Vitamins Blog

Oh My Fake Bo(ss)yfriend || Ha? Haaa?! HAAAAA???!!!

Bookmark
ClosePlease login

No account yet? Register

37 votes, average: 1.00 out of 1 (37 votes, average: 1.00 out of 1)
You need to be a registered member to rate this post.
Loading...

Happy reading 之之之

 

Untung aja status pacar gak masuk dalam peraturan pemerintah. Lah, coba status pacaran di atur sama kecamanan atau kelurahan. Misalnya pas lo masih pacaran mesti bawa KTP (Kartu Tanda Pacaran), kalo lo putus mesti pake SPHK (Surat Pemutusan Hubungan Kita), atau lo lagi singel mesti lapor ke BPJS (Badan Penanggulangan Jomblo dan Sejenisnya). Kan makin ribet idup gue.” @A_Inay

Jejelani : “Cieeilee yang lagi liburan, update muluk kek kang foto 不”
Kayla : “Ciee kang foto lagi liburan 五”
Rayhan : “Cieee kang cilok lagi buka lapak di kebon bunga ”
Hanin : “Cieee kang kebon lagi macul dipojokan ”
Jejelani : “Paan sih lo Han? Gak jelas beet anjir 不”
Me : “Tau tuh sih Hanin ”
Hanin : “Eh gue juga gak tau anjir 不”
Hanin : “Lagian lo lagi di mana sih, Vah?”
Kayla : “Iiih dasar kepo!”
Kayla : “Eh tapi pas lo foto di bunga tulip tuh bagus, Vah. Lo di mana sih?”
Hanin : “@ Kayla Iiih dasar kepo!”
Jejelani : “Mamam tuh @ Kayla 不”
Kayla : “Paiiiit @Jejelani @Hanin”
Me : “Lebih pait mana Ka, temulawak apa temu lawak?”
Hanin : “Lah, apa bedanya, Vah?”
Jejelani : “Temu lawak is … temu doang, deket doang, mabar doang, nobar doang, jadian mah KAGAK!! 不”
Hampir-hampir aku menyemburkan air yang baru aku cicip di bibirku. Masih pagi ya Tuhan, tapi ada saja kelakuan absurd manusia-manusia ini.
Me : “Bangkek 不不 Bukan gue yang ngomong @ Kayla”
Hanin : “Bengek bangkek 唐唐”
Rayhan : “”
Kayla : “Waaaah, ternyata anjing-anjing gue udah pinter ngomong ya, tapi sayang otaknya tetep enggak pinter-pinter ”
Me : “Guuk guuk 塔塔”
Hanin : “Moooo 氣氣”
Jejelani : “Oooiik oooiiik”
Rayhan : “Kuuukkuuuruyuuuuk ”
Me : “Apaan tuh, Je ‘oiik oiik?'”
Jejelani : “Babi 痰痰”
Kayla : “Kek anjing lu pada ”
Jejelani : “Btw, Vah, lo tau kgk boss besar lagi ada di mane?”
Aku mengerut kenging, membaca sekali lagi pesan terakhir Jeje sebelum membalas…
Me : “Kagak tuh, kenapa gitu?”
Jejelani : “Gue pikir lo ketemu sama doi, soalnya dia lagi pulkam keknya.”
Jejelani : “Udah gitu doi kayak lagi ngadain acara gitu. Masa lo kagak tau, Vah?”
Hanin : “Tau dari mana lo?”
Jejelani : “Duuuh kepo deh, dari IGnya lah.”
Me : “Masa sih? Gue kagak tau tuh.”
Sesegera mungkin aku keluar dari obrolan, takut kalau-kalau jiwa lambeh Jeje keluar tanpa tau tempat situasi dan kondisi. Kubuang hpku ke samping, sambil menatap langit-langit kamarku yang memang tidak menarik sama sekali. Tapi itu yang aku suka.
Berbaring sejenak, menrilekskan otot-ototmu yang tegang, merasakan napas yang masuk dari hidungmu dan keluar dengan perlahan, lalu membiarkan pikiranmu berkelana sesukanya. Seperti yang aku lakukan sekarang.
Ingatanku kembali memutar rangkaian kejadian kemarin, yang mana Dimas yang secara ‘tidak langsung’ melam … menawarkan, btw, sebuah infestasi masa depan yang cukup menjanjikan. Aku tidak bisa berhenti tertawa hingga kami meninggalkan lokasi resepsi. Kala itu Dimas tidak memaksaku untuk berhenti tapi aku berhenti tertawa ketika pipiki terasa sakit.
“Ngaku deh, lo tau gue di sini nanya sama amih kan?”
“Sok tau kamu,” kata Dimas sok-sokan bego.
“Halah, udah ketauan masih aja ngeles.”
“Saya sih ke sini karena punya feeling kuat sama kamu.”
Aku mengerut kening. “Feeling apaan?”
“Kamu itu enggak bisa ditinggal barang semenit, kalo ditinggal ya kayak tadi tuh hasilnya.”
“Apaan tuh, bikin alesan tuh ya yang bagus dikit napa.”
“Ya, namanya juga alasan spontan, kalo mikir dan butuh riset itu nananya essay. Oooopsss, ketauan kan.”
“Idiiih, kok ngeselin ya.”
“Tapi saya ngangenin kan? Buktinya kamu enggak bisa jauh-jauh dari saya.”
Aku melotot tidak setuju. Baru saja aku akan protes Dimas lebih dulu mencegahku dengan meraih sebelah tanganku dan mengaitkan jemari kami. Aku semakin melotot tidak percaya.
“Bohong deng, saya gang enggak bisa jauh-jauh dari kamu, Nay.”
Mulutku mengap-mengap dan aku mendadak jadi orang bisu sedunia. It’s uncool, gue jadi gagu gini cuman karena rayuan receh Dimas, tolol banget gue
Setelah makan siang di kang nasi bakar, tujuan kami jatuh ke Taman Begonia. Disana mau tidak mau Dimas harus menjadi kang fotoku selama setengah hari penuh. Sesuai dugaanku, Dimas adalah yang terbaik dalam foto memfoto. Jangan tanyakan hasilnya, Dimas sudah seperti pro, meskipun hanya dengan menggunakan foto hp. Tanpa sadar aku menikmati kebersamaanku bersama Dimas, sudah lama rasanya. Hingga akhirnya….
Dimas.”
Aku menatap jam dinding di atas meja belajarku, pukul delapan lebih sepuluh. Aku meraih hpku, membuka kunci dan langsung membuka web kesayangan, dan di sana sudah bertengger acara yang aku tunggu.
“Yukk, enggak usah mikirin yang enggak penging macam Dimsun neraka, mending nonton Sailormoon aja. Usagiiii-chaaaaan.”
Aku segera memainkan video tanpa perlu repot mendowloadnya lebih dahulu, itu akan banyak memakan memori. Lagipula notebook dan hardiskku sudah penuh.
Aku baru mendengar setengah lagu openingnya ketika Renjani berteriak memanggil di balik pintu, udah pasti disuruh amih. Aku menggerutu tidak jelas sebelum menyahut.
“Duluan aja, teteh masih kenyang!!”
“Ditungguiiin….”
“Hah?! Iya nanti … bentar lagi! Nanggung!!!”
Setelahnya aku dengar suara geraman Renjani dan hentakan kaki, udah pasti itu anak kesel. Bodo amat deh, gue belum laper. Ini aja baru mulai.
Kebiasaanku kalau sedang menonton anime adalah berisik dan tidak mau diam. Pernah aku sedang menonton di angkot saat aku berangkat ke sekolah, entah anime apa yang aku tonton sampai-sampai aku tertawa terpingkal-pingkal dan menarik banyak orang. Sudah begitu aku meracau dan memaki tanpa henti, sampai-sampai ditanyai oleh pak kernetnya, takut-takut kalau aku orang gila. Sialan emang, labih sialan lagi karena aku ditonton pula oleh kakak kelas yang kutaksir, entah bagaimana ceritanya alhasil seisi sekolah tahu kalau aku maniak anime 之之 Sisi positifnya, aku menjadi banyak yang iseng-iseng tanya tapi akhirnya kecanduan, ada juga yang banyak dari kelas lain yang ngajak barteran, dan begitulah akhirnya para spesies ini mendapatkan teman 不不
Well, punya temen satu frekuensi emang paling seru.
Aku sampai pada bagian klimaks, ketika karakter utama sedang akan mengeluarkan jurus andalannya. Refleks aku terduduk, merentangkan tanganku, kemudian….
“Dengan kekuatan bulan aku akan menghukummu….”
Kuarahkan tanganku ke arah pintu, bersamaan dengan itu pintu terbukan dan menampakkan Renjani dan….
DIMAAAAASSSS!!! TUUUUHAAAAAAAN!!! KUBUR HAMBA SEKARAAAAAANG 之之之
“Demi apa!! Berapa sih umur lo masih nonton begitu….”
Akkhh, aku akan mati!!” Dimas meremas dadanya seolah-olah baru saja tertembak sesuatu, ia mundur hingga membentur tembok. “Tidak, padahal aku belum sempat menikahi tunanganku. To, tolong, sampaikan pesanku pada tunanganku….” dan Dimas tewas di tempat.
Renjani melongo sambil menggeleng tidak percaya, ia menoleh padaku yang sama syoknya dan Dimas yang terkapar, bergantian, sebelum memutar bola mata jengah.
“Demi dewa Neptunus, kalian ngapain sih? ”

***

Kemarin Banget!!

“Dimas?”
Seorang wanita tinggi nancantik menghampiri Dimas dengan setengah berlari. Rambutnya berpotongan bob namun sangat cocok dengan wajahnya yang oval, mengenakan stelan santai namun tetap elegan. Tapi entah kebapa aku merasakan sesuatu yang TIDAK menyenangkan di sini.
“Elo Dimas kan?”
Dimas tidak segera menanggapi namun kemudian meluncur sebuah nama, “Cecil? Elo Cecillia kan?” “Iyaaa, elo apakabar??”
Tanpa permisi Cecil segera memeluk dan … mencium pipi Dimas kilat. Of course, kenapa tidak? Semua wanita akan melakukan itu kalau-kalau bertemu Dimas.
Ekhm, jealous!
I’m NOT!
“Baik, lo?”
“Baik, eh, gue denger lo sekarang kerja di Jakarta. Kok sekarang ada di sini? Lagi libur? Eh, kapan-kapan main bareng yuk, gue kemarin ketemu Rio….”
Dan begitulah Dimas dengan pasrah digelayuti oleh Cecil. Enggak keliatan tuh doi ngerasa risih-risih gitu, kayaknya keenakan juga dia.
Ekhm, cemburu!
Sekali lagi, ENGGAK!
Dimas dengan halus melepas apitan lengan Cecil kemudian menjejalkan tangannya ke dalam saku dan mundur selangkah dari Cecil. “Gue lagi off aja makanya pulang, padahal tadinya mau ke Semarang tapi enggak jadi. Soalnya ada urusan mendadak jadi gue pulang.”
Cecil mengangguk-angguk seperti burung pelatuk, namun seolah tidak menyerah, ia kembali melancarkan aksingaya.
Pepet teruuus sampai dapet!!
Ekhm
Awas lo kalo lo bilang gue cemburu lagi!!
“Eh, abis ini lo mau kemana? Kalo gak kemana-mana ikut gue aja yuk.”
Kalo dulu aku dengan penuh keikhlasan hati pada siapapun untuk membawa Dimas enyah dari muka bumi sekarang rasanya aku ingin mengenyahkan si kacang sisil ini dari muka bumi.
Aku berada di belakang si cewek ini ngomong-ngomong, tapi kayaknya hawa keberadaanku tiba-tiba menghilang dalam sekejap. Well, peduli amat. Bukan urusan gue ini. Aku membalik tubuh kemudian menjauh dari mereka berdua.
“Emm, sebenernya gue enggak sendiri….”
“Sama temen lo? Enggak apa-apa ajak aja biar rame….”
“Bukan temen….”
“Oh, sodara lo. Enggak masalah….”
“Bukan juga….”
“Terus….” Cecil berkerut kening tidak paham.
Aku merasakan sepasang mata menatapku, aku tidak menggubris namun sepasang mata yang lebih tajam ikut menatap ke arahku.
Bau-baunya kok kayak ada masalah apa gitu.
“Cewek itu?” jenis pertanyaan yang mengandung sindiran, nyinyiran, cibiran dan sebagainya. “Pacar kamu?” sekarang naik tingkat dengan kandungan racun, jampi-jampi, santet dan segala mantra kutukan di dalamnya.
Aku tidak ingin mendengar tapi telinga sialanku malah tetap mendengarnya. “Mantan gebetan gue….”
“Oh mantan … mantan apa? Gebetan….”
“Yang mau gue nikahin bulan depan.”
“WHAT?!”
“APA?!”
Tanpa sadar aku menyuarakan isi kepalaku bersamaan dengan Cecil. Sialnya begitu aku menoleh, Dimas sudah ikut berjongkok di belakangku dengan senyum jenaka yang tidak ditutup-tutupi. Sialan! Ngerjain gue lagi ini manusia!
“Jangan ngeliatinnya gitu dong, Yang. Nanti aku khilaf lagi.”
Aku melotot syok. Fix!! Dimas bener-bener abis kesambet di jalan!
“Maksudnya gimana, Dim?” Cecil bertanya setengah menuntut.
“Oh, ini Naya, tunangan gue.”
Dimas membantuku berdiri, kemudian dengan lihai menyelipkan sebelah tangannya di pinggangku. Sedangkan sebelah tangannya lagi meraih tanganku kemudian menunjukan cincin di jari manisku dan jari manisnya. Wait a minut!
Aku melihat cincin di jari Dimas dengan seksama, itu memang mirip dengan cincin yang kupakai, hanya saja dengan desain sederhana untuk pria.
Jadi selama ini dia punya pasangannya?!
Ekspresi Cecil tidak bisa digambarkan, ia terkejut. Tentu sajaaa! Setengah tidak rela, sempat melayangkan lirikan dendam kesumat padaku, dan sisanya ia coba bersikap biasa saja.
“Oh, lo mau nikah? Selamat. Bagus lah, biar lo jangan sering main sama cewek, kalo udah nikah kan enak lo enggak usah keluguran nyari mangsa, lo tinggal pulang aja ketemu sama istri lo.”
Maksudnya gimana?
Tetapi Dimas sama sekali tidak tersinggung dengan sindiran Cecil, ia malah tertawa jenaka. “Tar dateng ya, salam buat Rio dan yang lain.”
“‘Kay, nanti gue salamin. Sori ya mba, saya enggak tau kalo udah punya orang. Embanya sih ngumpet aja, jadi saya enggak liat.”
Maksud lo?! “Ya, mba enggak apa-apa, saya dari dulu udah biasa ngeliat dia begitu sama cewek lain.” Liat Dimas sama lo ‘adu mulut’ juga gue dah pernah liat.
Enggak penting juga gue ngomong begitu.
“Kita duluan, enggak apa-apa kan?” kata Dimas sambil menggandeng tanganku.
“Oh, iya enggak apa-apa, gue juga mau balik. Sekali lagi selamat ya, Dim.”
Dim doang? Ke gue kagak diselametin nih?
Dimas hanya membalas senyum.
“Bye, Dim.”
“Bye.”
“Iya bye juga buat gue,” cibirku begitu Cecil sudah menjauh dari kami sampai-sampai Dimas menoleh dengan alis terangkat.
Dimas terkekeh di sampingku.
“Puas banget ya abis diglayutin yang bening-bening. Enggak sekalian tadi lo ikutan pergi sama dia?”
Dimas menaikan sebelah alis heran. “Kok gitu? Saya kasihan sama diri saya, soalnya nanti ada yang ngambek, nanti pulangnya sendirian, terus ngadu sama amih, abis itu marah-marah enggak jelas sampe kantor, terus badmood buat kerja, enggak ikut rapat pagi dengan alesan mules padahal lagi males ketemu muka, terus ngomongnya nyinyir, terus nyuekin tiap hari, terus….”
“Iiiih, apaan sih! Gue enggak gitu ya. Lo aja yang lebay.”
Aku baru akan melepas genggaman Dimas namun pria tersebut menahannya. “Jealous?”
What? I’m-jealuse-with you? Never!”
“Yakin?”
“Iyalah! Udahlah pulang.”
“Tuh kan ngambek.”
I’m NOT!”
Begitu mobil melaju meninggalkan wisata bunga tersebut aku baru teringat dengan cincin yang dikenakan Dimas.
“Btw, kok lo punya cincin pasangannya sih? Bukannya lo bilang ini cincing punya nenek elo?”
Dimas mengacuhkan cincin yang ada dijarinya padaku. “Ya terus kenapa? Itu memang sepasang.”
Aku mengerucut bibir sebal. “Terus ini maksudnya apa? Bisa-bisanya lo ngundang mereka buat dateng ke acara nikahan lo yang bohong itu. Kalo mereka beneran dateng gimana?”
“Siapa bilang saya bohong?”
Aku mengerut kening tidak paham sedangkan jantungku mulai tidak berfungsi normal. “Maksudnya?”
Dimas tidak langsung menjawab, ia hanya tersenyum misterius dan menyetir dengan tenang. Sepanjang perjalanan aku terus mengajukan berbagai pertanyaan, tapi Dimas tetap tidak menjawab. Hingga kami memasuki kompleks rumah dan Dimas masih diam, dah lah bodo amat. Dimas berhenti tepat di depan rumahku, trpat di belakang sebuah mobil sedan yamg tidak asing bagitu juga beberapa motor yang terparkir di depan rumah.
Aku mengerut kening. “Hemm? Kok ada mobil tatu Maya sih?”
Tapi pertanyaanku terlambat karena Dimas sudah lebih dulu turun, berjalan memutar dan membukakan pintu untukku.
“Ada nyokap lo tuh. Mau sekalian mampir?” kataku setelah turun dari mobil.
“Emang mesti ke sini,” katanya misterius.
“Oh.”
Begitu memasuki halaman rumah aku disambul oleh Ambar yang sudah berdiri di ambang pintu dengan stelan batik rapih, Dimas menyapa dengan biasa saja sedangkan aku adalah manusia yang tidak tahu apa-apa di sinu hanya bisa diam. Begitu memasuki rumah aku terkejut dengan kehadiran om Ridwan dan tatu Maya, Amih, wawa Bayu, tatu Niar, beserta orang-orang yang tidak begitu kuhapal namanya–tapi sepertinya warga setempat juga.
Sebelum aku mengajukan banyak pertanyaan, Amih datang dan langsung mengapitku begitu aku selesai bersalaman pada semua tamu.
“Aduuh, kalian lama banget, udah sana kamu buruan siap-siap. Renjani sama Rani udah nunggu di dalem.”
“Mih, sebenernya ini ada acara apaan sih? Renjani lamaran?”
“Huss, ngaco kamu. Ya ini acara kamu lah, Nay.”
“Hah!!”
“Udah jangan banykan tanya, nanti kelamaan, nanti aja ceritanya. Kasian tamunya udah nungguin.”
“Enggak … bentar dulu … Naya … sama siapa?”
“Ya sama a’ Dimas atuuh, kamu pikir sama siapa lagi? Sama si Ambar? Udah-udah kamu cepetan siap-siap.”
Ha?
Amih mendorongku masuk ke dalam kamar, di sana sudah ada Renjani dan Rani–sepupuku, yang sudah menunggu. Entah bagaimana ceritanya, aku melakukan segala yang mereka suruh dengan isi kepala yang masih berisik dengan segala macam pertanyaan, lepas asyar aku sudah siap dan segera digiring ke depan. Aku didudukan di samping wawa Bayu dan Amih, di depan kami ada Dimas yang diapit kedua orang tuanya, juga ketua RT setempat, juga beberapa saksi di sana. Orang-orang mulai membuka acara, om Ridwan mulai berbicara menyampaikan sepatah dua patah kata yang ujung-ujungnya memakan waktu panjang, kemudian ditimpali oleh wawa Bayu sebagai perwakilan ayah. Hingga mulai tiba sang calon menyampaikan maksud dan tujuannya.
Bismillaahirrahmaanirohiim, kepada adinda Arivah Inayati. Saya tau kamu masih bingung, saya minta maaf sebelumnya tidak memberitahumu lebih dulu.”
Emang elo salah begooo!!
Aku tidak begitu mendengar kalimat Dimas berikutnya karena isi kepalaku yang mulai tidak waras dan hampir meledak, yang jelas kemudian semua mic diserahkan padaku dan entah apa yang aku katakan setelahnya semua orang berucap syukur dan memanjatkan doa-doa.
Setelah itu Renjani datang dengan membawa nampan berisi kotak dua kotak cincin yang isinya cincin yang beberapa waktu lalu aku lepas. Kami duduk di tengah-tengah dengan saling berhadapan, Dimas lebih dulu memasangkan cincin di jariku kemudian disusul denganku memasang cincin … di jari Dimas.
Sepanjang acara aku hanya diam, tidak begitu banyak bicara, dan hanya berteriak dalam hati.
Haaah?!!
HAAAAAAAAAH?????!!!!!!

TBC

25 Komentar

  1. Al-Humayra Raudatul menulis:

    betulan sudah dilamar kah? :bantingkursi

    1. Wkwkwkwk dilamar belum yaaa :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

  2. SERAFINA MOON LIGT毋 menulis:

    :ayojadian :ayojadian

  3. Selamat sudah di lamar : :ayojadian :ayojadian

  4. Tks ya kak udh update

  5. Bntr,ni lamaran apa udah langsung kawin ya :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA :NGAKAKGILAA

    1. Eh,salah. Nikah,bukan kawin :wkwkwkwk :evilmode

  6. Kirain langsung akad dong ya :NGAKAKGILAA

  7. oviana safitri menulis:

    ngakak kocak deh :NGAKAKGILAA

  8. Kiara julian menulis:

    :luculuculucuih

  9. rillapermatasari93 menulis:

    Ngakak parah. Mana ada orang gak tau apa簡 di acara lamaranny sendiri. Cuma Arivah doang begini :luculuculucuih

  10. Spkh不不不不

  11. Diiyaninta menulis:

    Ketawa Mulu bacanya :luculuculucuih

  12. Ini dilanjut gk sihh yaaa….

  13. Nungguin next part