Debu jalanan menempel di roda mobil mewah berlapis pernis hitam. Di dalam mobil mewah tersebut ada seorang anak perempuan cantik memakai gaun katun putih bercorak bunga-bunga. Dan di situ juga ada laki-laki setengah baya yang mengemudikan mobil hitam tersebut.
Mobil mewah hitam itu membelah jalan raya di kotaku. Membawaku ke sebuah rumah mewah yang lebih mirip sebuah villa tempat peristirahatan menurutku. Villa besar itu menjulang di tengah ladang kopi di daerah tropis.
Villa mewah itu berdiri menghadap ke sebuah danau Rawa Pening. Diatas danau tersebut melintas rel kereta api Ambarawa- tuntang, yang setiap hari membawa hasil bumi penenan kopi dari para petani disekitar tempat itu.
Laki-laki paruh baya yang mengantarkan aku, dia bernama pak Karman, mungkin umurnya sekitaran 45 tahunnan, dan dia adalah sopir pribadi keluarganya kak krisan. Setelah sampai lalu pak Karman memanduku untuk masuk ke villa mewah itu. Dan di dalamnya sudah ada kak Krisan yang sudah menungguku. Ternyata dia sengaja mengundangku untuk ikut dalam pesta kebun yang sering diadakan oleh ibunya.
Inilah pertemuan pertamaku dengan ibunya kak Krisan. Walaupun sebenarnya kita bukan sepasang kekasih, tapi kita tampak seperti sepasang kekasih. Walaupun bukan. Seorang laki-laki yang mengundang seorang gadis yang sangat disukainya untuk diperkenalkannya kepada ibunya sebagai calon menantunya. Dan aku seperti gadis ingusan yang pertama kali diajak oleh kekasih hati untuk bertemu dengan ibunya. Walaupun kita bukan sepasang kekasih tapi ini membuatku panas dingin, seolah kita adalah anak sekolah yang akan segera menghadapi ujian Nasional.
Lalu pemuda di sampingku ini kemudian mengajakku menemua seorang perempuan anggun setengah baya. Dengan mengenakan gaun sutra berenda dan kak Krisan memperkenalkan perempuan anggun tersebut kepadaku sebagai ibunya.
Perempuan anggun tersebut kemudian menyambut ku dengan senyuman hangat. Dan kata beliau, ini adalah pertama kalinya anak laki-laki kesayangannya ngajak kerumah teman perempuannya, untuk dikenalkan kepada ibunya.
Pada hari-hari tertentu, keluarga ini sering mengadakan perjamuan pesta kebun di serambi rumah, mengundang teman-teman bisnisnya. Ternyata ayahnya kak Krisan bukan orang sembarangan, ia adalah crazy rich gula yang telah lama bergelut di Industri gula. Dan dari semua undangan di pesta kebun itu nampak sangat bahwa keluarga kak Krisan adalah keluarga yang sangat termasyhur dan sangat disegani.
Lalu para pelayanpun menyajian teh di cangkir dan aneka kue-kue manis di piring porselen bergambar bunga warna biru. Cara perempuan anggun tersebut menyeruput teh di cangkir porselen tersebut sangat elegan.
Ibunya kak Krisan, dia adalah seorang pebisnis, ia punya usaha kebun bunga cellosia dan kebun strawberry di daerah Ambarawa. Dan ibunya kak Krisan menyuruhku kapan-kapan aku harus melihat taman bunga cellosianya yang indah
“Kapan-kapan kamu harus mampir ke kebun bunga ibuk nak, disana selain ada bunga cellosia, juga ada kebun mawarnya dan di sebelah kebun mawar tersebut ada ladang strawberrynya juga.
“Iya buk, terimakasih atas undangannya” ucapku sambil tersenyum dengan hangat. Namun dalam hati ada perasaan takut jika aku tidak bisa menepati janji tersebut.
Setelah menghabiskan secangkir teh, sambil berbincang hangat dengan ibunya, kemudian pemuda itupun mengajakku untuk melihat-lihat rumah mewahnya. Melihat rumah mewahnya sang Borjuis. Ada piano hitam berdiri di sudut ruang tamu. Lampu gasolier berkilauan menebar cahaya kekuningan. Di atas karpet Persia ada guci antik dan pot palem raksasa, meja makan yang besar dan sebuah lantai dansa. Di sana juga ada lukisan besar keluarga di situ ada ayah dan ibunya kak Krisan, kakek neneknya juga dan tentu saja kak kak Krisan kecil yang sangat tampan. Rumah mewah sang Borjuis, dan kehidupan keluarga kak Krisan bak potongan novel klasik yang pernah kubaca.
“Apakah ini kamu” ucapku sambil menunjuk sebuah foto, dimana disitu terdapat tiga anak kecil di dalamnya, dua anak laki-laki dan satu anak perempuan.
“Iya” ucap pemuda itu sambil menunjukkan dirinya “dan anak perempuan di tengah itu adalah Selena dan anak laki-laki satu lagi itu adalah Saverin”
” ternyata kalian memang sudah berteman sejak kecil dan lingkaran pertemanan kalian sangat eksklusif”
Pemuda itu kemudian menceritakan tentang masa kecil mereka bertiga. Ia bercerita bahwa dari dulu memang Selena sangat pandai sastra. Saverin adalah salah satu penggemar terberatnya. Bahkan menurut Saverin puisi buatannya selena selalu bisa membuat hatinya membuncah bahagia. Ia selalu memujinya sebagai perangkai kata yang indah. Paragrafnya yang bercerita dengan lembut, seolah menampilkan cerita nyata dalam sebuah kisah novel. Membuat kosakata yang indah dan narasi yang apik.
“Oh” ucapku datar, seolah aku tidak terlalu percaya dengan provokasinya dan menganggap ucapannya adalah sebuah konspirasi licik untuk sengaja memisahkan aku dengan kak Saverin.
Bukan sebuah rahasia aneh lagi bila pertemana mereka berdua sangat aneh. Walau keduanya sudah berteman sejak kecil, tapi mereka berdua tampak saling mengalahkan. Satu persahabatan yang aneh karna jauh dihati mereka tetap tak saling menyukai satu sama lain. Kak Saverin seperti sedikit membenci kak Krisan karna pemuda ini sudah berani lancang menyukai kekasih hatinya. Ya walaupun aku sendiri tau bahwa terkadang kak Saverin masih sering bertemu dengan sellena dengan dalil pembenaran bahwa hubungan mereka hanya sekedar teman.
Pemuda di depanku tau bahwa aku seperti tidak percaya pada ucapannya. Lalu ia mengajakku ke taman belakang paviliun dan di situ ternyata ada kak Saverin dan Selena yang sedang asik mengobrol berdua. Mereka berdua nampak sangat bahagia. Duduk berdua tersenyum bahagia saat langit mulai senja.
“Apakah kamu cemburu?”
“Tidak, eh maksutku iya, aku sangat cemburu. Tapi aku tidak berniat mengganggu kemesraan sepasang mantan kekasih yang sedang berbahagia” ucapku dengan bibir bergetar menahan gejolak di hati.
Saat itu nampak sangat wajah Selena sangat berbinar bahagia. Mungkin mereka sedang mengingat masa kecil mereka yang sangat indah. Hatiku terasa sangat sakit, tapi aku tidak ingin mengganggu.
” Mari kita menghindar saja, aku tidak berminat untuk mengganggu rekonsiliasi, nostalgia atau apalah namanya. Mungkin mereka sedang menjalin kembali kisah cinta mereka yang pernah terjalin dan belum selesai atau sempat putus”
Dan bukanya menuruti keinginanku untuk tidak menggangu mereka. Pemuda ini justru menyeretku untuk ikut bergabung dengan mereka.
Kak Saverin yang dari tadi tersenyum sumringah bahagia, begitu aku datang dengan kak Krisan bergabung satu meja seketika senyumannya langsung lenyap. Dari situ aku sadar bahwa kedatanganku mengganggu kebahagiaannya, atau mungkin cuma perasaan ku saja yang terlalu sensitif saat itu.
Duduk bersama sama satu meja, aku lebih sering menunduk berusaha menyembunyikan rasa kecewa di hatiku. Mungkin sebentar lagi, aku akan merasakan kembali patah hati yang kedua kalinya.
Duduk bersama dalam satu meja, disebelah kananku ada laki-laki yang sangat aku cintai dan disebelah kiriku ada laki-laki yang sangat mencintaiku tapi mengapa aku merasa seperti terasingkan. Melihat mereka bertiga tertawa bersama sambil menceritakan masa kecil mereka. Selena yang paling tau buah apa yang paling disukai kak Saverin. seketika itu juga aku sadar bahwa aku tidak tau apa yang sangat disukai kak Saverin. Dan saat bersamaku aku belum pernah melihatnya bercerita kepadaku dengan wajah sebahagia itu. Pasti akulah yang selalu meminta duluan kepadanya untuk bercerita. Dan walaupun aku selalu mengatakan bahwa aku menyukai apapun yang keluar dari bibirmu, tapi pemuda itu saat bercita kepadaku belum pernah sebahagia ini.
Lalu akupun menoleh ke arah kak Krisan. Pemuda itu selalu saja melihat ke arah ku. Dan saat aku bertanya kenapa kamu selalu melihatku, sebenarnya apa yang kamu lihat? Dan pemuda itu selalu menjawab bidadari ucapnya sambil tertawa.
Kecanggungan melandaku saat itu, bukan karna perasaan tidak nyaman karna aku adalah orang asing yang mencoba memaksa ikut bergabung dalam dunia pertemanan mereka. Tapi seperti perasaan terasingkan oleh orang yang sangat aku cintai. Aku menoleh kearahnya, berharap dia melihat kearahku dan menyadari ketidaknyamanan ku, tapi dia seperti tidak merasakan apa-apa. Apakah disini cuma aku saja yang berlebihan. Justru kak Krisan lah yang sejak tadi memperhatikanku dengan khawatir.
“Bahkan setelah aku memperlakukanmu sedemikian rupa, kenapa engkau masih saja tetap perduli kepadaku” ucapku dalam hati saat menoleh kearah kak Krisan.
Apakah kak Saverin juga pernah melihatku sebagai seorang gadis cantik, seperti yang dilakukan oleh kak Krisan? Pertanyaan itu berputar-putar di otakku tanpa aku ketahui jawabannya.
Sekuat tenaga saat itu aku menahan air mataku agar tidak meledak tumpah.
” aku ingin pulang, tolong antarkan aku pulang” ucapku pelan.
Lalu kak Saverin dan kak Krisan mereka pun langsung berdiri bersamaan.
“Simpan tenagamu, aku yang akan mengantarnya pulang” ucap saverin
” kalau kau tidak becus untuk membahagiakannya, dengan senang hati aku akan menggantikan posisimu” ucap kak Krisan
“Jangan mimpi !”
“Tolong sampaikan permintaan maafku kepada ibumu, karna aku mungkin telah mengecewakannya” ucapku pada kak Krisan kemudian pergi meninggalkannya.
Pemuda itu mengantarkan ku pulang dengan motornya, sepanjang perjalana sampai di depan rumahku kita berdua tidak saling berbicara, hanya kebisuan. Dan aku pun menerjemahkan kependiaman pemuda itu kepadaku sebagai sebagai sikap kecewa karena aku telah merusah waktu nya dengan selena. Sepanjang perjalanan pemuda itu hanya menarik tanganku untuk memeluknya saat berboncengan naik motor. Menggenggam tanganku erat kadang juga membelai pelan tanganku. Saat aku mencoba menarik tanganku justru pemuda itu semakin erat menggenggam, tidak ingin melepaskan.
Walaupun kebisuan menyelimuti perjalan pulang kita tapi banyak sekali pertanyaan-pertanyaan yang masih berputar-putar di kepalaku. Apakah selama ini mereka berdua sebenarnya sering bertemu di belakangku. Dan apakah cuma aku saja yang tidak tau bahwa sebenarnya mereka sering bertemu. Padahal aku selalu mencintainya dan membanggakannya bahwa pemuda itu juga mencintaiku.
Rasanya sangat menyedihkan.
Ketika sudah sampai di depan rumahku, pemuda itupun kemudian memegang tanganku lembut. Kemudian berkata
“Tidak usah terlalu khawatir, aku dan Selena, kita hanya berteman” itulah kalimat penenang yang sering ia ucapkan. Tapi mengingat bagaimana ia tersenyum bahagia saat bersama Selena tadi seketika membuatku tidak percaya.
“Kalau kau memang benar menyayangiku, buktikan, tinggalkan selena!!”
“Kamu berlebihan!”
“Oh iya benar, aku memang sangat berlebihan, aku berlebihan dengan segala emosiku, cemburuku ini, dan rasa cintaku ini yang berlebihan, aku minta maaf, kejadian ini tidak akan terulang lagi. Akan kupastikan tidak akan terulang lagi dan… mari kita putus!!.


Tks ya kak udh update.