File 00000000c17071fb8fc3d237814d8829 7
Vitamins Blog

BAB 3

0
Views:8
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Laura tidak mengeluarkan sepatah kata pun. Keheningan mendadak membeku di sudut meja bilik itu. Sorot matanya menajam lurus ke arah sepasang mata abu-abu Brian. Ada kekecewaan yang berbaur dengan amarah pekat di sana. Dia merasa dikhianati dan dipermainkan oleh pria yang seharusnya bisa dia percayai di kota ini.

 

“Laura? Kau baik-baik saja?” tanya Vivian, menyadari perubahan atmosfer yang mendadak drastis.

Laura menarik napas pendek, memutus kontak mata dengan Brian. Dia menegakkan tubuh, mengulas senyum tipis yang terasa sangat dingin.

 

“Aku baru ingat ada urusan mendesak yang tidak bisa ditunda, Vivian,” ujar Laura, suaranya terdengar datar namun mantap. Dia bangkit berdiri, merapikan mantel wolnya tanpa sekalipun melirik ke arah Brian lagi. “Maaf tidak bisa menemani kalian sarapan.”

 

Sebelum Vivian sempat menjawab, Laura sudah melangkah cepat membelah kedai. Bunyi tumit sepatunya menghentak keras di atas lantai kayu, berbarengan dengan denting lonceng pintu masuk yang berbunyi nyaring saat dia mendorongnya kasar. Udara pagi Blackwood yang dingin langsung menerpa wajahnya, namun tidak mampu mendinginkan kepalanya yang panas.

 

Di dalam kedai, Brian mengutuk habis-habisan dalam hati. Detak jantungnya memompa adrenalin dengan cepat.

 

“Viv, tunggu di sini. Ada urusan kasus kemarin yang harus kuselesaikan dengannya sekarang,” ucap Brian cepat, nadanya tidak menerima bantahan. Dia menyambar arloji titaniumnya dari atas meja dan langsung bergerak lebar mengejar Laura.

 

Brian mendorong pintu kaca kedai, matanya menyapu pelataran parkir yang basah. Dia melihat siluet Laura yang sudah berada beberapa meter di depan, berjalan dengan langkah cepat menuju mobilnya.

 

“Laura! Tunggu!” panggil Brian, suaranya berat dan menggelegar di antara sunyinya area pertokoan pagi itu.

 

Laura tidak berhenti. Dia justru mempercepat langkahnya, merogoh kunci mobil di dalam tas dengan tangan yang sedikit gemetar karena amarah yang meluap.

 

Brian berlari kecil, memotong jarak di antara mereka dengan langkah kakinya yang panjang. Tepat saat tangan Laura berhasil menyentuh gagang pintu mobilnya, langkah wanita itu terhenti karena Brian sudah berdiri kokoh di hadapannya, menghalangi jalan.

 

“Laura, tunggu,” kata Brian, suaranya rendah, mencoba meredam situasi. “Kita perlu bicara.”

 

Laura tidak mundur. Dia melepaskan gagang pintu mobil, lalu perlahan bersedekap. Dia menatap Brian dengan sepasang mata yang sedingin es pagi itu.

 

“Apa kau ingin berbicara tentang kemampuanmu yang bisa memanjat balkon kamarku, Tuan Callahan?” tanyanya, suaranya pelan namun begitu tajam, memotong udara pagi yang tersisa. “Atau tentang kebohongan yang kau simpan di tengah badai semalam?”

 

Brian tertegun sekilas, rahangnya mengatup rapat. Dia tidak menyangka Laura akan langsung menguliti motif kedatangannya secepat ini.

 

Laura mengulas senyum tipis yang tidak sampai ke mata. “Kemarin kau mengusirku seolah aku ini orang asing yang mengganggu waktumu. Tapi tengah malam, kau rela menembus badai rawa hanya untuk menyelinap di tempatku bermalam. Jangan menguji kesabaranku dengan kepura-puraan ini, Brian.”

 

Brian tidak suka didebat, dan dia jauh lebih tidak suka ketika situasi berbahaya seperti ini diserang dengan sarkasme yang dingin. Dia maju setengah langkah, memotong jarak di antara mereka hingga suaranya yang rendah hanya menjadi konsumsi mereka berdua di pelataran parkir yang sepi itu.

 

“Silakan marah padaku semaumu, Miss Bennet,” ujar Brian rendah, matanya tetap mengunci Laura tanpa berkedip. “Tapi kebencianmu kepadaku tidak akan menghentikan pria yang sedang mengawasimu.”

 

Dia maju setengah langkah, cukup dekat hingga nada baritonnya berubah menjadi sesuatu yang lebih berat.

 

“Kau boleh meragukan motifku. Tapi satu hal perlu kau pahami…” rahangnya mengeras tipis. “Semalam aku berada di sini bukan untuk menakutimu.

 

Tatapan mata abu-abunya bergerak lambat, intens, lalu kembali mengunci Laura.

 

“Ada seseorang yang ingin kau mati. Dan sampai aku tahu siapa dia, kau ikut denganku.”

 

Laura menolak mengikuti Brian. Tanpa membalas ucapan pria itu, Laura berbalik masuk ke dalam mobilnya sendiri, dan membanting pintunya rapat-rapat. Dia langsung memacu kendaraannya keluar dari pelataran parkir kedai, meninggalkan Brian.

 

Sangat keras kepala

 

Namun, Brian tidak menyerah; dia segera menaiki motor besarnya dan membuntuti mobil Laura sepanjang jalan.

 

Unit yang ditempati Laura berada agak menjauh dari pondok lain, sebuah rumah kayu dua lantai yang tampak muram di bawah langit pagi yang masih kelabu. Dinding luarnya menghitam oleh kelembapan rawa yang menahun, sementara balkon kecil di lantai atas menjorok ke arah pepohonan pinus yang bergerak pelan ditiup angin basah. Lampu terasnya yang redup masih menyala samar, memantulkan cahaya kusam pada anak tangga kayu yang licin oleh sisa hujan.

 

Begitu Laura turun dari pintu kemudi, dia tidak langsung melangkah menuju tangga rumah kecil itu. Wanita itu berdiri tegak di samping mobilnya, merapikan mantelnya dengan gestur yang luar biasa tenang.

 

Sepasang mata gelapnya menyapu pondok dua lantai di hadapan mereka, lalu beralih menatap Brian yang baru saja melepas helmnya.

 

“Senang rasanya aku tidak perlu khawatir kau akan tersesat, Tuan Callahan,” komentar Laura, suaranya pelan, datar, namun mengayun tajam di udara pagi yang sepi. “Kau sudah hafal jalan ke sini.”

 

Brian mencoba untuk tidak membalas perkataan tajam perempuan itu secara langsung, namun dia merasa berang. Pandangannya justru bergerak cepat mengitari area penginapan yang terlalu terbuka menurut standar keamanannya. Rumah-rumah kecil itu berdiri berjauhan, dikelilingi pepohonan dan ruang kosong yang menciptakan terlalu banyak titik buta.

 

Dari posisi mereka, tangga kayu menuju unit Laura tampak jelas menempel di sisi bangunan dan mengarah langsung ke balkon lantai atas tempat kamar tidur berada. Tidak ada petugas keamanan, tidak ada kamera aktif yang terlihat, bahkan kantor pengelola lodge berdiri cukup jauh di ujung kawasan, nyaris tertutup kabut sisa hujan.

 

“Tempat ini bahkan tidak memiliki satu pun alat atau kamera keamanan yang berfungsi, Laura,” kata Brian, suaranya berat dan sarat akan teguran karena Laura dinilainya sangat ceroboh. “Bagaimana bisa kau seceroboh ini? Memilih tempat kumuh yang terbuka dari segala sisi?”

 

Laura tidak menunjukkan riak keterkejutan. Dia justru melipat kedua tangannya di depan dada, mengulas senyum tipis yang amat dingin. “Aku memilih tempat ini karena luput dari radar orang-orang kota. Sampai kau memutuskan untuk mengendap-endap di penginapanku tadi malam, tentu saja. Katakan padaku, Brian. Untuk apa kau berkeliaran di sini semalam? Apa yang kau temukan di balkonku?”

 

“Masuklah, dan aku akan menjelaskannya di dalam,” jawab Brian pendek, wajahnya menegang serius.

 

Laura mengembuskan napas hambar. “Kau ingin menjelaskan alasan kenapa kau menolak kasusku kemarin siang? Kau tidak perlu repot-repot, Tuan Callahan. Aku sudah tahu alasan di balik penolakanmu bahkan sebelum aku melangkah kaki ke kantormu. Aku datang ke kantormu kemarin bukan karena aku butuh bantuanmu, aku hanya ingin melihat reaksimu. Ingin melihat sejauh mana kau akan berpura-pura tidak mengenalku setelah sebelas tahun berlalu.”

 

Laura berbalik dengan anggun, lalu melangkah menuju tangga kayu di sisi rumah kecil itu. Anak-anak tangga yang masih basah mengeluarkan derit rendah saat dipijak, membawa mereka naik menuju balkon lantai atas yang menghadap langsung ke barisan pinus dan kabut rawa yang belum sepenuhnya terangkat dari pagi Blackwood.

 

Brian langsung mengikuti langkah wanita itu dari belakang.

 

Lantai kayu rumah kecil itu berderit rendah saat Laura mendorong pintu dan melangkah masuk, disusul oleh Brian yang langsung menutup pintu di belakang mereka dengan sentakan tegas.

 

Interior pondok itu sederhana namun muram, jauh dari kenyamanan yang biasa mengelilingi hidup Laura. Aroma kayu lembap dan sisa hujan memenuhi udara, bercampur samar dengan bau kopi yang sudah dingin dan pernis tua yang mulai memudar. Ruang utama di lantai atas itu tidak luas, hanya terdiri dari area duduk kecil dengan sofa kusam berwarna hijau tua, meja kayu persegi yang diletakkan dekat jendela balkon, serta tungku batu tua yang tampaknya sudah lama tidak dinyalakan.

 

Tirai tebal di depan pintu balkon masih tertutup setengah, membiarkan cahaya pagi yang kelabu menyusup tipis ke dalam ruangan. Dari balik kaca, barisan pinus yang basah bergerak perlahan diterpa angin rawa, menciptakan bayangan panjang yang bergeser di lantai kayu.

Pandangan Brian bergerak cepat menyisir seluruh ruangan dengan naluri investigator yang otomatis bekerja. Tidak ada kekacauan yang mencolok, namun justru itu yang membuatnya semakin waspada. Pintu balkon, posisi furnitur, sudut pandang dari luar, hingga area buta di sekitar jendela dipetakan diam-diam di kepalanya.

 

Sementara itu Laura berjalan menuju meja kecil di dekat jendela, memunggungi Brian sembari melepas sarung tangan kulitnya dengan gerakan yang tenang dan terukur. Bahunya tampak tegak, namun ada ketegangan yang belum sepenuhnya luruh dari garis tubuhnya.

 

“Sekarang jelaskan, Brian. Kebohongan apa lagi yang akan kau katakan padaku?”

 

Brian melangkah ke tengah ruangan.

“Aku menolak kasusmu kemarin karena Blackwood tidak lagi aman, Laura. Jika aku membuka berkas resmi atas namamu di kantor, data itu akan masuk ke sistem pelacakan wilayah. Bajingan yang mengincarmu memiliki mata di mana-mana. Menolakmu di depan publik adalah satu-satunya cara agar aku bisa bergerak di bawah radar secara personal.”

 

Laura terdiam sekilas. Dia berbalik perlahan, bersandar pada tepian meja kayu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

 

Laura terdiam sekilas. Dia berbalik perlahan, bersandar pada tepian meja kayu dengan kedua tangan terlipat di depan dada.

 

“Alasan yang sangat rapi. Tapi kau membiarkanku pergi kemarin! Kau membiarkanku keluar dari kantormu tanpa perlindungan, hingga aku terpaksa bermalam di tempat mengerikan ini karena tidak tahu harus memercayai siapa lagi. Lalu sekarang kau datang berlagak paling tahu tentang keselamatanku?”

 

Saat Laura berbicara, tatapan Brian sempat bergeser ke arah pintu balkon. Dari jarak sedekat ini, dia bisa melihat bekas kelembapan pada ambang kayu luar tempat dia menemukan amplop malam tadi. Rahangnya mengeras tipis.

Laura melangkah mendekati Brian, harga dirinya yang tinggi menolak untuk terlihat seperti korban yang malang.

 

“Aku tidak sebuta yang kau kira, Brian. Aku memiliki informasi yang valid. Aku punya informan sendiri dan aku tahu bahwa ada pihak kejaksaan wilayah yang berkhianat. Seseorang di dalam sana sengaja membuka celah agar bajingan itu bisa mendekatiku. Aku tahu siapa pengkhianat itu.”

 

Keheningan yang tercipta sesudahnya terasa padat di dalam rumah kayu kecil itu. Brian tidak langsung menjawab. Tatapan mata abu-abunya justru mengeras, menyimpan sesuatu yang sulit diterjemahkan.

 

Laura menangkap perubahan kecil itu.

 

Bukan keterkejutan biasa.

 

Rahing Brian mengeras terlalu cepat. Sorot matanya berubah terlalu gelap.

Dan itu hanya memperkuat kecurigaannya.

 

“Jadi itu benar,” ujar Laura pelan, menatap lurus pria di depannya. “Ekspresimu menjawab lebih banyak daripada kata-kata.”

 

Brian menarik napas pendek.

“Kau tidak seharusnya mengetahui informasi itu.”

 

Nada suaranya rendah, terkendali, namun justru terasa lebih berat daripada sebelumnya.

 

Laura mengulas senyum tipis yang hambar.

 

“Aku tidak datang ke Blackwood tanpa persiapan.”

 

Dia menjauh satu langkah, berjalan menuju jendela balkon sambil menyilangkan kedua tangan di depan dada.

 

“Aku tahu ada seseorang di dalam kejaksaan yang membocorkan jalur perpindahan saksi dan dokumen lama.” Suaranya tetap datar. “Dan aku tahu orang itu tidak bekerja sendirian.”

 

Brian tidak segera membalas.

Naluri investigasinya bekerja cepat, menyusun kemungkinan demi kemungkinan yang tidak dia sukai.

 

Jika Laura benar, maka situasinya jauh lebih buruk dari yang dia duga.

 

Bukan sekadar penguntit.

 

Bukan ancaman personal.

 

Ada kebocoran sistemik.

 

“Apa nama informanmu?” tanya Brian akhirnya.

 

Laura menoleh perlahan.

 

Tatapan matanya kembali dingin.

“Aku tidak sebodoh itu, Brian. Aku tidak akan membocorkan hal itu begitu saja.”

 

Keheningan kembali menggantung.

 

Brian mengatupkan rahang. Sifat keras kepala Laura mulai mengikis sisa kesabarannya. Wanita itu tetap sama seperti sebelas tahun lalu, cerdas, defensif, dan terlalu terbiasa memikul segalanya sendirian.

 

Dia melangkah mendekat, namun kali ini bukan dengan gestur agresif, melainkan tekanan tenang yang justru terasa lebih mengancam.

 

“Aku tidak sedang bermain teka-teki denganmu, Laura.”

“Dan aku tidak sedang mencari penyelamat.”

 

Mata mereka bertemu dalam jarak yang semakin sempit.

 

Suasana di dalam pondok kecil itu mendadak terasa sesak, seolah udara lembap rawa ikut terjebak bersama mereka di antara dinding kayu tua.

Brian menahan jeda pendek.

 

“Lalu apa yang sebenarnya kau cari saat datang ke kantorku kemarin?”

 

Laura terdiam beberapa detik.

Bukan karena tidak punya jawaban.

Melainkan karena pertanyaan itu mengenai sesuatu yang lebih rumit daripada ancaman atau berkas kasus.

 

Dia menatap Brian lama, sebelum akhirnya menjawab dengan suara yang jauh lebih pelan.

 

“Aku ingin tahu di posisi mana kau berdiri.”

 

Ruangan mendadak sunyi.

 

Tatapan mata abu-abu Brian tidak bergeser dari wajah Laura. Ada sesuatu yang bergerak tipis di balik ekspresi dinginnya, nyaris menyerupai benturan lama yang tak pernah benar-benar selesai.

 

Namun Laura tidak memalingkan muka.

 

“Tapi setelah semalam…” lanjutnya pelan, kedua tangannya perlahan terlipat di depan dada. “Aku justru menemukanmu berdiri di luar rumahku tanpa penjelasan. Menyembunyikan sesuatu dariku.”

Brian mengatupkan rahang.

 

Laura menatap lurus, tidak gentar.

 

“Kau memintaku percaya padamu sementara kau bahkan tidak memberiku seluruh kebenaran.” Suara Laura hampir goyah.

 

Keheningan kembali menggantung.

 

Lalu Brian bergerak.

Pria itu melangkah mendekat dengan tenang, menghentikan dirinya hanya beberapa langkah di depan Laura. Tidak ada kemarahan yang meledak di wajahnya, justru sesuatu yang jauh lebih terkendali dan sulit dibaca.

 

Brian bergerak

 

“Menarik,” katanya pelan.

Sepasang mata abu-abunya turun sesaat, lalu kembali pada wajah Laura.

 

“Kau datang ke kantorku sambil membawa kecurigaan. Menuduhku. Mengujiku.”

 

Sudut rahangnya menegang. “Tapi kau tetap berdiri di sini bersamaku.”

Dia menahan jeda pendek.

 

“Jadi katakan padaku, Laura.” Suaranya turun satu nada, berat dan menuntut. “Kalau kau benar-benar menganggapku ancaman… kenapa kau belum mengusirku keluar?”

 

Brian menatapnya lama.

 

“Aku tidak suka permainan setengah-setengah,” katanya perlahan.

 

“Kau ingin tahu di pihak mana aku berdiri?” Tatapan pria itu mengeras.

 

“Kalau aku berniat menyakitimu, Laura, aku tidak akan repot berdiri di luar kamarmu di tengah badai.”

 

Dia mendekat setengah langkah lagi.

“Tapi jangan mengira aku juga akan terus membiarkanmu mendorongku tanpa batas.”

 

Nada suaranya tetap rendah, terkendali, namun kini membawa tekanan yang nyaris berbahaya.

 

“Kau menantangku sejak pertama kali datang ke kantorku.” Matanya bergerak perlahan di wajah Laura. “Dan aku mulai lelah berpura-pura bahwa itu tidak memengaruhiku.”

 

“Bicara tentang posisi, jadi, di posisi mana aku berdiri, Laura?” tanya Brian, suaranya berupa bariton rendah yang sarat akan intimidasi.

 

Sepasang matanya bergerak lambat, turun menelusuri lekuk tubuh Laura dari balik mantel wolnya, seolah tatapan itu memiliki wujud fisik yang mampu menelanjangi seluruh pertahanan wanita itu. Laura merasakan sensasi aneh yang mendadak bergelenyar di sepanjang sarafnya. Dia merasa telanjang di bawah intensitas pandangan pria itu yang seolah menelanjanginya. Tubuhnya bergelenyar hebat.

 

Belum sempat Laura mengumpulkan suaranya untuk menjawab, Brian sudah condong ke depan, mengunci Laura di antara dadanya dan tepian meja kayu.

 

“Jadi menurutmu akulah si penguntit itu? Dan apakah kamu tahu apa yang ditinggalkan bajingan itu di luar, Laura?”

 

Tubuhnya semakin mendekat, ia berbisik dengan nada yang begitu memikat. Laura membeku di tempat, merasakan jantungnya bertabuh hebat di dalam rongga dada. Suara berat Brian benar-benar memikatnya.

“Celana dalam,” lanjut Brian berbisik.

 

Laura terkesiap.

 

Bibir pria itu kini berada sangat dekat dengan bibir Laura, sementara matanya mengunci mati manik gelap wanita itu.

 

“Asal kau tahu, Laura, jika aku yang memegang celana dalam perempuan, sudah bisa kupastikan pemiliknya tidak akan merasa ketakutan,” bisik Brian, sebuah seringai tipis yang penuh dominasi terukir di sudut bibirnya. “Dia pasti akan sangat menikmatinya.”

 

Laura ingin mendorongnya, namun suaranya seolah terkunci.

 

“Dan bicara tentang posisi,” Brian merendahkan suaranya satu ketukan lagi, arusnya berubah menjadi serak dan penuh tuntutan. “Aku selalu memikirkan satu posisi ini, aku hampir gila karenanya semenjak kita bertemu… yaitu kau di bawahku, di atas ranjang.”

 

Sebelum akal sehat Laura sempat mencerna kalimat frontal itu, Brian sudah menunduk dan membungkamnya dengan sebuah ciuman yang sarat akan nafsu yang meledak.

 

Brian merapatkan tubuh mereka tanpa celah, menekan tubuh ramping Laura ke tepian meja kayu yang keras hingga wanita itu bisa merasakan dengan jelas ketegangan gairah pria itu yang menuntut. Satu tangan kekar Brian yang bebas bergerak turun ke pinggang, lalu meremas panggul Laura dengan cengkeraman posesif yang dalam, menariknya semakin melekat ke dalam dekapannya. Sentuhan itu mengirimkan sengatan panas yang instan; dada Laura mendadak mengencang oleh gelombang sensasi asing yang memabukkan saat bibir Brian mengunci miliknya dengan begitu rakus.

 

Ciuman itu menghisap habis seluruh pasokan udara mereka. Laura mendesis rendah di sela tautan bibir mereka, tangannya yang semula terkepal di dada Brian kehilangan seluruh kekuatannya, perlahan membuka dan mencengkeram kain jaket kulit yang keras itu demi mencari pegangan di tengah gairah yang membutakan kewarasannya.

 

Ketika Brian akhirnya menarik tautan bibir mereka dengan gerak lambat yang enggan, dia tidak langsung menjauh. Pria itu menyusupkan wajahnya lebih dalam, menenggelamkan kecupannya yang basah di sepanjang garis rahang hingga turun ke ceruk tengkuk Laura yang sensitif, membuat kulit leher Laura meremang.

 

“Dan ngomong-ngomong tentang menyembunyikan, kurasa kau lebih pandai dariku, Miss Bennet,” bisik Brian, suaranya bergetar rendah dan terasa panas di kulit tengkuknya.

 

“Ucapanmu mungkin sangat bermusuhan, tetapi tubuhmu tidak bisa berbohong… kau bergairah untukku.”

 

Setelah kalimat itu lolos, Brian perlahan melepas kungkungannya, memberikan ruang bagi Laura untuk kembali meraup oksigen. Dia memundurkan langkahnya menuju pintu dengan gestur yang kembali tegas dan terkendali.

 

“Kita akan membicarakannya lagi nanti, Laura, saat kau sudah dalam pikiran jernih,” ujar Brian, suaranya berangsur normal kembali menjadi bariton yang kaku. Tangannya meraih gagang pintu. “Jangan lupa untuk selalu mengunci pintumu. Aku akan meminta teknisi untuk memasang alarm keamanan di sini.”

 

Pintu ditarik, dan Brian Callahan melangkah keluar, meninggalkan penginapan itu dengan debuman pintu yang menutup rapat.

 

Laura berdiri membeku di tengah ruangan yang mendadak terasa begitu ham

pa. Dia tertegun selama beberapa saat, menyentuh bibirnya yang masih terasa panas dengan ujung jari yang bergetar. Perlahan, kesadarannya kembali, memicu gelombang amarah pekat yang membakar dadanya atas kelancangan Brian.

 

Kurang ajar pria itu!