boy
Vitamins Blog

The Ruthless

Bookmark

No account yet? Register

20 votes, average: 1,00 out of 1 (20 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

3. Kissing

Jonathan memeriksa berkas laporan yang Peter berikan padanya mengenai identitas Jenny Violena, wanita yang telah dibeli olehnya dengan harga fantastik. Seharusnya Jonathan merasa rugi mengeluarkan uang sebanyak itu hanya untuk seorang wanita saja, padahal ada banyak wanita yang siap melayaninya tanpa mengharapkan bayaran satu sen-pun. Namun, saat ia bertemu langsung dengan sosok wanita yang telah dibelinya, hatinya seketika merasa puas dengan pilihan gilanya.

Jenny Violena, anak tiri dari Alan Bennet, seorang konglomerat ternama yang memiliki salah satu pertambangan minyak bumi. Setiap jamnya dia bisa meraup keuntungan jutaan dollar. Pantas saja Jenny berani memberikan penawaran mahal padanya. Ia yakin Alan tidak akan membiarkan anak perempuannya dibeli oleh seorang mantan pembunuh bayaran kelas atas, terlebih dulu Alan pernah menggunakan jasanya. Pastinya Alan tahu betul seperti apa sifat aslinya. Dirinya harus bertindak lebih cepat sebelum gadisnya di ambil kembali. Alan merupakan saingan cukup seimbang bagi Jonathan. Dia bisa menyewa banyak pembunuh bayaran kelas atas lainnya.

Saat ini Jenny sudah dipindahkan ke hotel tempat Jonathan menginap sementara waktu di Washington D.C. Sedangkan Poppy, gadis itu telah di selamatkan oleh Peter kemudian segera dikembalikan kepada keluarganya tanpa meninggalkan jejak sedikitpun. Pakaian gadis itupun juga sudah diganti selayaknya tidak terjadi apapun.

Peter menyelesaikan pekerjaannya dengan rapih sesuai keinginan tuannya. Dia undur diri dari hadapan Jonathan setelah tuannya menyuruhnya pergi. Menurut Peter, Jonathan bersikap sedikit aneh. Ada semburat amarah terpendam dipancaran matanya, padahal biasanya Tuannya itu cukup terkendali. Mungkin semua itu karena pengaruh dari wanita yang telah dibeli oleh tuannya.

Siapakah yang tidak mengenal Jonathan Giovinco? dia amat terkenal di dunia bawah tanah di berbagai negara. Dia memiliki hasil kerja cukup memuaskan dan lumayan di takuti oleh sebagian partai pemerintahan. Keahlian membunuhnya sangat profesional, dengan menggunakan segala kecerdasan dan pengalaman panjang yang dimilikinya. Hingga tiba tiga tahun yang lalu, entah ada sebab apa Jonathan berhenti dari pekerjaannya, padahal menjadi seorang pembunuh bayaran telah menjadi takdir yang telah di wariskan secara turun menurun dari keluarganya. Kabar tersebut menggemparkan banyak kalangan. Namun, ada sebagian orang masih memaksa Jonathan tetap bertahan pada pekerjaannya. Peter tidak mendapat alasan logis dari keputusan tuannya. Jonathan hanya mengatakan padanya, kalau dirinya tidak ingin menjadi seekor anjing pemburu yang tersonggoh layaknya bangkai.

Akhirnya tuannya memutuskan menjadi makelar. Kunjungan Jonathan ke Washington untuk bertemu Sebastian–salah seorang pelanggan yang menginginkan Airsoft gun revolver kualitas tinggi. Berhubung Jonathan mantan pembunuh bayaran, ia jadi tahu banyak penjual pistol terpercaya. Dan penjualnya ada di Washington D.C.

Seusai membaca semua berkas identitas tentang Jenny Violena, sebuah garis seyum terbentuk di bibir Jonathan. Hatinya begitu bersemangat karena ia telah membuat sebuah rencana agar Jenny tetap menjadi miliknya. Jonathan tidak mengerti kenapa ia bisa bertindak sampai sejauh ini hanya untuk mempertahankan seorang gadis.

Jenny terlonjak bangun dari tidur lelapnya disebabkan rasa haus menyengat kerongkongannya. Matanya mengerjap perlahan mencoba menyesuaikan cahaya yang masuk ke dalam retinannya. Ada rasa nyaman dalam diri Jenny ketika semerbak bau kayu manis dan kopi panas mengisi penjuru ruangan.

“Kau sudah bangun?” tanya Jonathan setelah menghisap perlahan kopinya.

Jenny sudah hafal betul siapa pemilik suara itu. Dia adalah Giovinco, laki-laki yag memiliki banyak rahasia tersembunyi di balik senyuman miringnya. Saat ini dia sedang duduk di kursi sebelah ranjangnya sambil menyesap kopi panasnya perlahan serta memandangnya lekat penuh arti.

“Haus..” seru Jenny dengan suara pelan.

Mendengar permintaan gadisnya, Jonathan bangkit dari duduknya lalu memerintahkan pelayannya untuk menyiapkan air putih hangat. Tidak butuh waktu lama dua orang pelayan datang membawa nampan berisikan air putih hangat serta bubur.

Jonathan dengan cekatan membantu Jenny meneguk minumannya. Menahan tegak tengkuk leher gadisnya dan memegangi gelasnya. Ada rasa tersentuh saat tangan hangat gadisnya gemetaran menangkup tangannya. Ia berani bersumpah akan menjaga Jenny dengan nyawanya.

Jenny begitu kehausan, membuat ia terburu-buru menegak minumannya, seketika ia langsung tersedak dan terbatuk. Jonathan menjauhkan gelas dari tangan Jenny, memberikan gelas tersebut pada pelayannya. Tangannya tergerak untuk menepuk pelan punggung gadisnya sembari mengelap mulut gadisnya menggunakan handuk hangat. Semburat merah menghiasi wajah Jenny tanpa make-up tebal yang menor seperti semalam.

Kalau di perhatikan secara detail, Jenny memiliki kecantikan seorang gadis Spanyol.

“Apa kau baik-baik saja?” tanya Jonathan khawatir menggunakan suara berat seperti ingin marah. Jujur Jonathan sungguh kesal melihat gadisnya dalam keadaan buruk. Dengan perlahan Jonathan merebahkan kembali tubuh Jenny ketempat semula setelah batuknya mereda.

“Kau tidak perlu marah, aku tidak akan mati karena tersedak” Jenny merasa jengkel menyadari kemarahan Jonathan yang meletup begitu saja karena hal sepele. Kenyataannya tingkah Jonathan mirip seperti daddy yang sangat emosional.

Jonathan mengangkat tangan kanannya sebagai isyarat agar para pelayannya keluar ruangan tanpa melepaskan pandangan penuh amarah pada Jenny. Ia duduk di sisi tempat tidur sambil mengelus lembut rambut Jenny, sesaat itu juga perempuan tersebut mengalihkan pandangan matanya kearah lain. Menunjukan kejengahan atas tindakannya.

Jenny merasakan wajah Jonathan mendekat ke-arahnya dan menahan tengkuk lehernya. Sebuah ciuman lembut menghangatkan sekujur tubuh keduanya. Dalam sesaat Jenny menahan napasnya. Jujur saja Jenny pernah berciuman dengan beberapa mantan pacarnya, tapi anehnya kenapa ciuman ini memiliki rasa yang berbeda. Jenny menikmati debaran jantungnya kemudian memberanikan diri mengalungkan kedua tangannya di leher Jonathan dan membalas ciuman itu lebih dalam, mencoba mengecap setiap inci rasa kopi pahit berbaur manis di bibir Jonathan. Tubuh mereka semakin merapat satu sama lain mencoba memperdalam ciuman. Tidak ada permainan lidah ataupun sentuhan gairah didalam ciuman mereka. Hanya mengandung kenyaman dan rasa hangat. Ciuman ini begitu menakjubkan,  padahal Jenny belum mengenal seperti apa sosok Giovinco sesungguhnya.

Ciuman bertahan lama beberapa menit. Dan Jonathan memutuskan melepaskan ciuman diantara mereka, setelah merasakan Jenny kesulitan bernapas. Mereka beradu pandangan, saling terpesona satu sama lain.

“Kita belum berkenalan dengan wajar, siapa namamu tuan?” Jenny merasa bersyukur memiliki sifat tidak tau malu yang ditularkan oleh saudarinya. Jadi, ia bisa mulai memulihkan keadaan yang terjadi saat ini.

“Jonathan giovinco, cukup panggil aku Jonathan,” jawab Jonathan dengan senang. Ajakan Jenny untuk berkenalan menggelitik hatinya. Gadis itu begitu tenang menghadapi dirinya, terbukti dari Jenny berani membalas ciumannya.

“Bagaimana tentang Poppy? apakah kau sudah mendapatkannya?” karena gugup menunggu kabar tentang Poppy, keningnya berkerut dalam dan kedua tanggannya meremas selimut yang sedang ia kenakan.

Jonathan mengusap kerutan di kening Jenny menggunakan ibu jarinya. “Dia telah pulang dengan selamat oleh Peter, jadi kau tidak perlu khawatir lagi.”

“Mana buktinya?” benar-benar gadis ini sangat tidak ingin di rugikan. Jonathan mendesis pelan ia tidak kepikiran untuk mempersiapkan bukti hanya untuk seorang gadis berumur 20 tahun. Lain kali ia harus lebih berhati-hati dan tidak boleh menganggap enteng pola pikir Jenny.

“Kau tidak punya bukti, berarti aku belum bisa bersikap manis dan menuruti semua perintahmu.” Seru Jenny.

“Aku akan mendapatkan buktinya dengan cepat dan kau akan menjadi milikku seutuhnya,” bisik Jonathan begitu sensual di telinga Jenny, hingga membuat wajah gadisnya memerah sampai ke telinga. Jenny begitu cantik dan bergairah saat ini memancing nafsunya, terpaksa semua itu ia tahan karena Jenny sekarang sangat membutuhkan asupan gizi lebih.

Jonathan menyuapi bubur untuk gadisnya secara telaten. Ia tidak mengerti mendapat keahlian dari mana mengurus orang lain. Intinya ia ingin semua yang terbaik untuk gadisnya.

~~~~~TBC~~~~~

7 Komentar

  1. wow, Gadisnya,,
    udah diklaim nih,,

  2. claradefianti menulis:

    Yuhuuuu perhatian bangt mas..hahahaha

  3. Eaaa, gadisnya katanya, asekkk

  4. Love at first sigh ceritanya nih… :cintakamumuach :cintakamumuach :cintakamumuach

  5. Eaaaawkwkwk

  6. fitriartemisia menulis:

    waduh, langsung luluh gitu Jo nya

  7. Ditunggu kelanjutannyaa

Tinggalkan Balasan