. “Tidak masalah kau tidak menyebutkan namamu. Aku akan mengantarkan kau pulang. Tempat ini terlalu buruk untukmu. Aku senang akhirnya kau muncul walaupun hanya dalam bentuk kebisuan seperti ini.” setelah menjelaskan dalam kalimat penuh misteri. Sosok itu menunduk lalu mencium bibir Sang wanita.
Ciuman yang sangat dingin, seperti mulut yang terjejal satu sendok es. Itu adalah sensasi yang dirasakan oleh Sang wanita saat kontak bibir itu terjadi.
Tak lama setelah sosok bertudung itu berucap dan menyelesaikan ciumannya, energi penyedot yang dahsyat dari sulur cahaya putih yang menyinari mereka berdua, seketika menghapus eksistensinya dalam sekejap. Kini, cahaya putih yang semula besar, berubah menjadi titik putih kecil yang kemudian hilang terbawa angin.
Kegelapan kembali terpampang menguasainya. Tanpa cahaya bulan, tanpa cahaya bintang. Semuanya gelap, serba gelap seperti kedalaman samudra yang tak tertembus cahaya matahari.

