Vitamins Blog

Tir Na Nog ~Prolog

Bookmark

No account yet? Register

20 votes, average: 1,00 out of 1 (20 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Pada suatu zaman hiduplah seekor naga perkasa bernama Isyura. Dalam bahasa tua Isyura berarti sang penghancur. Tak seperti kebanyakan naga, Isyura memiliki tubuh sekokoh Gunung Dhams, gunung suci yang dipercaya menjadi tempat bernaung pengikut Luma, dewa kebijaksanaan. Sisik-sisiknya seindah permata hitam dengan ketahanan yang luar biasa. Tak ada satu baja murni pun yang mampu menggores sisik Isyura. Kedua manik mata Isyura semerah batu rubi. Taring dan cakar hitam milik Isyura mampu mengoyak setiap jengkal tubuh naga mana pun yang berani menantang sang penghancur. Para fana percaya bahwa Isyura merupakan jelmaan Dewa Hike, dewa akhir zaman, yang memilih mewujud dalam binatang buas. Isyura adalah segala dari bencana yang paling mengerikan. Raungan Isyura bagai guntur yang membelah cakrawala. Api milik Isyura tak diragukan lagi telah menghancurkan ratusan permukiman manusia. Dengan kata lain, Isyura merupakan akhir bagi setiap kehidupan. Mahluk buas dengan insting pembunuh yang teramat terasah, Isyura menempati urutan pertama wujud maut yang paling mengerikan.

Kaum kurcaci tak berani menjejakkan kaki di gunung yang ditempati Isyura. Kalaupun Isyura memilih bergelung di salah satu gua yang kebetulan ditempati kelompok kurcaci, maka para mahluk penambang itu akan memilih menjauh dan meninggalkan hunian mereka untuk sang naga api. Isyura si naga mandraguna. Tak terhitung, penyihir, kesatria, ahli teluh, dan pengguna ilmu tinggi yang telah dikalahkan Isyura; sebagian dari mereka berakhir menjadi abu hitam, yang lain berakhir di perut Isyura.

Dalam setiap sel di tubuh Isyura, api mendesis dan mendamba melahap dataran yang dihuni mahluk ciptaan Luma. Gairah terbesar yang diidamkan Isyura hanyalah mengembuskan api pada setiap lembah hijau, meluluhlantahkan kuil-kuil suci para dewa agung, dan mengukir namanya dalam sejarah dunia.

Isyura tak tunduk pada siapa pun.

Isyura adalah simbol dari keagungan.

Hingga segala kejumawaan Isyura hancur.

Semua berawal dari keputusan salah satu naga tertua yang melarang segala bentuk kejahatan yang diarahkan pada umat manusia. Tentu, walaupun kaum naga dikenal sebagai predator tak berhati, namun niscaya mereka pun memiliki kebijaksanaannya sendiri. Tidak semua yang bertaring itu menggigit, tidak pula yang berparas rupawan pun sungkan menuang racun di mata air yang terberkati. Oleh karena itu, tidak semua naga sebengis Isyura. Sebagian naga memilih mengungsikan diri ke daratan lama, tempat yang tak lagi dihuni oleh manusia. Ada pula beberapa naga yang beralih pada manusia, melakukan perjanjian dan hidup bersama dalam damai. Hingga pada akhirnya naga-naga yang lebih tua memilih kembali ke Lembah Castera, atau yang lebih dikenal sebagai sarang naga.

Lembah Castera. Sebuah tempat yang tak terjamah oleh fana. Di sana Luma bersabda, “Tinggallah dan hiduplah dalam damai. Kalian yang tercipta dari api Agni, maka aku perintahkan tiap-tiap dari diri kalian memberkati lembah ini dengan kerendahan hati.” Setiap naga menyucikan Lembah Castera dan enggan mengotori lembah naga dengan keserakahan.

Kaum naga mulai menanggalkan kulit keburukan mereka—beralih pada jalan damai; sebuah cara hidup yang tak akan dibayangkan manusia mampu ditempuh oleh kaum api—naga.

Isyura geram. Harga dirinya terusik oleh keputusan naga-naga tua yang terkesan memihak pada manusia. Bagi Isyura, manusia tak lebih baik daripada ternak. Mereka—para manusia ini—memiliki jangka hidup singkat. Isyura lebih senang memangsa manusia. Oh, tak perlu diragukan dinasti fana yang roboh dan hancur karena ulah Isyura. Sebab itulah beberapa manusia mengenang kejahatan Isyura dalam sebuah balada kuno;

Ia yang tercipta dari debu,

mengubah kehidupan menjadi abu.

Sayapnya laksana malaikat maut,

Sikapnya sungguh tak patut.

Dari awal penciptaan ia muncul;

Mengoyak….

Menghancurkan….

 

Namun Luma bersabda,

“Kepada anak-anakku,

niscaya karma akan aku jatuhkan kepada mereka yang berbuat laknat.”

 

Setidaknya itulah bagian kecil yang dikenang manusia dari sosok seagung Isyura.

Tiada tempat bagi Isyura melampiaskan kesenangannya. Maka, Isyura memutuskan menghancurkan seluruh kerajaan fana yang disinggahi naga-naga bijak. Para naga bijak yang usianya di bawah Isyura pun tak mampu menandingi kekuatan sang naga penghancur. Satu per satu dinasti fana runtuh—meninggalkan abu dan puing. Dataran hijau kembali tandus; pohon-pohon cedar dan poplar layu karena panas yang tak tertahankan. Binatang dan manusia yang tersisa dari pembantaian Isyura, pada akhirnya mereka pun meregang nyawa karena sekarat. Air sungai ternoda racun yang dikeluarkan Isyura. Perlahan denyar kehidupan mulai meninggalkan dunia, segalanya kembali ke masa kegelapan.

Tak puas hanya menghancurkan daratan yang dihuni fana, Isyura memutuskan bertandang ke Lembah Castera. Darah Isyura mendidih dikarenakan gairah untuk menghancurkan naga-naga tua yang menyebabkan ras kaum api direndahkan. Melewati dataran gersang, menyeberangi samudra, dan terbang di atas bebukitan landai; Isyura tiba di Lembah Castera.

Pepohonan raksasa tumbuh subur di Lembah Castera. Sungai dengan air sejernih kristal menampilkan ikan aneka warna yang tengah berenang bebas. Beberapa ekor burung liar mulai berkicau saat mereka mendapati Isyura hinggap di salah satu batu terbesar yang ada di sana.

“Minggir,” perintah Isyura. Ekor Isyura yang berduri melecit dan menumbangkan pepohonan yang berada dekat dengan sang naga.

Dua naga dengan sisik seperti warna pualam menghadang Isyura. Salah satu di antara mereka berkata, “Saudara, untuk apa kau datang kemari?”

“Ya,” timpal rekannya. “Tidakkah kau malu?”

Sang naga penghancur tertawa. Suara tawa Isyura terdengar bagai gemuruh ombak. “Tahu apa kalian?”

“Kami hanya mematuhi amanat Luma,” jawab mereka.

“Kalau begitu,” desis Isyura, “hancurlah dan matilah menjadi abu!”

Kedua naga penjaga memutuskan untuk menyerang Isyura. Salah satu di antara mereka mencoba mencengkeram pohon terbesar sebelum kemudian melemparnya ke Isyura. Batang kayu remuk kala menyentuh sisik Isyura yang sekeras permata murni.

Sang naga penghancur tak ingin berbelas kasih. Isyura meraung marah dan menyemburkan napas api. Seluruh tanaman hangus, air sungai menguap—terkikis karena suhu panas yang dikeluarkan Isyura. Isyura membentangkan sayap dan melesat menyerang satu naga penjaga. Ia memojokkan naga tersebut hingga membentur salah satu bukit. Terdengar bunyi berdebum yang menggema hingga menyebabkan ratusan burung meninggalkan hunian mereka.

Isyura tertawa saat melihat sang naga penjaga berada di bawah cengkeramannya. Tanpa ragu Isyura meremuk tenggorokan sang naga penjaga dan melempar mayatnya ke rekan si naga penjaga. “Lemah!” celanya. Isyura kembali menghembuskan napas api. Kali ini napas api mengenai kedua naga penjaga tersebut.

Tak ada apa pun yang tersisa selain api dan debu.

Isyura tertawa, dari lubang hidungnya keluar napas api.

Ia puas, namun ia akan lebih bahagia jika bisa menghancurkan naga-naga tua yang telah merubah tatanan hidup kaum api.

“Hentikan!”

Terdengar teriakan yang menggema ke setiap sisi lembah.

Mendongak, Isyura melihat empat naga yang kini terbang menuju tempatnya.

Dengan anggun, keempat naga tersebut mendarat di atas tumpukan abu Lembah Castera.

Keempat naga tersebut terlihat agung dan begitu arif. Satu per satu Isyura mengenali mereka sebagai; Qour, sang naga putih pemberi kebijaksanaan, Isyagul, sang naga merah sumber kekuatan, Ra Zayhk, sang naga emas yang sakti mandraguna, dan Arshim, naga api dari utara.

“Oh,” kata Isyura, culas, “aku kira kalian, para tetua, berniat menyembunyikan diri.”

“Isyura,” desis Ra Zayhk. Sayap emasnya terbentang megah hingga seolah mampu menyentuh kaki langit. “Aku rasa kau sudah keterlaluan.”

“Benar,” kata Arshim. “Tak bijak membunuh naga yang lebih muda darimu.”

“Kalian takut padaku,” seloroh Isyura. “Kalian bersembunyi dari dunia karena kalian takut pada kemegahan klan api. Wahai, kalian yang tak bernyali, sudah seharusnya kalian berakhir menjadi abu dan debu. Musnahlah kalian oleh apiku!”

Isyura meraung, menyemburkan api dan berniat membakar keempat naga tersebut.

Api surut, menyisakan asap yang membumbung ke angkasa.

Keempat naga tua itu tak terpengaruh sedikit pun. Api Isyura tak mampu melemahkan mereka.

“Kenapa?” raung Isyura, murka. “Seharusnya kalian berubah menjadi abu!”

“Kau terlalu sombong,” balas Qour. “Tak selamanya api mampu meleburkan permata. Kau membunuh mahluk yang lebih lemah darimu, menolak berdamai dengan manusia, menghancurkan kehidupan milik Luma yang agung. Maka, kami berempat memutuskan untuk menjatuhkan hukuman padamu.”

Belum sempat Isyura mejabarkan kekalahan yang ia terima, keempat naga tua itu terbang ke angkasa. Isyagul turun menukik dan tanpa ragu mencengkeram bahu Isyura. Naga merah itu menjatuhkan tubuh Isyura ke samudra. Bunyi dentum berdebum tercipta kala tubuh Isyura menghantam permukaan laut. Arshim meraung dan mengembuskan napas api. Sisik-sisik Isyura meleleh, dagingnya terasa perih saat air asin menyentuh langsung tubuh sang naga. Ra Zayhk tanpa ragu merobek kedua sayap Isyura; salah satu sayap Isyura tercerabut dan Ra Zayhk melempar potongan sayap tersebut. Kini keempat naga tua itu mulai terbang membentuk pola lingkaran; bersama-sama mereka mengembuskan napas api. Rasa panas menyergap indra Isyura. Ia tak lagi mampu melawan—perlahan kedua mata Isyura terpejam.

Tak ada lagi deru napas.

Tak ada lagi degub jantung.

Isyura tenggelam di dasar samudra.

13 Komentar

  1. Cerita yang bagus. Suka bangetttt

    1. Galuh cahya menulis:

      ??? Makasih. ????

  2. waah fantasy lagi :inlovebabe

  3. farahzamani5 menulis:

    Keren bngt ini
    Wahhhh aq ampe bingung mau komen apa
    Aduhhhh pokokny ditunggu part berikutnya
    Gmn takdir isyura kedepannya, penasaran, apakah dia dihukum atau gmn
    Semangat trs

    1. farahzamani5 menulis:

      Oia ka, ditmbh dikit dibagian atas tulisan dikau, tmbhin kata [ratings] spy nnt muncul lope lope bwt kita2 klik untuk mengapresiasi karya ny dikau
      -Pake kurung [ ] tanpa spasi
      -Pake huruf r
      -Pake huruf s dibelakangny
      Yuks dicba ka
      Semangat

    2. farahzamani5 menulis:

      Oia lupaaa, itu judulny artinya apa yak? Bukan bhsa Indonesia ya, bhsa Thailand kah ehh hihi Atau bhsa apa?

    3. Galuh cahya menulis:

      ? Makasih.
      Oh ? bukan Tailand.

  4. farahzamani5 menulis:

    Haiii ka
    Cba diedit lgi, nulis [ratings] pake huruf r bukan R jdi ga muncul lope2ny hihi
    Yuks diedit lgi, apus trs ketik ulang [ratings] nya
    Semangat

  5. aufklarung menulis:

    Isyura dihukum, terus dikutuk jadi manusia, terus ketemu gadis yang jadi takdirnya, lalu jatuh cinta, dan seterusnya_

    1. Galuh cahya menulis:

      ???? Dia bukan Anum Ra.

  6. KhairaAlfia menulis:

    Nanti Isyura nya bangkit lagi lah kan??

  7. fitriartemisia menulis:

    Isyura nya nanti bangkit kah?

  8. syj_maomao menulis:

    Nanti Isyuranya bakal bangkit lagi kah??? Atau di kutuk jadi manusia trus punya kelemahan manusia sebagai pasangan hidupnya?? Hihihi~

Tinggalkan Balasan