Vitamins Blog

Penyakit Kronis

Bookmark

No account yet? Register

32 votes, average: 1,00 out of 1 (32 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

“Orang yang banyak bicaranya, banyak bohongnya”

menutupi keburukan dengan kata-kata manis yang membuat setiap pasang telinga yang mendengarnya seolah terpesona dan langsung menganggukkan kepala tanpa memikirkan terdahulu apa hal yang sebenarnya diperbincangkan.
Dia terus saja berbicara ngalor ngidul, meyakinkan korbannya agar terjerat tak berdaya. sementara kita disini ikut tersenyum dan matapun tak mau ketinggalan ikut menertawakan. HA HA HA . Kalian tahu, terkadang kita berada dalam satu tempat dengannya, jadi ketika dia mulai beraksi terhadap mangsa barunya, yang kita lakukan adalah saling menatap mata seolah mengobrol melalui mata. Ya, itulah cara yang aman. Kita tidak ingin menyinggung perasaannya. Karena walaubagaimanapun dia stermasuk dalam list yang namanya ‘teman’.

‘Lihatlah! Dia mulai beraksi kembali’ , teriak salah satu dari kita melalui tatapan matanya.
Ya, kita sudah mengetahui betapa belangnya dia. Putih diluar, hitam didalam.
Kita merupakan perkumpulan atau bisa dikatakan aliansi korbannya yang sudah lebih dahulu masuk perangkap.
Sudah banyak sekali yang menjadi korbannya. kita tidak tahu apa motif yang sebenarnya ?
Korban pertama adalah seorang mahasiswi pindahan atau konversi yang masuk ke jurusan yang sama seperti kita- sebut saja namanya Izzah.
Menurut penuturannya, pertama-tama dia menajaknya berkenalan, kemudian mengobrol, yaa seperti biasanya yang dilakukan tuan rumah terhadap anggota keluarga baru. Semakin hari semakin dekat hubungan pertemanan keduanya sehingga membuat si Izzah memperayainya sebagai teman yang baik.
Singkat kata, dia mulai melancarkan aksinya dengan cara tehnik kata-kata yang seolah telah menyihir si Izzah untuk menurut padanya.
Jadilah si Izzah kehilangan handphone dan beberapa lembar kertas yang masing-masing lembar bernilai 100.000. Si izzah tak menyebutkan berapa total pastinya. Dia hanya bilang ‘cukuplah buat biaya hidup ana sebulan dan spp satu semester’.
Weww.. Kita hanya bisa membelalakan mata dan membuka mulut agak lama sampai kita selesai berhitung, barulah kita tutup mulut dalam artian sebenarnya.

Sekali lagi, kita masih bertanya-tanya, kenapa dia melakukan itu. Padahal, sepengetahuan kita, dia tergolong orang yang mampu secara ekonomi. Dia membuka toko di beberapa mall dikota ini. Ibunya menjual pakaian dan perlengkapan lainnya disana.
Sebagai teman, kita selalu berusaha mengingatkannya dan menasehatinya secara tersirat. Entah apa yang ada dipikirannya itu.

Setelah si Izzah tak berdaya, mangsa berikutnya yang berhasil terjerat adalah kawan-kawan mahasiswa/i dari negeri Melayu dan Negeri Gajah Putih. Ya, mereka juga mahasiswa konversi yang masuk dalam jurusan kita.
Kita tak habis pikir, seharusnya dia berpikir tetlebih dahulu sebelum melakukannya kepada warga negara lain. Bisa saja mereka menyimpulkan bahwa orang-orang kita itu semuanya sama seperti dia. Oh tidak!.
Kita baru mengetahuinya ketika beberapa dari mereka mencurahkan isi hatinya kepada kita dan menjelaskan semuanya. Kita tentu saja merasa malu mendengarnya. Apa mau dikata, kita hanya dapat mensuport mereka dan memberi penjelasan kepada mereka tentang keadaannya.

Ternyata, bukan hanya kawan-kawan dari negeri seberang saja yang menjadi incarannya. Rekan-rekan dalam organisasi yang termasuk kita didalamnya pun menjadi korban. Ya, didalam kelas, kita semua menjadi anggota dan pengurus dalam organisasi, organisasi yang berbeda tentunya. Hanya dia saja dan kawan kawan negeri seberang yang tidak mengikuti kegiatan lain dikampus selain kuliah pulang kuliah pulang (kupu-kupu).

Selain itu, senior kita juga jadi korban. Yang mengadu kepada kita baru 2 orang. Setelah lulus, kakak kakak senior yang jadi korbannya ini mengajukan aduan kepada salah satu dari kita melalui chat di media sosial. Kakak senior A (laki-laki) hanya mengadu dan menagih secara tersirat. ‘Titip salam ya dek buat si …. Semoga hidupnya selalu bahagia’ .
?????

Satu lagi si B, kakak senior ini berbeda dari kakak A. Mungkin karena dia perempuan kali ya jadinya menagih secara gamblang. ‘Dek, tolong bilangin dong ke dia, teteh lagi butuh duit, tolong kembaliin’.

Entah berapa orang lagi yang belum kita ketahui telah menjadi korbannya.
Entah penyakit apa yang dia derita itu. Salah satu dosen yang pada sesi perkuliahan delik pidana, menyampaikan bahwa orang yang mempunyai kebiasaan mencuri, padahal dia sendiri tidak membutuhkan apa yang dicurinya itu disebut penyakit kleptomania.

Tapi dalam kasus ini, dia bukan seorang kleptomania, bukan juga peminta-minta. Karena akad yang dia lakukan adalah pinjam meminjam. Yang mana berlaku hukum diantara keduanya, yakni si pemberi pinjaman berkawajiban menagih harta yang dipinjamkan, dan si penerima pinjaman harus mengembalikan apa yang dipinjam dengan tidak harus menunggu terlebih dahulu si pemberi pinjaman datang menagih. Seharusnya seperti itu. Mempunyai kesadaran untuk mengembalikan, bukannya berpura-pura tidak mengenal si pemberi pinjaman.

Kita memberi istilah `penyakit kronis` terhadap kelakuannya.
Setiap orang yang baru dikenalnya, selalu dia jadikan korban.

Jadi, jika kalian membaca tulisan ini, dapatkah kalian mendefinisikan penyakit macam apakah yang si dia alami? Bagaimana cara untuk menyembuhkannya? Serta tindakan yang harus kita lakukan untuk menghentikannya melakukan hal tersebut ?

Kita percaya bahwa ‘Tuhan tidak akan merubah suatu kaum kecuali kaum itu mau merubahnya’

Dyza_Zahra

Simpel, tidak berpura-pura ataupun mengada-ngada, apa adanya. Hehe ^^

10 Komentar

  1. Serem amat yak penyakitnya,,
    Korban segitu banyak pula, duitnya dikemanain itu????
    Apa mungkin buat shooping gaya hidup sosialita kyk ditv gitu lah
    Mungkin cara efektif nya dg melapor ke pihak berwajib (polisi) melihat banyak nya korban, kalo dibiarkan akan ada korban selanjutnya pasti

  2. Ngeri juga kalau punya teman kayak gitu.
    Mungkin nama yang cocok adalah penyakit senang pinjam tapi malas bayar. Tapi di lingkungan tempat tempat tinggal aku jg ada yg kayak teman kamu, dia senangnya berhutang tapi begitu suruh bayar susahnya minta ampun atau malah gak dibayar.
    Benar kata @alvinabb cara untuk menghentikanya ya dengan dilaporkan kepihak berwajib. Siapa tau dengan begitu dia jera dan bisa berubah.

  3. @alvinabb @deedewi : gak punya buktinya . Transaksinya tidak tertulis diatas kertas. Jadinya ya gitu deh, semau dewek.

  4. Ini masuk kasus penipuan yaaa… Org ini emang punya kejiwaan menyimpang yaa…..laporin aja deh sblm korbannya nambah yaaa

  5. farahzamani5 menulis:

    Musti dihentikan ini ka dyza, klo ga dia makin merajalela, klo ga ada bukti emang ga bsa dilaporin, gmn klo dia dipanggil aja dipertemukan dngn para korban trs dinasehatin jngn bersikap bgtu lgi, atau klo perlu ksh sanksi sosial biar mikir 1000 kli klo mau bersikap kyk gtu lgi

  6. KhairaAlfia menulis:

    Ngeri ya kalau jumpa orang kayak gitu,,
    bisa tekor,,

  7. wah ngeri banget ada orang kek gitu :LARIDEMIHIDUP

  8. Wah ngeri banget :LARIDEMIHIDUP

  9. fitriartemisia menulis:

    waduh ngeri ya :LARIDEMIHIDUP

  10. Eeiyy ngeri banget??

Tinggalkan Balasan