adelaide-4
Vitamins Blog

DWINA part 14

Bookmark

No account yet? Register

Love it! (No Ratings Yet)

Loading…

https://youtu.be/UyZnPCkk3Fs

14. Tiba-tiba

Menjadi egois tidak masalahkan? kadangkala seseorang ingin berperan menjadi orang jahat supaya hati ini terpuaskan.

Dwina memilih fokus pada skripsinya dan membuang semua perasaan itu. Menurutnya ini pilihan terbaik. Besok dia sudah janjian bertemu dengan Putri untuk menceritakan perihal dirinya dengan Arya, supaya hati ini tidak terus-menerusan tenggelam dalam rasa bersalah.

Skripsi memang menakutkan bagi anak kuliah manapun. Mata Dwina kini lelah menatap banyak sekali coretan spidol merah pada pekerjaannya yang ia pikir terasa sia-sia saja selama ini usahanya, tapi tetap ia tidak boleh patah semangat.

Lima bungkus ciki ukuran jumbo, satu botol mineral ukuran dua liter, satu botol sari buah, tiga pack permen mentos dan fox, dua roti sisir dan terakhir adalah permen karet. Dwina sumringah dengan jajanannya dari mini market untuk menemaninya mengerjakan skripsinya. Orang lain pasti menyindir dirinya mau mengerjain skripsi atau piknik? biarlah, itu cara Dwina bisa fokus.

Beberapa buku acuan sudah tertumpuk diatas meja belajar Dwina beserta laptop kesayangannya yang sudah ingin di pensiunkan. Karena belum diganti dari dia masuk SMA.

Saatnya bekerja!

Dwina merevisi satu persatu setiap koreksiannya sesuai keinginan dosen pembimbingnya, Kemudian mencari acuan yang tepat sesuai tema yang bersangkutan, menyesuaikan beberapa penelitian dan masih banyak lagi… hingga suara azan subuh menyadarkannya kalau ia belum sempat tidur sama sekali.

“Ih cepet banget udah subuh, baru aja ngerjain dikit” omel batin Dwina. Kepalanya kemudian ia rebahkan di atas meja.

Tiba-tiba suara gedoran pintu depan rumah mengagetkan Dwina. Siapa yang berani melakukan itu di pagi buta? Namun, Dwina lebih takut bila ada hal buruk yang terjadi. Segera ia berjalan keluar kamar untuk membukakan pintu. Ibu dan Ayahnya masih belum terbangun juga.

“Ya Allah, Kak” Dwina mencium aroma alkohol dari mulut Kak Bayu.

Dwina membantu Arya membawa Kak Bayu kekamarnya. Dwina sedih apa yang membuat kakaknya sampai mabuk-mabukan seperti ini.

Paling dia baru putus dari pacarnya, tapi biasanya nggak pernah sampai kayak begini.

Kata-kata itu begitu saja terlintas di otak Dwina. Tepat sekali setelahnya Kak Bayu malah menyebut nama Juwita dalam tidurnya. Dwina berdecak kesal. Kakaknya itu udah tua masih aja sikapnya kayak abg labil.

“Makasih Kak, udah anterin Kak Bayu ke rumah. Makasih banget” seru Dwina setelah dirinya dan Arya keluar dari kamar Kak Bayu. Alih-alih menjawab tanda terima kasih Dwina, justru Arya menimpalinya sebuah pertanyaan.

“Kamu kenapa belum tidur?”

“Aku ngerjain skripsi” balas Dwina tanpa mau menatap ke arah Arya dan memilih mengintip kesal dari celah pintu keadaan Kak Bayu yang sedang tertidur pulas.

“Tapi kamu harus ingat waktu untuk istirahat” balas Arya serius.

“Tapikan terserah aku. Ini hidup aku” balas Dwina terlihat jengah menghadapi Arya. Padahal jelas sekali suara Dwina mencicit. Nyatanya Dwina sedang mencoba menginjak-injak alam bawah sadarnya yang bersorak gembira mendengar Arya memberinya perhatian.

Batin Arya sangat lelah menghadapi seharian ini. Tadi pagi tiba-tiba Putri menghubunginya untuk mengembalikan dompet miliknya yang ketinggalan, tapi dirinya mendapat kenyataan bahwa Dwina menjaga jarak dengannya karena mantan pacarnya yang sialan itu dan yang paling parahnya, Dwina pura-pura tidak mengenalnya. Kemudian Dwina mengatakan Putri ingin balikan dengannya. Itu sesuatu hal tergila dalam hidupnya untuk kedua kalinya. Jika ia benar-benar melakukan hal tersebut.

Lalu sorenya ia harus disibukkan oleh proyek pembangunan apartemen yang tidak kunjung kelar selama setahun lebih. Malamnya tiba-tiba Bayu menelponnya dalam keadaan mabuk berat akibat patah hati. Sebenarnya tidak ada bedanya tindakan Bayu yang satu ini dengannya jika ingin melepaskan beban berat dalam hidup. Dan sekarang Dwina sedang mengelak perkataannya. Ini hal yang paling membuat Arya tambah frustasi.

“Mau aku buatin minum Kak?” tanya Dwina spontan karena Arya sedang menatap tajam dirinya. Sepertinya Dwina tidak sengaja membuat laki-laki itu naik pitam.

“Nggak usah, aku mau langsung pulang” suara Arya begitu dingin dan menjengkelkan dipendengaran Dwina. Ya sudahlah, bukankah lebih baik dia pergi?

*

*

*

Ngantuk!!!!

Dwina mencoba membuka kelopak matanya selama mata kuliah berlangsung. Dari tadi Tari sudah membantu mencubit tangannya agar tidak ke bablasan tidur.

“Nanti gue minjem catatan punya lo ya Tar?” ucap Dwina di sela-sela kantuknya

“Iya tenang aja mbak, itu mah guampang” Tari menggunakan logat Jawa membuat Dwina dan  Sella terkekeh pelan.

“Lo kenapa sih Tar, lagi ada masalah keluarga? coba cerita ke gue atau lo butuh sandaran?” Sella malah menimpali candaan dengan nada serius menambah kesan geli bagi Dwina.

Siapa yang kuat bertahan di kelas Bu Wiwin? pasti mahasiswa itu nekat belajar. Bu Wiwin adalah dosen muda berumur 25 tahun dengan menggunakan pakaian seksi, rambut tergerai panjang bercat warna coklat, make-upnya begitu tebal dan nyaris mengerikan di pandangan Dwina. Bu Wiwin sangat mengerikan dan baru melembut jika dirinya di puji cantik bahkan bisa sampai memberikan nilai tambahan. Dwina saja masih tidak yakin benar-benar ada dosen seperti itu.

Namun, yang jadi permasalahan suara ketukan pintu kelas membuat acara mengajar Bu Wiwin terganggu.

“Ya silahkan masuk” tukas Bu Wiwin.

Semua menjadi hening saat sosok Arya masuk dan berbicara langsung dengan Bu Wiwin. Tari segera mencubit Dwina yang masih mengantuk-ria.

“Ini cowok kemarin yang bareng sama lo bukan?” tanya Tari

“Sumpah demi apa? ngapain dia disini?” Dwina menatap ngeri kedatangan Arya kemudian terdengar laki-laki itu menyebutkan namanya.

“Apa Dwina hadir disini?” tanya Bu Wiwin pada para mahasiswanya.

Buru-buru Dwina mengangkat tangan dan menuju kedepan sambil membawa tasnya “sekarang saya izinin kamu hari ini. Silahkan kamu bisa pergi”

“Terima kasih” Arya memberi senyuman tipis membuat perempuan satu kelas meleleh termaksud Bu Wiwin yang terlihat menampilkan rona merah di wajah. Dwina bahkan bisa mendengar keributan saat dirinya dan Arya sudah berada di luar kelas. Ada yang mengatakan

“Gila… Dwina sekali ngegebet dapet yang begituan”

“Ih bening banget sumpah” dan bahkan ada yang mengaku-ngaku jadi pacar Arya.

Kantuk Dwina sudah hilang seketika. Arya kini menggenggam salah satu tangannya dan melangkah terburu kearea parkiran tanpa melewati lift. Hampir saja Dwina tersandung ditangga.

“Kenapa sih kak tiba-tiba dateng begitu aja?”

“Nanti di mobil aku ceritain”

Bohong besar. Arya tidak mengatakan apapun selama perjalanan yang tidak dimengerti tujuannya oleh Dwina dan terus terfokus pada jalanan sekaligus marah-marah dengan kemacetan. Mana berani Dwina menagih jawaban dari Arya kalau sudah begini. Dasar psyco.

Mobil Arya sampai di perlantaran rumah minimalis “ayo turun” perintah Arya. Namun, Arya tidak masuk kerumah itu, justru ke rumah sebelahnya. Ini sebenarnya ada apa sih?

Arya mengetuk pintu rumah tersebut dan muncul seorang Ibu sedang menggendong seorang anak bayi.

“Pasti ini Arya?” Arya mengangguk sopan lalu Arya menyuruh Dwina menggendong bayi tersebut. Lah, bukankah ini bayinya Kak Bika?

“Kakak kamu masih kritis?”

“Saya belum tau kabar selanjutnya. Nanti sore Ibu baru datang dari Bandung. Makasih udah ngejaga Serin” tulus Arya lalu menerima tas bayi yang di berikan Ibu tersebut.

Bayi Kak Bika menangis terus sejak berada di gendongan tetangga Kak Bika. Pertama Dwina memeriksa popoknya dan ternyata bersih. Lalu kedua mencoba memberinya susu formula tapi bayi itu menolak karena sudah terlalu frustasi sekaligus kelelahan tidak berhenti menangis.

Akhirnnya yang dilakukan Dwina adalah mengganti pakaian Serin lalu menggendong sambil berjalan mengelilingi rumah sampai bayi itu mau terlelap.

Arya-pun bernapas lega Dwina berhasil membuat keponakannya berhenti menangis. Pilihannya memang tepat membawa Dwina kesini. Padahal tadi dirinya sudah di pusingkan dengan kabar Kak Bika masuk rumah sakit karena demam berdarah dan ia diminta Iparnya untuk mengambil bayinya dari rumah tetangganya. Bisa apa seorang Arya menangani bayi? menggendong saja ia tidak bisa sama sekali.

Untung Dwina pengertian dan mau mengikutinya. Bahkan dirinya belum menjelaskan alasan sebenarnya kepada Dwina.

Setalah Dwina menaruh Serin ke ayunan bayi. Arya mendekat menghampiri Dwina sambil membawa segelas teh hangat lalu memberikannya pada perempuan itu.

“Makasih” ucap Dwina menerima teh hangat dari tangannya

“Sorry ya, aku tiba-tiba bawa kamu kesini”

“Iya. Tapi lain kali jangan begitu. Untung aja hari ini aku nggak ada praktikum, bisa-bisa aku harus ngambil kelas pengganti dan berurusan sama tim perkuliahan” balas Dwina bisik-bisik takut membangunkan Serin.

“Tapi yang aku bingung, kamu tau dari mana kelas mata kuliah aku hari ini?” Arya memutar pandangannya kearah lain menandakan dia menghindari pertanyaan itu.

“Rahasia” Dwina langsung mendesis sebal mendengar jawaban aneh Arya. Sok misterius.

Setelahnya Arya menjawab semua pertanyaan yang ada di otak Dwina atas kejadian ini. Kak Bika diketahui terkena demam berdarah setelah di temukan oleh suaminya sedang demam parah dan Kak Bika tidak lagi memperkerjakan baby sister dan seminggu yang lalu pegawai rumah tangganya di pecat oleh suami Kak Bika karena melakukan tindakan ceroboh hingga mecelakakan bayinya. Jadi tidak ada orang yang dapat menguruh Serin kecuali tetangganya.

“Gila aja aku disuruh ngurus anaknya Kak Bika” Arya mengacak rambutnya menunjukkan betapa dia frustasi.

“Dan sekarang kakak yang nimpalin kerjaan itu ke aku?”

“Tau sendiri aku nggak bisa ngurus anak kecil. Apalagi masih bayi begini” balas Arya dengan kekehan pelan.

Jadi, hanya mereka bertiga dirumah Kak Bika sambil menunggu kedatangan orang tua Arya. Dwina dan Arya sangat menikmati obrolan mereka dan Dwina tidak ingat pada janjinya dengan Putri.

6 Komentar

  1. Uh,, calon istrinya Arya yang ini apa sih yang gak bisa,,
    Dwina gitu,, ngurusin bayi mah gampang bagi dia,,

  2. Tambah deket aja mereka ..
    Persiapan kalo nyr nikah mereka :HUAHAHAHAHA belajar momong bayi

  3. Uda kayak keluarga kecil aza plus ada bayinya lagi hehehhe

  4. Tambah dekat aja, udh nikah aja sana

  5. fitriartemisia menulis:

    Nah Dwina diam-diam udah ada rasa ehehehe

  6. Tambah deket aja mereka hihihi?

Tinggalkan Balasan