Vitamins Blog

Helena (Bab 8. Rasa Sakit)

Bookmark

No account yet? Register

51 votes, average: 1,00 out of 1 (51 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Author playlist : Bruno Mars – That’s What I Like

***

Enjoy! ^^

***

“Aku akan menjemputmu tepat pukul tujuh malam, jadi kau harus pastikan sudah berpenampilan pantas saat aku datang nanti.” Suara James terdengar begitu tegas saat mengatakannya, tak terbantahkan dan ia hanya bisa tertawa di dalam hati saat melihat perubahan mimik wajah wanita yang duduk di sampingnya ini.

Ah, tidak bisa ia pungkiri, Helena memang terlihat cantik, namun yang membuatnya tertarik pada wanita ini bukan karena alasan fisiknya saja. Helena berbeda dengan wanita yang selama ini dikenalnya, dan itu membuatnya semakin bertekad untuk memiliki wanita itu.

James menipiskan bibir, tanpa sadar menggosok bibir bawahnya dengan telunjuk tangan kanannya, sebuah kebiasaan yang sering dilakukannya saat ia tengah berpikir serius.

Ia pasti hanya merasa penasaran. Ya. Hanya itu. Rasa yang didasari karena penolakan wanita ini. Jika Helena menerimanya dengan senang hati, pasti ia tidak akan segencar ini untuk mengejarnya. Iya, kan? Ah, entahlah. Belakangan ini James seringkali dibuat tidak mengerti oleh perasaannya sendiri jika hal itu menyangkut dengan Helena.

Helena menyempitkan mata. “Aku masih belum setuju,” tukasnya dengan dagu terangkat tinggi. Setidkanya ia akan terus melawan hingga titik terakhir. Berharap jika Tuhan membukakan pintu hati James dan membuat pria itu melupakan keinginan konyol untuk menikah dengannya.

“Ini bukan masalah setuju atau tidak setuju, Sayang,” balas James santai. Ia bertopang dagu, menatap wanita yang duduk di sampingnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Aku calon suamimu, jadi kau sama sekali tidak kuizinkan untuk menolak dan membantah keinginanku.”

“Kau mengatakan jika aku bukan budakmu tapi pada kenyataannya kau memperlakukanku seperti itu!” desis Helena dengan nada tertahan. Tuhan, tolong beri aku kekuatan agar aku bisa bersabar menghadapi pria tidak tahu malu ini, doanya di dalam hati. Dan tolong beri aku kemampuan untuk mengendalikan diri, tambahnya. Karena tidak akan lucu jika aku lepas kendali dan melayangkan sebuah tinjuan telak di wajah James.

“Kau terlihat ingin menghajarku,” gumam James menatap Helena sinis.

Helena melotot, sama sekali tidak mengira jika James bisa membaca pikirannya dengan baik. Apa pria ini peramal? Atau memiliki indra keenam hingga bisa membaca isi pikiran orang lain? Ia berdeham pelan, menyingkirkan semua pikiran konyol yang melintas di dalam kepalanya. “Bisakah kau berhenti bercanda?”

James menaikkan satu alisnya. “Denganmu? Aku bercanda?” cibirnya membuat Helena kembali gemas ingin menghajarnya. Pria itu menggelengkan kepala pelan. “Aku tidak pernah bercanda denganmu, Ann.”

“Berhenti memanggilku dengan panggilan itu!”

“Ann?!” gumam James pelan. “Kenapa?” tanyanya. “Nama itu sesuai denganmu. Terdengar begitu cantik.”

Untuk sesaat Helena merasa tubuhnya membeku, terlalu takjub mendengar ketulusan dalam nada suara pria itu. Ah tidak, pikirnya. Ia pasti tengah berilusi. “Dengar Tuan Smith!” Ia kembali bicara dengan nada dan ekspresi serius. “Aku tidak memiliki gaun yang cocok untuk acara mewahmu itu,” ujarnya beralasa. Well, pada kenyataannya itu memang benar. Helena tidak memiliki gaun yang cukup layak untuk dipakainya. Ia bahkan tidak memiliki peralatan make up lengkap untuk mempercatik dirinya.

“Kau benar-benar miskin,” ejek James angkuh. “Tapi itu bukan masalah,” lanjutnya membuat Helena kembali merasa terpojok. “Aku bisa mengatasinya, Ann. Kau cukup duduk dengan manis di apartemenmu,” terangnya. Ia lalu menatap wanita itu lurus, memperhatikan penampilan Helena dengan seksama. “Dan sepertinya aku tahu apa saja yang kau perlukan untuk tampil sempurna malam ini.”

Helena berusaha mencari jawaban yang sekiranya tidak akan membuatnya lebih malu lagi, namun sayangnya ia gagal. Lebih baik ia menutup mulutnya rapat daripada membuatnya semakin malu.

“Aku akan mengantar semua keperluanmu sore nanti,” lanjut James saat wanita di sampingnya terus membisu. “Beberapa gaun malam, gaun cocktail, sepatu, tas, peralatan make up, hingga perhiasan semua akan kuantar ke apartemenmu.”

“Apa kau sudah gila?” Helena nyaris berteriak saat mengatakannya. “Apa kau bermaksud menyuapku?” tanyanya berang. “Kau tidak perlu mengirim barang-barang itu, aku tidak memerlukannya!”

“Sebagai calon istriku, kau sangat memerlukan barang-barang itu,” sahut James tenang.

“Kenapa kau melakukannya?”

James mengangkat bahunya santai dan menjawab dengan nada ringan, “Karena aku kaya.”

***

Sambil menghela napas ia berjalan menuju gedung apartemennya dengan langkah berat. Emosinya masih belum stabil saat ia dipaksa berhadapan dengan ibu kandungnya yang telah menunggunya tepat di depan pintu apartemennya.

Helena mengangkat satu alisnya. “Kenapa aku banyak sekali mendapat kejutan hari ini?” ujarnya terdengar seperti sebuah ejekan namun Rowena bergeming. Wanita paruh baya itu menatap lurus wajah putrinya, lalu menggeser tubuhnya untuk menghalangi Helena saat putrinya itu berusaha untuk membuka pintu. “Saat ini aku tidak berniat menerima tamu ataupun bertengkar,” ujarnya dengan desahan napas panjang. “Tolong menyingkir dari jalanku!”

“Begitu caramu memperlakukan ibumu?” tanya Rowena membuat Helena tersenyum sinis mendengar nada dingin yang terselip dalam suara ibunya. “Selain tidak tahu diri kau juga sangat tidak sopan, Helena.”

“Benar,” jawab Helena santai. “Aku memang tidak tahu diri dan tidak sopan,” lanjutnya. “Bagaimana bisa aku bersikap seperti itu jika ibu kandungku sendiri tidak pernah mengajariku kedua hal itu?”

“Jangan berpikir jika aku suka melihatmu,” desis Rowena. “Jika bukan untuk kepentingan keluargaku, aku tidak akan sudi untuk menemuimu.”

Helena terdiam. Ada sebuah perasaan asing yang menusuk hatinya saat ini. Sebuah perasaan yang ia sangka telah lama hilang dari dirinya—sakit hati. Ah, kenapa ia harus sakit hati mendengar penolakan ibunya ini? Bukankah ia sudah terbiasa mendengarnya? Lalu kenapa kedua matanya mulai terasa panas oleh desakan air mata?

Rowena pun kembali menatap sinis sosok putri kandung yang kini berdiri di hadapannya. Wajah pucat dan tubuh kurus Helena tak lantas membuatnya tersentuh, justru sebaliknya ia merasa puas karena Helena terlihat sakit dan menderita.

Rasa sakit yang dirasakan putrinya itu tidak sebanding dengan apa yang dirasakannya dulu. Ayah Helena—pria brengsek yang telah menghancurkan masa depannya. Menghancurkan harga dirinya, memaksanya untuk melahirkan dan menjaga Helena hingga putrinya berusia delapan tahun. “Apa aku harus menyesal karena tidak mengajarimu kedua hal itu?” ejeknya membuat Helena mengepalkan kedua tangannya erat. Ia memiringkan kepala ke satu sisi. “Tolong jangan katakan jika kau berharap aku memelukmu dan memberimu penghiburan,” lanjutnya membuat kedua mata Helena semakin memanas.

Rowena mendengus, membuang muka sebelum kembali menatap wajah pucat putrinya dengan angkuh. “Jika bukan karena kebaikan hatiku, kau pasti sudah mati, Helena. Camkan itu!”

Helena tidak menjawab. Ia berusaha menguatkan diri saat rasa dingin mulai merambat naik dari ujung kakinya hingga ujung telapak tangannya yang berkeringat. Dadanya naik turun dengan cepat, napasnya sedikit tersengal dan beberapa detik kemudian tubuhnya terhuyung ke belakang.

Wanita itu menyandarkan tubuhnya ke tembok di belakangnya, sekuat tenaga ia tetap berdiri dengan kedua kakinya yang mulai goyah dan kehilangan tenaga. Dia tidak boleh mendapat serangan panik lagi. Tidak di depan ibunya. Harga dirinya terlalu tinggi untuk itu.

“Pastikan kau menerima lamaran James dengan cepat, Helena!” Rowena kembali bicara, mengabaikan kerapuhan putrinya yang terlihat dengan sangat jelas. “Setelah menikah dengannya, kau bisa menceraikannya, bukan?” ujarnya santai. Rowena menyempitkan mata, “Jangan membenciku, Sayang!”

Helena tidak menjawab. Ia menundukkan kepala saat rasa sakit itu mulai menyerang kepalanya dengan dasyat.

“Yang harus kau benci setengah mati adalah ayah kandungmu,” lanjut Rowena tanpa ampun. Hatinya bahkan tidak tergerak saat melihat tubuh putrinya mulai terjatuh dan terduduk di atas lantai berkapet. “Dialah penyebab kemalanganmu,” lanjutnya dengan kebencian yang terselip dalam nada bicaranya. “Dialah penyebab dari penderitaanmu, karena itu kau harus membencinya hingga liang kuburmu.”

“Siapa?” tanya Helena lirih, setengah berbisik. Suaranya terdengar begitu lemah dan bergetar saat mengatakannya. “Siapa ayahku?” ia kembali bertanya dengan sisa kekuatannya. “Setidaknya aku harus tahu bagaimana sosok pria yang harus kubenci.”

Kalimat yang terlontar dari mulutnya menggantung di udara, lalu menguap layaknya embun yang terkena sinar matahari pagi dan keheningan pun kembali meraja, menyisakan suara napas berat Helena yang terdengar semakin mengkhawatirkan.

Rowena berjongkok, mengulurkan tangan kanannya untuk mengangkat dagu putrinya dengan jemari tangannya yang lentik. Cengkraman itu terasa begitu keras hingga membuat Helena meringis karenanya. “Aku membenci matamu,” bisiknya dingin. “Mata yang selalu mengingatkanku pada ayahmu,” lanjutnya membuat dada Helena semakin sesak oleh rasa sakit yang hebat. “Kau bahkan memiliki warna rambut yang sama dengannya.”

Wanita paruh baya itu mengamati wajah putrinya dengan lekat. “Semua yang ada dalam dirimu hanya mengingatkanku padanya.”

“Dan kurasa sikap Anda pada Helena sudah sangat keterlaluan, Nyonya!”

Rowena menoleh, menatap seorang pria yang kini berdiri menjulang tidak jauh dari tempatnya saat ini.

“Apa Anda tidak bisa melihat jika Helena sedang sakit?” James menyempitkan mata, giginya gemeretak menahan amarah yang siap meledak andai saja ia tidak bisa menahan diri dengan sangat baik. Pria itu berjongkok, membawa wanita yang dalam keadaan setengah sadar itu ke dalam pelukannya. “Sebaiknya Anda pergi,” tukasnya tenang dengan nada mengancam. “Anda tahu betul apa yang bisa aku lakukan pada perusahaan suamimu.”

Rowena melotot. Pria ini benar-benar kurang ajar. Sungguh pasangan yang sangat serasi untuk putrinya yang juga bersifat sama.

“Anda mungkin ibu kandung dari Helena,” lanjut James. “Tapi hal itu tidak akan bisa menghalangiku untuk menghancurkan Anda jika aku mau,” ujarnya membuat Rowena mendesis, merasa terancam. “Jadi sebaiknya Anda pergi, dan mulai detik ini, Helena menjadi tanggung jawabku,” tukasnya sebelum membuka pintu apartemen Helena lalu menutupnya keras, meninggalkan sosok ibu yang kini menatap pintu tertutup itu dengan perasaan marah yang menggebu-gebu.

***

TBC

16 Komentar

  1. RositaAmalani menulis:

    yeee pengen bejek2 emaknya, tpi itu kan ibu kandung helena ya jahat sekali :PATAHHATI :PATAHHATI :PATAHHATI

  2. alivatukaruzzaman menulis:

    Ishhh,resehh bener jadi emak.!!

  3. Emaknya jahat amatsih huh emosi akuuu :beranilawansaya

  4. AriyaYumyum menulis:

    :semangatyangmembara

  5. Adududu emosi ane diacak2, antara kasian sm helena, dan kesel luar biasa ke emaknya.. Ckckck :bebekngintipdendam

    1. Wkwkwkwkwk

  6. Dihhh keselnya ma emaknya Helena
    Hus hus pergi sana baper

  7. Karena aq kaya … Aduh james

  8. James songong banget ? tp aku suka deh .. walaupun arogan tp tetep care .. duuhh swiit banget kan

  9. Wah enak bnget ya jadi orang kaya,, alasannya cuma karna aq kaya doang

  10. O ho james jangan begitu sama calon mertua!! Nanti kamu d kutuk jadi batu #waks..
    Tapi klo kertua kamu sikap nya kaya gitu sama calon idtri mu ga papalah… Kali2 hehheeheheh

  11. KhairaAlfia menulis:

    Itu emaknya Helena minta dipites ya,,

  12. Mak Helena jahat banget, apaan coba salahnya Helena

  13. fitriartemisia menulis:

    eaaaaaaaa dibelain James uhuhuyyy

  14. Emaknya minta digorok nih?

  15. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan