PicsArt_03-31-01.48.35
Vitamins Blog

A PRIORI ch. 8

Bookmark

No account yet? Register

37 votes, average: 1,00 out of 1 (37 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

A Priori ch. 8 Kepemilikan

Bacalah dengan posisi yang nyaman dan jangan membaca terlalu dekat, ingat 30 cm adalah jarak yang paling minimal untuk aman mata.

Perasaan senang yang tidak bisa ditutupi Zia membuatnya langsung menuju ke samping tempat tidur Azka dan menunggu mata Azka membuka.

Azka merasakan matanya masih kurang bisa melihat jela skarena cahaya yang tiba-tiba masuk sehingga perlu beberapa detik untuknya melihat secara sepenuhnya, “Zia?” ucapnya pertama kali ketika membuka mulutnya.

“Maaf Zia kami akan pergi dulu untuk menyiapkan segala keperluan Azka jadi kami boleh minta tolong menitipkan dia kepadamu sebentar?” ucap Nadia sambil mendorong Ardi keluar dari kamarawat Azka. “Hei kenapa kau juga mendorong ku keluar?” ucap Ardi tidak terima karena rencana untuk beroto bareng Zia aktris kesukaannya tiba-tiba saja menghilang. “Ini urusan yang mudah.” Ucap Nadia sambil mengedipkan matanya, sehingga Ardi mengerti lalu tertawa ketika menyadari apa sebenarnya maksud Nadia. “Ahahaha dasar anak muda.” Ucap Ardi sambil terus tertawa.

Azka sekarang bisa menyeimbangkan cahaya yang masuk matanya, yang semula buram sekarang matanya benar-benar melihat lekatnya manik mata lain didepannya. “Azka.” Ucap sosok itu membuat Azka memaksakan matanya untuk cepat bekerja seperti semula.

Suasana masih hening hanya menggemakan panggilan saling menyahut antara Azka dan Zia, “Apa?” balas Azka ketika menyadari Zia yang berada disamping kanannya.

“Apa ada yang sakit? Apa perlu ku panggilkan Dokter?” tanya Zia lembut dan sedikit berhati-hati menanyakan keadaan Azka yang sekarang sudah duduk tegak dengan sedikit menahan sakit ditangan kanannya yang dia sangat tau bahwa disanalah peluru yang sempat bersarang semalaman ketika Azka menolongnya.

Mata Azka terus mengawasi sikap Zia yang sekarang melambut kepadanya, didalam benaknya ia tahu bahwa ada bercak rasa bersalah dimata sosok wanita rapuh itu dan dengan sebuah senyuman mungkin bisa mengurangi bebannya. “Duduk lah dini dulu.” Ucap Azka masih dengan senyumnya menepuk-nepuk ruang yang cukup untuk Zia duduk di sampingnya.

Mata Zia meragu tapi badannya mendekat tanpa ragu, sekarang kulit Zia dapat merasakan sedikit kehangatan ketika menyentuh lengan Azka disampingnya. “Tenanglah, ini tidaklah sakit dan bagaimana dengan mu? Apa kau terluka?” ucap Azka sambil mempermainkan rambut Zia dan sesekali di tariknya sehingga membuat pemiliknya sedikit meringis.

“Tidak, aku tidak terluka.” Ucap Zia menggelengkan kepalanya. “hmmm…” balas Azka masih melakukan kegiatannya tanpa niat berhenti.

Sudah lebih dari 10 menit Zia membiarkan Azka melakukan apa yang di inginkannya seperti menarik bahkan mengacak-acak rambutnya hingga rasa sabarnya hilang, “Hentikan! Sebenarnya kau ini sedang apa?!” ucap Zia membuat kegiatan Azka terhenti.

“Aku bo-sa-n.” Ucap Azka dengan senyum miringnya.

Entang mengapa Zia merasakan rasa marah tiba-tiba kembali ada dibenaknya, sudah dipastikan kalau mereka sangat tidak mungkin bebaikan pikir Zia, “Aku akan membeli makan dulu.” Ucapnya sambil bangkit dari posisi duduk.

“Permisi. Ini makanannya dimakan ya lalu minum obatnya” Ucap seorang perawat memasuki kamar lalu memberikan makanan dan obat yang disambut oleh Zia.

Setelah perawat menutup pintu kamar, Zia meletakan makanan keatas  meja lalu mendekati Azka sambil menaruk meja kecil diatas panggkuannya. “Apa yang sedang kau lakukan?” ucap Azka sambil menaikan alisnya. “Aku tau kau, pasti tidak akan memakan makanan rumah sakit jika tidak ada yang memaksa mu.” Ucap Zia dengan telaten menyiampakan tempat makan untuk Azka di atas tempat tidur.

“Kau selalu mengingat kebiasaan ku ya, manis.” goda Azka sambil berusaha mengelus kepala Zia tapi malah di pukul dan diberikan sendok oleh Zia.

“Makan!” peintah Zia lalu berjalan menuju kursi yang tidak jauh dari sisi kanan ranjang Azka.

Azka hanya menatap malas makanan didepannya, dengan sesekali mengaduk-aduk bubur dia malah melirik kearah Zia lalu berkata “kau saja yang makan.”.

“Astaga, kau bukanlah anak-anak. Makan lalu minum obat.” Ucap Zia habis pikir dengan kelakuan Azka yang sudah mulai kembali mempermainkannya.

“Baiklah aku akan makan. Tapi setelah ini sebaiknya kau pulang dan minta Rina untuk menjemputmu.” Suara Azka tiba-tiba kembali serius sehingga membuat Zia bingung dan segera mengguk, seperti ucapannya Azka cepat menyeselesaikan makanan lalu meinum obat tanpa banyak bicara.

“Pulang lah.” Ucap Azka lagi sehingga membuat Zia tidak sempat menanyakan mengapa tiba-tiba sikapnya berubah, apakah ia melakukan kesalahan pikir Zia tapi tidak sempat ia katakan karena Rina sudah menunggunya di depan rumah sakit.

Ketika Zia menutup pintu Azka segera melepas infus yang cukup menggagunya sejak tadi lalu berkeliling melihat keseluruh ruangan, sebenarnya ketika makan tadi matanya menemukan sebuah kamera tersembunyi di sisi kanan jendela yang sedikit tertutupi gorden usang rumah sakit. “Sebaiknya ku periksa dulu semunya baru bisa kembali bersantai” Ucap Azka sambil memastika seluruh ruangannya bebas dari kamera atau penyadap dari orang yang tidak dikenalnya.

Zia  terus merasa gelisah walau sudah berada di rumahnya, sesekali ia menatap kearah luar jendela lalu kembali berjalan tidak tentu arah. “Apa yang kau lakukan Zia? Istirahatlah.” Ucap Rina yang masih dengan setia menemani.

“Aku tidak bisa istirahat. Ku rasa sekarang, tidak hanya aku yang di incar oleh orang itu tapi Azka juga. Aku tidak bisa membiarkan ia hanya sendirian di rumah sakit bagaimana jika ada seseorang yang berusaha membunuhnya.” Ucap Zia menjelaskan rasa cemasnya, dia merasa bahwa ini tidak seharusnya mengiyakan ketika Azka memintanya untuk pulang dan sekarang dia benar-benar menyesal karena menyetujui ucapan Azka padahal dia tau jika Azka tidak memiliki keluarga walau sekarang dia menjadi seorang aktor tapi orang yang berkerja untuknya meminta Zia untuk menjaga Azka sementara mereka menyiapkan keperluan Azka.

Malam sudah semakin larut Zia masih tidak bisa menutup matanya untuk tidur, perasaannya sungguh tidak nyaman lalu dengan cepat dia bangkit mengambil kunci mobil dan mengenakan jaker serta kacamata hitam miliknya.

Suara detik jam berbunyi memecah keheningan suasana kamar Azka di rumah sakit, Azka memejamka matanya seperti seorang pasien umumnya ketika beristirahat, lengannya yang sudah di infus seperti semula membuat siapapun pecaya bahwa dia sudah tertidur dengan lelap. “Kau yakin, orang itu akan datang?” ucapan Ardi terdengar di alat yang terpasang ditelinga Azka. “hmmm..” balas Azka sebagai tanda iya.

Seluruh devisi sudah menemukan sedikit benang merah yang menuntuk mereka tentang kasus ini ketika Azka memberikan laporan tentang kejadian yang menimpanya malam itu. Ya, sosok itu bukan melepaskannya tapi berusaha menjebaknya, dan sekarang Azka juga sedang bertaruh untuk menjebak orang itu.

Rumah sakit sudah mulai sunyi dan hanya beberapa dokter jaga yang sedikit berlalu lalang untuk memeriksa pasien gawat, tapi diantara mereka ada dua orang yang memasuki ruangan Azka secara mengendap-endap, “Bangun!” ucap orang itu sambil menodong Azka dengan pisau tepat dilehernya.

cih. Siapa penculik gadungan ini.” Pikir Azka sambil berusaha seperti seorang yang terkejut ketika membuka matanya dan melihat situasi kamarnya yang sekarang dimasuuki oleh dua orang yang tampak seperti dokter tapi menggunakan masker yang menutupi wajahya.

Setelah menyadari Azka sudah membuka matanya kedua orang itu segera berusaha mengancam Azka dengan berkata “Dengar, jangan pernah dekati Zia atau kau akan mennaggung akibatnya.” Sambil terus menodongkan pisau.

Tapi tidak disangka pintu kamar Azka terbua dari luar dan menampilkan sosok Zia yang tidak tahu menahu, “Zia? Kau Zia bukan.” Ucap sosok yang masih menodongkan pisaunya beralih mendekati Zia tapi tangan Azka segera menaik pemuda itu lalu memukul sisi belakang sehingga orang itu pingsan tapi Azka melupakan sosok lain yang ada dikamarnya.

Terlambat, Zia di seret kearah sisi kiri kamar dengan pistol di kepala Zia “Seharusnya aku menghabisi kalian sejak di rumah tua itu.” Ucap orang itu dengan suara parau.

“Siapa yang ingin kau habisi?” balas Azka tanpa suara ketakutan sedikitpun.

“Tentu peliharaan manis ini.” Ucapnya sambil menarik platuk belakang pistol yang membuat tubuh Zia membeku ketakutan bahkan suaranya tercekat tak mampu mengeluarkan suara apapun.

“Dia sama sekali tidak manis lakukan lah hal apapun yang kau inginkan.” balas Azka kembali keposisi tidurnya tanpa memperdulikan tatapan Zia untuk meminta tolong.

 

SEE YOU ~~~

BY : RP

14 Komentar

  1. wah….pura-pura nih…..awas ya….azka…..

    1. Tau tuh Azka :DORONG awas aja dia yakann

  2. next nya bakal action ne

    1. Betaling mah tau aja ahahaha :IMUT

  3. Aduuh tuh rambut Zia kusut deh dimaenin Azka.. Hahaaaa :LARIDEMIHIDUP
    Itu koq Azkanya pura2 cuek.. Ya teka teki baru lg kan.. Lanjutin bang jgn lama2 yaaa :LOONCAT

    1. Azkanya kurang kerjaan tuh padahal rambut artis kan mahal ya kan :HUAHAHAHAHA
      Tau tuh azka knp bisa gitu :inlovebabe
      Aku kan melanjutnya dengan doa :LOONCAT semoga dapat ilham jatoh wkwkw

  4. bikin mikir….tapi jadi di tunggu what will happen next xexexe ???

    1. Hmmm iya jadi mikir hmm hmm :tepuk2tangan tetap tunggu kelanjutannya :CUBITPIPI

  5. Riarni1490 menulis:

    Alamak :LARIDEMIHIDUP :LARIDEMIHIDUP

    1. Alamak :LARIDEMIHIDUP :LARIDEMIHIDUP

  6. Azka mah pura-pira sok cool :LARIDEMIHIDUP

  7. :KETAWAJAHADD

  8. fitriartemisia menulis:

    Nahloh, Zia nya disandera, Azka malah ngediemin :LARIDEMIHIDUP

  9. Wkwkwkwkwk

Tinggalkan Balasan