Vitamins Blog

Duo Kartini

Bookmark

No account yet? Register

21 votes, average: 1,00 out of 1 (21 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading... Aku adalah orang dengan rasa ingin tahu yang tinggi. Tak peduli pada caci maki, pada hina dina orang dengki, dan pada mereka yang iri.

“Gadis kuat itu yang gak bakal nangis walau disakiti.”

Nah, aku membenarkan kata-kata Indri. Teman semasa hidupku yang begitu berarti. Kuat adalah harga mati, bahkan saat kau sendiri pun kadang mengingkari.

“Cantik tak ada apa-apanya kalau kita cuma menangisi hal semacam ini.”

Aku menimpali. Kening Indri mengernyit tampak tak mengerti. “Apa hubungannya cantik dengan perihal disakiti dan menangisi?”

“Gak ada, Dri. Udahlah, jangan dipikirkan omonganku yang tadi,” kemudian aku terkekeh setengah hati.

Kami–aku dan Indri– sama, sama-sama terjebak dalam ego yang tinggi. Rasa penasaran merebak di relung hati. Memaksa agar lubang yang kosong tak lagi mati. Kami berdua ini sekarang berstatus jomblowati. Sungguh menyedihkan sekali.

“Lalu kita harus gimana ini?” tanyaku pada Indri.

Kemudian bagai film yang diputar paksa, kenangan itu menyusup tanpa mengantri. Berbondong-bondong mengisi benak walau aku tak sudi.

Adalah Raldi. Si tengik dengan tubuh seperti sapi. Yang sudah mengkhianati hubungan yang telah kubangun dengan rapi. Sore itu dia menemui Indri dan berkata bahwa dia telah berpindah ke lain hati, yang artinya tak ingin berhubungan denganku lagi.

Betapa brengseknya Raldi! Kenapa tidak mengatakannya saja langsung padaku di sini? Atau di rumahku yang mini. Aku tahu, mungkin dia jijik atau geli. Yah, aku bisa mengerti.

“Kita?” tanya Indri sangsi. “Kamu aja kali!”

Aku mendengus frustrasi. Menyugesti bahwa ini hanyalah mimpi.

“Ya, aku harus apa dong? Labrak si sapi?”

Indri terkekeh-kekeh seperti Mbak Kunti, pandangannya meneliti. “Kamu, kan, cantik! Ngapain coba masih mikirin tuh cowok gak tau diri! Jangan kayak orang yang gak laku gitu deh, Dira! Malu-maluin Ibu Kartini!”

Kujitak kepalanya yang terbalut topi. Lantas menggelayut di bahunya yang lumayan berisi. “Duh, makasih loh masukannya Bu Peri.”

Indri misuh-misuh, berusaha melepas gelayutanku dengan segera berdiri. Aku tertawa lebar, kursi kafetaria berderit nyeri. Orang-orang menatap kami berdua ngeri, biarlah mungkin mereka menganggap bahwa kami ini lesbi. Tapi, inilah cara kami, menghadapi para playboy kelas teri. Termasuk Raldi si sapi.

Fin~

8 Komentar

  1. Wkwkwk. Sapi tengik ! It’s sounds great 😀

  2. KhairaAlfia menulis:

    Yup, betul sekali,,
    untuk apa kita membuang-buang waktu untuk orang yang tak berani berkata jujur sama kita,,

  3. raldi si sapi hihi lucu banget julukannya :ngetawain

  4. Wkwkwkwk

  5. fitriartemisia menulis:

    hihihi sapi
    good story

  6. farahzamani5 menulis:

    Wahhh kerennn
    Rima akhirnya selalu berakhiran huruf i

  7. :HUAHAHAHAHA

  8. Wah seru banget

Tinggalkan Balasan