Cantik

18 Desember 2021
Bookmark

No account yet? Register

Matahari masih terik padahal sudah menjelang sore hari. Satu dua kapal kecil nelayan bergerak semakin ke tengah. Angin laut menggerakkan deretan payung yang menaungi beberapa kursi. Beberapa orang lalu lalang meski belum bisa dikatakan ramai. Aku duduk di salah satu deretan kursi, di bawah payung hijau, bersamanya. Kuhela napas dalam, antara menikmati suasana dengan melepaskan beban di dada.

“Sebenarnya aku seperti ini itu apa-apa atau nggak apa-apa?” Kataku tanpa menatapnya.

“Yang kamu maksudkan ‘seperti ini’ itu yang bagaimana?” Aku tahu dia menjawabnya dengan menatapku, lekat.

“Ya… Seperti yang kamu lihat sekarang.” Aku mulai kehilangan mood.

“Cantik.” Satu kata darinya.

“Bukan itu maksudku. Apa aku harus menjelaskannya dengan jelas? Masih perlu aku jelaskan lagi? Ya aku seperti ini, sudah bosan nggak ngapa-ngapain, tapi aku malah malas-malasan. Aku tahu aku tidak boleh malas terus, menunda-nunda. Nanti deh, besok aja deh, masih lama tenggat waktunya.” aku bersungut-sungut padanya.

Dia meraih tanganku, menatapku, lalu berkata.

“Kamu sudah berusaha semampu kamu, kamu sudah melakukan segala yang kamu bisa. Kamu juga setiap hari sudah melakukan kegiatan tanpa kamu sadari. Bukankah melakukan pekerjaan rumah seperti masak, bersih-bersih, nyuci, sudah bisa dihitung kegiatan. Produktif itu. Tidak apa-apa, pelan-pelan setidaknya kamu sudah berusaha. Aku terus nemenin kamu, kalau butuh bantuan bilang saja. Aku pasti bantu sebisaku” Jelasnya perlahan.

“Itu mah nggak bisa dikatakan kegiatan.” Aku kembali fokus pada laut membentang di depan.

Lalu, aku tidak membahas masalah itu lagi. Kita menghabiskan sisa sore dengan membicarakan hal receh lain. Namun sesungguhnya, hingga jalan pulang, tidak sedetikpun aku tidak memikirkannya. Aku masih terus mencari formula jawaban yang tepat.

 

“Sebenarnya aku seperti ini itu apa-apa atau tidak apa-apa?”

 

Jpr-11.12.2021

DayNight
DayNight