adelaide-4
Vitamins Blog

DWINA part 15

Bookmark

No account yet? Register

26 votes, average: 1,00 out of 1 (26 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

15. Kenapa?

Dwina melihat jelas seseorang sedang menatap bingung keadaannya sekarang. Ia yakin sebentar lagi dirinya akan di hujani deretan pertanyaan. Dwina menarik napas begitu dalam sebelum Arya membukakan pintu mobil untuknya.

Arya memberi seulas senyum pada Dwina karena telah sampai di kediaman perempuan tersebut tepat pada pukul enam sore. Serin berada di dalam gendongan Dwina selama perjalanan dan bayi itu masih terlelap nyaman. Arya cekatan membantu Dwina beranjak dari jok penumpang. Wajahnya kini berhadapan dengan ekspresi pucat Dwina.

“Dwina?” suara Putri mengagetkan Arya.

Dwina kembali menjaga jarak dari tubuh Arya. Matanya tidak terlepas dari tatapan tak menyangka yang diberikan Putri. Dengan sisa tenaga, Dwina melangkah mendekati sahabatnya itu untuk memberi penjelasan.

“Bayi siapa ini?” tanya Putri penuh penekanan. Dirinya kini seolah diterjang oleh sesuatu yang begitu berat.

“Stop berpikir macam-macam Put. Ini bukan bayi aku? ini bayinya Kak Bika, kakaknya Kak Arya”

Perkataan Dwina tetap tidak masuk akal di pikiran Putri. Bukankah Arya dan Dwina kemarin baru saling kenal. Kenapa sekarang mereka begitu akrab.

“Mendingan masuk dulu. Nanti bayinya bisa sakit kena angin sore” saran Arya bernada dingin. Orang tua Arya sudah datang ke Jakarta kemudian langsung menuju ke rumah sakit kerena ingin melihat keadaan Kak Bika yang masih kritis. Jadi, Ibunya Dwina menyarankan Arya untuk membawa bayi Kak Bika ke rumahnya, sekalian membantu Dwina mengurus bayinya. Ketika tadi mereka berbicara di telpon sejam yang lalu.

Sedangkan Dwina didera rasa bersyukur Putri masih mau mengikuti saran itu. Setelah menaruh Serin di kamar tidurnya-berhubung hanya kamar Dwina yang berada di lantai satu, Dwina memberi isyarat mata mengusir Arya ke luar kamar supaya dapat berbicara empat mata dengan Putri. Selanjutnya cerita mengalir dari mulut Dwina dan ada beberapa bagian yang dia potong termaksud adegan dirnya yang pernah tidur satu ranjang dengan Arya.

“Jadi, kenapa lo nggak cerita dari awal kalau udah pernah kenal dekat sama Arya?” Putri menatap jengah sahabatnya.

“Karena lo bilang mau balikan sama Arya, mana gue tega cerita kayak gini ke lo. Gue kan bermaksud ngejaga perasaan lo?” sebisa mungkin Dwina tidak meninggikan nada suaranya

“Terus kenapa dia minta tolong sama lo ngejaga bayi kakaknya?”

“Dia tau gue bisa ngejaga anak kecil dan nimpalin kerjaan itu ke gue”

Putri mencoba mencerna semua percakapan mereka “gue kecewa sih, elo nggak cerita” Dwina ingin menangis mendengar perkataan Putri.

“Berarti gue kayak orang bego, waktu itu ngenalin kalian berdua?”

“Ya Allah, nggak Put” balas Dwina kesal dengan dugaan buruk itu.

Mereka sama-sama terdiam tenggelam dengan perasaan masing-masing. Mau bagaimana lagi semua sudah terlanjur. Suara tangisan serin memecahkan keheningan. Dwina segera menggendong bayi mungil tersebut keluar kamar untuk di beri makanan, meninggalkan Putri sendirian. Kedua sahabat itu mengerti satu sama lain kalau Putri sedang ingin sendirian.

“Bu buburnya udah jadi?” tanya Dwina ditengah-tengah bercanda dengan Serin di sofa.

“Bentar lagi” teriak Ibunya dari arah dapur.

“Aku mau coba gendong Serin dong” ujar Arya. Dwina mengangguk dan mencoba memposisikan Serin di lengan Arya sembari memberi beberapa tips menggendong bayi.

“Kakak pegangin yang bener lehernya. Dia belum kuat nahan kepalanya sendiri” Dwina mengomel atas kelupaan Arya.

Arya mendesah kasar, sulit sekali menggendong anak bayi “maaf bu saya khilaf” Dwina memberi desisan atas ucapan Arya.

“Gimana Putri?” tanya Arya yang dibalas gelengan kepala dari Dwina.

“Dia butuh waktu buat ngecerna semuanya”

“Lagian kenapa kamu pakai pura-pura nggak kenal sama aku?”

“Terus kakak nyalahin aku. Lagian siapa suruh kakak juga ikutan pura-pura nggak kenal aku. Malah nanya siapa diri aku ke Putri” balas Dwina kesal. Kesannya dirinyalah yang jadi pemeran antagonis di kisah ini.

“Karena kamu selalu berusaha ngehindarin aku”

“Jadi kakak balas dendam ke aku?” Dwina bertanya balik

“Bisa di bilang seperti itu”

“Pusing..” Dwina beranjak menuju dapur untuk mengambil bubur Serin.

Padahal yang meminta putus adalah dirinya. Tapi rasa nyeri itu menyerbu batin Putri saat melihat tatapan penuh kehangat Arya pada Dwina. Memang dia keterlaluan telah menyakiti cinta tulus dari Arya. Alam bawah sadar Putri menjerit, memberontak keputusan untuk menjauhi Arya. Sisi egoisnya akhirnya menang kembali.

“Wi? lo anggak ada rasakan sama Arya?” tanya Putri saat Dwina sedang melewatinya.

Bohong besar bila Dwina mengatakan tidak. Arya adalah laki-laki asing yang paling banyak mengisi hidupnya. Bahkan sebelum dia bertemu langsung dengannya. Dia begitu mengagumi sosok Arya dalam kisah yang selalu di ceritakan oleh Putri. Arya yang memberi hadiah bunga disetiap pagi Putri, Arya yang memberi perhatian sederhana seperti menjemput Putri, Arya yang tiba-tiba membayar semua belanjaan kosmerik milik Putri, Arya yang tertawa kesenangan karena hujan menahan Putri pulang seolah alam mendukung mereka tetap berdua, Arya yang hampir gila di putusin oleh Putri, Arya yang memohon pada Putri supaya mempertahankan hubungan mereka. Kisah ini memang sangat biasa tapi entah kenapa menghangatkan hati Dwina. Itulah yang di rasakannya, meskipun dia tidak pernah menceritakan isi hatinya yang sebenarnya pada siapapun. Apakah jawaban ‘ya’ bisa seketika menghancurkan persahabatan mereka?

“Nggak tau” jawaban penuh ambigu yang di dapat oleh Putri.

Dwina langsung berlalu begitu saja melangkah mendekat ke arah Arya. Menaruh bubur diatas meja kemudian mengambil Serin dari gendongan Arya. Lalu menyuapi bubur buah dengan cekatan ke bayi mungil tersebut.

Putri memilih pamit pulang dan Dwinapun tidak berniat menahannya. Ekspresinya sangat datar, bahkan dia terlihat enggan memandang Arya dan Dwina lebih lama. Sesak menyempitkan pernapasan Dwina, ia benci menyakiti orang lain yang dia sayang.

Bayi Kak Bika tiba-tiba saja menangis merasa yang mengurusnya sedang dalam keadaan sedih. Dwina mencoba menenangkannya tapi air matanya justru ikut bergulir. Untung Ibunya datang siap mengganti mengurus Serin. Dwina pergi sambil menunggu menyembunyikan wajah jeleknya yang sedang menangis menuju kamar.

Menangis sepuasnya dalam kesendirian sambil memutar musik nge-beat sekencangnya untuk menutupi senggukannya.

“Dwina kenapa?” tanya Bu Aminah pada Arya.

“Lagi ada masalah sama Putri” Bu Aminah hanya mengangguk paham. Dwina sudah besar dan memiliki cara sendiri untuk menyelesaikan masalah. Jika anak perempuannya tersebut membutuhkan saran darinya, dia akan siap membantu.

“Sekarang kamu makan malam dulu gih. Makanannya udah di siapin di meja makan”

“Makasih tante”

*

*

*

Serin tertidur nyaman didalam rengkuhan Dwina. Napasnya begitu teratur, Arya menikmati aroma minyak telon menguar menyamankan indra penciumannya. Dwina juga nampak mulai mengantuk, sayangnya dirinya harus membangunkan perempuan itu.

Dwina langsung terkejut saat sebuah tangan hangat menepuk pundaknya. Arya kini sudah berada di samping kasur.

“Ada apa kak?” tanyanya. Dwina memang sengaja tidak mengunci pintunya, takut ada sesuatu hal penting, tapi tidak bisakah laki-laki itu mengetuk pintu dulu?

“Orang tua aku mau istirahat di rumah ini sampai besok pagi. Kata Bayu kamu yang tau kunci kamar tamu” berhubung rumah ini yang paling dekat keberadaanya dari rumah sakit tempat Kak Bika di rawat dan orang tuanya sangat tidak menyukai menginap di hotel.

“Iya aku tau” Dwina perlahan bangun dari kasur sambil memberi bantal kecil di taruh di kaki Serin, supaya bayi itu mengira ada seseorang yang mengeloninya. Lalu menguncir asal rambutnya sebelum keluar kamar.

Memang sudah larut malam, Ibunya-pun juga sudah tertidur dan yang masih terjaga tinggal Kak Bayu saja sedangkan Ayahnya memiliki pekerjaan dan akan pulang besok pagi.

Dwina menyalimi tangan Bu Ati dan Pak Wijaya kemudian mengantarkan mereka ke kamar tamu yang berada di samping ruang tv.

“Maaf nak ngerepotin”

“Nggak ngerepotin sama sekali bu” Dwina memberi seulas senyum sopan lalu meninggalkan keduanya. Pasti sangat lelah menempuh perjalanan cukup panjang dan langsung membesuk Kak Bika di rumah sakit. Dwina senang dapat membantu mengasuh Serin, hingga sedikit meringankan masalah mereka.

Keberadaan Kak Bayu menghilang menyisakan Arya “dimana Kak Bayu?” Arya menunjuk kamarnya. Batin Dwina mengomel, pasti Kakaknya gregetan untuk mengganggu Serin tidur. Sudah tau sulit sekali membuat bayi itu tenang. Tangan Dwina sudah gatel untuk mencubiti kakaknya bila Serin benar-benar terbangun karenanya.

“Dwina” panggil Arya membuat perempuan itu menoleh kearahnya. Dirasakan tubuh Dwina langsung menegang ketika dia mendekat dan membawa perempuan tersebut kedalam pelukannya.

“Rasanya nyaman sekali” Jantung Dwina behenti berdetak sepersekian detik merasakan Arya mencium lehernya.

5 Komentar

  1. ih Arya main noysor aja loh,,
    di gampar Dwina baru tau rasa,,
    kapok tuh Putri,,
    siapa suruh nyakitin cowok seenak jidat, cowoknya udah dapat yang lebih bagus nyesel kan??

  2. Ckckck arya uda ambil kesempatan aza

  3. Arya, udh buruan nikah aja sana

  4. fitriartemisia menulis:

    Whoaaaaaaaaaa Arya, nyium nyium leher yaaaaaa :LARIDEMIHIDUP

  5. Wkwkwk Arya udah ngebet nih

Tinggalkan Balasan