Vitamins Blog

Pinkie Promise: 7. Alkisah (Bagian 1)

Bookmark
Please login to bookmarkClose

No account yet? Register

****

“TURUNKAN AKU!!!”

Tiara mengucapkan kata-katanya dengan tegas hampir serupa perintah yang tak dapat dibantah atas alasan apapun ketika menyadari ia tak lagi dibawa berlari kencang oleh Wildan untuk menembus pekatnya malam di jalan setapak yang begitu sepi dan hening dengan lampu-lampu sorotnya di kanan-kiri yang menjadi saksi bisu kecepatan Wildan yang tak lazim untuk dimiliki manusia biasa.

Setelah memastikan bahwa dirinya kini tengah berada di beranda sebuah rumah yang tampak tenang dan tak menguarkan aura berbahaya sedikitpun, Tiara memberanikan diri memerintahkan Wildan untuk melepaskan tubuhnya yang sudah sangat lama berada dalam dekapan Wildan, dalam gendongannya.

Wildan yang terlihat tak begitu ambil peduli dengan sikap Tiara yang terlihat tak suka dengan caranya hanya menunjukkkan ekspresi datar dan menyempatkan diri untuk memutar kedua bola mata amber miliknya dengan malas sebelum akhirnya menjatuhkan tubuh Tiara tanpa sungkan sedikitpun.

“Aduh!” pekik Tiara cepat ketika mendapati tulang ekornya mendarat kasar di permukaan lantai yang beruntung dialasi bentangan keset tebal nan empuk yang terbuat dari sulaman-sulaman kain perca berwarna-warni hingga saling menumpuk satu sama lain dan menciptakan ketebalan yang pas hingga mampu menahan tubuh Tiara agar terhindar dari hentakkan keras dengan ubin lantai secara langsung.

Wildan sendiri sebenarnya sudah memperhitungkan hal itu, sehingga ia merasa tak perlu memiliki rasa kasihan berlebih untuk Tiara yang kini terlihat sedikit merintih untuk rasa sakit yang sebenarnya tak seberapa. Payah. Lemah.

“Bangunlah, ayo masuk,” ajak Wildan yang kini telapak tangan kanannya telah menggenggam panel pintu dengan mantap dan siap untuk membukanya.

Tiara terburu-buru bangkit dari tempatnya, menepuk-nepuk halus pada rok gaun berwarna peach dan bernuansa pastel yang melingkar mengelilingi pinggang langsingnya hingga ujung kainnya menjuntai mencapai sebatas lututnya.

“Tidak mau!” tolak Tiara dengan tegas dan terdengar menyebalkan dari nada bicaranya setelah selesai melakukan tindakan membersihkan seluruh noda yang mungkin mengotori gaunnya meskipun secara kasat mata jelas sekali penampilan Tiara baik-baik saja kecuali anak-anak rambutnya yang terlihat berantakan akibat diterpa angin berkali-kali ketika dibawa berlari kencang oleh Wildan. Buru-buru Tiara merapikan rambut panjang lurus miliknya yang tergerai polos dengan menggunakan jari jemarinya. Tiara juga berusaha menyisir rambutnya dengan menggunakan sela-sela kelima jari pada kedua telapak tangannya. Raut wajahnya jelas sekali terlihat sangat kesal bahkan sengaja tak ingin melihat ke arah Wildan sedikitpun dengan berpura-pura sangat fokus pada apa yang sedang dilakukannya, merapikan rambut panjangnya.

Wildan melirik sekilas dan menipiskan bibirnya yang menyimpan geram tertahan. Ia sudah sangat lelah, pun perutnya terasa lapar. Melihat rumah yang selalu menjadi tempat ternyaman untuk beristirahat telah berada tepat di hadapannya, membuat Wildan tak ingin menunggu lama lagi untuk tetap berada di luar. Wildan ingin segera masuk. Langkah kakinya seakan dibujuk paksa untuk segera melewati batas ambang pintu utama rumah tersebut sehingga ia sangat amat tidak peduli dengan penolakan Tiara yang terasa merepotkan untuk ditanggapi lebih jauh.

“Silahkan kalau mau tetap berada di luar, aku tidak akan menahan keinginanmu. Hanya saja, jika kau merasa ada ancaman berbahaya menghampirimu, kau bisa segera masuk, aku tidak akan mengunci pintu untukmu. Ini sudah sangat larut malam, aku tak menjamin di luar sini membebaskanmu dari dinginnya malam yang menusuk terlebih lagi kebanyakan makhluk-makhluk nocturnal di sini bukanlah hewan yang ramah pada manusia.” ucap Wildan enteng namun jelas sekali tersirat ancaman halus di dalamnya. Tubuhnya telah siap untuk bergegas masuk ke dalam rumah bersamaan dengan Tiara yang masih bergeming.

Tidak ingin berpikir lebih banyak lagi, Tiara seketika saja langsung bergidik ngeri terutama ketika Wildan mengucapkan ujung kalimatnya dengan penekanan yang begitu terasa mengancam jiwa.

Dia tak punya hati!

Bisa-bisanya dia membiarkan perempuan lemah sepertiku berada di luar sendirian begini?

Lupa akan kekerasan hatinya yang melakukan penolakan tegas terhadap tawaran Wildan sebelumnya, Tiara buru-buru melangkahkan kakinya mengekor langkah Wildan yang sudah lebih dulu masuk ke dalam rumah. Belum sempat Wildan menutup daun pintu rumahnya, Tiara menahannya dan merangsek masuk dengan cepat karena begitu ketakutan atas ancaman halus yang dilontarkan Wildan secara tersirat. Wajahnya sedikit malu ketika menyadari membiarkan dirinya masuk rumah berarti dia sudah menjilat ludahnya sendiri.

Wildan kini telah menutup pintu utama rumahnya. Sebuah guratan senyum tipis menghiasi bibir Wildan yang tak diperhatikan dengan saksama oleh Tiara sebab sepasang mata hazel milik Tiara kini tengah sibuk memindai ke dalam isi rumah yang terlihat rapi, nyaman, dan damai. Diam-diam Tiara bersyukur memilih untuk masuk daripada bertahan dengan egonya untuk tetap berada di luar.

Apa jadinya dengan nasibnya jika Tiara bertahan di luar sana?

Lagipula, Tiara bahkan tidak tahu kenapa ia berada di tempat ini?

Tempat asing yang entah kenapa tidak terasa asing, seakan ia sudah pernah berada di sini sebelumnya.

“Duduklah,” Wildan mempersilahkan Tiara untuk menempati salah satu sofa empuk di dalam ruang tamu dan meskipun ada keraguan jelas terpancar dari dalam diri Tiara, namun akhirnya ia tergoda untuk duduk juga, membebaskan dirinya dari disorientasi halus yang menyerangnya karena terlalu lama terguncang dalam dekapan Wildan ketika berlari kencang.

Wildan sendiri memilih duduk di sebuah kursi goyang dari kayu yang berada di sudut ruangan. Itu adalah kursi goyang milik Bibi Meredith selama ini, dan sejak kepergian Bibi Meredith beberapa hari lalu, kursi itu menjadi tempat  favorit Wildan untuk bermalas-malasan sekaligus untuk mengenang setiap sentuhan kasih sayang dari sosok wanita paruh baya yang disaksikannya menua hingga renta seiring berjalannya waktu lantaran disibukkan dengan mendampingi tumbuh kembang Wildan dan Wilona sejak mereka masih harus bergantung dengan orang lain untuk mengurus diri hingga menjadi semakin mandiri dan tumbuh menjadi dua sosok manusia tangguh di bawah naungan kilatan tak bersahabat dan teror dari para penduduk Kota Thames.

Bibi Meredith adalah orang tua kedua baginya setelah orang tua kandungnya sendiri yang hampir-hampir tak dapat diingat lagi sosoknya oleh Wildan kecuali rasa pedih yang terus melekat dari rintihan Ayah dan Ibunya ketika memohon dengan begitu lemah dan mengenaskan kepada si Tua Bangka brengsek untuk melepaskan Wildan dan Wilona yang tak mengerti apapun. Jika bukan Bibi Meredith yang dengan beraninya meraih sosok-sosok kecil tak berdosa secara diam-diam ketika sosok brengsek itu terlalu sibuk memuja keangkuhannya di atas ketidakberdayaan kedua orang tua Wildan dan Wilona yang terluka parah bahkan ajal telah siap melepaskan diri dari pangkal tenggorokan mereka, lalu membawa mereka berdua kabur dari tempat yang begitu menyesakkan dada untuk diingat kembali, mungkin Wildan dan Wilona hanya akan tumbuh menjadi jiwa kosong dalam genggaman penguasa dzalim sebagai tahanan seumur hidup untuk kepentingan dirinya sendiri.

Wildan dan Wilona mungkin tidak akan mati oleh siksaan apapun, hanya saja terkungkung untuk selamanya. Abadi.

Bibi Meredith selama hidupnya dengan segenap hatinya memastikan bahwa kedua jiwa yang begitu disayanginya itu tidak akan menjadi jiwa yang kotor dan ternoda oleh nafsu manusia tamak lantaran dibutakan oleh keserakahan.

Bibi Meredith ingin melihat Wildan dan Wilona menjadi jiwa yang bebas, menjadi manusia seutuhnya sebagaimana takdir menuliskan garis mereka ketika dilahirkan kedunia ini karena cinta yang menggelora di hati kedua orangtuanya.

Manusia dilahirkan sudah sepantasnya hidup sebagai manusia seutuhnya. Jiwa yang bebas, yang diberikan akal untuk berpikir, lantas bertanggung jawab atas dirinya sendiri.

Menjadi laki-laki, menjadi perempuan, sebagaimana ketentuan yang telah dibawa mereka sejak lahir. Dan, tidak ada yang salah dari penciptaan manusia sejak awal mulanya, kecuali manusia sendiri yang melampaui batas dari takdir yang digariskan untuk mereka.

Dalam kasus Wildan dan Wilona, pihak ketigalah yang berusaha melampaui batas atas takdir hidup mereka berdua. Membuat garis kehidupan Wildan dan Wilona terasa kacau balau hingga Bibi Meredith harus bekerja lebih keras menjaga kesucian jiwa mereka. Wildan sangat menyayangi Bibi Meredith.

Memperhatikan Wildan yang terlihat sedang dalam perenungan mendalam sembari melempar pandangannya ke pekarangan rumah dari kaca jendela membuat Tiara merasakan de javu sekali lagi, seakan dia sudah pernah melihat pemandangan itu sebelumnya.

“Kenapa rasanya pria ini tidak asing sama sekali?” batin Tiara sedikit terheran-heran.

Wildan menjentikkan jarinya cepat lalu membiarkan tubuhnya dibuai manja oleh kursi goyang yang didudukinya. Tidak ada penjelasan apapun untuk Tiara atas tindakan menjetikkan jari yang dilakukannya secara singkat dan cepat. Wildan hanya diam, seakan Wildan sedang menunggu waktu, menunggu sesuatu, dan itu membuat Tiara mengerutkan dahinya dalam-dalam lantaran bingung.

Haruskah ia duduk manis atau adakah yang perlu dijelaskan di sini?

“K-k-kenapa kau bisa berlari dengan begitu kencang?” tanya Tiara memecah keheningan yang tidak ia sukai.

Wildan hanya melirik sekilas ke arah Tiara lalu kembali memejamkan matanya dan membiarkan tubuhnya rebah sempurna di atas kursi goyangnya.

Tiara mendengus kesal, “Pria ini memang tidak punya adab sama sekali!” hardiknya dalam hati.

“Hei, aku sedang bertanya. Manusia yang memiliki sopan santun seharusnya menanggapi ketika ditanya!” celetuk Tiara lantas menatap tajam ke arah Wildan yang kembali melirik ke arah Tiara dengan malas ditambah menaikkan sebelah alisnya sembari berpikir cepat tanggapan yang menurutnya “pantas” untuk perempuan menyebalkan itu.

Aku lapar, aku capek, tidak bisakah aku tenang sejenak menikmati kedamaian di rumahku sendiri? Dasar, perempuan bawel.

“Apa kau tahu, berapa lama aku terduduk di Taman tadi untuk memulihkan tenaga? Apa kau tahu, tadinya sebelum kau muncul aku tengah berkelahi dengan belasan makhluk sialan?” tanya Wildan sembari bangkit dari kursi lalu langkahnya perlahan-lahan menghampiri Tiara dan tatapannya sangat mengintimidasi hingga membuat Tiara sedikit memundurkan punggunggnya karena ngeri.

“Lariku sangat kencang yaa? Apa rasanya seperti kecepatan serigala?” tanya Wildan lagi yang langkahnya semakin dekat.

Serigala? Apa maksudnya?

“Jadi jika aku tak memiliki sopan santun, apa sebaiknya tidak usah disebut manusia saja?” tanya Wildan lagi penuh teka-teki.

Bukan manusia? Serigala? Aku tidak mengerti.

Tiara memaksakan diri untuk berpikir cepat dalam kepanikan yang nyata. Hingga akhirnya ia menyimpulkan secara mendadak dari imajinasinya yang liar dan di luar batas logikanya sendiri.

“Ma-ma-manusia serigala?” gumam Tiara pelan namun tertangkap oleh telinga Wildan.

Kilat mata Wildan setelah mendengar dugaan Tiara terasa begitu puas hingga Tiara mendadak dihinggapi rasa takut yang menjalar ke seluruh tubuhnya. Tubuhnya menjadi gemetaran.

“Apa kau tahu? Energiku sangat terkuras. Berapa lama waktu yang diperlukan sistem percernaan untuk kembali menuntut asupan makanan, Tiara? Aku sudah melewati jam makan malamku. Dan kau pasti tahu kan, kaum karnivora, oh bukan, serigala, yaa serigala. Serigala sangat suka makan daging segar, bukan? Hmmm…” Wildan mengucapkan seluruh rangkaian kata-katanya dengan menyeringai lebar ke arah Tiara yang terlihat semakin ketakutan. Tubuh gemetarnya semakin menjadi-jadi.

Tiara hanya bisa menelan ludahnya sendiri, tak ada sepatah kata apapun yang mampu ia ucapkan.

Apa ini akhir dari hidupku?

Kenapa aku selalu begitu bodoh mempercayai orang asing begitu saja?

Tiara semakin memundurkan punggungnya hingga terasa memaku di sandaran kursi sofa dan buru-buru menutup matanya lantaran tak sanggup lagi melihat kenyataan mengerikan di depan matanya.

Sekali lagi,  Tiara hanya bisa pasrah!

Masih dapat ditangkap oleh telinga Tiara derap langkah kaki perlahan milik Wildan yang semakin mendekati tubuhnya bahkan aura yang menguar dari tubuh Wildan terasa telah melingkupinya.

“Tiara, aku… la… par….” ucap Wildan lirih di salah satu telinga Tiara yang membuat Tiara sentak menjerit keras.

“Tuk!”

Ketukan halus dari telunjuk kanan milik Wildan mendarat sempurna di dahi Tiara hingga membuat Tiara menghentikan jeritan pendek melengkingnya seketika seakan Wildan telah berhasil menemukan tombol otomatis untuk menghentikan kelakuan Tiara.

“Roarrr!” raung Wildan yang lebih mirip seperti auman kecil yang diucapkannya dengan lirih dan lebih mirip seperti ledekan tepat di hadapan wajah Tiara sesaat setelah Tiara selesai mengerjapkan kedua matanya hingga terbuka sempurna dan terbelalak mendapati wajah Wildan sudah berada sangat dekat dengan wajahnya.

“Bodoh, aku manusia biasa dan aku memang lapar.” ucap Wildan enteng lalu melengos kembali ke kursi goyang miliknya dan meninggalkan Tiara yang masih berusaha menata perasaannya yang campur aduk oleh berbagai rasa yang rumit untuk dijelaskan.

Dia, mempermainkan aku?

Dia, pria sialan!

Belum sempat Tiara melakukan agresi beruntun untuk mengutuk kelakuan Wildan, kali ini Tiara terkejut dengan kehadiran dua piring sajian makanan dan dua cangkir teh panas yang melayang-layang melesat menuju meja di hadapannya. Bahkan dalam keadaan melayang tanpa keseimbangan yang baik, semua sajian itu masih mampu mendarat sempurna.

Lagi-lagi Tiara terperangah, “Bagaimana bisa?”

Wildan bangkit dari duduknya, segera mengambil piring miliknya dan memilih duduk di sofa dekat Tiara.

“Makanlah dulu, hentikan wajah bingungmu yang terlihat bodoh. Setelah ini aku akan mengajakmu bertemu seseorang.”

****

Bersambung~