Vitamins Blog

Pandora’s Cursed : BAB 6

Bookmark

No account yet? Register

48 votes, average: 1,00 out of 1 (48 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

“Aku dengar salah seorang pelayannya terluka akibat kejadian tadi malam.”

 

Sang Raja mengkhawatirkan Gautama. Putra satu-satunya dan juga penerus tahtanya itu hampir jadi celaka akibat seseorang yang tidak di kenal menyerangnya tadi malam. Para prajurit yang menyadarinya langsung berusaha melindungi Gautama. Tapi sayang, orang asing itu tidak bisa di tangkap.

 

“Iya, dia terluka akibat orang asing itu,” Jawab Gautama. “Tabib Sebastian telah merawatnya.”

 

“Syukurlah,” Sang Raja menghela nafas. “Bagaimana pun juga aku harus berterima kasih kepada pelayan itu. Tanpa dirinya, mungkin sesuatu hal yang tidak dinginkan akan terjadi.”

 

–{—

 

Ophelia terlelap di ranjangnya. Hingga ia terbangun akibat suara pintu yang dibuka dari luar. Ia berusaha mengumpulkan kesadarannya. Samar-samar ia bisa melihat seseorang yang berjalan kearah dirinya. Dengan pakaian sutranya, perhiasan emas yang besar, dan juga mahkota yang tak lain yang juga terbuat dari emas. Saat menyadari bila itu adalah Sang Raja, Ophelia langsung melompat turun dari ranjang dan membungkuk memberikan salam.

 

“Salam Yang Mulia Raja.”

 

Ophelia tidak lupa menyentuh kaki Sang Raja untuk meminta pemberkatan. Lalu, Sang Raja mengangkat tangannya untuk memberkati Ophelia.

 

“Semoga kau diberkati,” Jawab Sang Raja.

 

“Apa Yang Mulia lakukan di sini? Ada perkenaan apa Yang Mulia ingin bertemu denganku?” Tanya Ophelia dengan rentetan pertanyan.

 

Kali ini ia tidak bisa menahan rasa ingin tahunya. Ia benar-benar terkejut menyadari bila Sang Raja datang ke ruangannya yang sempit ini seorang diri. Tidak, tidak seorang diri. Tak lama kemudian, Agni pelayan Gautama datang memasuki ruangannya. Ia membawakan nampan berisikan sesuatu dan meletakkannya di atas meja.

 

“Aku ingin mengucapkan terima kasih kepadamu, Ophelia,” Ujar Sang Raja. “Tanpa dirimu mungkin saja Putra Mahkota dalam keadaan yang buruk sekarang.”

 

“Terima kasih, Yang Mulia,” Ophelia terus menjaga nada bicaranya agar terdengar sesopan mungkin.

 

“Aku membawakan bingkisan untukmu.”

 

Sang Raja memberikan isyarat kepada Ophelia untuk melihat bingkisan yang ia bawa. Ophelia berjalan kearah meja tempat bingkisan itu diletakkan. Lalu, ia sedikit menyibakkan kain penutup bingkisan itu. Terdapat beberapa kain sutra yang di tumpuk tiga di atas nampan itu dan juga kantong yang ia yakini itu berisikan beberapa keping emas. Ophelia kembali menutup bingkisan itu dan mengucapkan terima kasih kepada Sang Raja.

 

“Terima Kasih, Yang Mulia,” Kata Ophelia kembali sambil menangkupkan kedua tangannya.

 

“Kau harus bisa tegar di dalam istana ini. Seperti yang kau tahu, istana penuh akan konflik dan juga ancaman yang lebih mengerikan daripada dunia luar disana.Walaupun kau adalah seorang pelayan, kau harus bisa kuat dan tegar bila berada disini.”

 

Ada makna tersirat dibalik ucapan Sang Raja. Makna itu tentu saja menyilenap masuk ke dalam hatinya yang paling dalam. Itu bagaikan nasehat yang diberikan Sang Raja kepada dirinya.

 

Tiba-tiba saja ia melihat bayang-bayang Samuel di belakang Agni. Samuel yang tersenyum penuh arti kepadanya. Tapi pandangan Ophelia tertuju kearah Agni yang memandangnya dengan pandangan aneh kepadanya.

 

“Kau sama seperti Tabib Sebastian, berasal dari daerah utara. Karena itu aku membiarkanmu untuk berada di mansion tabib ini agar kau bisa merasa nyaman disini,” Sang Raja tersenyum kepada Ophelia. “Jaga dirimu baik-baik, nak.”

 

Sang Raja membalikkan badannya dan melangkah pergi dari ruangan Ophelia. Ophelia masih berdiri terpaku disana. Hingga, sebuah asap kembali muncul di sampingnya yang menandakan Samuel datang menemuinya.

 

“Kau dengar, ‘jaga dirimu baik-baik, nak’,” Samuel mengulangi perkataan Sang Raja barusan. “Ia memberitahumu sesuatu.”

 

“Apa itu?” Tanya Ophelia. Ia benar-benar tidak mengetahui apa yang dimaksud oleh Samuel.

 

“Seseorang sedang mengincarmu sayang, dan tampaknya Sang Raja tahu siapa itu.”

 

–{—

 

Alexander membuka tudung gerobak tersebut. Di dalam gerobak tersebut terdapat beberapa emas batangan. Hanya beberapa, tidak cukup banyak. Isinya hampir setengah dari gerobak itu.

 

Aaron mendongak mengintip kedalam gerobak. Ia menimang-nimang, apakah ini cukup untuk membayar hutang Kerajaan Jerman kepada Prancis? Itu satu hal yang ia pikirkan, ini hampir dari setengah hutang mereka terlunasi.

 

“Kami hanya bisa membayar dalam jumlah segini,” Ucap Alexander. “Kami akan mengangsur membayar hutang kerajaan kami segera. Mohon bersabarlah sebentar.”

 

“Baiklah, aku akan memberikan waktu satu minggu lagi.”

 

“Terima kasih.”

 

Aaron menyuruh dua orang pelayan untuk membawa gerobak itu ke tempat pasukannya berkumpul. Ia akan membawa gerobak berisikan emas itu nanti ke Prancis.

 

Aaron menoleh kesekeliling. Tiba-tiba, ia menemukan Claudia dan juga salah satu pelayannya yang sedang mengintip mereka berdua di balik tembok. Sang Putri entah kenapa selalu memenuhi pandangannya saat ia berada di Jerman. Terkadang ia selalu melihat Claudia yang tampak sedang mengintip melihat ia dan juga Alexander.

 

Aaron terus mengamatinya. Hingga, Claudia menyadari bila Aaron telah menyadari kehadirannya. Ia tampak terkesiap dan menunduk malu. Aaron tersenyum tipis dan menghampiri Claudia.

 

“Tuan Putri,” Sapa Aaron.

 

“Pangeran Aaron,” Claudia balik menyapa.

 

Claudia tertunduk malu. Aaron bisa melihat rona merah di pipinya.

 

“Apa yang sedang Tuan Putri lakukan?” Entah kenapa terselip nada geli saat Aaron mengucapkannya.

 

“Aku—,” Claudia menoleh kearah lain tampak memikirkan kata yang tepat untuk menjawab. “Aku hanya jalan-jalan.”

 

Aaron tersenyum. “Belakangin ini aku selalu melihatmu. Seperti kau seolah-olah mengikutiku.”

 

“A-aku…” Claudia menggigit bibir bagian bawahnya. “Apa aku terlihat seperti itu?”

 

Tiba-tiba Aaron tertawa melihat reaksi Claudia. Claudia hanya diam sambil menaikkan alisnya, tampak bingung dengan reaksi Aaron yang tiba-tiba tertawa.

 

“Aku hanya sedang menggodamu.”

 

Claudia kembali menundukkan wajahnya. Ia merasa malu karena telah di permainkan oleh Aaron. Aaron mengamati Claudia. Claudia tampaknya berumur akhir belasan. Kira-kira dua puluh tahun.

 

Dan memandangi Claudia seperti ini mengingatkannya kepada adik perempuannya, Ophelia…

 

Ophelia pastinya sudah dewasa sekarang. Ia bukanlah gadis kecil yang suka menangis dan juga nakal seperti dulunya. Ia pasti telah tumbuh menjadi wanita cantik. Melihat Claudia seperti ini berlahan-lahan membuat Aaron berhalusinasi mengenai Ophelia. Adiknya tersayang itu sekarang berada di hadapannya, tersenyum kepadanya, dan memeluknya. Ia membalas pelukan Ophelia dan berbisik di telinganya untuk selalu menjaganya.

 

“Pangeran Aaron.”

 

Aaron tersadar dari lamunannya. “Ya?”

 

“Kapan kau akan kembali Prancis?” Tanya Claudia.

 

“Besok aku akan kembali ke Prancis,” Jawab Aaron.

 

Ada raut sedih di wajah Claudia. “Aku berharap bila kau bisa sedikit lebih lama disini.”

 

Aaron tersenyum. “Kapan-kapan kau harus datang ke kerajaanku. Disana kau bisa menemuiku setiap saat.”

 

Claudia mengangguk. Aaron memeberikan hormatnya dan pergi meninggalkan Claudia. Claudia menoleh kearah punggung Aaron. Pria dengan pakaian besi itu berjalan semakin jauh darinya. Kata-kata Aaron barusan membuat sesuatu yang bergejolak dihatinya. Sebuah janji yang harus ia tepati nantinya.

 

Ia akan datang ke Prancis sebagai pengantin Aaron nantinya.

 

–{—

 

Seseorang yang menyelinap dari balik pagar mansion Sebastian. Langkah orang itu sangat berhat-hati agar prajurit yang berada di sekitarnya tidak mengetahui keberadaannya. Ia menyebrangi kebun mansion tersebut dan menyelinap masuk ke dalam mansion.

 

Langkahnya yang senyap itu memasuki lorong-lorong mansion dan berakhir di salah satu pintu yang berada di ujung mansion. Berlahan pintu itu ia bukan menampakkan seorang gadis yang tertidur di sudut ruangan. Orang itu memasuki ruangan tersebut. Ia menutup pintu itu rapat dan mengeluarkan belatinya.

 

Orang itu menatap Ophelia yang masih terlelap di tidurnya. Dari sini, Ophelia terlihat seperti gadis tanpa dosa. Tapi, bagaimana pun juga ia harus membunuh gadis itu sebelum terlambat.

 

Orang itu mengangkat belatinya tinggi-tinggi dan menancapnya sedalam mungkin di tubuh Ophelia. Tapi, sebelum hal itu terjadi, tampak tangan seseorang dengan kuku hitamnya yang tajam menahan tangan si pemegang belati tersebut. Ia terkesiap saat merasakan aura yang tidak nyaman di sekitarnya.

 

“Agni, pelayan Gautama,” Gumam Sebastian. “Apa yang akan kau lakukan kepada gadisku?”

 

Samuel memukul telak Agni di bagian wajahnya yang membuatnya tersungkur di lantai. Mendengar keributan ini, Ophelia langsung terjaga dari tidurnya. Ia melirik kesekitarnya dan melihat Samuel dengan matanya yang menyala merah menatap tajam kearah Agni yang tidak berdaya. Ophelia mengerutkan keningnya saat melihat Agni disana. Bagaimana mungkin pelayan Gautama itu bisa masuk ke dalam ruangannya?

“Agni,” Ophelia menoleh kearah Samuel. “Samuel, apa yang terjadi?”

 

Samuel tidak menjawab. Ia berjalan menghampiri Agni dan mencengkram leher Agni sambil mengangkatnya tinggi-tinggi ke udara. Seketika Ophelia melompat dari ranjangnya dan mencoba untuk menghentikan Samuel. Ia tidak ingin hal serius akan terjadi selanjutnya.

 

“Hentikan Samuel!”

 

Samuel menatap tajam Ophelia dengan matanya yang menyala mengerikan. Ophelia terkesiap saat melihat taring-taring dari balik bibir Samuel. Baru kali ini ia melihat Samuel semarah itu hingga dirinya yang asli muncul seketika dihadapannya.

 

“Dia ingin membunuhmu, Ophelia! Sebelum dia melakukan hal itu, aku harus membunuhnya terlebih dahulu.”

 

Samuel mengetatkan cengkramannya di leher Agni. Saking ketatnya hingga kuku-kuku Samuel yang tajam menancap di lehernya sehingga darah mengalir dari sela-sela kukunya.

 

“Aku tidak ingin membuat masalah, Samuel,” Ophelia mencoba untuk memohon. “Aku tidak ingin ada orang yang terluka karenaku.”

 

“Aku yang akan membereskannya.”

 

Samuel membanting Agni ke dinding. Lalu, ia mencongkel bagian dada Agni dan menarik jantungnya dari tubuh Agni. Inilah kesenangan yang di inginkan oleh Samuel, memakan jantung manusia. Seketika Agni jatuh luruh dari dinding.

 

Ophelia memalingkan wajahnya. Kepalanya menjadi pening dengan urusan ini. Entah apa yang akan terjadi selanjutnya. Ia tidak ingin tahu bila mayat ini berada di dalam kamarnya.

 

–{—

 

Seluruh istana tampak gempar pagi ini. Mereka menemukan mayat Agni yang tergantung di depan istana dengan rongga dada sebelah kirinya telah bolong. Gautama tentu saja terkejut melihat ini semua. Dan ia semakin terkejut saat membaca tulisan di bawah mayat Agni, bila Agni adalah seseorang yang berusaha membunuhnya belakangan ini. Mereka tidak mengetahui siapa pembunuh Agni. Tapi semuanya mengucapkan puji syukur karena seorang pengkhianat telah tewas dan Tuhan melindungi pewaris tahta mereka.

 

“Sudah kubilang, aku akan membereskan ini semua.”

 

Samuel datang pagi ini saat kegemparan istana yang cukup menghebohkan ini. Ia tengah duduk di pinggir ranjang Ophelia sambil mengelus puncak kepala Ophelia. Ophelia tiba-tiba saja jatuh pingsan saat Samuel membunuh Agni tadi malam. Ophelia sangat takut dan juga kalut sehingga ia drop dan jatuh tersungkur.

 

“Aku tidak tahu harus mengucapkan apa,” Ujar Ophelia.

 

“Hanya terima kasih sudah cukup,” Jawab Samuel dengan kata yang menggoda.

 

Ophelia tertawa dan tawa itu menular kepada Samuel.

 

“Kau sangat menakutkan tadi malam.”

 

“Karena itu kau jatuh pingsan?”

 

Ophelia mengangguk. Samuel terkekeh.

 

“Aku tidak akan melakukan hal itu lagi besok.”

 

Suara pintu tiba-tiba saja terdengar. Samuel menghilangkan bagaikan kabut. Ophelia bisa melihat Sang Raja dari balik kabut yang menerpa wajahnya. Pria dengan pakaian emas itu memandang Ophelia dengan tatapan mencurigakan. Perasaan aneh mulai berkecambuk di diri Ophelia. Segera ia membungkuk dan memberikan hormat kepada Sang Raja.

 

“Salam, Yang Mulia,” Ucap Ophelia sambil menangkup kedua tangannya.

 

“Aku ingin membicarakan sesuatu hal kepadamu, gadis utara,”Kata Sang Raja.

 

Dari perkataan Sang Raja, ia tahu bila beliau sedang tidak ingin berbasa-basi dengannya dan meingin mengatakan hal yang cukup serius.

 

“Silahkan, Yang Mulia.”

 

“Apakah kau….” Ada jeda sejenak. Ophelia mengangkat alisnya penasaran dengan lanjutan perkataan Sang Raja. “Gadis yang terkutuk itu?”

10 Komentar

  1. afifah putri menulis:

    Perhatian,,,, sorry kalau ada typo dan juga namanya Ophelia berubah jadi Anastasia…
    Anastasia itu nama cerita aku sebelumnya, jadi masih kebawak sikit ^^
    Makasih udh baca karya saya
    -Author-

    1. farahzamani5 menulis:

      Okayyy ka
      No problemo hihi

    2. Okey kak

  2. Ini masih dilanjut kh?

  3. farahzamani5 menulis:

    Nahh loh sang raja tau siapa ophelia
    Makin seru nih
    Oalah ternyata Agni toh yg mau bunuh pangeran
    Cuzz ke part berikutnya

  4. Jangan ophelia mau diusir dari istana atau mau dibunuh :LARIDEMIHIDUP

  5. fitriartemisia menulis:

    nahloh, Rajanya tau siapa Ophelia :LARIDEMIHIDUP

  6. Wkwkwk hayolooooo

  7. Btw ini masih dilanjut nggak?

  8. nananafisah184 menulis:

    Nahhlohh si raja mulai curiga.. Jangan2 mau diusirr :LARIDEMIHIDUP

Tinggalkan Balasan