Vitamins Blog

Tanpa Judul || Bagian 1

Bookmark
Please login to bookmark Close

“Apa sih lo aneh banget!”

“Jangan ikutin gue! Gue risiih!”

“Stalker! Gilak ada stalker di kelas kita!”

“Nih gue kasih cermin, biar seklian lo bisa ngaca tiap hari!”

“Dari awal gue udah bilang. Gue. Enggak. Suka. Sama. Lo. Titik! Jadi, stop buat ngikutin gue!”

TUUUUUT…

“Al, Al … Alrina!”

“Eh, iya? Gimana?”

Gabby menghela napas. “Jadi dari tadi tuh elo enggak dengeri gue ngomong?”

“Eeeh, iya sori gimana? Gue ngelamun tadi.”

“Mikirin apa sih lu Al, kebiasaan dah lu ngelamun. Mikirin apa? Jodoh? Suami? Anak elu? Atau utang lu? Kan enggak, elu single happy. Jangan keseringan ngelamun lu. Tar kalo lu enggak balik lagi kan gue yang repot ya.”

“Pan gue udah bilang sori, Cimmy. Jadi elo tadi ngomong apa?”

Gabby mengela napas panjang, kalau Al sudah memanggilnya dengan Cimmy maka itu tanda Al sudah kembali ke dunia realita.

“Gue tanya, ini kita di sini sampai jam berapa?”

“Ooh,” Al mengangguk-angguk sambil mengambil ponsel dan memerlihatkan jadwal di layar ponselnya. “Noh, sampe jam 7. Mau apa sih? Buru-buru amat, kayak ada yang mau ngapelin aja.”

Gabby melotot. “Sembarangan! Ya ada lah, emangnya elu?”

“Yeuuuh sombong amat!”

Al melihat sekeliling selagi Gabby menceritakan prihal sosok yang sedang dekat dengannya. Al tidak begitu menanggapi, ia masih memperhatikan area bazar yang sedang berlangsung. Saat ini Al sedang berada di bazar usaha yang sedang diselenggarakan oleh pemerintah setempat di salah satu mall. Banyak badan usaha milih kelompok atau perseorangan yang membuka stand di sana dengan menawarkan berbagai prodak berupa barang atau jasa.

Tenda Al sendiri meruapkan perusahaan perseorangan yang menawarkan jasa berupa kelas seni. Selain tenda Al, ada pula beberapa tenda jasa berupa kursus bahasa asing, robotik dan berhitung cepat. Sasarannya adalah anak-anak dan umum. Meski tenda kelas seni yang paling sedikit peminatnya, namun Al menikmati suasana di sana, ia juga sangat senang jika pengunjung yang datang adalah kelompok dewasa muda atau dewasa. Karena Al akan dengan senang hati memperkenalkan produk unggulan mereka, namun jika yang datang adalah keluarga dan anak-anak, biasanya Gabby yang akan sering bertindak untuk mengenalkan produk.

Sore menjelang malam di jumat sore, suasana mall semakin ramai pengunjung. Saatnya Gabby beraksi sementara Al hanya duduk di balik meja stand. Dari sekian banyak pengunjung di mall, entah kenapa Al merasa ada mata yang mengawasinya. Entah apa atau siapa. Namun Al merasakannya. Ia menoleh ke sana kemari namu tidak mendapatkan apapun, namun perasaannya terus mengatakan bahwa seseorang tengah mengawasinya. Itu membuat Al tidak tenang.

Samapi tiba mata Al menemukan sosok itu, sosok yang tidak pernah disangkanya akan muncul kembali, sosok yang sudah Al lupakan selama 12 tahun lamanya bagai ditelan bumi, namun nampaknya bumi telah bosan dan memuntahkannya lagi tepat di depan Al. Sosok yang masih menjadi orang yang paling tidak ingin ia temui sampai kapanpun.

Sosok yang masih menjadi trauma … cinta monyetnya.

Nando Radifta Thejo.

 

***

 

Radif ingin segera pulang, sekujur tubuhnya sudah pegal, mulutnya sudah malas membuka dan pita suaranya sudah kebas karena banyak berbicara. Hari ini Radif mendapat giliran untuk berjaga di bazar. Apesnya ia harus berjaga dengan Jery. Radif hanya ingin bertugas dengan tenang sesuai dengan jam oprasional yang telah ditentukan, melayani pengunjung yang datang, selesai jam kerja kemudian pulang. Namun lain ceritanya jika ia harus dipasangkan dengan Jery, pria setengah matang itu kerap kali mengeluh bosan hanya duduk sedangkan di sekitarnya ada banyak sekali stand yang menarik untuk dilihat selain milik mereka sendiri atau stand mobil dan motor.

Jary tidak berhasil menyeret Hardi, si anak magang. Walhasil Radif yang menjadi korban atas kebosanan Jery. Menurut narsum dari kloter sebelumnya. Jary kerap kali menyeret teman lainnya untuk berkeliling dan stand favoritnya adalah stand kelas seni yang berada di deret tengah.

“Yang mana, Jer?” tanya Radif saat mereka menunggu antrean di stand makanan.

“Apanya?” tanya Jery pura-pura polos.

“Inceran lo…” Radif hapal betul kalau Jery bukan tanpa maksud berkeliling ke setiap tenda bazah kalau bukan karena wanita.

“Ahahah, tau aja lo.” Pria berdarah Batak itu cengengesan. Ia mengedarkan pandangan dan menunjuk dengan dagunya. “Tuh, tenda kuning kunyit yang banyak pernak perniknya.”

Radif mengedarkan pandangannya dan menemukan tenda yang dimaksud. Kan benar. Tenda itu sangat mencolok selain warna tendanya yang cerah produk yang dijajakan pun sangat banyak dan bervarian, benar-benar produk seni. Dijaga oleh dua wanita satu berperawakan kurus berpotangan rambut sebahu dan satu lagi berperawakan tinggi janggung dengan rambut panjang berponi. Radif menebak bahwa tipe Jery adalah wanita kedua.

“Gimana menutur lo? Ok enggak?”

“Buram,” Komen Radif.

“Ck, enggak asik lo.”

Radif menerima kantong makanan lebih dari yang mereka butuhkan, jadi Radif berpikir ini untuh Hardi yang masih berjaga di kandang mereka. Radif mengerut keling. “Tumben lu baik sama anak magang. Buat Hardi kan?”

Namun sepertinya Radif salah, karena Jery yang sekarang mengerut alis.

“Enggak lah,” tolaknya. Jery melihat lagi tenda kuning kunyit di sana. Ia lalu menunjuk, “Lo liatkan, di sana ada dua orang, masa gue mau kasih satu. Kan kasian. Nanti elo kasih ke temennya, kali aja dia kelaperan juga atau hatinya juga kosong barangkali.”

Radif melotot. “Maksud lo gimana? Kok gue juga ikutan. Kan elu yang pun….”

“Ssst ssst sssst, udah lo ikut aja, percaya sama gue. Temennya enggak jelek-jelek amat kok, imut banget malah. Tapi sayang bukan tipe gue. Udah lu tinggal kasihin aja. Bilang aja dari gue kalo lo enggak mau dibilang salah paham.”

“Enggak, gue mau balik. Lo sana kasih sendiri….”

“Jer….”

Belum sempat Radif meloloskan diri, seseorang sudah menghampiri mereka. Kali ini wanita yang bertubuh jangkung dan berponi. Ia tersenyum sumringah pada Jery.

“Hai, Gabby. Jadi kan abis ini?”

Sang wanita hanya tersenyum malu sambil mengangguk kecil, terlihat sekali ia sudah terkena racun mematikan Jery.

“Oh iya, ini temen gue. Radif,” Jery melanjutkan dengan berpura-pura berbisik tapi Radif bis amendengarnya dengan jelas. “Doi agak pemalu.”

Gabby tertawa renyah sebelum mengulurkan tangan. “Gebby.”

“Radif.”

Radif menyalami sambil tersenyum kecil. Sementara Jery clingukan di belakang Gabby. “Mana temen lo tadi, Bab … Eh, maksudnya Gab. Heheh.”

Radif membelotot sinis pada Jery. Namun nampaknya wanita itu tidak menyadari gombalan Jery untuknya. Ia juga sibuk celingukan ke belakang mencari temannya.

“Oh, iya masih di sana.”

“Kita ke sana aja,” usul Jery semakin lancar. Seperti dugaannya Jery tidak memerlukannya lagi di sini. Pria itu sudah khatam betul urusan percintanannya sendiri. Sebaiknya Radif kembali setelah basa-basi.

Namun tiba-tiba Radif diliputi perasaan tidak menentu setelah mereka semakin mendekat ke arah tenda, ia melihat pernak-pernik gantungan, kerajianan dari keramik, gelang atau kalung dari manik-manik, stiker dan pernak-pernik lain. Serta seorang gadis bertubuh ramping bermata bulat besar tengah berdiri menyambut kedatangan mereka. Namun pupil matanya berbuah saat pandangannya jatuh pada Radif. Dalam sepersekian detik pupil mata gadis itu membesar namun kemblai seperti semula setelah mengalihkan panadangannya pada Jery dan Gabby. Radif mengerut alis, kenapa nih orang?

“Hai, Al,” sapa Jery akrab.

“Hai, udah beres?” tanyanya. Suaranya jelas dan tidak goyah. Nampak terlatih menyambut pelanggan. “Oh, jadi ini yang ngapel elo?”

“Apaan sih lo, Al.” Gabby nampak salah tungkah tapi senyum masih menggantung di bibirnya.

“Eh iya, ini….” Jery menyodorkan bungkus plastik pada Gabby. “Belum makan kan?” katanya.

“Iih, tau aja. Iya nih laper banget gue belum makan lima menit lalu,” canda Gabby.

“Psst, Raf.” Radif baru sadar ia nasih berada di sana sampai Jery menyikut lengannya. Ia menoleh pada Jery dengan tatapan bertanya. Pria tersebut memutar bola matanya lalu menunjuk bungkus plastik yang ada di tangannya. Ah, Radif lupa, ia harus memberikan bungkus plastik itu pada Gadis itu.

“Masuk aja yuk,” kata Al.

“Ah, ide bagus. Yukk….” Jery mengiyakan dan mengikuti Gabby yang memimpin rombongan, namun saat giliran Al yang akan mengikuti tiba-tiba langkahnya terhenti oleh seseorang. Orang terakhir yang ada di belakangnya.

“Hai, Al. Masih inget gue?”

Al tidak langsung meboleh, ia terdiam sebentar. Nampak mengatur napasnya kemudian menoleh sebentar hanya untuk mengangguk tanpa ekspresi kemudian pergi meninggalkan Radif yang masih terkejut di tempatnya. Ia hanya tidak percaya dengan respon yang ia dapat dari gadis itu.

Al yang pernah ia kenal selalu bersemangat menyapa Radif.

Al yang pernah ia kenal selalu mendengarkan Radif.

Al yang pernah ia kenal selalu tersenyum untuk Radif.

Al yang pernah ia kenal selalu menatap Radif dengan binar matanya yang besar.

Namun Al yang ia temua hari ini sangat asing. Ia seperti orang lain namun dengan rasa masa lalu yang kembali dihidupkan.

Alrina Gayatri Raharjo.

Stalker yang sangat tidak ingin ia temui selama 12 tahun sebelum hari ini.

 

 

TBC

 

Waaah, ambek. Sudah lama kali aku tak tulis di sini. Semoga yang ini kelar dan gak gantung 😂😂

2 Komentar

  1. Bagus. Aku suka. Dikelarin ya kak, jangan digantung loh :ohyeaaaaaaaaah!

  2. SeraFinaMoonlight menulis:

    Kaget aku tuh buka Vit blog pembukaan full tanda seruh😂 berasa lagi dimarahi :khu..khu…

    Hi welcome back kak🙂