Merengkuh

22 November 2020 in Vitamins Blog

.

.

Ps. Mau ngasi rating,  tp lupa caranya.  Yaudah,  ratinglah aku dalam hatimu yak. Kwkw

Cusss…

Mengendus kalbu

dimalam kelabu

yang berselimutkan debu

pembakaran rindu

Kepadamu..

Wahay diriku….

 

Eaaaaah!

 

Malam ini…  Atau dini hari ini…

Rasanya…

Enggak.  Enggak kok.  Aku lagi enggak mellow.  Hanya sedikit berfikir.

Sumpah sally!  Aku gak mellow2an!

Cuma memang, sudah lama tidak berdialog dengan diri sendiri.

Engga tau kenapa, malam ini tu rasanya…  Rasa cinta meluap-luap tak terkendali didalam diri.

Ah..  I love me.  I love me…

Seperti itu Saudara Saudari.  Mantra utama dalam hidup ini…  Hehe

Tapi kadang, i love me pun tak cukup untuk memberi benefit pada diri.  Lebih sering tersandung, terseok2 terbawa arus yang kemudian hanya akan memberi diri “ah bego ya lo, ujungnya mengutamakan orang yang tidak mengutamakanmu…”

Ada kalanya tersadar bahwa jiwa abnegation ini terlalu kuat…

You burnt yourself to death gitu rasanya…  (ini bener ga istilahnya?  Tau dah ini cj ngetik. 01.48 am jd lagi ngelantur wakak)

Tapi Sebenernya, ada masa-masa dimana akupun menjadi orang yg begitu egoissss dan enggan terjebur dalam sungai berbuaya…  Apalagi kalau ada buaya rawa yg cuma modal… Hey cewek naik kereta kencana abang yok…  Hihi

Itu adalah sejenis sungai paling berbahaya gaes… Mending naek ojek aja udah.  Kereta kencana hanya akan membuatmu kehilangan kemerdekaan diri. Ada “tugas” berat yang harus dipikul penunggangnya.

Ya ampun.  Ngelantur banget pagi ini.  Kwkwkw

Kembali ke leptop ye.

Jadi kadang, merasa bingung, siapa si diri ini, kenapa si kok ga stabil.  Kalau mau baik ya baik aja, kalau mau egois ya egois aja.

Gitu loh?

Kenapa sering berada pada garis abu-abu.  Ini tuh garis paling mengerikan yang bisa dipilih orang. Karena ini hanya akan membuatmu bingung setengah mati.

Kamu memiliki prinsip A, dan sayangnya kamu memiliki banyak TAPI yang bisa ngedebunk prinsipmu sendiri.

Seperti, aku cinta manusia…  Tapi yang jenis begini…  Bla bla bla

Aku cinta hewan, Tapi…  Bla bla bla…

Terlalu banyak tapi hingga kamu mulai meragukan prinsipmu sendiri.

Are you really sure you love em?

Gitu loh.

Orang-orang bilang,  wajar,  itu namanya kriteria.

Tp, sayang. kriteria itu membuat kita mengecilkan arti manusia itu sendiri. Manusia diciptakan bermacam2 jenis baik secara fisik maupun sifat dan orientasi…  Jadi, bingung kan lo baca ini?

Iya cj juga bingung wakaka.

Intinya, ditengah pertarungan isi kepala ini.  Aku hanya ingin mengingatkan diriku sendiri bahwa…

Tidak apa-apa kalau masi bingung,

Tidak apa-apa kalau masih jatuh ke rawa-rawa…

Tidak apa-apa kalau batin dan logika masi berperang bagai mahabarata…

Tidak apa-apa kalau kamu masi  bingung mau manggil kak au, kang au, atau opa au..

Teh mimin, kak mimin atau bep…

Kak au3, oppa ganteng atau papa mertua..  Hehe

Kak au4, rangga atau bro-bang…

Kak au5, oppa korut atau oppa…

Kak au6, Mbak au atau kaka…

Kak au7, Abah atau calon pemberi warisan wkkwkwak #kaboor

See, aku manggil orang aja gak pernah stabil!  Wakakaka

Gak papa.  Kebingungan itu wajar, sayang.

Ini adalah proses yang harus dilalui agar lebih matang lagi.

Malam ini, aku ingin merengkuh mu dan terus mengucap mantra, aku mencintaimu, dengan segala kurangmu dan segala errormu dan segala keabsurdanmu.

Aku menerimamu.

 

Eaaaaah!!!

Sudah ah.  Segitu aja.

Tolong yang baca,  jangan lupa isi kenclengan yang disimpan dipintu keluar.

Kwkwkw

Gambar i love me,  i am so yummy

Melepas

17 November 2020 in Vitamins Blog

 

.

Malam gelap berselubung sendu yang beradu padu dengan kamu yang ada di benakku….

Wahai diriku.

 

Eaaak.

No no no.

Walau malam ini gelisah bagai sapi pada hari raya kurban, tapi mellow-mellowan itu kata @risally bukan cj banget.  Asa aneh dan asa kumaha ceunah mun abdi mellow teh.

Tsaaaaahhh

Ketjub basah untuk Sally ku sayang.

Tapi sal,  engga tau kenapa…  Malam ini kayak ada setumpuk asap jelaga, asap hutan terbakar atau asap cemburu para istri tua…

Pokonya asap gitu sal.

Berat, menyesakkan dan membuat sulit terpejam. (walaupun emang biasanya juga sulit terpejam sih!)

Tapi ya malam ini itu beda.

Ngeri juga sih ini malam selasa.  Katanya,  dibanding malam jumat, selasa itu justru lebih keramat.

Wah mesti banyak-banyak bermunajat ini supaya tidak ada hehantuan yang lewat.

Anywaaaaaaays…..

Back to the laptop, kata om tukul.

Pokonya malam ini, bikin bengong. Padahal biasanya udah geol geol goyang senggol selow dikamar sambil nyetel folk indie apapun yg muter.

Malam ini….  Ga bisa seperti itu.

Apa karena komentar yang kudengar dari si itu.

Apa karena caranya melempar balas ke mukaku?

Apa karena jastip yang gagal nyampe dan cancel sebelah pihak?

Ahhh kemungkinan terakhir ini lebih masuk akal.  Aku lapar ternyata.  Butuh oksigen dan gorengan yg digoreng pake minyak 24x pemakaian.

Fix.

Anywaaaay lagiii…

Thanks to nolan @nolandzeta yang udah baek hati gambarin permen kapas oranye kissable…

Thanks to keponakan abah yang gambarin dan nulisin pp DJ.

Dan thanks to abah yang udah ngapload gambarnyaa tepat ketika Dipuncak gundahku. Oren kuning kunyitnya bagusss..  Kusuka,  sangat menyegarkan fikiran!  Punggung geisha nya juga bagus. Walau lebih bagus punggung Aslan (dalam khayalku)  kwkwkw

Kalian membuat hari ini terasa lebih baik.  :babeinicintaku

Udah ah.

Semoga ga ada yang baca.

Atau kalau ada.  Semoga ga melalui apa yang kulalui. Eahhh

 

Cheerrrssssss woot woot

Cj

[MISTERI] DANISHA : Lima Meter di Depanku

5 Mei 2017 in Vitamins Blog

28 votes, average: 1.00 out of 1 (28 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Hi! CJ kembali dengan cerita misteri lainnya. setelah Dasida’a ni onto, akhirnya bikin cerita misteri lagi. hihi

cerita ini baru dibikin, fresh from the oven. typo dan lain2nya mohon dimaklum. kalau ada yang mau koreksi silahkan ya.

ditunggu vomen nyaa…

:-)

***

Apa kamu pernah mengalami sesuatu yang tidak realistis dalam hidupmu?

Sesuatu yang sulit dijabarkan dengan nalar, diungkap dengan ilmu sains, dan bahkan sesuatu yang banyak tidak diterima oleh masyarakat awam. Sesuatu itu membuat hidupmu berubah, membuatmu ketakutan, begitu ketakutan bahkan hanya untuk selangkah saja menginjakkan kaki di luar rumah. Membuat mulutmu terkunci, membuat matamu terpejam, membuat hatimu gentar… dan bahkan membuatmu tak berteman.

Aku memiliki itu sejak kecil, sejak ia hanya sebatas sekelebatan perasaan ringan, yang lama kelamaan, semakin dewasa semakin menguat dan menguat setiap harinya. Entah sudah berapa banyak korban yang jatuh karenanya, yang jelas semua itu berada diluar kemampuanku untuk mengendalikannya.

Saat SMP, beberapa dokter memberikanku diagnosa manik depresif, yang aku rasa hanyalah pengalihan alasan karena para dokter itu masih belum mampu mengetahui penyebab sesungguhnya kenapa aku dilahirkan seperti ini. Aku tidak Manik depresif, aku tidak. Bukan karena itu aku menjadi seperti ini.

Semakin besar, aku semakin tidak terkendali, ayah dan ibu sudah mulai menyerah akan pengobatan medis. Suatu hari mereka akhirnya kalah akan godaan yang dianjurkan teman-temannya untuk membawaku ke pengobatan tradisional dan bahkan segala macam orang pintar –dukun-, kami datangi.

Kami coba satu per satu. Pengobatan tradisional tentu saja tidak bisa membantu sama sekali. Dukun yang berasal dari beberapa daerah sekalipun menyerah dan ketakutan melihatku. Sekali melihatku, para dukun itu langsung tunggang langgang, masuk kedalam ruangan rahasia masing-masing dan mengunci pintu rapat-rapat dengan mantra-mantra mereka.

Apa? Apa yang sebenarnya terjadi padaku?

Sejak kecil, aku memang tidak memiliki banyak teman. Kebanyakan mereka enggan berteman dengan manusia aneh seperti ku dan beberapa dari mereka enggan mendekat karena mereka adalah korban-korban ku. Mereka kapok berurusan dengan ku dan lebih memilih untuk menghindar dan bahkan menganggapku ada pun tidak.

Benak ku selalu penuh dengan pertanyaan, kenapa aku terlahir seperti ini?

Aku memiliki satu kakak laki-laki, yang juga enggan berada dekat denganku.  Saat dia berusia enam belas belas tahun dan aku empat belas tahun, kakak patah tulang di kedua kakinya, patah tulang yang sangat parah sehingga membuatnya duduk di kursi roda selama dua tahun penuh.  Dan itu terjadi karena ulahku.

Sejak saat itu aku hidup tak berteman. Ibu  dan ayah mulai menyerah mencari tahu penyebab ini semua terjadi. Mereka menjauhkanku dari kakak, karena aku dikirimkan ke rumah eyang di kampung yang sangat jauh dari keramaian kota dengan alasan agar mereka bisa lebih focus merawat kakak yang patah tulang dan aku bisa di asuh oleh eyang ku di kampung.

Kampung itu sangat asri, hijau dan memiliki sungai yang indah yang airnya  berwarna biru hasil dari ikatan air dengan sulfur dan fosfor yang dihasilkan gunung berapi.

Sungai itu langsung saja menjadi tempat kesukaanku untuk menghabiskan waktu luang sendirian sepulang sekolah atau setiap hari libur. Eyang tahu sekali kemana cucu nya ini pergi jika selama dua jam belum juga kembali. Hingga suatu hari, seorang gadis yang bernama Astuti, gadis kampung yang sangat polos dan baik hati menyusulku ditengah perjalanan, ia ingin menjalin pertemanan bersamaku, dan aku sangat senang sekali saat itu. Akhirnya ada gadis sebaya yang dengan sangat tulus ingin berteman denganku tanpa memandang siapa aku…

atau sebenarnya dia hanya tidak tahu siapa aku?

Astuti begitu ceria, menyenangkan dan tulus. Aku sangat menyanginya, kami menghabiskan banyak waktu di sungai bersama, ia akan membawa jaring tangan yang digunakannya untuk menangkap ikan atau -kalau beruntung- udang yang kemudian akan diolah menjadi hidangan santapan keluarga sederhananya.

***

Pagi itu hujan begitu deras selama beberapa jam dan aku memilih untuk menuruti nasehat eyang agar  tidak pergi ke sekolah karena pasti jalanan sangat rawan longsor. Lalu siangnya saat ibu menelepon eyang dan tahu aku tidak berangkat sekolah, ibu marah besar. Berkata bahwa aku adalah anak pemalas, anak gagal, anak yang tidak diharapkan. Eyang uti yang mendengarnya hanya memelukku, sedangkan eyang kakung menenangkan ibuku sambil menjelaskan kondisi kampung kami saat ini.

Dengan perasaan kacau, aku berlari meninggalkan rumah eyang secepat-cepatnya. Mataku bahkan sudah tidak bisa mengeluarkan air lagi. Hatiku remuk dan aku merasa tidak diinginkan.

Dari kejauhan Astuti mengejarku yang sedang berlari ke arah sungai, didepan beberapa petani yang baru pulang meladang, ia menarik tanganku dan berkata bahwa aku harus segera kembali ke rumah karena eyang sangat mengkhawatirkanku.

Aku? Mereka semua tidak khawatir padaku. Aku bukan siapa-siapa bagi mereka! Aku hanyalah monster yang menakutkan! Aku hanya monster yang tidak diinginkan!

Aku menarik tangan Astuti yang sedang menggenggam pergelangan tanganku lalu tiba-tiba… monster yang tengah tertidur selama aku di kampung eyang itu muncul kembali, dalam bentuk kilatan putih yang menyilaukan, dalam bentuk suara yang menulikan. Sekelebatan saja.

Demi Tuhan, tolong aku!

“Lepaskan!” teriakku.

“Ayo Pulang, Danisha. Eyang pasti khawatir sekali…” Ajak Astuti.

“Tidak, aku tidak mau pulang. Aku mau menenangkan diri di sungai…”

“Kalau begitu aku ikut ya?”

“Tidak boleh!”

Mengabaikan Astuti dan para petani yang melihati kami penasaran, aku terus berjalan menuju sungai dengan langkah tergesa-gesa. Kaki ku dilumuri tanah liat merah yang licin dan celana jeans ku kotor semua.

Ya Tuhan, aku hanya berharap saat itu Astuti tidak mengikutiku.

Aku ketakutan. Benar-benar ketakutan. Monster itu muncul lagi! monster itu muncul lagi!

Demi Tuhan, monster itu muncul lagi.  Aku tidak ingin siapapun, terutama Astuti –sahabatku- melihatnya.  Dia akan menjadi takut dan tidak mau lagi berteman denganku. Tidak, kumohon tidak, dia adalah satu-satunya temanku.

Bebatuan yang cukup besar di sungai itupun mulai terlihat, tandanya aku akan sampai dalam beberapa meter kedepan. Rencananya aku akan berenang menyeberangi sungai lalu bersembunyi dibalik batu besar yang ada di seberang dan bersembunyi disana, agar tidak ada yang akan menjadi korban selanjutnya.

Baru saja aku akan memasukkan kaki kedalam air, monster itu muncul begitu kuat dari sebelumnya. Suaranya menggema, menggetarkan seluruh tubuhku. Sementara aku tidak bisa bergerak sama sekali. Apa yang salah? Dia tidak pernah muncul sekuat ini!

Dalam cahaya putih menyilaukan itu tiba-tiba muncul wajah Astuti yang pucat pasi, tersenyum sedih dengan mata sayu. Rambut dan wajahnya basah kuyup. Bibirnya pucat dan kulitnya keriput.

Lalu monster itu… dengan bisikannya yang menggema, mendesiskan nama “Astuti….”.

***

Bayangan buruk itu memang hanya terjadi selama beberapa detik, tapi kemudian aku terdiam begitu lama di tepi sungai. Dengan tangan Astuti yang sibuk menggoncang-goncangkan tubuhku.

“Danish… Danish!”

“Astuti?” tanyaku tidak yakin.

“Iya ini aku Astuti. Kamu melamun?”.

“Astuti, kamu harus kembali. Jangan kemari!” teriakku panik.

“Danish, aku kemari untuk mencari ikan dan menyuruhmu pulang, eyang khawatir…” jelas Astuti dengan senyum yang menunjukkan bahwa aku adalah manusia konyol yang melarangnya berada di sungai yang sudah seperti rumah kami sendiri ini.

“Astuti, dengarkan aku! Kamu harus pergi dari sungai ini, sekarang!” seruku marah, cenderung kesal karena Astuti menganggap ucapanku hanya lelucon dari seorang anak gadis remaja yang sedang ngambek.

“Tidak! Kalau aku pergi adik-adik makan apa… lagipula, seharusnya kamu yang pergi, bukan aku. Sudah, sana kembali ke rumah eyang..” ujarnya seraya mendorongku keluar dari air sungai.

“Astuti, dengarkan aku, sekali iniiiii… saja!” pintaku dengan sangat agar dia mau mendengarkanku. “Pergilah dari sini, kumohon!”

“Tidak, kamu yang seharusnya pulang. Cepat, cepat, nanti eyang keburu jantungan karena khawatir sama kamu!”

“Astuti!!!!” teriakku frustasi.

“Danisha!!!” panggil Astuti sambil cekikikan. Dia kira ini lucu!

“Kamu gak mau nurut omongan aku?”

“Iya aku gak mau!” candanya sambil tertawa-tawa.

***

Sendirian berada di gubuk yang terletak di tengah sawah sampai larut malam akhirnya menjadi pilihanku. Kesendirian memang adalah teman terbaik. Seharusnya aku tidak bergantung pada manusia manapun. Tidak pada orangtua ku, tidak pada eyang, tidak juga pada pertemanan yang pada akhirnya akan terpisahkan.

Suatu kali aku sempat mencoba bunuh diri, hancur berkeping-keping dilindas kereta adalah pilihan terbaik dan pada sore yang sepi itu, aku berdiri ditengah rel kereta dengan jarak kereta hanya beberapa meter lagi akan mencapai tubuhku. Kereta itu terus dan terus mendekat. Aku sudah pasrah menutup mata dan menikmati momen kematianku. Tapi sampai bermenit-menit berikutnya saat aku membuka mata kembali, kulihat kereta itu menghilang dari hadapanku.

Ku kerjapkan mata berkali-kali.

Apa yang terjadi? Mana kereta itu? Aku sudah menunggunya beberapa lama dan dia menghilang begitu saja! Sial!

“Sial! Gue gagal mati! Mati aja lo kereta!”.

Dan tiba-tiba suara ledakan begitu keras terdegar dari belakang tubuhku, seketika aku berbalik dan menemukan ada ledakan api yang begitu besar dari kereta yang tengah berjalan kearah yang berlawanan dariku. Kapan kereta itu ada disana? Seingatku kereta itu masih berada didepanku beberapa menit yang lalu?

***

Pagi hariku diisi dengan keributan, eyang membangunkanku beberapa kali sampai akhirnya aku tersadar. Eyang uti terlihat begitu panic sampai akhirnya menyeret lenganku agar aku bangun dan mengikuti langkahnya.

Semalam aku pulang dari gubuk pukul 1 pagi dan sekarang baru saja kulihat pada jam dinding pukul 6 pagi. Aku masih sangat mengantuk!

“Ada apa sih eyang? Danish masih ngantuk…”

“Kamu semalam dari mana? Apa kamu bersama Astuti?”

Mendengar nama itu, kesadaran terkumpul seratus persen dan waspada menyelimuti diriku.

“Semalam aku ada di gubuk sawah eyang sendirian, tidak bersama Astuti. Ada apa dengan Astuti, eyang?” Tanya ku panic. Lalu eyang kembali menarik lenganku untuk berjalan ke bagian depan rumah dan kulihat hampir seluruh warga di kampung ini berkumpul didepan rumah eyang. Beberapa orang terlihat basah kuyup, beberapa orang petani yang terlihat marah, dan ibu-ibu yang masih mengenakan daster tidurnya.

“Itu dia anaknya! Saya lihat Astuti ke sungai bersamanya kemarin!” teriak seorang bapak petani sambil menunjukku, menggunakan bahasa daerah dengan suara yang begitu keras karena kemarahan.

Aku masih terheran-heran. Apa yang terjadi pada Astuti? Apa monster itu benar-benar…

“Iya, saya juga melihatnya bersama Astuti! Mereka bertengkar di jalan siang kemarin!” sambung ibu-ibu yang mengenakan caping.

“A… ada apa dengan Astuti, eyang?”

“Danish, kamu tidak mencelakakan Astuti, ‘kan?” Tanya eyang kakung. Saat itu hatiku mencelos, Astuti… sesuatu telah terjadi, sungai itu… pertanda itu…

Tidak. Tidak mungkin Astuti menjadi korban selanjutnya. Tidak mungkin!!

Otakku berputar begitu keras, mulutku kelu dan semua terasa memusingkan, dengan sisa kekuatan yang kumiliki, aku bertanya pada eyang, “Astuti ada dimana eyang?”

“Astuti dirumahnya, dia menghilang semalaman dan ditemukan di hilir sungai, dia sudah meninggal…” jawab eyang uti.

Seketika dunia ku runtuh untuk yang kesekian kalinya. Astuti sahabatku telah pergi dan akulah penyebab kepergiannya.

***

Aku berlari menuju rumah Astuti yang ternyata sudah ramai oleh banyak orang. Ayah, ibu dan adik-adik Astuti menangis tersedu-sedu melihat jenazah yang tergeletak di ruang tengah rumah sederhana itu. Pak Marno, Ayah Astuti, melihat kedatanganku dan wajah sedihnya dengan sangat cepat menjadi penuh dengan ekspresi kemarahan dan kebencian. Tatapannya penuh tuduhan terhadapku.

Sejenak aku ragu untuk mendekat, tetapi… persetan semua itu. Aku segera mendekat dan tersungkur disamping Astuti. Wajahnya pucat dan keriput, bibirnya tersenyum dan matanya tertutup. Wajah dan rambutnya basah kuyup.

“Astuti… kamu kenapa? Ayo bangun, Astuti….” Tangisku.

“Sudah kukatakan padamu kemarin, jangan mencari ikan di sungai itu, tapi kamu tidak mau mendengarku!”

“Astuti, kumohon bangun, Astuti…”

“Sudah kukatakan padamu kemarin, untuk mendengarkanku dan jangan mengabaikan nasehatku”.

“Astuti…” aku menangis melihatnya, tubuhnya terasa sangat dingin, kulitnya begitu rapuh dan hampir membiru.

“Astuti yang malang… Astuti yang mengabaikan peringatanku…”

Dipagi yang sendu teriakan yang mengejutkan menggema keras, wanita itu berteriak lantang, “Danisha pasti yang membunuh Astuti!”

“Iya betul!” timpal yang lain, “Kemarin mereka ke sungai bersama dan bertengkar disana! Aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri!”.

“Kalau begitu arak saja, kita adili ditengah balai desa!”

Teriakan setuju terdengar sangat keras. Orang-orang itu dengan penuh emosi menarik kedua lenganku lalu menyeretku dengan kasar menuju balai desa yang letaknya begitu jauh. Selama diperjalanan, beberapa orang melempariku dengan bebatuan kecil dan bebatuan itu tidak pernah sampai satu pun di atas kulitku. Bebatuan itu memental dan terlempar kembali kepada si pelemparnya, membuat warga semakin histeris dan ketakutan.

Tapi beberapa orang masih bersikeras menyeretku ke balai desa, sesampainya disana aku diikat  sangat kencang dan hampir menyakitiku lebih dari yang pernah dilakukan ayah dan ibu dulu, di tiang bendera yang ada di depan balai desa itu aku di adili didepan masyarakat. Dengan sangat tidak adil.

“Aku tidak membunuh Astuti! Aku bersumpah!” teriakku putus asa yang langsung mendapat cibiran masyarakat. “Kami tidak bertengkar, Astuti hanya memperingatkanku agar segera pulang karena eyang khawatir!”

“BOHONG! BOHONG BESAR! MEREKA BERTENGKAR, AKU BERSUMPAH DEMI TUHAN MELIHATNYA!” teriak seorang petani.

“YA, AKU JUGA BERSUMPAH MELIHATNYA!”.

Ditengah semua hujatan itu, kepalaku terasa berdenyut kencang, sakit sekali dan pusing yang begitu kuat mendera. Hampir-hampir aku tak sadarkan diri saat tiba-tiba tubuhku terdorong keras oleh kekuatan tak tersentuh, membuat punggungku bertubrukan dengan tiang bendera. Lalu suara-suara masyarakat itu bagaikan volume radio yang sedang diturunkan perlahan-lahan sampai menghilang. Membuatku bingung dan saat membuka mata, disanalah Astuti berada berdiri tepat didepanku begitu dekat, dengan senyum yang mengembang, mata sayu, bibir pucat dan rambut juga wajah basah kuyup. Persis seperti bayangan yang muncul kemarin siang.

“Astuti…” bisikku tak percaya.

“Paman Mardi… Paman Mardi melihatku sendirian di sungai setelah kamu pergi…”

Sekejap saja, setelah kalimat itu selesai, Astuti pun menghilang tanpa bekas. Suara masyarakat yang sebelumnya hilang, kini muncul kembali. Mereka sekarang meributkan tentang seseorang yang terkena serangan jantung.

Eyang!

Benar saja, saat aku mendapatkan kesadaran penuh. Aku melihat masyarakat kini perhatiannya teralihkan dan tengah sibuk dengan eyang kakung yang pingsan terkena serangan jantung. Dokter dan suster yang bertugas di Puskesmas di sebelah balai desa pun sudah ada disana untuk membantu eyang.

Sebenarnya sudah berapa lama aku tidak sadarkan diri?

Dokter itu menekan-nekan jantung eyang beberapa kali, lalu memeriksa denyut nadinya dan menggeleng pasrah.

“Eyang! Tidak! Eyang! Bangun, Eyang!”

Pada saat itulah pertama kalinya kejadian seperti itu terjadi dalam hidupku, aku mellihat eyang keluar dari jasadnya, lalu beliau menatapiku sambil menangis tersedu-sedu dan berkata, “Kasihan sekali kamu nak…”. Setelah mendengarnya, akupun menangis begitu keras. Mengumpulkan kemarahan dan kebencian, yang akan mampu membalaskan semua kesedihan ini. Tapi sebelum benar-benar meledak, aku teringat pada pesan Astuti tadi…

Paman Mardi!

“Paman Mardi! Paman Mardi melihatku pergi saat Astuti masih berada di sungai untuk mencari ikan!” jelasku pada semua orang. “Lalu aku pergi ke gubuk di tengah sawah kakek dan… dan.. ya, dan disana ada Mbok Surti bersama anaknya! Eyang, Eyang dengar itu, ‘kan? Aku bukan monster, aku bukan pembunuh Astuti, Eyang!” selama menjelaskan aku terus melihati eyang kakung yang masih menangis dan kemudian beliau mengangguk mengerti.

“Pak Mardi dan Mbok Surti, dimohon kedepan untuk memberikan kesaksian!” perintah Pak Harjo, kepala desa.

Pak Mardi dan Mbok Surti juga anaknya pun maju kedepan, memberikan kesaksian jujur yang apa adanya. Mereka mengatakan yang sesungguhnya bahwa aku memang pergi dari sungai itu dan meninggalkan Astuti mencari ikan sendirian, lalu aku pergi ke gubuk.

“Apakah Mbok Surti melihat Danisha berada di gubuk sampai sore?” Tanya petani yang bersi keras menyalahkanku sejak awal. Namanya Pak Royan.

Mbok Surti menggeleng. “Saya melihat Danisha siang itu saja, karena saya pulang bersama anak saya…”

“Jadi, tidak ada yang tahu keberadaan Danisha sampai tengah malam dimana dan bersama siapa, ‘kan? Siapa tahu setelah bertemu dengan Danisha dan Mbok Surti pergi, Danisha kemudian kembali ke sungai untuk mencelakai Astuti!” jelas Pak Royan penuh emosi. Bahkan bahasa daerahnya terdengar begitu berantakan.

“Tidak! Aku sampai pukul 12 malam berada di gubuk itu dan baru pukul 1 pagi aku sampai di rumah eyang!”.

“Bohong! Kamu anak kecil pembohong! Kamu anak kota yang arogan, sama seperti ayah dan ibumu! Mengaku saja, kalau kamu memang mencelekai Astuti! Lagipula, apa yang kamu lakukan di gubuk seorang diri? Mustahil anak kota seperti mu berani berada di gubuk seorang diri sampai tengah malam!” tuduh soerang pria lainnya.

“Karena aku berbeda…”

“Sudah! Lebih baik langsung kita hukum saja, cambuk sampai mati!!” teriak yang lainnya.

“TIDAK! JANGAN. ITU CUCU KU, DIA TIDAK BERSALAH….” Teriak eyang uti sambil berlinang air mata. Sementara eyang kakung sudah terlihat marah tapi tak bisa berbuat apa-apa.

Orang-orang itu mulai menyiapkan cambuknya, banyak dari mereka yang melepaskan ikat pinggang  dan juga menggunakan cambuk gembala, aku sangat takut saat itu. Mengingat dulu bagaimana rasanya dipukul ayah menggunakan penggaris saja aku langsung ketakutan setengah mati.

“Eyang, Danish gak salah, eyang… bantu Danish, eyang!” seluruh tubuhku gemetaran saat orang-orang itu berada dekat denganku. Mereka akan memukulkan cambuknya dalam hitungan tiga dan saat pukulan itu melayang, tiba-tiba saja tubuhku menghentak kuat berkali-kali, lalu keluarlah sesosok besar, berjubah putih, berambut putih dan panjang, berwajah sangat bersih dengan mata merah menyala dan penuh kemarahan!

Itulah pertama kalinya aku melihat sosok tersebut. Sosok yang selama ini bersembunyi di dekat ku, sosok yang begitu ditakuti oleh dukun ilmu kelas tinggi sekalipun.

“BERANI SENTUH SEDIKIT SAJA… HILANG KEDUA TANGAN KALIAN!” geraman sosok itu terdengar mengerikan, membuat orang-orang secara reflek langsung mundur menjauh dariku.

Perlahan, aku merasakan tali yang mengikatku pada tiang bendera itu bergerak, perlahan sekali… lalu tubuhku lepas begitu saja dari kekangannya.

Sosok besar tersebut kemudian melayang dan dengan gerakan yang sangat cepat, ia menghilang dengan menghantamkan tubuhnya pada tubuhku hingga aku tersungkur dengan hidung dan mulut yang berdarah.

“Danish!!!” teriak eyang uti lalu berlari dan bersimpuh disampingku. Wajahnya yang tua terlihat begitu pucat, bibirnya bergetar hebat lalu tangan kirinya memelukku sementara tangan kanannya menekan-nekan dadanya. Nafasnya tersengal-sengal.

“Eyang, jangan eyang! Danish mohon eyang jangan tinggalin Danish!”.

Eyang uti akhirnya  pergi menyusul eyang kakung. Serangan jantung telah merebut kedua eyang ku. Yang bisa kulakukan hanya menangis dan menangis. Kemana lagi setelah ini? Tidak ada yang mau menampungku selain dua orang tua yang sudah tiada ini.

Rasa marah kembali berkecamuk dan melesat dalam diriku, aku tidak bisa mengendalikannya, itulah mengapa dokter mendiagnosa ku manik depresif. Walaupun sebenarnya, bukan karena itu.

Si kecil Danish yang dikuasai oleh kemarahan itu berdiri, memandang benci pada seluruh orang yang ada di depan balai desa lalu berteriak lantang:

“AKU TIDAK MEMBUNUH ASTUTI DAN KALIAN TELAH MEMFITNAHKU, AKU BERSUMPAH KARENA FITNAH KALIAN, KALIAN AKAN MENGALAMI KEKERINGAN DAN KEMISKINAN SELAMA BERTAHUN-TAHUN SAMPAI ADA DIANTARA KALIAN YANG DATANG MEMOHON AMPUN PADAKU!”.

***

Kisah diatas adalah kisah masa laluku dan kini aku hidup mandiri di Italy, karena sejak kejadian di kampung eyang, ayah dan ibu mengirimku bersekolah asrama di Negara ini. Mereka benar-benar menjauhkanku dari kehidupan mereka dan tidak pernah sekalipun mengunjungi anak perempuannya ini.

Kini aku sudah berumur dua puluh lima tahun, bekerja sebagai freelance broker dan juga menjalankan bisnis toko es krim yang sudah mulai berkembang pesat. Dan ajaibnya, di negara ini aku memiliki banyak teman yang menyenangkan, tentu saja itu terjadi atas bantuan sahabat SMA ku, namanya Ardian.

Ardian adalah lelaki Indonesia yang “istimewa”, yang bisa “mengenal” ku dengan baik. Dia lah yang mampu mengajariku bagaimana cara mengendalikan kekuatanku dan “dia” yang selalu mengikutiku. Sebenarnya cara mengendalikan semua itu cukup mudah. Aku hanya perlu mendekatkan diri pada Tuhan dan membaca kitab suci Nya. Ya, memang ada beberapa ayat tertentu yang selalu menjadi bacaanku setiap lima waktu dan bahkan setiap saat. Tapi tidak, aku tidak akan memberi tahu kalian tentang ayat-ayat ini. Aku tidak ingin ada manusia opportunis yang menyalahgunakannya.

Tapi, tidak ada manusia yang sempurna. Terkadang, aku bisa dikalahkan oleh kekuatan dan emosi ku sendiri dan itu sering terjadi jika aku dalam keadaan lemah.

“Dan, firasat lo gimana?” Tanya Ardian yang berjalan disampingku sambil menikmati kopinya.

“Rada buruk, sih… ada yang bakal terjadi, tapi gue ga tahu apa…” jawabku santai.

“Yah… siap-siap aja!”

Sebelum sempat menjawab perkataan Ardian, tiba-tiba saja seseorang memukul pantatku dengan keras, membuatku terkecoh lalu sepersekian detik berikutnya ia menarik tas tanganku dan itu dilakukannya sambil mengendarai sepeda motor.

Dua orang itu mencuri tas yang berisi uang hasil penjualan es krim hari ini!

“Pencuri! Mereka mencuri tasku! Tolong!” teriakku yang langsung mendapat perhatian sekitar. “Ya ampun! Berani-berani nya ngambil tas duit gue! dilindes truck tau rasa lo!” omelku tidak sadar dalam bahasa Indonesia.

“Danish, sabar, Dan! Istigfar!” kata Ardi sambil mengusap punggungku, menenangkan.

Aku tercenung dan  menarik nafas dalam, mencoba menenangkan diri, “Astag…”

BRUKKKKKKK!

Suara keras terdengar mengagetkanku dan Ardian, spontan kami berdua menoleh  dan melihat lima meter didepan kami, seorang pencuri terpelanting dan seorang lainnya terlindas karena tertabrak truk besar yang melintas dengan kecepatan tinggi. Kondisi kedua nya begitu mengerikan membuat orang-orang yang ada disekitar memalingkan muka karena tidak tega melihat kondisi mereka.

Sementara aku dan Ardian masih termenung saat tas tangan itu melayang tepat didepan mataku dan terjatuh di atas kedua tanganku yang sebelumnya sudah menengadah untuk beristigfar dan berdoa.

Lima meter di depan sana… adalah bukti bahwa aku masih belum mampu mengendalikan diriku sendiri.

***

DANISHA : Lima Meter di Depanku

terimakasih sudah baca.

salam sayang

cheers woot woot,

CJ

 

DayNight
DayNight