File 00000000c17071fb8fc3d237814d8829 6
Vitamins Blog

BAB 2

0
Views:10
Bookmark
Please login to bookmarkClose

Sebelas tahun yang lalu, Blackwood terasa sedikit lebih hangat, meski kemiskinan tetap membungkus kehidupan Laura Valois Bennet dengan begitu rapat.

Sore itu, jam menunjukkan pukul lima. Udara Louisiana yang lembap terasa bersahabat bagi Laura yang berusia enam belas tahun. Dia berdiri di depan cermin retak di sudut rumah panggung mereka yang reyot, menatap pantulan dirinya dengan binar mata yang jarang sekali muncul. Hari itu adalah hari ulang tahun salah satu teman sekelasnya, sebuah undangan langka yang membuat Laura merasa menjadi bagian dari dunia remaja yang normal.
“Anak ibu cantik sekali,” sebuah suara lembut memecah keheningan kamar.

Ibu Laura melangkah mendekat. Wanita itu bertubuh sangat kurus, wajahnya pucat karena kelelahan dan beban hidup, namun senyumnya selalu menjadi tempat paling aman bagi Laura.

Dengan jemari yang gemetar halus, sang ibu menyematkan sebuah pita kecil berwarna merah pudar di rambut Laura. Pita itu sudah kumal, warnanya telah lama turun akibat terlalu sering dicuci, namun bagi mereka yang miskin, itu adalah kemewahan terbaik yang bisa diusahakan.

Dari ruang depan, sayup-sayup terdengar erangan berat ayah Laura yang sedang mendengkur dalam pengaruh wiski murah. Sang ibu buru-buru mengusap pipi Laura, berusaha tersenyum lebar demi menyembunyikan rasa pedihnya sendiri. “Pergilah. Bersenang-senanglah, Sayang.”

Dengan langkah ringan dan hati yang penuh semangat, Laura berjalan menyusuri tepian jalanan aspal yang sepi, beberapa kilometer dari pusat kota. Namun, kegembiraan itu tidak bertahan lama.

Raungan mesin motor yang bising mendadak memecah kesunyian.

Tiga pemuda yang usianya jauh lebih tua dari Laura muncul dari tikungan, mengendarai dua motor sport dengan ugal-ugalan. Mereka langsung memutar arah begitu melihat Laura berjalan sendirian, mengunci langkah gadis itu di tepi jalan yang berbatasan langsung dengan ilalang rawa.

“Hei, lihat si anak pemabuk mau pamer gaun,” ejek salah satu dari mereka yang berambut cepak, mematikan mesin motornya tepat di depan Laura. “Pita di rambutmu bagus juga. Mau pergi ke pesta dansa orang kaya, ya?”

Dua pemuda lainnya tertawa, mengembuskan asap rokok dan sengaja memajukan motor mereka hingga hampir mengenai ujung sepatu kanvas Laura. Semangat Laura runtuh seketika. Rasa minder dan ketakutan yang masif mendadak mencekik tenggorokannya. Dia mencengkeram tali tasnya, menunduk dalam-dalam, dan saat air matanya hampir saja jatuh menitik

Sebuah deru mesin motor lain yang jauh lebih bertenaga dan berat memotong tawa para berandalan itu. Sebuah motor hitam besar melesat cepat, lalu mengerem tajam di antara Laura dan ketiga pemuda tersebut, menciptakan tameng besi yang kokoh.
Pengendaranya menurunkan standar motor, lalu membuka kaca helm full-face miliknya.

Brian Callahan.

Di usia sembilan belas tahun, Brian adalah pusat gravitasi di Blackwood. Dia cerdas, memiliki karisma yang mengintimidasi, dan ditakuti oleh kelompok pemuda mana pun karena reputasinya yang tak kenal takut. Sepasang mata abu-abunya menatap dingin ke arah ketiga berandalan itu, tanpa emosi, namun sarat akan ancaman yang mutlak.

“Ada masalah di sini?” tanya Brian, suaranya rendah dan berat.
Ketiga berandalan itu seketika menegang. Nyali mereka menyusut dalam hitungan detik. Si rambut cepak buru-buru menghidupkan kembali mesin motornya, mencoba tertawa canggung untuk menyembunyikan rasa takut mereka pada Brian.

“Santai, Callahan. Kami cuma bercanda dengan gadis kecil ini,” ujar salah satu dari mereka, sambil memundurkan motor. Namun sebelum pergi, dia sempat melirik Laura lalu mencemooh, “Lihat, pangeran penolongmu sudah datang. Mungkin gadis itu sekarang sedang mengharapkan ciuman terima kasih darimu, Brian!”

Pipi Laura seketika memerah padam karena malu dan terkejut mendengar ucapan lancang itu. Dia makin menenggelamkan wajahnya, merasa tidak pantas disandingkan dengan pria seperti Brian.

Namun, Brian tidak membiarkan provokasi itu lewat begitu saja.

Tatapan matanya menajam, dan dengan nada yang sangat dingin serta mematikan, dia memberikan jawaban yang langsung mengunci mulut mereka, “Jaga ucapanmu kalau masih mau pulang dengan rahang yang utuh. Pergi.”

Tanpa membantah lagi, ketiga berandalan itu langsung memacu motor mereka dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan asap dan keheningan yang kembali menguasai jalanan sore itu.

Brian mematikan mesin motornya, lalu turun. Dia melangkah menghampiri Laura yang masih berdiri mematung di tepi jalan.

Pria itu tidak tahu seberapa berarti pertolongan yang baru saja dia berikan, terutama bagi seorang gadis kecil dari keluarga hancur seperti Laura. Kehadiran Brian sore itu terasa seperti dinding pelindung yang paling kokoh.

“Kau mau ke mana?” tanya Brian, nada suaranya kembali datar dan tenang, matanya sempat melirik sekilas ke arah pita kumal di kepala Laura.

Laura terlalu malu untuk menjawab. Lidahnya terasa kelu. Dia tahu dia hendak pergi ke pesta ulang tahun, namun setelah kejadian barusan, rasa percaya dirinya hilang sepenuhnya.

Semangatnya menguap, digantikan oleh rasa lelah yang amat sangat. Rasanya, dia sudah tidak memiliki keinginan lagi untuk pergi ke mana pun.

“Aku… aku mau pulang,” bisik Laura lirih, matanya menatap ujung sepatunya sendiri.

Brian mengamati ekspresi di wajah Laura selama beberapa saat. Seolah memahami perasaan gadis itu dia tidak banyak bertanya lagi.

“Naik,” perintah Brian pendek sambil memberikan helm cadangan yang tergantung di jok belakangnya. “Aku antar kau pulang.”
Sore itu, di atas motor besar milik Brian, Laura duduk dengan jarak yang dijaga ketat, membiarkan angin sore Blackwood menerpa wajahnya. Di balik punggung tegap Brian yang membelah jalanan menuju rumah panggungnya, Laura menyimpan memori sore itu sebagai salah satu kenangan paling berharga.

****

Badai tropis yang turun sore itu benar-benar brutal. Hujan lebat merusak jarak pandang, mengubah jalanan tanah di pinggiran kota menjadi kubangan lumpur, dan memaksa Laura memutar kemudi menuju pelataran sepi Pinecrest Lodge.

Penginapan itu tampak menyedihkan. Dinding kayunya telah menghitam dan berlumut akibat kelembapan rawa yang konstan, memancarkan aura melankolis yang pekat. Kamar nomor 14 yang ditempatinya di lantai dua terasa pengap, berbau karpet tua yang basah dan kayu lapuk. Di mata Laura yang terbiasa dengan kenyamanan di Seattle, tempat ini jauh dari kata layak. Namun, tidak ada pilihan lain. Tubuhnya teramat lelah setelah menempuh perjalanan jauh, dan yang terpenting: penginapan kumuh seperti ini tidak memerlukan identitas ketat saat check-in. Dia hanya ingin menghilang dari radar malam ini.

Setelah mengunci pintu balkon prancis dan menutup tirai tebalnya, Laura membersihkan diri. Pancuran air hangat yang tersendat-sendat setidaknya berhasil membasuh rasa lengket di kulitnya, namun tidak mampu mengikis beban berat yang menggelayuti pundaknya.

Dengan hanya mengenakan pakaian tidur sutra dan mantel panjang, Laura merebahkan tubuhnya di atas ranjang yang terasa agak keras. Dia menatap langit-langit kamar yang bernoda rembesan air, sementara pikirannya mulai berkecamuk tanpa bisa dikendalikan.

Kembali ke Blackwood ternyata jauh lebih menguras emosinya daripada yang dia duga. Bayangan tentang Brian Callahan terus berputar di benaknya. Namun, bukan sosok pria itu yang membuat Laura tidak tenang, melainkan seberapa pandai Brian menyembunyikan sesuatu di balik topeng investigatornya. Cara pria itu menolaknya di kantor tadi siang terasa terlalu dikalkulasi. Brian yang dia kenal dulu adalah orang yang selalu membaca situasi dengan tajam, dan sikap kaku yang ditunjukkannya hari ini justru membuat Laura curiga bahwa Brian tahu jauh lebih banyak daripada yang dia tunjukkan. Ada teka-teki besar di balik mata abu-abu itu.

Laura membalikkan tubuhnya menghadap jendela, menatap samar bayangan siluet pepohonan rawa di balik tirai yang sesekali diterangi kilatan petir jauh. Udara malam terasa mencekam. Di tengah keheningan yang hanya diisi oleh hantaman air hujan pada atap seng, kesadaran itu datang memburu

Mungkin di luar sana, seseorang benar-benar menginginkanku mati.

Teror di Seattle bukan gertakan. Seseorang melacaknya, mengetahui siapa dia di masa lalu, dan sekarang dia berada di kota tempat semuanya dimulai. Laura menekan kedua pelipisnya yang berdenyut hebat. Setiap kali dia mencoba memikirkan malam berdarah sebelas tahun lalu itu, kepalanya langsung dihantam rasa sakit yang luar biasa, hanya ada dinding hitam tebal dan kilasan kabur yang tidak pernah sinkron. Ada sesuatu yang terkunci di sana, sesuatu yang tidak bisa dia ingat dengan benar.
Laura menarik napas panjang, mencoba mengusir rasa sesak yang menghimpit dadanya. Dia sangat lelah, namun matanya menolak untuk terpejam. Baru sekitar jam dua belas malam, ketika badai di luar mulai sedikit mereda menjadi ritme yang konstan, rasa letih yang ekstrem akhirnya mengalahkan kecemasannya. Laura jatuh tertidur dalam posisi meringkuk.
Dia tidak tahu sudah berapa lama dia terlelap di dalam kegelapan kamar tersebut. Hujan di luar rupanya belum juga berhenti, menderu brutal memecah malam.

Namun, bukan suara air yang membuat Laura mendadak terjaga dengan jantung yang mencelos ke lambung. Sebuah suara berisik yang asing, derit berat dari lantai kayu balkon di luar kamarnya, disusul benturan halus yang janggal pada kaca jendela, seketika memotong kesunyian.
Mata Laura terbuka lebar dalam kegelapan. Tubuhnya menegang kaku di atas ranjang, menahan napas, sementara indra pendengarannya menajam. Dia mencoba memastikan apakah suara di balik tirai jendela itu hanyalah ilusi dari amukan badai, ataukah bahaya yang akhirnya berhasil menemukan tempat persembunyiannya.

Mengumpulkan sisa keberaniannya, Laura melangkah tanpa suara, mendekati jendela prancis dan mengintip melalui celah tirai tebal yang sedikit tersibak.

Melalui remang malam yang pekat, dia melihat sesosok siluet tinggi besar sedang berdiri di bawah tempias hujan, menjangkau ke atas, dan merenggut sebuah amplop cokelat tebal kedap air yang ternyata diselipkan di antara celah gagang pintu balkon luarnya. Tepat pada detik itu, sebuah kilatan petir yang masif memutihkan langit Blackwood selama satu ketukan pendek. Lengan jaket tebal si sosok misterius tersingkap ke atas akibat gerakannya yang terburu buru. Di bawah cahaya yang membutakan tersebut, sepotong logam arloji kronograf titanium hitam dengan pantulan jahitan jingga yang sangat spesifik pada talinya berkilau selama satu detik di pergelangan tangan pria itu.

“Siapa di sana?!” panggil Laura, suaranya lantang memecah badai, menolak untuk terdengar lemah di hadapan penyusup.

Siluet itu bergerak secepat kilat, melompat turun dari pagar balkon lantai dua dan menghilang ke balik tirai hujan hutan pinus yang gelap. Laura segera memanggil petugas penginapan dengan tangan gemetar.

Namun, pemeriksaan di bawah guyuran hujan itu nihil; tidak ada jejak yang tersisa akibat tersapu air yang deras. Kepala Laura berdentut hebat akibat ketegangan dan teka teki tentang arloji berjahit jingga tersebut. Dia terus terjaga dengan waspada di tepi tempat tidur, sampai matanya baru benar benar terpejam karena kelelahan saat fajar mulai menyingsing pada pukul lima pagi.

***

Aroma kuah kaldu yang gurih dan merica menyambut Laura saat dia mendorong pintu kaca Bayou Comfort Diner beberapa jam kemudian. Kedai tua berlantai kayu ini adalah satu satunya tempat yang tidak berubah di Blackwood, tempat pelarian masa kecilnya saat dia masih kesulitan. Laura memilih meja bilik di sudut paling belakang, dekat jendela yang masih buram oleh sisa embun pagi. Letih yang mendalam setelah hanya tidur beberapa jam membuat nafsu makannya hilang; dia hanya memesan secangkir kopi hitam panas yang kini dia putar lambat dengan sendok kecil.

Kring.

Suara lonceng di atas pintu masuk berdenting rendah. Laura refleks melirik ke arah pintu, dan gerakannya langsung terkunci di tempat. Brian Callahan berjalan tegap memasuki kedai. Namun, dia tidak sendiri. Berjalan di sampingnya adalah Vivian Vance, kakak kelas mereka dulu di sekolah yang kini tumbuh menjadi wanita yang sangat memikat dan anggun. Sebagai wanita kelas atas Blackwood, Vivian adalah tipe orang yang memancarkan aura positif dan mudah disukai siapa saja.
Melihat bagaimana Vivian berjalan sangat dekat, bahu mereka saling bersentuhan intim, dan bagaimana tangan Vivian sesekali menyentuh lengan Brian dengan begitu natural saat mereka melangkah masuk, sebuah sengatan asing yang panas mendadak menghantam dada Laura.

Ada rasa sesak yang tidak bisa dia kendalikan di dalam hatinya. Mereka berdua tampak begitu akrab dan serasi, mengingatkan Laura pada gosip masa sekolah dulu bahwa mereka adalah pasangan yang sempurna. Laura berasumsi dalam diam bahwa hubungan mereka berdua jauh lebih dalam dari sekadar teman lama. Laura buru buru memalingkan wajah kembali ke arah jendela, menunduk dalam dalam di balik cangkir kopinya, menolak untuk terlihat terganggu oleh pemandangan yang menggelitik sisa harga dirinya tersebut.

Namun, langkah kaki mereka berhenti tepat di samping meja biliknya.

“Laura? Laura Bennet?” Suara Vivian terdengar renyah dan hangat. Laura mendongak, mendapati binar terkejut yang tulus di mata indah wanita itu.

“Astaga, ini benar benar kau! Kapan kau kembali dari Seattle? Kau terlihat sangat luar biasa sekarang.”

“Baru kemarin, Vivian,” jawab Laura, melunakkan ekspresi wajahnya dan membalas dengan senyum formal yang anggun. Dia menoleh ke arah pria yang berdiri membisu di belakang senior sekolahnya itu.

Namun, Brian Callahan justru bertingkah seolah pertemuan mereka di kantor kemarin siang tidak pernah terjadi. Pria itu berdiri tegak dengan tangan tenggelam di dalam saku jaket kulit, memandang ke arah konter makanan dengan ekspresi sedatar papan tulis. Sikap cuek dan formalitas ekstrem yang ditunjukkannya membuat Laura harus mengerahkan seluruh kontrol dirinya agar tidak memperlihatkan kejengkelan di dalam hati. Pria itu benar benar memperlakukannya seperti orang asing acak yang kebetulan dikenali temannya

“Kebetulan sekali kita bertemu di sini,” lanjut Vivian ramah, tersenyum menoleh ke arah Brian untuk mencairkan suasana. “Laura, kau pasti masih ingat seniormu yang kaku ini, kan? Dia benar benar tidak berubah. Masih menyebalkan seperti dulu.”

Alih-alih bersikap defensif atau menyindir, Laura mengangguk santai, menjaga topeng sosialnya dengan sempurna sebagai wanita dewasa yang matang. “Tenu saja aku ingat Tuan Callahan. Kami sempat berdiskusi singkat di kantornya kemarin mengenai beberapa urusan.

Mendengar respons Laura yang begitu tenang dan profesional, Brian akhirnya mengalihkan pandangannya. Sepasang mata abu abunya mengunci mata Laura, memberikan anggukan sekilas yang sangat formal. “Nona Bennet. Senang bertemu Anda lagi.”

“Aku bilang juga apa, sup di kedai tua ini memang yang terbaik di kota,” sela Vivian tanpa menyadari arus tegangan tak kasat mata di antara mereka berdua. “Pantas saja kau bersikeras mengajakku sarapan di sini pagi pagi sekali, Brian.”

Brian hanya bergumam rendah tanpa ekspresi, nadanya terdengar datar. “Makanannya memang enak. Duduklah dulu, Viv. Aku akan memesankan pesananmu ke konter.”

“Tunggu dulu, Brian,” Vivian menahan lengan pria itu sambil tertawa kecil. Dia membuka tas tangan kecilnya dengan gerakan kasual, merogoh ke dalam, lalu meletakkan sebuah benda di atas meja kayu, tepat di samping cangkir kopi Laura. “Semalam kau buru buru sekali pergi dari rumahku sampai benda ini tertinggal di konter dapur. Untung subuh tadi aku melihatnya sebelum berangkat ke galeri, kalau tidak kau pasti sudah kebingungan mencari arlojimu.”

Brian mengumpat dalam hati.

Mata gelap Laura perlahan turun, menatap benda yang baru saja diletakkan di atas meja. Sebuah jam tangan kronograf titanium hitam dengan tali kulit berjahit jingga yang masih sedikit lembap oleh sisa air hujan semalam. Darah Laura seolah berhenti mengalir seketika.

Konfirmasi visual itu menghantam kesadarannya seperti gada besi, meruntuhkan seluruh asumsi yang baru saja dia bangun.

Tertinggal di rumah Vivian semalam?
Otaknya dipaksa bekerja cepat, menghubungkan potongan gambar dari kilatan petir tengah malam tadi di balkon lantai dua motel kumuhnya. Arloji itu adalah arloji yang sama, dengan jahitan jingga spesifik yang tak mungkin salah. Siluet tinggi besar yang merenggut amplop rahasia di jendela kamarnya semalam…

Brian Callahan. Pria yang kemarin mengusirnya dengan sikap acuh tak acuh, adalah pria yang sama yang berdiri di tengah badai semalam. Rasa dingin menusuk punggungnya. Ia merasa pijakannya goyah.

2 Komentar

  1. Sebelas tahun lalu Indo sedikit anget, kemiskinan tetap dalam jiwa

    1. Evilspiritmenulis:

      Indo 😭