adelaide-4
Vitamins Blog

DWINA Extra part

Bookmark

No account yet? Register

32 votes, average: 1,00 out of 1 (32 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

29. Ekstra Part

Happy Reading >_<

Arya baru pulang kerja setengah dua belas malam dan jengah mendengar tangisan anak bayi cukup kencang kepenjuru apartemennya. Sehabis kerja selalu bawaannya emosi karena lelah, apalagi Dwina dengan teledornya masih tertidur mendengar anaknya menangis.

“Wi bangun…” Arya menepuk pelan pundak istrinya.

Seketika Dwina terkejut dan gelagapan mencoba menenangkan bayinya. Digendonglah sang anak sambil menimang pelan. Sejak kemarin Dwina mencoba memberikan makanan atau ASInya, tapi anak itu malah muntah-muntah. Sedih sekali perut bayinya hanya menerima asupan sedikit. Dan dia juga sudah membawanya kedokter lalu meminumkan obat yang diresepkan. Dwina bingung, kenapa makin hari keadaan bayinya makin makin parah.

Mau bilang ke Arya untuk mengantarnya ke dokter, laki-laki itu sudah tertidur pulas. Dwina tidak berani mengganggu, dia terlalu takut membuat Arya kesal.

Beruntung bayinya berhenti menangis. Dwina duduk di kursi malasnya sambil menemani anaknya terjaga semalaman. Sekuat tenaga Dwina menahan kantuknya walaupun dia sudah berjaga-jaga mengikat kuat kain gendongannya agar anaknya tidak terjatuh.

Jangan salah, tubuh Dwina berkali-kali lipat lebih lelah dari Arya, mengurusi anak seharian suntuk, kadang bersih-bersih rumah dan memasak bila pembantunya izin kerja. Tapi, dia selalu menutupinya, kalau Arya mengeluh dan dirinya mengeluh masalah tak akan pernah selesai. Pasti salah satunya harus mengalah. Sesuai dengan Wejangan kedua orang tuanya, memang rumah tangga yah seperti itu rasanya.

Mulut Azzam mangap-mangap sambil mengeluarkan suara tidak jelas, seolah mengajak Dwina berbicara. Lucunya. Batin Dwina tersenyum, ketika matanya memandang lucu mulut ompong dan mencium aroma mulut bayinya sangat wangi belum berlumur dosa. Memang orang dewasa! lihat gigi kuning saja sudah geli.

“Azzam jadi anak yang cerdas ya…” seru Dwina sambil menguselkan hidungnya ke hidung mungil bayinya.

Dwina mengantuk lagi lalu ketiduran cukup lama sampai tangisan Azzam mengagetkannya. Kembali Dwina berdiri menimang anaknya tapi tangisannya makin menjadi-jadi hingga bibir bayinya membiru.

Segera Dwina membangunkan Arya, tak peduli laki-laki itu marah atau tidak. Sekuat tega Arya bangun demi anaknya.

Jalan malam sangat tenang, Arya melajukan mobilnya cukup kencang sampai di rumah sakit terdekat. Azzam langsung masuk ke ruang UGD, anaknya mengalami gangguan pencernaan cukup parah dan kata dokter seharusnya sudah dirawat tiga hari yang lalu.

Arya yang terliputi emosi langsung memarahi Dwina. “Kenapa kamu nggak bilang kalau Azzam masih muntah-muntah setelah ke dokter kemarin lusa?”

“Karena obat antibiotiknya belum habis,”

“Itu alasan nggak logis, kalau udah tau Azzam keadaannya makin parah langsung bilang ke aku. Kalau Azzam kenapa-napa gimana?” bentak Arya membuat Dwina sesenggukan menahan tangis. Arya tidak tau kalau dirinya tak kalah mengkhawatirkan anaknya.

“Aku minta maaf” Dwina mengatakan sembari mengusap kasar buliran air matanya.

Arya mendesah keras sambil mengusap kasar wajahnya dengan kedua tangannya. Dwina sering tidak tanggap dalam situasi, seperti tadi, anaknya menangis dia masih saja tidur.

“Terserah kamulah!” Arya pergi meninggalkan Dwina sendirian di ruang tunggu dan masuk ke dalam ruang inap anaknya.

Sampai pagi menjelang mereka berdua masih bungkam juga tak ada yang tertidur sebentar untuk mengistirahatkan lelahnya tubuh.

Teh Bika datang menjenguk sendirian sekalian membantu menjaga Azzam, salah satu alasannya adalah sebagai balas budi karena Dwina pernah menjaga anaknya dan dia sungguh bersenyukur waktu itu.

Tapi kenapa keadaan sangat tegang saat dia memasuki ruang inap Azzam?

“Assalamualaikum.” Bika berusaha sesantai mungkin. Arya sigap langsung menghampirinya dan membantu membawakan makanan dan lauk pauk yang telah dibuatkan oleh kakaknya.

“Walaikumsalam, eh kak Bika maaf ngerepotin banget bawa makanan kesini” seru Dwina yang kini duduk di kursi samping ranjang.

“Iya nggak papa.” Bika berkerut mendapati wajah bekas menangis pada Dwina. Mungkin, perempuan itu mengangis karena khawatir anaknya sakit, dia juga pernah begitu.

Dwina izin keluar sebentar pada Arya, mencari alasan untuk membeli minuman padahal Arya tau itu alasan untuk menghindarinya. “Jangan lama-lama.”

Setelah pintu tertutup, Teh Bika angkat bicara, “kalian berantem masalah Azzam?” sembari membelai pipi gembil Azzam. Arya terdiam.

“Kamu marahin dia?”

“….” nggak ada jawaban berarti iya.

“Bego banget kalau kamu begitu. Nggak perlu kamu bilangin sekalipun, seorang ibu itu pasti lebih khawatirin anaknya ketimbang nyawanya.”

“….”

Ruangan jadi hening kembali. Arya meresapi ucapan kakaknya dan dia resah membuat Dwina menangis. Waktu di perhatikan, setengah jam kemudian Dwina belum kembali juga. Arya meminta Teh Bika untuk menjaga anaknya dan mencari Dwina.

Langkah kaki Arya semakin cepat saat tak menemukan Dwina di kantin bawah dan di beberapa toilet umum di rumah sakit.

Panggilan teleponnya juga nggak dijawab karena ponselnya nonaktif. Nggak mungkin kalau dia pergi dari rumah sakit. Menitipkan anaknya saja ke saudara saja, kepikiran minta ampun.

“Ya Allah, Dwina.” Batin Arya berulang kali mengatakan maaf penuh penyesalan.

Kepanikannya semakin menjadi-jadi, terpaksa Arya menghubungi Bayu dan orang tua Dwina untuk menanyakan keberadaan istrinya. Tapi tidak ada satupun yang tahu dimana dia.

Arya belum putus asa, dia harus menemukan Dwina, dia yakin perempuan itu masih di rumah sakit ini. Semua penjuru ruangan dia jelajahi hingga Arya dapat menemukan Dwina duduk menangis di tangga darurat sendirian.

Dwina langsung berdiri menghampiri Arya ketika laki-laki itu memanggil namanya. Air matanya dihapus kasar, sayangnya tetap mengalir karena Arya terlalu menyakiti perasaannya yang tak menerima maafnya. “Aku minta maaf..” sengguk Dwina sambil meremas lengan baju Arya.

“Aku memang nggak becus jagain Azzam.”

Segera Arya menahan tubuh Dwina agar tidak limbung. Arya mensejajarkan wajahnya untuk bertanya, “Wi,,, kepala kamu lagi pusing?” Tatapan istrinya sedikit linglung.

Wajah Dwina sangat pucat dan terlalu banyak menangis membuat hati Arya seolah tertikam. Arya langsung menggendong tubuh Dwina untuk di periksa kesehatannya. Ternyata keadaan Dwina tak kalah buruk dari anaknya. Dokter mengatakan,

“Tubuhnya memang masih lemah setelah masa melahirkan dan nifasnya, apalagi dia tidak berhenti mengurusi bayinya seharian suntuk. Jadi istirahatnya kurang sekalian ditambah dia strees anaknya masuk rumah sakit.” Dan ditambah Arya membentak Dwina hingga membuat perempuan itu menangis sendirian.

Dwina juga dirawat inap. Dia tidur dengan gelisah seketika Arya langsung membelai lembut wajah dan rambut istrinya agar tenang. Arya berfikir untuk mempekerjakan banyak pelayan dan dua babysiter bila satu tidak cukup membantu Dwina selama ini.

*

*

*

Ketika Dwina sadar, Arya menahan perempuan itu supaya tidak beranjak dari kasur untuk menemui bayinya. “Sekarang kamu istirahat, biar Teh Bika yang ngejagain.”

Arya menyuruh Dwina untuk bergeser sedikit dan dia ikut merebahkan diri sebentar sambil memeluk Dwina. “Maafin aku.” seru Arya sedikit berbisik sedangkan Dwina terdiam. Arya tidak salah memarahinya, apalagi dia harus bekerja keras untuk menafkahi keluarganya.

Biarlah kejadian ini menjadi pelajaran untuk mereka berdua.

Keesokannya Azzam maupun Dwina sudah dizinkan pulang. Rupa Arya sangat mengenaskan, dia sedikit tidur, pakaiannya juga  berantakan tak mengurua dirinya sendiri karena harus menjaga anak dan istrinya.

Saat sampai rumah, betapa terkejutnya Dwina, ada tiga orang pelayan, dua babysiter dan satu orang supir pribadi untuknya. Dwina terkekeh garing mendapati tindakan berlebihan suaminya itu.

“Ingat kata dokter Dwina, kamu nggak boleh kecapean dan harus banyak istirahat.” Perintah Arya sambil ia langsung mengambil Azzam yang sedang tertidur di gendongan Dwina lalu ditaruh di atas ranjang bayi.

“Dan ingat apapun keluhan kamu, kamu harus langsung bilang ke aku, okey?” Arya menangkup wajah Dwina kemudian mencium bibirnya lembut.

“Tapi kamu juga kalau ngomong jangan serem-serem, udah tau aku takut” Dwina memeluk Arya.

Mereka memang bukan pasangan sempurna, tapi pasangan yang saling menyempurnakan.

…..END….

13 Komentar

  1. ceritanya maniisssss
    suuukkkaaaaaaaaaa

    1. :byesampaijumpa :byesampaijumpa

  2. waaahhhh udah di akhir…..
    masih terasa baper terussss….

  3. KhairaAlfia menulis:

    Udah selesai ya??
    ya udah bye Dwinw-Arya-Azzam,,
    baik” ya ke depannya,
    :byesampaijumpa :byesampaijumpa

  4. Uughhh so swiittt .. iyalaah setiap rumah tangga pasti akan ada kerikil kecil biar kehidupan rumah tangga semakin riuh dan gk membosankan :tepuk2tangan dapat pelajaran lagi ..

  5. Nelda purba menulis:

    Baca endingnya doang ??

    1. baca dari part pertama dong… :ngambeknih

  6. Dua2nya dirawat,gara2 komunikasi kurang lancar dikarenakan arya klo capek suka marah jadi dwina takut ngadu klo anaknya muntah2 dan dia lelah
    Untunglah azzam uda sehat lagi dan dwina uda ada yg bantuin ngurusin rumah

  7. Wahh, udh selesai aja nih?
    Baru liat udh baca ending nya, wkwkwk

  8. fitriartemisia menulis:

    whoaa, emang rumah tangga gak akan mulus-mulus aja ya, hehe
    seneng mereka bisa dewasa menyikapi segala sesuatu hoho
    favorit aku Arya-Dwina :YUHUIII

  9. Wah udah ending ajaaa??

  10. Ditunggu kelanjutannyaa

  11. Ekstra part 2 lagi dong… jgn lgsg end

Tinggalkan Balasan