Vitamins Blog

Our Little Secrets (END)

Bookmark

No account yet? Register

488 votes, average: 1,00 out of 1 (488 votes, average: 1,00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

 

Uemura dan Himura, keduanya merupakan nama belakang yang hampir mirip pelafalannya. Hanya dipisahkan oleh huruf kanji yang berbeda.

Dalam situasi normal, kedua orang ini akan menjadi bahan olokan dan korban perjodohan teman sekelas. Tidaklah mengherankan bila sewaktu-waktu gambar rumah-rumahan dengan nama mereka berdua muncul di papan tulis ataupun di tempat yang menarik perhatian para pelajar.

Akan tetapi, Sanada bukanlah pelajar biasa-biasa saja sehingga tidak ada yang berani mengolok-olok, ataupun membuat gambar seperti itu.

Semenjak pemuda Uemura itu menunjukkan keahliannya menghancurkan sepuluh buah tumpukan bata dalam sekali pukul kala perekrutan anggota klub baru, semua pelajar senior dan junior Nishimachi Gakuen diam-diam membuat keputusan aklamasi dalam sanubari masing-masing.

Bisa dibayangkan apa yang akan terjadi bila tangan pemuda Uemura itu mendarat di ulu hati atau tulang rusukmu?

Mereka yang masih waras, memiliki masa depan cemerlang dan ingin hidup lebih lama untuk melihat wajah anak cucunya jelas setuju pada satu kalimat ini.

“Sebaiknya menjadikan Sanada sebagai kawan daripada lawan.”

Satu-satunya orang yang berani menantang Sanada dalam bidang olahraga adalah Yamamoto Natsuo, pemuda berambut pirang nan ceria yang sudah menjadi sahabat si Uemura sejak kecil.

Natsuo memang lamban dalam bidang yang menuntut kerja otak, namun dengan kekuatan fisik yang di atas rata-rata membuktikan kalau Natsuo adalah sparring partner terbaik yang pernah dimiliki Sanada.

Selain itu, tampang dan otak cerdas Sanada membuatnya dikagumi dan dipuja oleh para siswi di sekolah.

Kharisma dan wajah tampan pemuda itu sulit diabaikan meskipun sang empunya jarang tersenyum apalagi tebar pesona.

Sanada senantiasa menjadi langganan sepuluh besar umum di bidang akademis bersaing ketat si jenius Makabe Shin, yang notabene juga merupakan salah satu anggota dalam klub karate.

Bedanya Sanada perlu belajar keras sementara Shin yang sering tertidur di kelas bisa melewati ujian dengan prestasi gemilang.

*****

Sejak hari bersejarah itu, Chie sering terlihat berada di dalam dojo untuk membersihkan lantai ataupun merapihkan locker para kaum adam yang jauh dari kata bersih dan serampangan.

Namun Chie menjalani semua itu dengan senang hati karena para anggota klub yang lain juga memperlakukannya dengan hormat kecuali satu orang, Uemura Sanada.

Pemuda yang mendapat julukan ‘Taichou’ atau kapten, terlihat sangar setiap kali sepasang obsidian bersirobok dengan pasangan manik hazel.

Sebuah senyum miring menyerupai seringaian terukir di wajah Sanada dan sang Uemura akan mengajukan protes atau keluhan seakan mencari-cari kesalahan Himura.

Chie tidak membalas perlakuan tersebut dan hanya menanggapi dengan senyuman yang tentu saja menimbulkan simpati dari para rekan yang lain.

Jika keadaan mengharuskan kedua makhluk berbeda gender tersebut berselisih jalan, maka Chie akan menatap lurus ke arah Sanada dan kemudian melanjutkan perjalanan tanpa mempedulikan sorot mata tajam bak elang yang akan membuat para pemuja meleleh dan salah tingkah.

Semua anggota klub karate sepakat kalau hanya Himura Chie, yang memiliki imunitas tinggi terhadap pesona sang Taichou, layak dilestarikan.

Apalagi mengingat kinerja Chie yang tergolong baik dan tidak memiliki agenda tersembunyi padahal sering keluar masuk dojo dan ruang locker para lelaki.

“Oi Sanada, seharusnya ini menjadi hubungan simbiosis yang tidak merugikan siapapun, tetapi kau malah membuat Chie seakan pembantu tidak resmi dari dojo ini.” Shin terlebih dulu menyuarakan keberatannya.

“Biarkan saja, toh dia senang melakukannya.”

“Ada yang tahu bagaimana keluarga Himura? Aku tidak ingin berhadapan dengan orang tuanya kalau terjadi sesuatu dengan Chie yang bekerja terlalu keras.” Tanya Kyo yang disambut dengan gelengan kepala oleh para anggota dojo lain.

Shimura Kyo memiliki hati yang lebih peka daripada yang lain, karena itulah selain kegiatan di klub karate, Kyo juga mengikuti klub literatur klasik dan lukisan. Kyo sangat ahli dalam bidang yang menuntut perhatian pada hal-hal kecil dan mendetail.

Sanada hanya melayangkan pandangan ke luar jendela dojo, tidak ikut dalam pembahasan. Dia tahu keluarga Himura seperti apa.

Keluarga yang sama terkenal dan konservatif seperti keluarga Uemura. Himura terkenal memiliki jaringan bisnis di bidang pertanian dan memiliki dojo judo yang sudah diwariskan turun temurun.

Tidaklah mengherankan kalau seorang Chie bisa menguasai teknik judo dengan sempurna dan sang gadis sudah terbiasa berada di tengah kaum adam tanpa harus tergila-gila kepada mereka.

Memang sebuah pertanyaan bagus yang sulit dijawab.

Mengapa seorang putri keluarga terpandang mau menjadi pembantu cuma-cuma di dojo klub karate sekolahan?

*****

Suatu ketika saat hujan musim gugur sedang menyapa bumi dalam kedamaian.

Sanada yang terjebak hujan berlari kecil menyusuri pekarangan sekolah menuju tempat kesukaannya, dojo yang sudah menjadi rumah kedua baginya. Saat itulah sepasang iris kelam bersirobok dengan sosok yang sudah sangat dikenalinya. Himura Chie yang sedang berteduh dari hujan sambil mengelap kacamata kesayangan.

Gadis berambut pendek sebahu ini hampir tidak pernah melepaskan kacamatanya di depan umum, sehingga apa yang terlihat oleh Sanada saat ini adalah momen langka. Sanada sempat terdiam beberapa saat sebelum membuka pintu dojo.

“Masuk saja.”

Chie tertegun mendengar tawaran dari ketua klub tersebut dan mengekor ke dalam dojo yang mungkin bisa menawarkan sedikit kehangatan.

Diam dan tidak banyak berbicara terhadap orang yang tidak terlalu dekat, kedua sifat yang sama-sama dimiliki oleh Himura dan Uemura. Seakan ada peraturan tidak tertulis bagi mereka berdua untuk tidak melanggar batasan ini apalagi sejak Chie berhasil membanting Sanada di luar dojo.

Chie menghela napas melihat seragam sekolahnya yang kebasahan terkena hujan sedikit menampilkan kulit yang terlindungi oleh bahan yang terlihat semi transparan sekarang. Dia tidak membawa baju ganti atau apapun itu.

Tiba-tiba ada sesuatu menutupi kepalanya dan membuat sang gadis memekik kaget. Tangannya menyentuh barang tersebut dan menyadari kalau seseorang baru saja melempar handuk ke arahnya.

Sebuah handuk berwarna biru yang sangat familiar bagi Chie karena hanya sang ketua klub yang menyukai dan menggunakan warna tersebut.

Lagi-lagi, sebuah karate gi putih melayang ke arah Chie dan refleks ditangkap oleh sang gadis supaya tidak mendarat tepat di kepala lagi.

“Cepat ganti pakaianmu di ruang locker.” ucap Sanada yang dengan cuek sudah membuka seragam sekolah dan memamerkan tubuh atletis yang akan membuat para fans menjerit histeris kalau mereka ada disana.

Tentu saja hal itu tidak berlaku untuk gadis Himura yang kini memalingkan wajah dan cepat-cepat menuju locker sambil menyembunyikan wajah yang merona.

Tidak lama kemudian, kedua makhluk berbeda gender tersebut sudah duduk di tengah dojo sambil menunggu hujan reda.

Sanada membuatkan dua cangkir coklat panas dan menyuguhkan salah satunya pada Chie yang tentu saja disambut dengan senang hati karena jarang-jarang ketua klub bersikap ramah kepada gadis Himura tersebut.

“Terima kasih karena kau sudah banyak membantu di dojo ini,” ucap Sanada singkat.

Chie mengangguk dan menyeruput minuman hangat di tangannya secepat mungkin dan sedikit terlihat gelisah.

“Kau memilih tempat yang aneh untuk belajar.”

Chie mengerjapkan mata hazel-nya, meminta penjelasan yang disambut Sanada sambil menggerakkan kepalanya menunjuk tempat biasa sang Himura berada.

“Karena tempat tersebut membuatku tenang dan jarang dilewati orang lain.”

“Kau tidak terganggu oleh suara latihan klub kami?”

Chie menggeleng cepat, “Suasananya mirip kok dengan dojo latihan judo di rumahku.”

Tiba-tiba suara petir menggelegar memenuhi ruangan dojo dan Chie menjerit histeris. Cangkir yang digenggam dia kini menggelinding dengan isi yang berceceran disekitarnya.

Sanada juga merasakan imbas akibat jeritan Chie dan terpana tidak percaya. “Ah… ternyata Himura memiliki kelemahan,” sindir Sanada sambil menarik sudut bibir.

Chie yang tadinya menutup telinga dengan kedua tangan dan memejamkan mata dengan erat, membuka matanya sedikit dan melihat seringaian iblis di wajah pemilik mata obsidian yang sedang menatap tajam padanya.

“Akan kubersihkan,” ucap Chie sambil terus melirik ke arah jendela dengan takut-takut dan ada raut wajah penyesalan melihat coklat panas yang sudah dibuatkan Sanada kini berceceran di lantai dojo. Dengan sigap Chie kembali ke ruang locker untuk mencari kain pel.

Sanada tidak menggubris ucapan Chie, kini dia beranjak dari tempat duduknya dan menghampiri tas sekolah yang ditinggalkannya bersandar di salah satu dinding dojo. Tangan sang Uemura tampak sibuk membongkar tas mencari sesuatu.

Saat Chie sibuk mengepel lantai, tiba-tiba Sanada sudah berdiri di samping Chie dan…

Srek!

Sebuah headphone terpasang di kepala sang gadis melindungi kedua telinganya.

“Bagaimana? Suara di luar tidak akan sekeras sebelumnya kan?” tanya Sanada.

“Ano.. tapi aku jadi tidak bisa mendengar suaramu dengan jelas kalau tidak melepas headphone ini,” ucap Chie.

“Terserah kau saja. Atau kau berharap aku akan memelukmu setiap suara petir menggelegar?”

“Dalam mimpimu, Uemura-san.”

Sanada terkekeh mendengar jawaban Chie yang terdengar kesal. “Sekarang kita impas, Himura.”

Sanada mengambil cangkir Chie yang sebelumnya tergeletak miring dan meletakkannya bersisian dengan cangkir miliknya.

“Padahal kau penakut begini, kenapa tidak langsung pulang ke rumah saja saat hujan belum deras?”

Chie tidak langsung menjawab tapi menghela napas panjang, headphone tadi melingkar di leher sang gadis.

Sanada tidak menuntut jawaban, larut dalam pikirannya sendiri yang merunut kembali kejadian yang berlangsung dalam setengah jam terakhir.

Percakapan mereka hari ini adalah percakapan terpanjang dalam sejarah hubungan pertemanan mereka yang diberi tanda kutip. Agak sulit mendeskripsikan hubungan mereka yang sedikit mirip dengan majikan dan pembantu.

“Karena disini aku menemukan kebebasan.” Jawaban Chie memecah keheningan.

Sepasang mata kelam Sanada menatap lawan bicaranya dan menemukan kalau sang gadis tidak bermain-main dengan ucapan barusan.

Sanada mendengus, alasan tipikal yang hanya dimengerti oleh anak-anak dari keluarga kaya dan terpandang seperti mereka.

Hidup bergelimang harta dan kemudahan tidak lantas membuatmu bisa seenak dengkul.

Setidaknya bagi mereka berdua, ada harga yang harus dibayar dengan mahal. Sebuah sangkar emas yang membelenggu semua asa dan ruang gerak mereka.

“Karena alasan itu juga kau bersedia membersihkan dojo ini tanpa pamrih?”

“Aku dengan sadar memilih untuk melakukannya, Uemura-san” ucap Chie sambil memberi tekanan pada kata “memilih”.

“Tolong jangan panggil aku dengan nama formal seperti itu, Himura.”

“Hanya jika kau berhenti memanggilku Himura, Uemura-san.”

“Tsk, Kau tidak memberiku pilihan, Chie.”

“Terserah apa pendapatmu, Sanada-kun.”

*****

Bila kehadiran gadis Himura merupakan sebuah anomali dalam kehidupan Sanada, maka sebaliknya kehadiran pemuda Uemura merupakan enigma bagi seorang Chie.

Seorang pemuda berjiwa pemberontak yang tidak peduli pendapat orang terhadap dirinya. Di bawah kepemimpinan sang Uemura, tidak ada satupun anggota klub karate yang berani bersikap kurang ajar pada Chie.

Hal tersebut juga berlaku di keseluruhan lingkungan sekolah sehingga tidak ada satu orang pun yang berani mengolok ataupun menindas Chie.

Padahal gadis Himura itu tidak pernah menceritakan perihal dojo keluarganya kepada siapapun di sekolah.

Hubungan mereka tidak lebih dari pertemanan dan mereka nyaman dengan hal itu.

Chie tidak pernah mempertanyakan kenapa seorang Uemura yang selalu menjaga jarak terhadap semua gadis dan fans bisa membiarkan seorang gadis Himura berada di dekatnya.

Seorang Uemura yang dengan tega membiarkan semua surat dan hadiah perayaan kasih sayang tergeletak tidak tersentuh.
Tahun berganti dengan cepat dan tibalah hari kelulusan mereka semua dari Nishimachi Gakuen.

Chie mengunjungi dojo klub karate untuk terakhir kali, menelusuri setiap sudut dojo dan ruang locker untuk memastikan tidak ada barang yang tertinggal. Ada rasa berat untuk meninggalkan tempat yang sudah memberinya banyak kenangan selama dua tahun terakhir.

Saat akan melangkah keluar dari dojo, Chie berpas-pasan dengan Sanada yang juga berpikiran sama memeriksa kembali ruang locker untuk memastikan tidak ada yang tertinggal.

“Sanada-kun.” sapanya.

“Ternyata kau disini, Chie.”

“Hanya mengucapkan selamat tinggal pada dojo ini.”

Tiba-tiba Sanada memutuskan kancing pertama dan kancing kedua dari seragamnya dan memberikan pada Chie, “Kutitipkan padamu.”

“Eh?”

“Jangan berpikiran yang tidak-tidak, aku tidak ingin menghadapi kumpulan gadis buas yang akan berebut kancing ini. Lagipula hari ini upacara kelulusan kita, aku tidak ingin ada insiden apapun.”

Ya. tidak ada yang bisa menebak apa isi pikiran Sanada. Sebuah enigma yang tidak akan terpecahkan.

Seseorang yang dengan gampang dan seenaknya memberikan kancing tanpa mempedulikan tradisi ataupun nilai sakral yang terkandung di dalam tindakan tersebut. Pemuda lain mungkin akan memberikan kancing kedua untuk orang yang disukai karena posisi kancing tersebut paling dekat dengan hati sang pemilik.

Tapi begitulah seorang Uemura. Demi alasan kepraktisan yang mungkin hanya bisa dimaklumi oleh seorang gadis Himura yang sudah dianggap Sanada sebagai orang yang dipercayai untuk tidak melibatkan perasaan pribadi dalam hubungan pertemanan mereka.

Ketika Chie berpamitan dan meninggalkan tempat itu terlebih dahulu, Sanada segera berkeliling dan mengobrak-abrik ruang locker dan terlihat mengacak rambutnya dengan frustasi.

Sial, kemarin masih ada, siapa sih yang mengambil cangkir itu?’

*****

Pertemuan mereka selanjutnya terjadi saat reuni di tahun ketiga setelah kelulusan dari Nishimachi Gakuen. Teman-teman sudah berpencar mengambil jurusan di universitas pilihan masing-masing.

Uemura Sanada yang mengambil jurusan bisnis, terlihat mencolok diantara para rekan lainnya karena dia sudah belajar merintis bisnisnya sendiri dan termasuk sukses untuk mahasiswa tingkat akhir seusia mereka.

Sebenarnya Sanada agak enggan menghadiri acara reuni karena merasa waktunya terlalu berharga untuk dihabiskan dengan hal sepele yang tidak ada hubungannya dengan bisnis.

Sebuah pernyataan dari Yatsuda Kai melalui telepon berhasil menggugah hati kecil Uemura yang angkuh.

Di antara mereka berlima, Kai adalah sosok yang paling polos dan tidak memiliki keahlian khusus dibandingkan yang lain. Akan tetapi, Kai sangat setia kawan dan selalu berusaha merangkul semua anggota klub mereka.

Taichou, kudengar tahun ini Himura Chie sudah memberikan konfirmasi untuk ikut acara reuni. Kapan lagi anggota klub karate kita bisa berkumpul bersama lengkap dengan gadis itu?”

Ah, Sanada baru teringat pada gadis unik yang pernah terlibat dalam klub mereka, “Hn, Akan kupertimbangkan.” Jawabnya singkat sebelum menutup pembicaraan.

Bagaimana kabar Chie? Apa yang dilakukannya sekarang? Pertanyaan itu berulang kali muncul dalam benak Sanada sehingga sang pemuda Uemura memutuskan untuk hadir dalam acara reuni tersebut.

*****

Reuni Nishimachi Gakuen di salah satu restoran, kota Tokyo

Ketika denting bel pintu terdengar menandakan ada yang tamu yang datang, hampir semua kepala menoleh ke arah pintu dan terdengar sambutan meriah dan siulan dari meja pria.

Himura Chie yang datang terlambat karena harus magang sebagai perawat.

Chie tidak mengikuti keinginan ayahnya untuk kuliah di jurusan agribisnis. Penampilan sang gadis terlihat dewasa dan jauh lebih ayu dibandingkan saat masih di sekolah, rambutnya juga sudah tumbuh panjang. Saat itu Chie memilih duduk bergabung dengan meja teman wanita namun masih bersebelahan dengan meja anggota klub karate.

Ketika acara bubar, hujan turun dengan deras mengguyur seluruh kota.
Chie yang harus menunggu bus segera berpamitan dan berlindung di bawah payung yang dibawanya sendiri menuju terminal dengan jarak lumayan jauh dari tempat pertemuan.

Saat petir menggelegar, Sanada teringat pada kejadian kecil beberapa tahun lalu dan instingnya segera bekerja, berlari menuju terminal yang disebutkan oleh gadis pemilik mata hazel. Sanada tidak mempedulikan guyuran air hujan yang cukup deras.

Dan benar saja, sang gadis yang dicari oleh Sanada terlihat meringkuk di sudut paling ujung dari deretan tempat duduk halte.

Sebuah kebiasaan lama yang tidak akan serta merta hilang begitu saja.

Ada sedikit perasaan bahagia dalam hati Sanada karena masih sempat menemukan Chie walaupun dalam kondisi yang tidak bisa dibilang baik.

Tangan Sanada terulur menyentuh tangan Chie yang masih setia menutupi kedua telinga. Sang gadis tersentak ketika merasakan ada tangan asing yang menyentuh kulitnya,

Dengan segera kepala Chie terangkat dan mata lavender yang membulat sempurna bertabrakan dengan sepasang onyx familiar yang sudah tidak dilihatnya dengan intens dalam beberapa tahun terakhir.

Ketika mengenali pemilik mata onyx tersebut, sorot mata Chie melembut dan helaan napas lega meluncur dari bibir mungil sang gadis. “Kau mengagetkanku dan hampir membuat jantungku copot, Sanada-kun.”

“Kuantar pulang,” ucap Sanada singkat.

Chie menggeleng cepat, “Rumah kita tidak searah.”

“Jangan keras kepala dalam cuaca seperti ini, Chie.”

Dengan berat hati Chie mengangguk. Percuma berdebat dengan pria itu karena seorang Uemura tidak menerima penolakan dan bantahan dari orang lain.

*****

Sanada terpana melihat kondisi apartemen gadis Himura.

Well, sulit dipercaya bila putri dari salah satu keluarga terkaya di Jepang bisa bertahan hidup di tempat seperti ini.

Apartemen tersebut termasuk kecil dan memang hanya bisa ditinggali oleh maksimal dua orang.

Sanada kagum pada kegigihan sang gadis dalam mengejar impian dan memilih untuk hidup mandiri dan jauh dari keluarga.

Apartemen sederhana tersebut hanya berisi sebuah sofa bed yang berhadapan dengan TV set yang tidak terlalu mewah. Ada sebuah meja kecil di sebelah sofa yang berfungsi sebagai meja makan darurat.

Di ujung ruangan terdapat dapur mungil dan wastafel yang menyatu dengan semua peralatan dapur yang seakan terkumpul di tempat kecil tersebut. Namun Chie termasuk sosok yang rapih dan resik dalam menata ruangan sehingga tidak memberi kesan sempit ataupun sumpek.

Kamar mandi dan kamar Chie bersebelahan namun Sanada merasa tidak etis untuk memasuki kamar seorang gadis dan membiarkan hal tersebut menjadi privasi Chie.

“Uhm.. tunggu disini sebentar,” ujar Chie setelah menyerahkan handuk untuk Sanada yang sempat terkena hujan ketika menyusul Chie ke halte bus.

Ketika sedang menyeka rambut, tanpa disengaja pandangan Sanada tertuju pada pajangan yang tertata rapih di dalam lemari kaca di ruang tamu.

Barisan paling atas dan kedua berisi buku-buku untuk keperluan kuliah sementara barisan paling bawah terpajang sebuah kotak kecil yang berisi dua buah kancing seragam sekolah dan sepasang cangkir yang sangat dikenali oleh Sanada.

Seulas senyum simpul mengembang di wajah sang pemuda Uemura.

Hari itu menjadi titik balik dari hubungan mereka yang sebelumnya merenggang. Dengan perlahan, keduanya kemudian menjadi sahabat baik.

Sifat Chie yang mandiri dan tidak terlalu mempermasalahkan sikap cuek Sanada menjadi alasan utama kenapa Sanada mempertahankan keberadaan gadis itu di sisinya dan menjadikan gadis itu sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari rutinitas hariannya yang berkutat dengan kuliah dan menjalankan bisnis.

*****

*****

Chie membuka pintu apartemen dan menemukan sosok sahabat yang terlihat berbeda dari biasanya. Tidak ada keangkuhan yang tersisa, pemuda Uemura tersebut terlihat kuyu dan sepasang obsidian menatap sayu kepada sang dara.

Tidak butuh waktu lama bagi Sanada untuk berbaring di sofa bed favorit yang menjadi singgasananya setiap kali dia bertandang ke tempat Chie.

Chie menghela napas khawatir, belum pernah dia melihat Sanada dalam keadaan seperti ini. Pasti ada masalah besar.

Chie segera menuju ke dapur dan menyiapkan minuman.

Sang Uemura masih berbaring dengan sebelah lengan menutupi matanya.

Perlahan Chie menghampiri Sanada dan duduk di lantai yang bersebelahan dengan sofa bed.

Gadis itu menahan napas karena melihat pria Uemura tengah mengeraskan rahang ditambah hidung yang terlihat sedikit memerah. Sepertinya Sanada sedang menyembunyikan air mata dan menahan diri untuk tidak telihat menyedihkan.

Chie baru saja berbalik untuk beranjak meninggalkan sang pria supaya bisa memberinya sedikit privasi, sepasang lengan kekar sudah merengkuh tubuh mungilnya dan menarik Chie untuk ikut berbaring di sofa bed.

“Tetaplah disini.” Ucap Sanada dengan suara bergetar sambil membenamkan kepalanya di punggung Chie sementara lengannya masih setia melingkar erat di pinggang sang gadis.

Mereka berdua sudah terbiasa melakukan hal ini. Sekedar pelukan atau ciuman lembut di pipi. Hanya itu, tidak lebih dan tanpa dilandasi nafsu. Lagipula usia mereka yang sudah menyentuh seperempat abad membuat mereka sadar dengan segala konsekwensi dari tindakan mereka.

Sebagai seorang perawat, Chie jelas mengetahui setiap orang memerlukan pelukan untuk mengurangi stress sehingga tidak mempermasalahkan tingkah laku si bungsu Uemura yang seakan sudah menjadi pasien abadinya selama ini.

Sanada menemukan kedamaian yang dicarinya dari sosok Himura Chie.

Chie sangat pengertian dan memang memiliki bakat alami untuk menjadi tempat menenangkan diri bagi seorang Uemura yang sangat arogan, egois, cuek dan suka seenaknya sendiri.

Chie tidak akan memaksa atau mencecar dengan pertanyaan seperti yang pernah dilakukan oleh para mantan pacar pria itu sebelumnya dan Sanada sangat membutuhkan hal tersebut terutama pada saat dia baru menerima hantaman besar dalam hidup.

*****

Sanada tersadar dan menemukan diri masih terbaring di sofa bed di ruang tamu apartemen Chie. Ada aroma harum yang membuai indra penciumannya, dan dengan gerakan malas Sanada melirik ke sudut ruangan dan menemukan sosok familiar yang sedang berkutat di dapur mungilnya.

Baru sekali ini Sanada menginap di tempat Chie dan perasaan Sanada sudah jauh lebih baik dibandingkan kemarin.

Setelah memastikan kompor dimatikan dan sarapan tersaji, Chie mendekati Sanada yang masih berbaring di sofa bed.

“Kau kenapa, Sanada-kun?” tanya Chie sambil membelai lembut dahi pria Uemura tersebut.

Sanada menghela napas panjang sebelum mengucapkan, “Otou-sama melakukan intervensi lagi dan kali ini bisnisku tidak bisa diselamatkan.”

“Mengapa tidak mengalah sedikit kepada ayahmu? Menurutku dia ingin kau meneruskan bisnisnya.”

“Jangan membelanya, Chie. Aku belum bisa memaafkannya saat ini.” Sanada mendengus kesal sebelum melanjutkan, “Kau sendiri juga memilih jalur yang berbeda di luar bisnis keluarga Himura, kenapa malah menyarankan hal seperti itu padaku?”

“Kasusku berbeda, aku dianggap tidak kompeten untuk meneruskan bisnis ayahku sehingga aku mengejar impianku sendiri.”

“Ck, alasan.”

“Hei, Aku sudah mengatakan hal sejujurnya padamu. Terserah kau mau percaya atau tidak.” Ucap Chie sambil melirik jam di pergelangan tangan kiri dan melanjutkan, “Sebaiknya kita sarapan sekarang, kau masih ingin disini?”

Sanada menggeleng cepat, saat ini dia tidak bernafsu untuk makan apapun. Sang pria mengubah posisi tubuh dari berbaring menjadi duduk dengan tangan kanannya terulur ke saku celana dengan gerakan ragu-ragu sebelum menarik keluar sepasang kartu berbentuk persegi dan meletakkannya di atas meja.

Kartu tersebut adalah kunci apartemen milik Sanada.

Chie sedikit menyipitkan mata dan menatap curiga pada Sanada, “Hmm…kau berniat memintaku untuk bersih-bersih?”

Sanada tertegun dengan jawaban yang meluncur begitu saja dari bibir gadis Himura tersebut. Kadang-kadang sang pria Uemura terkesima dengan cara kerja otak Chie yang menurutnya unik bin ajaib.

Chie dengan cepat bereaksi pada kesedihan dan mudah berempati pada keadaan orang lain, bahkan dalam keadaan bahaya pun bisa refleks melindungi diri.

Akan tetapi, ketika dihadapkan pada hal yang berhubungan dengan perasaan cinta atau sejenisnya, Chie termasuk kurang peka dalam merespon sinyal yang ditujukan kepadanya.

Mungkin hal ini pula yang membuat sang gadis tetap melajang di usia sekarang dan tidak terhitung berapa pemuda yang tergabung dalam barisan patah hati akibatt sikap sang gadis Himura.

“Dari dulu sampai sekarang, kau masih tetap tidak berubah, Nona Himura. Dasar tidak peka!”

Chie cemberut, menggembungkan kedua pipinya tidak setuju,

“A-apaan sih. Lalu, memangnya apalagi alasannya selain menyuruhku bersih-bersih? Kau kan memang selalu seperti itu.”

Sanada berdecak kesal. Gadis ini, selalu saja lamban menangkap maksudnya. Mengacak rambutnya dengan frustasi, Sanada lalu berbalik pergi dan bersiap untuk membuka pintu. Tapi, seruan tertahan Chie menghentikan langkahnya yang hendak melangkah keluar apartemen mungil tersebut.

“Hei, hei, Sanada-kun. Jelaskan dulu maksudnya… A-apa maksudmu memberikan kunci ini?”

Sanada memutuskan untuk menyelesaikan segalanya di sini. Sekarang, setidaknya ia tahu apa yang ia inginkan saat ini. Memandang langsung ke mata gadis itu, Sanada menjawab,

“Bukankah aku dulu pernah mengatakan bahwa aku akan memberikan kunci apartemenku hanya kepada-”

Chie memotong ucapannya dengan nada bosan, “-gadis yang akan tinggal bersama denganmu di a-”

Ucapan Chie terhenti dan Sanada menyeringai puas melihat semburat merah yang perlahan memenuhi wajah sang gadis, yang kini mulai memahami maksudnya.

Chie memandang berulang kali antara kunci di tangannya dan Sanada secara bergantian. Masih tidak percaya.

Sanada mengajaknya tinggal bersamanya? Apa Chie tidak sedang berkhayal?

Ia kembali memandang Sanada, yang masih saja berdiri tenang di ambang pintu. Pria itu memperhatikannya dalam diam, dengan pandangan yang begitu intens, membuat Chie tidak tahu harus bersikap bagaimana.

Tapi kemudian, Sanada berbalik mendekati sang gadis Himura sampai jarak mereka hanya tersisa beberapa senti saja dan melanjutkan ucapannya-

“Ya, aku mengajakmu untuk tinggal bersama, calon Nyonya Uemura.”

Sanada berbisik tepat di telinga kanan Chie kemudian memasang seringaian iblis andalannya karena wajah Chie sudah merah padam sebelum akhirnya melangkah pergi meninggalkan sang gadis Himura yang terpaku di tempat.

Sanada tersenyum simpul membayangkan reaksi Chie yang diyakininya memiliki perasaan yang sama. Setelah merenungkan semalaman, Sanada mendapat pencerahan.

Bisnis yang gagal masih bisa dibangun ulang dari awal. Tetapi jika Chie menghilang dari kehidupannya, Sanada tidak bisa membayangkan masa depan seperti apa yang menanti.

Karena itu, Sanada mengambil resiko dengan mengajak Chie keluar dari zona nyaman mereka.

Apakah tindakan ini adalah ujian untuk persahabatan mereka atau sebuah takdir? Mereka harus menjalani terlebih dulu baru bisa menemukan jawabannya.

 

*****

Author’s Note :

Cerita ini sebenarnya adalah cerpen untuk salah satu event di tahun 2015, bisa dibilang cerita ini adalah versi remake.

Terima kasih untuk semua yang mampir membaca dan meninggalkan jejak vote / comment. Demikian juga untuk silent reader yang selalu eksis di manapun 😀

Ada yang berminat dengan sequel?

*****

Extra

Reuni Tahunan Nishimachi Gakuen di salah satu restoran Yakiniku, Tokyo.

Reuni kali ini ada sedikit perubahan dalam urutan kehadiran anggota klub karate. Uemura Sanada yang terkenal paling disiplin masih belum terlihat di tempat reuni.

Sementara Kyo, Shin, Natsuo dan Kai sudah berkumpul di sekitar meja makan. Himura Chie yang biasanya datang paling akhir pun sudah hadir di tempat tersebut dan tampak sibuk menelepon di dekat pintu masuk restoran.

Chie terlihat canggung saat memilih bergabung dengan meja para pria dari klub karate yang dengan senang hati menggeser tempat duduk terutama Kai yang segera menyambut dengan penuh antusias ketika Chie memilih duduk bersebelahan dengannya.

Yatsuda Kai sudah lama memendam perasaan terhadap gadis Himura tersebut, tentu saja segera memanfaatkan kesempatan untuk berbicara yang ditanggapi sang gadis dengan sikap sopan.

Shin memberi isyarat pada Natsuo yang duduk di sebelah kanan Kai sambil membisikkan, “Wah, Kai pasti senang sekali hari ini. Dia bisa berbicara bebas dengan Chie.”

Natsuo memberikan cengiran lebar, “Aku tidak sabar mengatakan hal ini pada si Taichou, entah dia akan bereaksi seperti apa kalau Kai terlebih dulu punya pacar daripada dia.”

Shin terkekeh pelan. Memang pada saat ini, hanya Sanada dan Kai yang masih belum memiliki pasangan.

Sanada sudah bertahun-tahun mendapat gelar pangeran kutub yang sulit diluluhkan. Pernah berpacaran beberapa kali namun semuanya kandas karena sikap sang Uemura yang terlalu cuek dan lebih mengutamakan bisnis daripada romansa.

Kyo memandang ke arah Kai dan Chie kemudian berkomentar dengan sedikit berbisik, “Kenapa aku merasa ada yang berubah dari Chie ya? Sebelumnya dia tidak pernah memakai cincin – ”

Natsuo yang mendengar hal tersebut segera memotong pembicaraan, “Apa salahnya seorang gadis memakai cincin? Cincin hanya aksesoris.”

Sementara Shin melirik ponselnya dan menemukan satu pesan dari taichou mereka. “Sanada sudah menuju ke tempat ini dan meminta kita untuk memesan terlebih dulu.”

Tidak lama kemudian, sosok yang ditunggu-tunggu tiba juga. Sanada melepaskan mantel tebalnya dan menitipkannya kepada pelayan.

Kyo sudah menyiapkan sebuah tempat kosong di sebelahnya namun ternyata Sanada memilih untuk duduk bersebelahan dengan Chie yang tentu saja membuat Kyo, Shin dan Natsuo saling berpandangan.

Oke, semua anggota masih berpikiran positif.

Dari dulu Chie sudah menjadi sebuah anomali bagi Sanada, jadi masih bisa diterima akal sehat bila sang Uemura bersikap sedikit ramah dengan gadis Himura tersebut.

Semuanya memberikan salam dan perbincangan hangat memenuhi meja makan yang sudah lengkap diisi oleh anggota klub karate plus sang manajer tidak resmi, Himura Chie.

Di tengah-tengah perbincangan, Sanada sedikit memiringkan kepala dan berbisik pada Chie. Tangan kiri Chie refleks bergerak menyelipkan rambut panjangnya ke telinga kiri supaya lebih mudah mendengarkan ucapan Sanada. Dan terlihatlah sebuah cincin berwarna putih metalik dari bahan platina dengan hiasan beberapa butir berlian berderet melingkar di jari manis sang dara.

Kai mulai mengurangi pembicaraannya dengan Chie setelah kedatangan Sanada.

Sang gadis tanpa sadar lebih merapatkan diri ke arah pemuda berambut hitam dengan senyuman manis terukir di wajah dan berceloteh riang sementara sang Uemura yang biasanya dingin dan angkuh itu tersenyum samar sambil fokus mendengarkan.

Seorang pelayan menuangkan sake pada cangkir-cangkir kecil kemudian membagikannya merata kepada para tamu di meja klub karate.

Tiba-tiba tangan kanan Sanada terulur tepat sebelum si gadis menyentuh cangkir sake, menggenggam erat tangan kiri Chie kemudian menempatkannya di bawah meja sementara Chie terlihat tenang-tenang saja dengan public display of affection seperti itu.

Ketika Sanada meraih cangkir sake dengan tangan kirinya, kali ini para teman terperangah melihat sebuah cincin platina polos melingkar di jari manis pria Uemura tersebut.

Sejak kapan seorang Uemura memakai aksesoris selain jam tangan?

Shin sudah lama berteman dengan Sanada, jelas sangat memahami sifat sang Uemura.

Jangan harap Sanada akan bercerita panjang lebar tentang kehidupan pribadinya, berbeda dengan Natsuo yang akan lantang mengumumkan segala kejadian dalam hidup.

Tindak tanduk sang pria Uemura sudah menunjukkan semuanya dengan jelas.

Si jenius yang terlebih dulu menyadari apa yang terjadi di antara kedua orang di hadapannya dan segera menyikut pinggang Natsuo, “Sebaiknya kau beri peringatan pada Kai untuk tidak terlalu banyak berbicara pada Chie. Kau tidak ingin melihat taichou mengamuk karena cemburu pada orang yang mengincar tunangannya bukan?”

Natsuo membelalakkan kedua matanya lebar-lebar, berkata dengan terbata, “Tu-tunangan?” Otaknya masih memproses ucapan Shin.

Ucapan Kyo terngiang, “-dia tidak pernah memakai cincin-” Bayangan Chie yang menyelipkan rambut ke telinga kiri dan cincin berlian yang melingkar di jari manis sebelah kiri. Cincin platina polos yang melingkar di tangan kiri Sanada saat meraih gelas sake. Dan… Ting! Bola lampu menyala di atas kepala Natsuo.

Tanpa sadar, suaranya naik satu oktaf lebih tinggi. “Tunangan!”

Satu ruangan hening seketika. Yang lainnya serentak melirik ke arah Natsuo dan Shin dengan pandangan bertanya, sebelum akhirnya Shin menendang kaki Natsuo dari bawah meja.

“Oi, Natsuo! Ada yang ingin kau katakan?”

Sang taichou bertanya dengan wajah datar, terlihat pelan-pelan menyesap sake dari cangkir.

Natsuo yang menahan sumpah serapah sekaligus rasa sakit di kakinya hanya tertawa kaku sembari melemparkan pandangan jengkel ke arah Shin yang sama sekali tidak terpengaruh dan memasang wajah tanpa dosa.

Mereka semua lalu kembali berbincang-bincang, dan Kyo akhirnya memesan makanan.

Natsuo memperhatikan Kai yang memandang interaksi antara Chie dan Sanada dalam diam.

Pemuda berambut pirang itu menghela nafas panjang, sebelum akhirnya meletakkan satu tangan di bahu salah satu sahabatnya yang masih terlihat nelangsa sedikit tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.

“Aku turut berduka cita. Sepertinya kau sudah didahului oleh taichou kita.”

60 Komentar

  1. EllianaMaria1 menulis:

    :BAAAAAA Kei yang sabar ya.
    .. moga ketemu jodoh yanÄŸ lebih baik kayak Chie.

    Buddyblog.. ceritanya seru….. banget

    1. hahahha thanks da mampir n baca

  2. so sweet banget ya, sahabat jadi cinta :inlovebabe
    walopun diawal tingkah sanada agak sedikit nyebelin, tapi waktu sanada sama chie terjebak hujan buat oertama kalinya, sanada mulai sedikit berubah.
    aduh, aku senyum-senyum sendiri bacanya, waktu sanada ngajakin chie tinggal bareng :TERHARUBIRU

    wkwk, kai kalah cepet ya sama sanada :ngetawain

    tulisan kakak rapi, bahasanya ga belibet dan mudah dimengerti. ceritanya juga ga bertele-tele. aku suka banget pokoknya mah :inlovebabe

    aku mau sequel dong, mau bangeeettt :NGEBETT
    aku tunggu sequelnya ya, semangat terus kak :KISSYOU

    1. awalnya musuh bebuyutan pelan2 ganti jadi sahabat baru lanjut ke jenjang lebih tinggi.

      thanks buat pujian dan apresiasinya. Untuk sequel mungkin agak lama, karena perlu inspirasi.

    2. iyaa ka, semangaat terus yaaa :superhero
      semoga inspirasinya cepet hadir(?) biar bisa bikin sequel hehe :MAWARR

    3. Iya nih, demo ada squelnya, hhhe

    4. Aduh rada sebel juga nih sama automatic keyboardku, keubah sendiri Mulu
      Semoga ada squelnya maksudnya malah jd lain isinya :LARIDEMIHIDUP

  3. Wahhh akhirny Sanada nembak Himura jg eaaaaa haha
    Jdi dlu dia mencintai dlm diam gtu ya hihi
    Ihh so sweet bngt sihhh
    Kan jdi mauuuu ehhh haha
    Dri part pertma bca cerita ini bikin pipi merona krna ikutan senyum2 sndri, aihhhhh Haha, apalagi di part 2 ini, senyum2 ny dah dimulai dri awal ampe akhir Eaaaaaaa
    Ditunggu karya berikutny ka
    Semangat trs ya

    1. thank you buat apreasiasinya, so sweet banget kah? hueheheeh

    2. Iyaaaa Co cweet

    3. farahzamani5 menulis:

      Ka azel ayooo bikin cerita lgi ka
      Ditunggu loh hihi

    4. Setuju sama palah, ditunggu karyamu yang lainnya

  4. Dalpahandayani menulis:

    Cinta dalam diam
    Bagus cer

    1. Dalpahandayani menulis:

      Cinta dalam diam
      Bagus cerita
      Smangat di tunggu karya selanjutnya

    2. thank you uda baca dari part pertama, diam-diam ada rasa satu dg yg lain

  5. Aiiiiiii sukaaaaaaa
    Sequel! Sequel!

    1. thank you. untuk sequel sabar ya

    2. Wih berarti bakalan ada squelnya ya?

  6. mau sequelx dong

    1. untuk sequel sabar ya

  7. VeeaSandranata menulis:

    Nembak nya Sanada gak romantis tapi dalem, langsung ngajak tinggal di apt…… Friendszone, Zona aman sudah dilalui dg baik. Moga baek juga buat kedepannya… :dragonmintacium

    1. wkwkwkwk iya sanada memang ga romantis, tapi sekali uda buat keputusan langsung gerak cepat

  8. Cinta dlm diam namanya… Sweet bgt ampe diabet… Hahay jd inget masa abeghe dl… Thanks thor sdh membangkitkan memori… Lope… Lope.. Ada lanjutannya ga?

    1. thank you buat apresiasinya. sequelnya sabar ya, masih nyari bang ilham

  9. bagus….so sweet….cinta dan rasa penuh pengertian…

    1. thank you, kata orang, yang pendiam itu biasanya “diam-diam makan dalam”

  10. sweet banget yah,,, lagi,,, lagi,,, donk :BAAAAAA

    1. untuk sequel sabar ya

  11. wah so sweet…dilanjut lgi dong

    1. untuk sequelnya nanti ya, lagi nyari bang ilham

  12. Sequelnya ka ???

    1. sequelnya nanti diupdate

  13. Sekuel please….

    1. hai, thanks uda ninggalin jejak lagi. sequelnya sabar ya, ntar diupdate kalau udah jadi cerita utuh

  14. Lanjuuut donk……. :NGEBETT

    1. thanks da mampir, sabar ya buat lanjutannya

  15. Kasihan Kai ??. Chie orangnya ngga peka-an makanya jngan ngasi kode-kodean ngomong langsung aja Bang San…
    *lah kan jadi ngelantur

    1. hahah jadi gemes ya, in real life lebi senang yang mana? ngga romantis tapi klo ngomong terus terang ga pake kode2an, atau yang sikap baik tapi ga bisa terus terang?

  16. aishelatsilla menulis:

    Ditunggu lanjutannya …

    1. thanks da mampir n ngasi dukungan. sabar ya masi draft lanjutan

  17. irmayantiElysapakpah menulis:

    Haha.
    Critanya seru.. Haha smngt thir.. D tunggu next chapt nya

    :PATAHHATI

    1. tq buat apresiasi dan da mampir ngebaca

  18. Wahh so sweet :tepuk2tangan

    1. hai kak @nurlena aku ada update sequel baru, silahkan mampir jika berkenan ya

  19. sweet banget!! sweet banget!! sweet banget!!

    1. @khairaalfia tengkyu kak. Aku ada posting sequelnya, silahkan mampir jika berkenan.

  20. Ceritanya bagusss…. :inlovebabe :inlovebabe :inlovebabe
    gak sabar nunggu squelnya… :tebarbunga
    Thanks buat authornya untuk cerita yang so sweet abis… :dragonmuahsanasini :dragonmuahsanasini :dragonmuahsanasini

    1. hai kak @rimakarmina aku baru nyadar ada comment. thanks ya, uda kuposting sequel dengan judul baru. Semoga berkenan mampir

  21. Waahhh kereeeenn

  22. fitriartemisia menulis:

    aaaaaaaaaaakkkk, ini ceritanya bagus, beneran deh sumpah haha
    gak berlebihan cheesynya, pas aja gitu ,
    sukaaaaaaa :KISSYOU

    1. @fitriartemisia wah pernah ninggalin jejak ya kak, maap baru ngeh hari ini hahahah ada sequel yang uda up ya. Semoga berkenan.

    2. fitriartemisia menulis:

      huhu gak ada notif untuk reply comment haha
      aku udah bacaaa seriesnyaaa, ih bagus iiiihhh :KISSYOU

  23. :YUHUIII

    1. thank you da mampir, comment n vote @lovesela

  24. So sweet bener ya ini, hhe

    1. Ditunggu loh squelnya :BAAAAAA

    2. @xixihana hai maap ya ngga ngeh ada comment ini, ternyata kmu da comment beberapa kali minta sequel ya. Aku ngga ngecek postinganku da hampir 6 bulanan. Ada sequel yang di-up dengan judul berbeda ya, bisa dicek di accountku atau vitamin blog. Enjoy…

  25. Eh ini sanada jutek jutek so sweet yaa hahaha

    1. @nrlhidayahh si jutek yang masih punya nurani 😀

  26. irmayantiElysapakpah menulis:

    Haha. Baru inget. Kelanjutan critanya dah baca d wattpad. Tpi crita sblmnya lupa pdahal dah baca duluan crita awal ny ini . Eh pas ngulang baca ternya kelanjutanny yg ad d wattpad. Haha terhibur aku. Jd tau crita awal dr crita d wattpad. Suka deh sma critanya yg brakhir bahagia.. Wkwk :HUAHAHAHAHA :inlovebabe

Tinggalkan Balasan