Project Sairaakira-248244620-512-k133407 (1)
Vitamins Blog

Against The Devil – Chap 3

0
Views:94
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Rania bekerja keras memenuhi kebutuhan panti asuhan, tempat ia dibesarkan. Menjadi pramusaji di restoran mewah ternama, membantu di butik milik sahabatnya. Apalagi, panti sedang menghadapi masalah serius. Perebutan hak tanah terhadap ahli waris, menuntut Rania memutar otak untuk menyelamatkan panti.

Ferre Nicolo datang menawarkan solusi, menjadi jalang dan menghangatkan ranjang lelaki itu. Rania tidak punya pilihan. Pasrah, tidak ada jalan keluar. Dilain pihak, Bibi Dina adik dari pengurus panti sangat membenci Rania yang Rania sendiri juga tidak tahu kenapa.

*Cerita mengandung kalimat vulgar diharapkan yang baca cukup umur.

====

“Menjadi simpanan saya.”

Rania terlalu syok mendengar kalimat itu keluar dari mulut Ferre. Wanita itu mencoba menenangkan dirinya dengan menarik napas panjang, melirik Ferre yang berada di sampingnya.

Tampak elegan, membuatnya tak habis pikir. Ia hanyalah gadis rendahan, tidak berpengalaman, tidak cantik, tapi kenapa lelaki itu ingin membuat dirinya menjadi pelacur lelaki itu?

“Apa Tuan selesai dengan omong kosong ini? Kalau sudah saya ingin keluar,” ucap Rania tegas, Ferre hanya tersenyum singkat, meremehkan.

Senyuman yang membuat Rania ketakutan setengah mati.

“Saya antar.” Lagi, Rania mencoba tidak melawan lelaki itu. Berharap dengan melakukan hal tersebut beban pikirannya berkurang.

Sedangkan Ferre fokus menyetir, ia terdiam memikirkan perkataan Ferre. Menjadi jalang? Bahkan sesulit-sulitnya hidup Rania sekarang tidak pernah terlintas kalimat tersebut. Rania yang terlalu berkutat dengan pikirannya tidak menyadari bahwa mobil yang ia tumpangi sudah sampai panti.

“Pikirkan baik-baik, orang yang kamu sayangi mungkin akan menderita karena ego sementaramu itu. Semua wanita akan menjadi jalang ‘kan?”

Rania begitu jijik mendengar omong kosong lelaki itu.

Tanpa kata, wanita itu menutup pintu mobil sekeras-kerasnya. Terbuat dari apa hati nurani lelaki itu, apakah dia tidak sadar dari mana ia lahir? Dari seorang wanita dan tempat yang ia anggap murahan itu. Terlalu sombong, pongah seakan seluruh dunia berada dalam genggamannya.

Kasihan sekali dia, hidupnya yang kaya hanyalah fatamorgana semu, kenyataan yang terjadi adalah kegersangan tidak ada henti.

Rania langsung masuk ke dalam kamar tanpa menyapa Bunda Indah terlebih dahulu, ia butuh mandi secepatnya. Meredakan kemarahan yang sudah menggunung, dan memikirkan kembali mengenai uang. Uang selalu  menjadi batu sandungan untuk kebahagiaan sebagaian orang, ada orang yang lebih uang tapi merasa kosong, ada orang yang mencari uang kemanapun tidak akan cukup, ada yang mencari terus mencari berharap mendapatkan uang untuk memenuhi kebutuhannya, untuk bertahan hidup.

Kamar mandi yang terletak di dekat dapur. Selesai mandi Rania mengeringkan rambutnya menggunakan handuk seraya membuka ponsel pintarnya, jangan kira bahwa ponsel pintar milik Rania keluaran terbaru.

Ponsel pintar ini ia dapatkan dari teman Kinan yang menjual ponselnya karena keperluan mendesak dan harga yang murah. Mungkin saja ia menemukan lowongan pekerjaan, sudah bulat tekad Rania untuk mengundurkan diri dari restoran, Rania tidak mungkin bertahan lebih lama dengan segala hinaan yang dilimpahkan kepadanya.

“Aku melihatmu diantar dengan mobil mewah, tadi…” Suara tersebut mengejutkan Rania. Dina, adik Bunda Indah masuk ke area dapur mencurahkan air putih ke dalam gelas dan meminumnya tepat di depan Rania.

Entahlah, sudah sejak lama Rania merasa bahwa Bibi Dina tidak pernah menyukainya. Dulu, banyak yang ingin mengadopsi Rania tapi karena Bunda Indah sangat sayang kepada Rania membuat ia terus dipertahankan di panti, selalu saja ada pertikaian terjadi antara Bunda Indah dan Bibi Dina jika menyangkut mengenai Rania.

“Bos Rania yang antar, Bi,” sahut Rania malas.

“Sepertinya lelaki itu sangat kaya, apakah ia bisa membantu panti asuhan kita?” pertanyaan tersebut membuat Rania terdiam, Bibi Dina melirik tersenyum sinis.

“Apakah kamu tidak mau membantu panti asuhan ini? Dua puluh tiga tahun kamu menumpang di sini, semua sudah tersedia, sekolah pun kami biayai. Apakah kamu tidak berpikir untuk berbalas budi sedikit pun?” Rania berdiri, ingin melarikan diri. Ia tidak sanggup lagi jika harus mendengar perkataan Bibi Dina lebih lama.

“Jawab, Rania! Pria itu ingin membantu bukan?” desak Bibi Dina.

“Ya, dengan syarat menjadi simpanan pria hidung belang itu!” teriak Rania terengah-engah menumpahkan hal yang mengganjal di hatinya.

“Lakukan saja kalau begitu,” ucapan Bibi Dina membuat Rania menoleh ke arahnya, tidak menyangka wanita itu mengatakan hal tersebut.

“Kamu merasa suci, Rania?” gadis itu terdiam, memperhatikan wanita paruh baya di hadapannya sedang berorasi, entahlah apa maksud dari wanita ini.

“Kamu lahir tidak diinginkan, Rania. Mungkin saja akibat perbuatan nista kedua orang tuamu, sehingga kamu dibuang begitu saja. Tidakkah terlintas di kepalamu itu, bahwa kamu memang sedari kecil adalah produk bejad kedua orang tuamu?” Rania mengepalkan tangannya hingga buku jarinya memutih, air mata sudah menggenang tinggal satu kedipan saja pasti ia sudah menangis dengan menyedihkannya.

“Harga dirimu tidak berlaku saat kamu miskin, Rania. Lelaki itu pasti sangat kaya bukan? Ia sangat dengan mudah meratakan panti ini dengan tanah, dan karena sikap sok sucimu itu. Berapa anak yang terlantar oleh sikapmu itu?!” desak Bibi Dina, Rania memundurkan langkahnya. Tidak siap dengan kalimat menyakitkan yang di katakan wanita itu.

Rania segera berlalu, tidak ia tidak akan melakukan hal tersebut. Tidak!

“Hanya ini yang tersisa, hanya ini,” ucap lirih Rania dalam hati. Wanita itu mengusap pipinya yang lembab oleh air mata.

“Pergilah, dan jadi simpanan lelaki kaya itu, sudah cukup kamu menyusahkan di panti ini. Mbak Indah sudah cukup menderita selama ini.” Kalimat terakhir yang Rania dengar, gadis itu berlari menuju kamar kecilnya.

Menangis menumpahkan segalanya. Dunia memang kejam, tidak adil. Mungkin karena ia lahir dari kesalahan yang tidak ia ketahui, membayar semuanya. Membayar dosa yang tidak ia lakukan, hanya harga diri yang ia punya.

Sebagai seorang wanita yang lahir dari kesalahan. Begitu ucap Bibi Dina, ia lahir dari kesalahan. Kalimat itu berputar di kepalanya seperti kaset rusak.

Padahal, Rania berharap kesalahan tersebut cukup sampai pada orangtuanya saja, ia harus menjadi manusia yang lebih baik lagi. Namun, semua tidak berjalan sebagaimana harusnya. Rania harus mengambil keputusan.

Tersedu sedan wanita itu menangis, ia mengambil ponsel pintarnya dan menghubungi Pak Daniel. Gadis itu, memperbaiki penampilannya dan mengambil tas selempang bututnya untuk segera bergegas pergi.

===

Gadis itu, entahlah sejak pertama Ferre melihat ada sesuatu yang tidak bisa ia deskripsikan. Tapi yang Ferre tahu, ia tertarik pada gadis itu.

Wajahnya begitu manis, berbalut kepolosan yang naif. Jauh berbeda dengan model yang sering ia kencani. Ferre, lelaki kaya yang tidak pernah kesepian dalam artian tertentu. Wanita, tinggal jentikkan jari ia akan dapat wanita dari berbagai kalangan bahkan kalangan atas yang sangat cantik dan seksi, tidak ada yang menolak pesona Ferre.

Tapi, sudah hampir tiga tahun ini ia merasa kosong, dan merasa bosan. Restoran miliknya yang dibantu oleh Daniel berkembang dengan sangat pesat. Bisnis importir wine miliknya apalagi, ia hanya duduk saja sudah mendapatkan uang, tapi semua itu tidak pernah membuat Ferre puas.

Tetap saja ada ruang kosong dalam hatinya yang meronta untuk diisi, sedangkan ia bingung apa yang harus diisi. Tampan? Ya tentu saja ia tampan, ada darah Italia dalam dirinya yang membuat ia lebih ‘eksklusif’ dari yang lain.

Kaya? Jangan tanya lagi, mobil mewah, jam tangan mewah, rumah, apartemen semua ia ada. Wanita? Siapa yang menolak lelaki kaya, mapan dan tampan seperti dirinya. Semuanya mengantri untuk ia kencani, dari  model, artis, wanita karir. Semuanya.

Tetapi masih saja, ada ruang kosong dalam hatinya yang ia tidak tahu apa itu.

Melihat gadis lemah itu, membuat hidup Ferre yang terasa kosong jadi lebih beragam, berwarna. Tanpa ia sadari, selama ini Ferre selalu memperhatikan gadis itu- Rania.

Membuat Ferre memiliki tantangan yang ia ingin dia taklukkan untuk hidupnya yang membosankan, ia ingin memiliki Rania. Membayangkan bagaimana jika ia dan Rania memiliki malam-malam yang menggairahkan bersama.

Menghabiskan waktu bersama, membaui aroma masing-masing. Memikirkan hal tersebut membuat Ferre menawarkan hal yang tidak pernah terlintas sebelumnya di kepala lelaki tersebut. Menjadikan Rania jalangnya.

Semua wanita jalang, bukan?

Siapa yang menolak uang, mungkin saja Rania akan menolak sekarang. Tapi gadis itu tidak punya banyak pilihan saat ini. Ia membutuhkan uang, dan satu-satunya orang yang bisa membantu adalah Ferre.

Ponsel Ferre berdering, dan lelaki itu tersenyum memandangnya. Lihatlah, ia adalah pebisnis handal, segala probabilitas sudah ia perhitungan dengan matang.

Segera saja, Ferre bergegas pergi dengan rasa pongah yang sangat ketara.

== Bersambung ==

Cerita ini dapat ditemukan di wattpad – alderaminchepeus (On-going)

dan di lynk  alderaminchepeus – https://lynk.id/alderaminchepeus (Tamat)