Rania bekerja keras memenuhi kebutuhan panti asuhan, tempat ia dibesarkan. Menjadi pramusaji di restoran mewah ternama, membantu di butik milik sahabatnya. Apalagi, panti sedang menghadapi masalah serius. Perebutan hak tanah terhadap ahli waris, menuntut Rania memutar otak untuk menyelamatkan panti.
Ferre Nicolo datang menawarkan solusi, menjadi jalang dan menghangatkan ranjang lelaki itu. Rania tidak punya pilihan. Pasrah, tidak ada jalan keluar. Dilain pihak, Bibi Dina adik dari pengurus panti sangat membenci Rania yang Rania sendiri juga tidak tahu kenapa.
*Cerita mengandung kalimat vulgar diharapkan yang baca cukup umur.
===
“Jadi, butuh uang?” ucap lelaki itu, melipat kedua tangannya di dada. Dengan pakaian necis rapi ala eksekutif muda duduk dihadapan Rania.
Gugup…
Rania memilin tangan, lelaki ini mungkin terlihat tenang tapi Rania merasakan tanda bahaya. Entahlah, sejak bertemu lelaki itu ia merasa takut dan ingin melarikan diri.
Ferre Nicolo, lelaki berusia tiga puluh tiga tahun pemilik restoran tempat Rania bekerja. Entah apa spesifik kerja beliau, yang Rania tahu Ferre memiliki berbagai cabang restoran di beberapa kota besar di negara ini. Yang pasti, lelaki ini memiliki uang yang tidak berseri. Ferre belum menikah, dan mungkin tidak akan menikah, menurutnya.
Ferre tipe pria bebas yang tidak ingin terikat apalagi dengan pernikahan. Sudah beberapa kali, pegawai restoran membicarakannya. Berita yang berkaitan dengan seorang Ferre Nicolo pastilah sangat menarik. Tampan, kaya, dan dingin.
Bukankah ia selayaknya tokoh utama cerita novel roman?
Dekat dengan berbagai kalangan, mulai dari wanita karir sampai selebriti papan atas. Bahkan, dulu ia sempat masuk berita karna dekat dengan seorang selebriti sensasional. Biasanya Rania tahu berita ini dari Kinan, entahlah gadis itu sangat suka sekali bergosip. Mulai dari Daniel, Ferre bahkan satpam depan yang katanya sudah menikah untuk keempat kalinya.
Rania tidak sadar, ia terdiam terlalu lama. Membuat Ferre mengernyitkan dahi. Menunggu jawaban dari gadis yang ada di depannya ini.
“Em… tidak apa-apa Tuan.” Rania berdehem dan meminum botol air putih yang selalu ia bawa, untuk mengurangi kecanggungan antara ia dan Ferre.
“Tidak perlu gengsi,” seloroh Ferre tersenyum dingin, ia dengan memberikan tatapan menilai kepada Rania. Membuat gadis tersebut semakin tidak nyaman.
“Saya tahu, panti asuhan kesayanganmu itu mau digusur ‘kan?” Rania terkejut mendengar perkataan Ferre. Bagaimana lelaki itu bisa mengetahuinya?
“B-bagaimana Tuan bisa tahu?”
“Rania Jayanti,” Ferre mencondongkan wajahnya ke arah Rania. “Dunia ini akan menjadi mudah ketika mempunyai banyak uang, tidak terkecuali informasi pramusaji rendahan sepertimu, Gadis lemah.” Mata Rania membesar, entah apa yang telah ia perbuat sehingga lelaki ini berbicara kasar seperti itu.
Rania tahu, ia hanyalah pramusaji dan semua yang diucapkannya adalah kebenaran. Tapi, apa pria tersebut tidak memiliki rasa empati sedikit pun terhadapnya?
Dari awal Rania sudah merasa ada yang aneh, ia selalu saja dimarahi oleh Ferre atas kesalahan yang tidak Rania perbuat. Jika lelaki tersebut melakukan pengecekkan, selalu saja ada yang salah pada diri Rania. Mulai dari baju yang kurang rapi, padahal menurut Kinan ia sudah sangat rapi. Dan pelayanan terhadap pengunjung, pernah suatu kali Rania ingin mengundurkan diri karena perkataan Ferre yang menyakitinya.
Ia hanya melakukan SOP yang sudah ada di restoran tersebut, tapi saat itu ada Ferre yang sedang melihat keadaan restoran yang sangat ramai.
Rania dipanggil keruangan Ferre, dan diberi teguran karena terlihat seperti menggoda pengunjung restoran!
Sangat tidak masuk akal, ia hanyalah menjalankan apa yang seharusnya dijalankan. Ramah, adalah satu hal penting bagi pramusaji ‘kan?
Tidak hanya sampai itu saja, saat baju pramusaji Rania basah terkena hujan. Ia pun meminjam baju Kinan yang kala itu membawa cadangan baju pramusaji. Memang badan Kinan sangat kurus lebih kurus dari Rania, sehingga saat Rania memakai baju tersebut sangat sempit di tubuhnya yang sedikit berisi. Ia dipanggil Ferre lagi, dan dimarahi habis-habisan padahal Rania sudah memberikan pembelaan. Menurut Kinan banyak pramusaji yang memakai baju yang lebih ketat dari yang Rania gunakan.
Mulai dari kejadian tersebutlah, Rania ingin mengundurkan diri tapi berkat nasehat dari Pak Daniel, Rania urung melakukannya.
“Kamu tahu Rania, Ferre itu memiliki banyak pekerjaan yang membuatnya stres, mungkin karna itu ia melampiaskan kepadamu. Jika kamu ingin mengundurkan diri, pikirkan lagi. Mencari pekerjaan sangat sulit sekarang, apalagi dengan gaji yang lumayan. Di sini kamu mendapatkan gaji yang cukup tinggi dibandingkan pramusaji di tempat lain,” usul Daniel mencoba menenangkan Rania yang kadung emosi.
Perkataan Daniel tersebut membuat Rania memikirkan lagi keinginannya, maka ia sudah putuskan untuk menghindari Ferre. Jika lelaki itu berkunjung, Rania akan meminimalisir keadaan yang membuat ia terlihat.
Dan sekarang, ia kembali diperlakukan tidak menyenangkan lagi. Rania bergegas untuk berdiri. Ingin pergi dari hadapan Ferre sekarang juga.
Wanita itu seakan lupa bahwa Ferre adalah pemilik restoran tempat ia bekerja. Tapi mau bagaimana lagi, ia sekarang sedang kalut memikirkan panti dan tiba-tiba ada seseorang yang menghina ia secara langsung, Rania tidak sekuat itu.
“Jika kamu pergi selangkah saja dari tempat dudukmu, mungkin saya bisa membuat panti itu rata dengan tanah, besok,” gumamnya dingin, tubuh Ferre bahkan tidak bergerak seinci pun.
Layaknya robot, Rania duduk kembali. Wanita itu menelan ludah saat menatap Ferre yang begitu kokoh di hadapannya.
“Sepertinya bicara di sini tidak begitu enak. Bisa dilihat oleh orang banyak, bagaimana jika kita berbicaranya di dalam mobil saja?”
Lagi, Rania tidak bisa menolak. Tidak akan bisa, bukan?
Ferre berjalan terlebih dahulu dengan elegan. Sedangkan Rania, ia memegang rambutnya yang ia ikat sembarangan. Bau matahari menguar di tubuhnya, entah sekarang Rania merasa tidak percaya diri, dirogohnya saku tas dan mengambil parfum anak-anak beraroma buah anggur kesukaan Rania. Setidaknya ia tidak terlalu ‘gembel’ untuk duduk di dalam mobil mewah milik lelaki itu.
Dengan canggung Rania masuk ke dalam mobil BMW X6 milik Ferre. Gadis itu duduk tidak nyaman di dalam mobil mewah tersebut. Rania merasa, duduk di sini saja adalah sesuatu yang tidak mungkin terjadi.
“Panti asuhan Murah Hati, berhutang tanah kepada ahli waris tanah seharga 300 juta. Benar?”
Kenapa lelaki itu tahu mengenai hutang panti?
Rania bertanya-tanya, untuk apa lelaki itu membeberkan masalah ini kepadanya. Tapi apa daya, ia terlalu takut untuk bertanya.
“B-benar, Tuan…” jawab Rania terbata-bata.
“Saya bisa bantu.” Lagi, sebuah pernyataan bukan pertanyaan. Apa maksud lelaki ini?
“Bagaimana?” tanya Ferre, sembari menoleh ke arah Rania.
“Saya coba cara lain dulu ya, Tuan.” Tolak halus Rania, ia berharap Ferre menyadari bahwa Rania tidak ingin lelaki itu membantunya.
“Dengan tenggat dua minggu, dan tidak mempunyai jaminan untuk peminjaman bank dengan cara apa, gadis lemah? Menjual tubuhmu?” Rania tersentak, dan memundurkan tubuhnya menjauh dari Ferre yang memandangnya dengan tatapan tajam.
“M-maksud, Anda apa ya Tuan Ferre! Lebih baik saya keluar dari mobil ini.” Tapi harapan tinggal harapan, pintu mobil tersebut terkunci!
“Tuan!” teriak Rania, mencoba berulang kali membuka pintu mobil itu.
“Gadis Lemah sepertimu ingin melarikan diri dari Ferre Nicolo? Jangan harap,” desis Ferre di hadapan Rania.
Rania terdiam. Seluruh tubuhnya bergetar ketakutan.
“Dengarkan baik-baik, Gadis Lemah. Saya bisa membantumu dengan memberikan uang 300 juta secara langsung. Dengan beberapa syarat.”
“Syarat?” Rania mengerutkan dahi tidak mengerti.
“Menjadi simpanan saya.”
=Bersambung=
Cerita ini telah terbit di wattpad – Alderaminchepeus (On-going)
Cerita ini juga tersedia di lynk – Alderaminchepeus (Tamat)

