AcrobaticFarawayKakarikis-size_restricted2
Vitamins Blog

Immortak Guardian – Lembar 14 (His Story)

Bookmark

No account yet? Register

13 votes, average: 1,00 out of 1 (13 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Kelopak mata itu mengerjap beberapa kali. Kedua bola mata itu bisa merasakan cahaya matahari pagi yang masuk melalui celah tirai yang tidak dibuka. Pandangannya kemudian meneliti segala penjuru ruangan, mendapati kedua pengawalnya yang berdiri dalam diam di tempat meraka masing-masing.

“Honey,’ suara lirih itu mampu membuak Honey mendongak dna segera menghampiri sang Putri. Sejenak dia terpaku di samping tempat tidur sang Putri, tidak percaya jika perempuan di depannya membuka matanya kembali.

“Tuan Putri,” dan Honey tidak bisa lagi membendung tangis leganya saat mengetahui jika tuan putrinya telah membuka mata. Begitu pun Alford menundukkan kepala seraya menutup wajahnya yang sudah basah akibat air matanya.

“Ada apa Honey? Kenapa kau menangis,” Honey tidak menjawab. Gadis yang wajahnya terliha kusut dan lembab akibat air mata itu malah memeluk Unique. Dia menghiraukan pertanyaan Unique yang masih penasaran dengan apa yang terjadi.

Pandangan Unique beralih ke arah Alford, memandang penuh tanya yang juga dihiraukan oleh pria itu. Merasa tidak ada gunanya bertanya, Unique memilih untuk menghibur Honey yang masih menangis dalam pelukannya. Sampai akhirnya Honey sudah tidak terisak lagi beberapa menit kemudian,

“Tuan Putri sudah tidak apa-apa?”

Unique mengerutkan dahinya tidka mengerti, “Apa yang kau maksud Honey, aku tidak apa-apa. Aku hanya kelelahan dan akhirnya jatuh pingsan, itu saja.” Honey tersenyum senang seraya memeluk Unique.

“Jadi Tuan Putri tidak terkena kutukan. Berati asumsi kita selama ini salah!” Honey melihat ke arah Alford dengan wajah sumringahnya. “Kita harus memberi tahu Tuan Agni jika Tuan Putri tidak apa-apa! Jika kita berangkat sekarang, pasti masih terkejar, kan.”

“Tunggu dulu, apa maksudmu Honey?”

“Tuan Agni baru saja berangkat untuk menyembuhkan kutukan anda Tuan Putri. Kami mengira jika anda terkena kutukan dan tidka akan mmebuka mata lagi. Jika anda sudah membuka mata seperti ini, itu berarti kutukan itu tidak ada, kan.” Unique masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi selama dia tidak sadarkan diri. Bahkan penjelasan Honey pun ttidak membuatnya paham.

“Sepertinya kalian salah paham.” Ketiga orang yang berada di ruangan itu segera melihat ke arah Charta yang memasuki ruangan peristirahatan Unique. Laki-laki itu tersenyum tipis melihat Unique yang telah sadarkan diri. “Senang melihat anda sudah membuka mata anda, Tuan Putri.”

Unique mengangguk. “Jadi, apa yang anda maksud salah paham tadi Charta?”

Charta tak langsun menjawab. Laki-laki itu duduk di kursi yang berada di samping tempat tidur Unique. Diatas pangkuannya terdapat buku tebal yang sedari tadi berada di pelukannya “Sebelumnya saya akan meluruskan semua keadaan ini. Tuan Putri, anda telah terkena kutukan.”

“Tunggu, apa?” tanya Unique tidak mengerti.

“Sebenarnya anda sudah memiliki kutukan ini semenjak anda lahir tapi selama ini kutukan tersebut belum aktif karena tidak memenuhi ketentuan yang bisa membuat kutukan tersebut terjadi.” Charta menghela napas tidak kentara. “Dan karena Tuan Putri sudah memenuhi ketentuan kutukan tersebut, kutukan tersebut akhirnya terjadi dan hanya tinggal menunggu waktu hingga Tuan Putri meninggalkan dunia ini.”

Ketiga orang yang mendengar perkataan tersebut langsung terpaku saat kata-kata ‘meninggalkan dunia ini’ itu terucap. Bahkan Unique sendiri badannya sudah bergetar ketakutan. “Aku tidak mengerti,” gumam Unique antara bingung dan ketakutan.

“Kau pasti bercanda! Kau tidak lihat jika Tuan Putri sudah sadarkan diri!  Tidak mungkin Tuan Putri akan meninggal dengan alasan tidak jelas seperti itu! Kutukan? Sejak lahir? KAU PASTI BERGURAU!” Honey meringsak maju hendak mengacungkan pedangnya jika saja Alford tidak mencegahnya. Sedangkan Charta masih bergeming di tempatnya, tak terpengaruh kondisi tersebut, seakan sudah sering mengalaminya.

“Itu keputusan anda jika anda mau percaya atau tidak,” ucap Charta kepada Honey juga Alford. Pandangan Charta kemudian beralih kepada sang Tuan Putri yang masih terlenda dalam pikirannya. “Saya tau mungkin ini akan membuat anda sedikit tidak percaya tapi saya mengatakan yang sebenarnya Tuan Putri.” Dan lagi, Unique masih tenggelam dalam pikirannya.

“Tuan Putri, anda masih ingat tentang dongeng pria bersayap yang pernah saya ceritakan?” Unique menatap ke arah Charta. Dia merasa bingung kenapa pria itu menyangkut pautkan cerita itu sekarang. Meski masih tidak mengerti apa hubungannya, Unique mengangguk untuk menjawab pertanyaan Charta. “Apakah anda tau kenapa saya tidak menceritakan dongeng itu sampai akhir?”

Unique terdiam sejenak. Pikirannya berkelana mengingat apa yang diucapkan Charta terakhir kali saat menceritakan dongeng tersebut, “ada beberapa dongeng yang boleh diceritakan sampai selesai, ada juga dongeng yang tidak boleh diceritakan.” Kemudian ingatannya berputar saat dia meminta Agni yang melanjutkan dongeng tersebut meski pada akhirnya pria tersebut juga tidak bisa menyelesaikannya. “Anda tidak menyelesaikan ceritanya karena anda tidak mengetahui akhir dongeng ini.”

“Itu benar Tuan Putri. Saya tidak menceritakan akhir dongen ini karena cerita ini belum berakhir. Karena sampai saat ini, pria itu masih menjalani kutukannya.” Unique memandang tak percaya ke arah Charta saat satu pikiran melintas di benaknya. Sedangkan Charta hanya mengulas senyum tipis saat gadis di depannya mengetahui maksud dari semua kejadi ini. “Tuan Agni masih mencari cara untuk mengakhiri dongengnya Tuan Putri, dan anda termasuk di dalamnya.”

***

Jalan pintas yang di pilih Agni menuntunnya lebih cepat sampai di tempat tujuannya. Tidak seperti beberapa waktu lalu, dimana hutan tersebut masih sunyi dengan rerumbun pohon rindang yang menaungi, saat ini banyak prajurit yang berjajar rapi. Setidaknya ada 1.000 pasukan yang sudah siap menyambut kedatangannya.

Berjalan di antara pasukan yang berjajar itu, Pangeran Franco dengan gagahnya menunggangi kuda menuju ke arahnya. Senyum menyeringainya menghiasi wajahnya menyambur kedatangan Agni yang sudah diperkirakan kedatangannya.

“Wah, wah, wah. Sudah lama sekali sejak kita bertemu kan, Tuan Agni.”

Agni memegang erat tali kekang kudanya. “Apa maksud semua ini, Pangeran Franco?”

Pangeran Franco tidak menjawab. Sebaliknya, dia malah mengambil sesuatu dari balik punggungnya. Memperlihatkan benda yang selama beberapa hari ini telah berada di tangannya. Belati milik Agni yang seharusnya ada di tangan Charta. Belati yang dikatakan Charta menghilang setelah insiden kebakaran. “Terkejut?” ucap Pangeran Franco mengejek seraya memainkan belati tersebut.

Meski terkejut dengan belati tersebut, Agni mencoba untuk tidak terprovokasi. “Berhenti bermain-main, Pangeran Franco! Cepat katakan apa maksud semua ini?”

“Tuan Agni, apa anda melihat aku sedang bermain saat ini? aku hanya sedang berjalan-jalan di hutan luas ini bersama prajuritku.” Pangeran Franco masih sibuk bermain-main dengan belati yang ada di tangannya. “Sedangkan anda sendiri sedang apa disini, Tuan Agni? Berburu kelinci untuk Tuan Putrimu?”

“Percuma menanggapi pembicaraan ini. masih ada hal yang harus ku kerjakan.” Agni sudah bersiap mengarahkan kudanya untuk melanjutkan perjalannya saat perkataan Pangeran Franco memakunya di tempatnya.

“Ah, maksudmu mematahkan kutukan Tuan Putri?” Agni menoleh cepat pada Pangeran Franco.

“Kau. Sudah ku duga ini semua ulahmu. Bagaimana bisa kau tau tentang kutukan itu?”

Pangeran Franco mengedikkan bahunya acuh. “Bukan hanya kutukan itu saja yang ku tau Tuan Agni. aku bahkan tau apa kau ini sebenarnya, bagaimana kutukan itu terjadi, dan bagaimana mematahkan kutukannya.”

“Sialan! Cepat beritau aku bagaimana cara mematahkan kutukan itu!”

“Dan apa keuntungannya bagiku, Tuan Agni?” ucap Pangeran Franco seraya mengarahkan kudanya berbalik arah dan meninggalkan Agni disana.

Tidak ingin kehilangan Pangeran Franco, Agni memacuk kudanya untuk menyusul Pangeran Franco. Sayangnya prajurit yang dimiliki oleh Pangeran Franco menghambatnya sehingga Agni terpaksa harus melawan semua prajurit tersebut. Semua prajurit tersebut silih berganti mencoba menyerang, menebas, dan menusuk Agni. Namun seperti yang sudah lalu, semua luka itu tidak berpengaruh untuknya.

Tidak kehilangan akal, para prajurit itu langsung menyerang kuda Agni terlebih dahulu. Membuat kuda yang berdiri kokoh itu ambruk seketika. Agni pun dengan sigap sudah melompat dan langsung dihadang kembali oleh prajurit yang sudah siap menyerangnya. Para prajurit tersebut menyerang secara brutal, percampuran antara takut dan ingin membunuh makhluk mengerikan yang berlumuran darah itu, yang meski sudah diserang berapa kalipun tidak juga ambruk ke tanah.

Disisi lain, Agni menebas semua yang ada di hadapannya. Sosoknya yang berlumuran darah layaknya malaikat pencabut nyawa yang siap mengambil nyawa tanpa pandnag bulu. Dalam sepersekian menit, hapir setengah prajurit yang mengahadangnya ambruk di tanah. Sebagian prajurit itu pun hanya mampu memberi jarak tanpa mau melawan lagi.

Agni bernapas terengah-engah. Meski dia makhluk yang tidak bisa mati, staminanya sudah cukup terkurang untuk melawan prajurit sebanyak ini. di sela-sela helaan napasnya, serangan tak kasat mata itu terulang kembali. Jantungnya terasa di remas-remas hingga menyebabkan darah keluar dari mulutnya. Kakinya pun tak bisa lagi menyangga tubunhnya.

Dari kerumunan prajurit itu muncul Pangeran Franco yang menyeringai melihat keadaan Agni. “Cepat ikat dia dengan rantai selagi dia tidak bisa bergerak!” Dengan sigap beberapa prajurit langsung mengika Agni dengan rantai, mengikatnya ke sebuah batang pohon yang sepertinya sudah di persiapkan untuknya. Agni tidak bisa melawan, selain karena kekuatannya sudah mencapai batas, rasa sakit dari dalam tubuhnya mempersulit pergerakannya untuk melawan.

Beberapa prajurit kemudian membawa Agni menuju ke hadapan Pangeran Franco. Pangeran Franco yang yang melihat Agni tak berdaya langsung tertawa senang. “HA HA HA HA. Lihatlah dirimu, makhluk abadi yang akhirnya bertekuk lutut pada manusia.”

Rasa amarah Agni rupanya mampu menyulut kekuatan dalam tubuhnya meski hanya bisa untuk berteriak. “Lepaskan! Cepat beritau bagaimana cara mematahkan kutukannya!”

Pangeran Franco menggelengkan kepala sambil berdecak melihat kelakuan Agni. “Ketamakanmu inilah yang membuatmu dikutuk seperti ini tuan Agni.” Agni terpaku di tempatnya tak bisa membalas apa yang baru saja dikatakan Pangeran Franco. “Tapi aku tidak menyangka jika aku bisa bertemu dengan tokoh dongeng yang sering aku dengar sewaktu kecil. Hmm, apa ya judulnya. Ah, Pria bersayap.”

Agni terdiam. Dirinya tidka menyangka jika sosok di depannya ini tahu bagaimana cerita hidupnya itu. “Jika dipikir-pikir, anda memang pantas mendapatkan kutukan itu Tuan Agni. Anda sebagai salah satu makhluk berkasta paling tinggi di jaman kuno, dan lagi memiliki posisi cukup kuat di antara mereka, ingin mendapatkan manusia yang berkasta rendah. Bukankah adna terlalu tamak?”

“Sebenarnya apa maumu?” geram Agni melihat kelakuan Pangeran Franco.

Pangeran Franco mendekat ke arah Agni. Mendekatkan mulutnya ke arah telinga Agni agar dia bisa membisikkan satu keinginan terpendamnya. “Aku mengingkan Unique.”

Sekejap mata Agni segera membenturkan kepalanya ke kepala Pangeran Franco, membuat pria itu terhuyung beberapa langkah kebelakang. “Jangan Bercanda! Aku tidak akan pernah membiarkan kau memiliki Unique.”

Pangeran Franco berdiri tegak. Tangannya mengusap pipinya yang mulai membiru akibat benturan tadi. “Tuan Agni, seharusnya anda belajar dari pengalaman. Ketamakan anda yang membuat anda seperti ini. bukankah anda sudah terlalu sering bersama dengan perempuan yang menjadi pasangan anda itu. setidaknya anda bisa berikan yang satu ini padaku.”

Agni mencoba menggerakkan tubuhnya, berusaha melepaskan diri dari kungkungan ranai yang membelitnya. “Jangan mimpi!”

Pangeran Franco mengedikkan bahunya acuh. “Jika memang begitu, aku akan mengambilnya secara paksa.” Pangeran Franco memberi isyarat pada salah satu prajuritnya. Tidak lama setelah itu, prajurit itu sebuah batang pohon. Di batang tersebut terdapat sebuah benda bebrulu yang dililit oleh rantai. Sepasang benda berbulu hitam itu membuat semuanya terdiam. Sayapnya.

“Merindukan sayapmu, Tuan Agni?”

***

Unique menggenggam erat selimutnya, “Ini tidak mungkin.” Unique menatap kembali Charta yang masih diam setelah menceritakan kisah asli pria bersayap yang ternyata kisah dari ketua pengawalnya tersebut. Agni.

Di lain sisi, Charta segera menyerahkan buku yang sedari tadi berada di pangkuannya. Buku yang secara turun temurun menjadi catatan perjalan Agni yang ditulis oleh penyair-penyair yang telah mengabdikan dirinya untuk menjadi bukti nyata perjalan Agni. Dan dirinya sendiri masih mencari penerus dirinya. “Ini merupakan buku catatan milik saya yang diwariskan oleh penyair sebelumnya. Setidaknya, buku ini hampir berumur sama dengan Tuan Agni.”

Buku bersampul merah kusam hampir menghitam itu di letakkan di pangkuan Unique. Sampul tersebut memiliki gambar timbul berupa sepasang sayap. Saat membuka buku tersebut, hal pertama yang menyambutnya adalah sebuah lukisan sosok pria bersayap yang memeluk sosok wanita, seperti yang pernah dilihatnya di pondok kecil itu. namun kali ini dia bisa melihat dengan jelas wajah dari kedua orang tersebut. Sosok pria bersayap tersebut adalah Agni, dan sosok perempuan itu adalah dirinya. Tunggu, dirinya.

Unique dengan segera menatap ke arah Charta, seakan meminta penjelasan. “Itu adalah anda Tuan Putri, sebelum anda berenkarnasi, beribu ribu tahun yang lalu.” Unique kembali melihat luksan itu, mengusap lukisan itu seakan menyerap setiap memori yang anehnya kembali kedalam pikirannya. Bagaimana senangnya sosok Agni saat itu, begitu pun dirinya. Tak terasa air mata itu pun jatuh di pipinya.

Unique segera membalik halaman itu, membaca kata tiap kata yang ada di dalam buku tersebut. Semakin dia banyak membaca, semakin banyak pula ingatan yang mengalir ke dalam otaknya. Seakan semua kota rahasia di dalam kepalanya mulai teruka satu persatu.

“Saya sudah beberapa kali bertemu dengan anda Tuan Putri, bertemu dengan reinkarnasi anda sebelum ini. dan setiap itu terjadi, Tuan Agni selalu berada di sisi anda, mencari cara agar lingkaran kutukan yang selalu berulang kali terjadi ini terpatahkan seraya melindungi anda. Namun sayangnya itu tidak pernah terjadi.”

Unique tidak menanggapi, dirinya masih sibuk membaca buku yang ada di pangkuannya. Disisi lain, Honey dna Alford makin penasaran dengan cerita ketua pengawalnya tersebut. “Jadi, sebenarnya sudah berapa lama Tuan Agni hidup?” tanya Honey.

Cherta menggelengkan kepalanya, “Tidak ada yang tau pasti kecuali Tuan Agni sendiri. Setauku, setidaknya Tuan Agni sudah ada sejak jaman kuno dimana semua makhluk mitos masih menampakkan wujudnya, jadi bisa dibilang lebih dari 4.000 tahun yang lalu.”

Honey dan Alford tercekat mendengar perkataan Charta, begitu juga Unique yang telah selesai membaca setengah dari buku yang ada di pangkuannya. Rasa sesak dalam dadanya mencuat begitu hebat saat  ingatan itu bermunculan tiada henti di dalam kepalanya. “Sudah…sudah berapa kali Agni melihatkau mati di depan matanya?”

Honey tercekat mendengar perkataan Unique, begit juga Alford yang makin terdiam dalam kebisuannya. “Tuan Putri…”

Charta menunduk dalam, tidak bisa menjawab secara pasti akan pertanyaan itu. “Saya tidak begitu yakin. Semua yang ada di dalam buku hanyalah segelintir catatan dari keseluruhan kejadian. Setidaknya saya melihat dengan mata kepala saya sendiri sebanyak tujuh kali.” Honey menutup mulutnya tak percaya.

Gadis periang itu tak menyangka jika ketuanya harus melihat kematian dari orang yang dicintainya sebanyak itu, atau mungkin lebih. Ingatannya kembali saat percakapannya dengan ketua pengawalnya tadi pagi. Wajah tuan Agni memang terlihat sangat menderita, terutama saat menyinggung tentang kematian orang yang dicintainya. Mungkin itulah kenapa tuan Agni memperbolehkan dirinya agar tidak mengikuti misi ini bersama Alford. Karena pria itu sudah tau bagaimana rasanya ditinggalkan oleh orang yang dicintainya. Dan dia tidka mau Honey merasakan hal yang sama.

Sedangkan Alford. Pria itu mengingat kembali semua kejadian di dalam hutan. Dimana dia melihat semua sayatan yang memenuhi tangan kiri pria itu. sayatan yang akhirnya dia mengerti apa maksud dari semua angka yang terbentuk dari sayatan tersebut. “201, itulah banyaknya pertemuan anda dengan tuan Agni.”

 

9 Komentar

  1. Charta mulutnya udah kayak bon cabe level 30 ya. Pedes bener. Putri baru juga sadar eh malah dikasih tau kalo bakal meninggal..somplak nih orang. Wkkwwk

  2. Setajam silet

  3. Wow

  4. Tks ya kak udh update.

  5. Makasih ceritanya

  6. Bagus ceritanya

Tinggalkan Balasan